Blog

Your blog category

DI ANTARA DESA DAN MASA DEPAN

Penulis: Zahwa Ilmayra Cahyani

Zahwa Ilmayra Cahyani lahir di Karanganyar, 22 Mei 2009. Zahwa adalah seorang siswa yang tengah menimba ilmu di SMAN 2 Banjar. Ia sangat suka menulis sejak dulu dan sampai saat ini menulis menjadi hobi yang paling ia sukai. Dengan mencoba menulis sedikit demi sedikit kata, ia rangkai penuh cinta dengan harapan nantinya banyak karya yang ia tulis dan makin di kenal banyak orang.


Aku tidak terlahir di Banjar, tapi namaku pernah tercatat di kota lain dan akta kelahiran yang kini hanya tersimpan di lemari Ibuku. Aku pindah ke Banjar saat usiaku baru saja genap 10 tahun, usia yang masih begitu canggung untuk berkenalan dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar rumahku yang baru. Saat hari pertama aku datang ke Banjar, aku menangis bukan karna kota ini buruk. Akan tetapi karna suasananya begitu asing, jalan yang terasa sempit, stasiun kereta api yang sudah tidak aktif akan tetapi kereta api masih sering melewati stasiun dekat rumahku dan logat bicara orang orang yang berbeda membuat ku harus cepat beradaptasi dengan kota ini. Aku rindu suasana lingkungan rumahku yang dulu, rindu wajah wajah serta nama-nama teman yang selalu aku kenal.

Namun, Banjar tidak pernah mengusirku. Ia hanya diam tapi perlahan-lahan memeluk raga yang tadinya menolak untuk tinggal di kota ini. Keesokan harinya ibukku berkata, “Sekolahmu tidak jauh, kamu jalan kaki aja bisa sampai.” Dan entah mengapa kalimat sederhana dari ibukku mampu menjadi penguat bagi diriku. Setiap pagi aku selalu berjalan kaki menuju sekolah ku melewati gang kecil di samping rumahku, gang yang membawaku menuju tempat untuk menimba ilmu. Sepanjang perjalanan yang aku lihat adalah kolam ikan, suara gemercik air akibat pergerakan ikan menemani setiap perjalanan.

Dari sinilah Banjar mulai memperkenalkan dirinya padaku. Aku mulai mengenal ibu penjaga warung yang selalu tersenyum manis walaupun diriku ini hanya beli Masako Rp 1.000, aku mulai hafal satu persatu rumah tetanggaku beserta nama-nama mereka, aku perlahan-lahan mulai tahu di jam berapa tukang sayur lewat rumahku dan melihat tetanggaku yang sudah berangkat ke sawah di pagi hari.

Sekolah yang dekat membuatku cepat merasa memiliki, aku tidak lagi merasa numpang tinggal, aku mulai merasa menjadi bagiannya. Tahun demi tahun sudah berlalu, aku tidak pernah menghitung sudah berapa lama aku di Banjar dan aku mulai menghitung berapa banyak kenangan yang tumbuh. Aku mulai belajar jatuh cinta dalam kesederhanaan desa di dalam kota ini. Banjar bukan hanya stasiun dan pasarnya saja, suasana Banjar setelah hujan yang begitu tenang, Banjar mengantarkan ku lewat jalan jalan kecil menuju tempat menuntut ilmu.

Aku sangat bersyukur Banjar masih menyimpan desa yang begitu indah, Banjar juga masih menyimpan tempat bagi tanaman padi untuk tumbuh. Beberapa tahun terakhir aku melihat perubahan pada kota kecil ini, sebagian jalan mulai di perbaiki walaupun belum semua, lampu jalan yang mati langsung di benarkan oleh yang ahli, beberapa akses juga di benarkan demi kenyamanan warga Banjar. Banjar tidak hanya diam, Banjar kini mencoba sedikit demi sedikit untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan jalanan di Banjar mampu mengantarkanku ke sekolah.

Namun tinggal di desa juga mengajarkanku melihat hal hal yang jarang muncul di berita kota. Saat hujan turun, bagian teras di rumahku berubah menjadi genangan air dan sebagian ada yang licin, kadang aku harus berjalan dengan pelan agar tidak jatuh. Beberapa titik masih gelap karena lampunya mati. Sampah kadang dibakar karena tak terangkut, anak-anak kecil bermain di jalan karena tidak ada taman dekat rumah, dan yang paling sering kurasakan sebagai remaja adalah kurangnya ruang.

Aku dan teman-temanku sering duduk di teras rumah, atau di hamparan sekitar sawah. Kami selalu berbagi cerita, bercanda, kadang berdiskusi tentang mimpi kita. Ada yang ingin jadi dokter, guru, pembuat film, atlet, penulis. Tapi hampir selalu, kalimat yang muncul di akhir obrolan adalah “Kalau mau serius, harus ke kota kalau disini terus kapan kita mau sukses.” ucap salah satu temanku. Aku nyeletuk seperti ini, “Padahal kita udah tinggal di kota, hanya saja, kota seolah belum sepenuhnya sampai ke desa kami.” Di wilayah ku memang banyak anak muda yang cerdas dan penuh kreativitas, ada yang membuat karya, meski alatnya seadanya, tapi jarang ada ruang yang benar-benar memfasilitasi mereka.

Kami hanya ingin tempat yang hidup tempat yang tidak hanya berdiri seperti bangunan kosong yang ramai saat diresmikan, lalu sunyi setelahnya. Tempat yang benar-benar bernapas bersama warganya tempat yang dimana ketika pintunya dibuka, bukan hanya ruangan yang terlihat, tetapi juga kemungkinan. Kami ingin ruang yang tidak membuat kami merasa asing di kota sendiri ruang yang tidak menanyakan jabatan, tidak menuntut seragam, tidak menimbang kami dari seberapa penting nama kami. Ruang yang menerima kami sebagai anak-anak muda yang sedang belajar, sedang mencari, sedang sering salah, tapi masih mau mencoba.

Kami ingin Banjar menjadi kota yang tidak lelah membesarkan warganya, kota yang sabar menghadapi kegaduhan ide kota yang tidak takut pada pikiran kritis. Kota yang percaya bahwa dari anak-anak muda yang hari ini terlihat ragu, bisa lahir orang-orang yang esok menguatkan kota. Karena kota yang sehat bukan kota yang sepi pertanyaan, melainkan kota yang berani menjawabnya. Aku sering duduk sendirian di pematang sawah dekat rumah, membawa buku atau hanya menatap langit.

Aku membayangkan Banjar sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Apakah sawah-sawah ini masih ada? Apakah anak-anak kecil yang hari ini berlarian tanpa alas kaki akan menemukan ruang ketika mereka remaja? Apakah mereka akan merasa cukup dicintai untuk tinggal, atau cukup asing untuk pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terlalu besar untuk remaja sepertiku. Tapi mungkin, kota tumbuh justru dari pertanyaan-pertanyaan yang dianggap terlalu besar.

Karena perubahan tidak selalu lahir dari rapat besar, melainkan dari keresahan kecil yang dikumpulkan. Aku teringat teman-temanku ada yang setiap sore membantu orang tuanya di sawah, tapi malamnya belajar desain grafis lewat ponsel. Ada yang rajin ikut kerja bakti, tapi diam-diam menulis puisi tentang kampung halamannya. Ada yang suka mengutak-atik motor, tapi bercita-cita membuat bengkel ramah lingkungan. Mereka adalah wajah Banjar yang jarang muncul di spanduk.

Mereka tidak menunggu kota untuk memberi izin bermimpi. Mereka bermimpi meski kota belum sepenuhnya siap dan mungkin, tugas kota bukan menahan mimpi-mimpi itu, melainkan menyediakan tanah agar mimpi itu bisa ditanam. Aku membayangkan sebuah sore di desa kami bukan sore yang sunyi, bukan pula sore yang penuh hiruk. Sore di mana anak-anak pulang sekolah lalu mampir ke sebuah ruang kecil yang hidup. Ada rak buku sederhana ada papan tulis penuh coretan ide ada sudut musik. Ada orang dewasa yang bukan untuk mengatur, tetapi menemani. Di sana, anak-anak desa tidak hanya ditanya nilai, tetapi juga ditanya minat tidak hanya ditanya cita-cita, tetapi juga ditanya kegelisahan.

Aku percaya, Banjar punya modal besar kedekatan di kota kecil seperti ini, jarak antara warga dan pemimpinnya tidak sejauh di kota besar. Jarak antara ide dan tindakan tidak seharusnya sejauh itu pula. Yang dibutuhkan mungkin bukan struktur baru, tetapi keberanian untuk membuka pintu lebih sering. Membuka pintu balai desa, membuka pintu sekolah, membuka pintu ruang publik, membuka pintu percakapan. Karena kota yang tertutup akan melahirkan warga yang menjauh tapi kota yang membuka diri akan melahirkan rasa memiliki.

Aku menulis ini bukan untuk menuntut kesempurnaan. Aku tahu membangun kota tidak mudah aku tahu anggaran terbatas, kebutuhan banyak, dan kepentingan sering bertabrakan. Tapi justru karena itu, kota membutuhkan warganya bukan hanya sebagai penerima, tetapi sebagai penopang. Dan anak muda adalah penopang yang sering diremehkan. Kita mungkin belum mapan belum berpengalaman, belum selalu rapi dalam berpikir namun kami punya sesuatu yang tidak selalu dimiliki kota.

Waktu, energi, dan keberanian untuk mencoba, tiga hal yang jika disambut dengan baik, bisa menjadi kekuatan. Aku sering berpikir, mungkin cinta pada kota tidak selalu berbentuk pujian. Kadang ia hadir sebagai keresahan yang tidak mau diam sebagai kalimat-kalimat panjang di buku tulis sebagai obrolan sore di pinggir sawah. Sebagai keinginan agar tempat yang membesarkanmu tidak berhenti tumbuh. Karena kota yang dicintai adalah kota yang diperjuangkan. Sekarang, ketika aku berjalan ke sekolah di pagi hari, aku tidak lagi hanya melihat jalan kecil dan sawah. Aku melihat kemungkinan, aku melihat generasi yang sedang tumbuh, aku melihat Banjar bukan sebagai kota kecil, tetapi sebagai kota yang masih bisa ditulis ulang dan aku ingin, suatu hari nanti, ketika seseorang bertanya padaku, “Kenapa kamu masih di Banjar?” aku bisa menjawab dengan tenang: “Karena di sinilah aku dibesarkan, dan di sinilah aku memilih ikut membesarkan.” Aku ingin Banjar menjadi kota yang membuat anak mudanya pulang bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena punya tujuan.

Kota yang ketika seseorang pergi belajar, ia pergi untuk kembali bukan pergi untuk melupakan. Aku ingin Banjar dikenal bukan hanya dari peta, tetapi dari cerita-cerita warganya. Dari anak desa yang menjadi guru, dari remaja yang membangun komunitas, dari pemuda yang memilih mengolah bukan menjual, dari kota yang tumbuh bersama manusianya. Jika suatu hari nanti sawah-sawah ini berkurang, aku berharap nilai-nilainya tidak ikut hilang.

Jika suatu hari nanti jalan-jalan kecil ini melebar, aku berharap hati orang-orangnya tidak menyempit. Karena kota yang besar tanpa empati, hanya akan menjadi tempat tinggal, bukan tempat hidup aku tidak lahir di Banjar. Aku datang sebagai anak kecil yang kebingungan, aku tumbuh sebagai remaja yang mulai mengerti. Dan sekarang, aku berdiri di persimpangan antara desa dan kota, antara masa lalu dan masa depan, antara menerima dan berharap.***

Banjar, 23 Januari 2026

DI ANTARA DESA DAN MASA DEPAN Read More »

RIPUH KU PANGABUTUH SUSAH KU PANGAWERUH

Penulis: Reni Rahmawati

Lahir di Ciamis 13 Mei 1985, tinggal di Kota Banjar dan menjadi putra daerah asli Kota Banjar, mendedikasikan hidupnya sebagai Pegawai Negeri Sipil Daerah di salah satu Sekolah Negeri di Kota Banjar, UPTD SMPN 10 Banjar menjadi pilihan menarik untuknya berbagi pengalaman bersama anak-anak hebat untuk cinta literasi, mengembangkan bakat potensi yang dimiliki. Semangatnya menjadi inspirasi untuk siswa-siswi mencintai puisi dan menulis narasi. Terlibat dalam berbagai karya sederhana sebagai bukti kecintaan terhadap bahasa dan budaya nasional.


Banjar Kota kecil sejuta mimpi di mana aku terlahir dari sketsa imaji yang semakin nyata. Banjar mewujudkan masyarakat yang makmur mandiri dan sejahtera, membangun semangat warganya si pekerja keras mendapatkan manfaat dari sesuatu yang telah diusahakan, dan menjadi polemik bagi si pemalas.

Banjar menyuguhkan kenikmatan bagi siapapun, mulai dari pesona keindahan alamnya, maupun kuliner makanannya yang lezat. Pun Banjar merupakan salah satu kota terunik di mana letak posisi perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadikan Banjar pewaris budaya kesenian dua provinsi.

Termasuk ke penggunaan bahasa sehari-hari masyarakat, adanya bahasa Sunda dan bahasa Jawa serta pencampuran dialek keduanya dengan membentuk ciri khas dan karakter keunikan tersendiri.

Keanekaragaman budaya menjadi magnet, daya jual serta pengingat bagi masyarakat untuk tetap tinggal dan datang kembali.

Banjar menyimpan kenangan, bukan hanya tentang rindu tapi tentang bagaimana memaknai hidup di Kota Idaman dengan banyak cerita, dengan rangkaian catatan penting untuk kembali diceritakan.

Bukan hanya tentang ocehan anak kecil yang bergelayut manja dalam ayunan, bukan hanya tentang rengekan gadis belia yang minta jajan, bukan hanya tentang ambisi anak bujang yang berjuang mencari pekerjaan, bukan hanya tentang nenek tua renta yang kehilangan harapan, bukan tentang perjuangan ayah mencari nafkah untuk keluarga atau seorang ibu yang pandai membagi beras untuk dimasak menjadi nasi setiap hari.

Tak hanya jari yang menghitung segala jenis kekurangan dari ruang hampa, dari ketidakberdayaan, tetapi kepiawaian pemangku kebijakan menjadi pendobrak semangat kepedulian, sejahtera adalah mimpi harapan yang dapat diwujudkan, kerja sama adalah solusi bersama untuk menjadi nyata.

Anak muda adalah pion utama untuk bergerak membangun harapan mewujudkan mimpi. Agar tersurat menjadi nyata dalam setiap goresan baris-baris tidak hanya menjadi lembar suram tanpa goresan, tapi warna indah menjadi pemanis dari setiap cerita.

Tak ubah seperti pepatah bilang jangan percaya dengan keterbatasanmu tetapi besarkanlah harapanmu, begitu pun Banjar dengan segala keterbatasannya tetapi memberikan harapan besar kepada para pemiliknya. Siapapun yang memiliki hati yang luas untuk mengelola Banjar menjadi kota yang besar bermanfaat dan mencukupi kehidupannya. Siapapun memiliki tanggung jawab untuk menggali potensi yang dimiliki Kota Banjar agar Kota Banjar menjadi kota maju. Kemajuan sebuah kota terletak pada keseimbangan. Kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari aspek-aspek lain yang seimbang. Meliputi ekonomi dan sosial, Pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan keadilan sosial, memastikan manfaat pembangunan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan menekan angka kemiskinan serta kesenjangan sosial.

Pembangunan fisik dan kualitas hidup menjadi kunci yang berperan dalam pembangunan infrastruktur modern, dengan penyediaan ruang terbuka hijau, fasilitas publik yang memadai, dan lingkungan yang layak huni untuk meningkatkan kualitas hidup warga dapat menjadi peran pendukung kemajuan sebuah kota.

Dalam hal modernisasi dan pelestarian budaya, diharapkan menjadi kunci kemajuan kota tetapi hal tersebut harus diwaspadai pada dasarnya kita tetap menjunjung nilai leluhur tidak boleh menggerus identitas lokal. Penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan arsitektur modern dengan pelestarian warisan budaya dan sejarah. Dalam hal dukungan pemerintahan dan partisipasi warga bermula dari tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan itu pun harus didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan untuk memastikan pembangunan yang inklusif.

Sejurus dengan itu, penting juga adanya perhatian dan dukungan penuh terhadap aspek lingkungan pembangunan berkelanjutan. Hal ini dirasa sangat krusial, di mana pertumbuhan kota harus senantiasa dijaga agar tidak merusak lingkungan, dengan pengelolaan limbah yang baik, transportasi ramah lingkungan, dan mitigasi dampak perubahan iklim yang terkontrol.

Ada istilah dalam Bahasa Sunda “Ripuh ku pangabutuh susah ku pangaweruh.” Merupakan ungkapan yang menggambarkan kesulitan hidup seseorang, terdapat dua faktor dalam ungkapan tersebut. Faktor pertama “Ripuh ku pangabutuh” yang menggambarkan kondisi dimana seseorang merasa terbebani dan menderita karena banyaknya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi termasuk kebutuhan materi, sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya. Seolah-olah hidupnya hanya berputar pada usaha memenuhi kebutuhan yang tidak ada habisnya.

Faktor kedua “Susah ku pangaweruh.” Kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan atau masalah karena keterbatasan pengetahuan, wawasan atau pendidikan. Kurangnya ilmu atau informasi membuat seseorang sulit menemukan jalan keluar dari persolalan hidup, atau bahkan sulit untuk meningkatkan taraf hidupnya. Secara keseluruhan, pribahasa ini menyampaikan pesan bahwa kemiskinan dan kebodohan sering kali menjadi sumber utama kesengsaraan dalam kehidupan manusia.

Termasuk dalam hal ini Kota Banjar sendiri, Masyarakat Kota Banjar menurut Indeks Pendidikan Kota Banjar menunjukan tren positif, terutama pada komponen harapan lama sekolah (HLS) yang mencapai 13,28 tahun dan rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 25+ mencapai sekitar 8.51 tahun pada tahun 2024. Ini mengindikasikan peningkatan kualitas pendidikan, meskipun masih ada tantangan pada persentase penduduk usia sekolah yang belum menyelesaikan jenjang dasar atau menengah, dengan data BPS menunjukkan sebagian besar penduduk lulus SD atau SMP, tetapi persentase lulusan jenjang tinggi masih perlu di tingkatkan. Data lengkap bisa diakses melalui Open data Kota Banjar atau Badan Pusat Statistik Kota Banjar.

Dari data tersebut di atas masih sangat awam para orang tua mencerna kebutuhan pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup terlihat dari sedikitnya siswa yang melanjutkan sekolah pada usia SMP/ MTs ke jenjang SMA/ SMK atau jenjang selanjutnya. Data kunci Indeks Pendidikan Kota Banjar Harapan Lama Sekolah (HLS): 13.28 tahun (anak usia 7 tahun), setara dengan lulusan SMA/SMK.  Rata-rata Lama Sekolah (RLS): 8,51 tahun (penduduk usia 25+), setara dengan lulusan SMP/MTs. Perkembangan Jenjang Pendidikan pertengahan Tahun 2024 berdasarkan sumber data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar menyatakan Tamat SD : 29,08% Tamat SMP : 17,38% namun jumlah murid meningkat Tamat SMA: 21,32% Tamat S1 ke atas : 5,3 % ini menunjukan peningkatan partisipasi sekolah, banyak siswa lulusan sekolah Dasar tetapi masih banyak sekolah SMP di Kota Banjar yang kekurangan siswa, Tantangan selanjutnya terletak pada peningkatan kualitas lulusan, tidak sedikit siswa yang putus sekolah berhenti di tengah perjalanan, karena tekanan ekonomi keluarga.

Berpikir secara cepat untuk bisa bekerja menghasilkan uang hingga harapan jenjang pendidikan tinggi agar kualitas SDM Kota Banjar semakin meningkat belum tercapai. Ini yang menarik bagi penulis mengupas istilah ungkapan dalam Bahasa Sunda “Ripuh ku pangabutuh susah ku pangaweruh”. Padahal kesempatan untuk memiliki kehidupan yang layak dan bermartabat dengan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dapat menciptakan adab berahlak dan berkemampuan pemikiran yang dapat menghasilkan uang sehingga menumbuhkan perekonomian Kota Banjar itu sendiri. Selaras dengan tumbuh kembang jaman era teknologi untuk bisa menghidupkan Kota Banjar menjadi Kota Idaman yang Maju dengan tumbuh kembang cepat dan akurat menciptakan masyarakat cerdas yang memiliki kemampuan teknologi tinggi mampu menambah aset kekayaan kota dan menjadi pendapatan asli daerah.

Dengan demikian, Kota Banjar yang maju mampu mengelola dinamika berbagai aspek ini secara harmonis dan berkelanjutan, bukan hanya unggul di satu bidang saja. Banjar bisa menjadi Kota maju tidak hanya dalam sebuah narasi tetapi dituntut sebuah aksi bersama dari semua kalangan. Masing-masing bergerak sesuai kedudukan, kemampuan dan kapasitasnya tetapi tetap dalam satu tekad dan nurani yang kuat. Majukeun Banjar ku urang pikeun urang.***

RIPUH KU PANGABUTUH SUSAH KU PANGAWERUH Read More »

KONTRIBUSI PESANTREN MENDORONG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Penulis: Eris Munandar

Penulis merupakan tenaga pengajar di Pesantren Persis 85 Kota Banjar, Penyuluh Agama Islam, juga sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Tasikmalaya. Bagi penulis, belajar, mengajar, dan dakwah merupakan aktivitas rutin yang menyenangkan sekaligus juga menantang. Disebut menantang lantaran ketiga aktivitas tersebut mendorong penulis untuk membaca berbagai sumber referensi yang relevan, karena dengan membaca, selain menambah pengetahuan, juga membuat pola pikir dan mentalitas lebih siap untuk berhadapan dengan berbagai audiens yang heterogen. Penulis aktif di ormas Persatuan Islam (Persis) sebagai Wakil Ketua 2, Pengurus Daerah Persis Kota Banjar. Fokusnya saat ini adalah menyelesaikan program doktoralnya di Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


Pesantren dan pembangunan sebuah kota seakan menjadi sebuah paradoks. Pesantren identik sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional, kuat mengakar di tengah-tengah masyarakat desa, dengan Kiai sebagai tokoh sentral sekaligus tokoh agama terkemuka yang mendapat pengakuan dari masyarakat. Sementara itu, kota penuh dengan hingar-bingar kemajuan peradaban yang warganya notabene urban, datang silih berganti untuk sebuah kepentingan mencari penghidupan yang layak. Tentu ini mengindikasikan kebutuhan mereka terhadap lembaga pendidikan berbeda dengan kebutuhan masyarakat yang ada di desa. Namun itu hanyalah perspektif lama. Saat ini banyak bermunculan pesantren modern yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat urban.

Transformasi pesantren tradisional menuju modern bukan tanpa alasan, melainkan karena kebutuhan dan perkembangan yang sesuai dengan tuntutan kemajuan arus zaman. Zarkasyi (2015) menyebutkan bahwa meski pesantren modern mengimplementasikan berbagai modernitas pada aspek kurikulum, metode pengajaran, dan sistem manajemen kelembagaan, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional dalam kesehariannya. Hal inilah yang kemudian mendorong banyak orang tua di kota berlomba-lomba mencari lembaga pendidikan dengan basis pesantren, karena dinilai dapat membantu meringankan peran mereka dalam mendidik putra-putrinya di tengah gempuran akhlak generasi muda yang terus terdegradasi.

Pesantren Sebagai Benteng Penjaga Akhlak

Di tengah arus informasi yang semakin deras, terlebih dengan kondisi sosial masyarakat yang terus mengalami perubahan, pesantren dapat menjadi salah satu institusi pendidikan keagamaan yang relevan dengan berbagai situasi dan kondisi. Terbitnya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren memberikan angin segar, yang memposisikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang kini statusnya setara dengan pendidikan formal lainnya.

Setidaknya ada tiga tujuan utama diselenggarakannya pendidikan pesantren sebagaimana amanat Pasal 3 UU Nomor 18 Tahun 2019 tersebut, yaitu: 1) Membentuk individu yang unggul di berbagai bidang yang memahami dan mengamalkan nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, tolong-menolong, seimbang, dan moderat; 2) Membentuk pemahaman agama dan keberagamaan yang moderat dan cinta tanah air serta membentuk perilaku yang mendorong terciptanya kerukunan hidup beragama; dan 3) Meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berdaya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan warga negara dan kesejahteraan sosial masyarakat.

Tujuan tersebut memberikan peran besar pesantren untuk menciptakan kohesi sosial yang seimbang. Setiap individu yang terlibat dalam pendidikan pesantren (Kiai dan Santri), wajib hukumnya untuk ambil bagian dalam menjaga keseimbangan hidup di tengah-tengah masyarakat. Terutama bagaimana menciptakan tatanan sosial yang berpegang teguh kepada ajaran agama sehingga terjalin hubungan yang simbiosis mutualisme.

Di pesantren modern, meski santrinya diajarkan berbagai ilmu-ilmu pengetahuan umum, namun mereka tetap dibekali oleh ilmu-ilmu agama yang sifatnya tsabit. Sehingga ini yang akan menjadi bekal bagi para santri untuk berinteraksi dengan siapapun. Tidak hanya menghormati guru yang telah mengajarkan mereka mengaji, tetapi juga memiliki sikap dan sifat profetik sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itulah, pesantren dapat berperan ganda, yaitu memberikan pengetahuan umum dan agama yang komprehensif dan membentuk akhlak para santri agar tidak mudah terjerumus kedalam hal-hal yang tidak baik.

Pesantren di Tengah Arus Modernisasi

Belakangan tren orang tua yang memilih pesantren sebagai tempat mendidik anak kian meningkat. Biasanya yang dipertimbangkan adalah pesantren-pesantren modern yang telah mengintegrasikan kurikulum pendidikan nasional dan kurikulum khas pesantren. Pilihan ini menjadi sangat tepat. Pasalnya, orang tua akan selalu mengupayakan yang terbaik bagi putra-putrinya, terutama lembaga yang dapat dipercaya mendorong kemandirian dan terwujudnya akhlakul karimah.

Untuk menjawab kebutuhan itu, pesantren kini berlomba menawarkan berbagai fasilitas yang cukup memadai dengan harapan untuk meningkatkan jumlah peminat dan membuat nyaman para santri saat belajar di pesantren. Tak ayal pesantren-pesantren membangun fasilitas yang dapat terbilang fantastis, mulai dari ruang asrama yang sangat representatif, sarana olahraga yang lengkap, ruang untuk menyalurkan minat dan hobi para santri, ruang makan yang elegan, fasilitas laundry, dan fasilitas lain yang menggiurkan.

Namun hal ini tentu harus dibayar dengan harga yang sepadan oleh orang tua. Sehingga model-model pesantren seperti ini cenderung lebih “eksklusif” dibanding dengan pesantren tradisional di pinggiran kota atau bahkan di sudut desa yang terpencil dengan fasilitas seadanya. Namun lagi-lagi yang dicari bukanlah perbedaan antara kedua model pesantren tersebut, bukan pula untuk mendikotomikan antara keduanya.

Kedua model pesantren, baik tradisional maupun modern, tentu dengan kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Namun keduanya juga memiliki peran yang diamanatkan oleh undang-undang, yaitu membentuk individu yang memiliki karakter khas: beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, tolong-menolong, seimbang, dan moderat. Karakter-karakter inilah yang harus menjadi ciri khas lembaga pendidikan pesantren. Sehingga lulusannya diharapkan menjadi agent of change yang mengedepankan nilai-nilai agama sebagai barometer dalam setiap gerak langkahnya.

Peran Pesantren Mendorong Pembangunan Berkelanjutan

Secara eksplisit hampir dipastikan tidak ada hubungan yang relevan antara pesantren dengan pembangunan kota yang berkelanjutan. Namun justru ini menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Pasalnya, di dalam UU Nomor 18 Tahun 2019, terutama pada Pasal 4 disebutkan bahwa pesantren memiliki tiga ruang lingkup, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Hal yang mungkin akan sulit ditemukan pada lembaga pendidikan konvensional yang hanya fokus pada satu bidang saja yaitu pendidikan.

Sementara pesantren, cakupannya tidak hanya mendidik santri yang sekolah dan mengaji, melainkan juga bertugas untuk mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alaamin sekaligus memberdayakan masyarakat yang hidup berdampingan di sekitarnya. Ini sungguh menjadi tugas yang mulia bagi sebuah lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan. Pada aspek pendidikan dan dakwah, nampaknya peran ini menjadi yang utama. Sementara peran pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu yang dapat berkaitan erat dengan pembangunan yang berkelanjutan.

Pesantren rata-rata berdiri di atas tanah yang statusnya wakaf. Kemudian dibangun dengan dana swadaya yang berasal dari masyarakat dengan berbagai skema, ada yang menggunakan skema infak/sedekah biasa, ada juga yang menggunakan skema wakaf melalui uang. Bangunan yang sudah berwujud berbagai fasilitas yang ada tersebut kemudian dimanfaatkan guna mendukung pendidikan pesantren yang berkualitas. Pada bagian ini saja, pesantren sudah mendorong terwujudnya peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan pembangunan yang sifatnya swadaya.

Terlebih saat kegiatan pendidikan di pesantren sudah berlangsung, di dalamnya banyak terlibat masyarakat dalam berbagai jenis kegiatan ekonomi. Di beberapa pesantren yang “besar” kuantitas santrinya, bahkan ada yang mencapai angka ribuan, masyarakat sekitar ada yang menjadi pedagang di kantin pesantren dengan menyediakan berbagai kebutuhan dan perlengkapan para santri. Ada juga yang membuka jasa laundry bagi santri yang pesantren-nya tidak menyediakan jasa laundry. Atau ada juga warga yang dilibatkan dalam berbagai unit usaha yang dikembangkan oleh pesantren.

Banyak pesantren yang mengembangkan wakaf produktif, seperti sawah wakaf yang dikerjasamakan dengan petani di sekitaran pesantren. Para petani ini mengolah lahan sawah pesantren, kemudian hasilnya dibagi dua sesuai kesepakatan bersama. Inilah model pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan oleh pesantren. Tentunya juga masih banyak model usaha lain yang dimiliki oleh pesantren dan melibatkan warga sekitar.

Secara implisit pemberdayaan ini sebagai salah satu kontribusi pesantren bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera. Melalui kerjasama dan pemberdayaan masyarakat sekitar, pesantren telah berkontribusi memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat. Kondisi ini tentu juga membantu pemerintah dalam meminimalisir angka pengangguran dan kemiskinan. Tidak hanya itu, pesantren juga memberikan akses pendidikan gratis untuk anak-anak yang berasal dari kalangan kurang mampu atau bahkan menggratiskan pendidikan untuk semua anak di sekitar pesantren tidak terkecuali.

Dukungan Pemerintah Daerah Terhadap Pesantren

Melihat peran yang sudah dijalankan tersebut, sekaligus menjadi bukti inklusivitas pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang tidak profit oriented, melainkan menjalankan fungsi sosialnya dengan sangat baik. Fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat berjalan seirama sesuai amanat undang-undang.

Namun hal ini pula yang harus diperhatikan oleh pemerintah, khususnya pemerintah daerah. Sudah saatnya dukungan terhadap pesantren tidak hanya sebatas dukungan moril semata, melainkan harus ada kebijakan dan sejalan dengan amanat undang-undang pesantren. Seperti disebutkan dalam Pasal 42 disebutkan pemerintah daerah memberikan dukungan pelaksanaan fungsi dakwah pesantren dalam bentuk kerja sama program, fasilitasi kebijakan, dan pendanaan.

Pemerintah Kota Banjar merespon undang-undang tersebut dengan menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2023 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren. Di antara bentuk dukungan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjar tercermin dalam Pasal 18, yaitu berupa bantuan keuangan, bantuan kesehatan, bantuan sarana dan prasarana, bantuan teknologi; dan/atau pelatihan keterampilan.

Hal ini perlu disambut hangat, meski realitasnya masih jauh panggang dari api. Namun harapan tentu masih ada, tinggal political will Pemerintah Daerah untuk berupaya mewujudkannya meski dengan sumber daya yang terbatas. Namun yang menjadi catatan penting, bahwa melalui Perda tersebut setidaknya telah ada kemauan yang cukup kuat untuk mendukung berbagai program pesantren yang manfaatnya juga dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Jika semua stakeholder bahu-membahu untuk bekerja sama menciptakan satu tatanan ekosistem pendidikan yang baik, termasuk di dalamnya pesantren, maka upaya untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera lahir batin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya. Wallahu A’lamu

KONTRIBUSI PESANTREN MENDORONG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Read More »

MENGHARUMKAN KOTA TERCINTA MELALUI PARTISIPASI OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT NASIONAL DAN INTERNASIONAL

Penulis: Herri Herdiman, S.E., M.Pd., C.LM., C.BMS.

Herri Herdiman, S.E., M.Pd., C.LM., C.BMS. merupakan pembina nasional dan internasional di bidang matematika yang berpengalaman dalam pengembangan kompetensi siswa kompetitif. Beliau menempuh pendidikan dan pelatihan khusus matematika melalui Asian Math Summer Camp dengan para profesor ahli dari berbagai negara, di antaranya Dr. Ridwan Hasan Saputra (Indonesia), Prof. When Hsien Sun (Taiwan), Prof. Simon L. Chua (Filipina), Prof. Sombut (Thailand), dan Prof. Harold Riter (Amerika Serikat). Dedikasinya berfokus pada pembinaan siswa berprestasi dan penguatan pendidikan matematika berstandar global.


Pendahuluan

Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun peradaban dan kemajuan suatu daerah. Di era globalisasi, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Salah satu indikator penting kualitas pendidikan adalah prestasi akademik peserta didik, khususnya dalam bidang sains dan matematika. Olimpiade Matematika tingkat nasional dan internasional menjadi wahana strategis untuk mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi sekaligus mengharumkan nama kota tercinta di kancah yang lebih luas.

Partisipasi siswa dalam Olimpiade Matematika bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan proses pembinaan karakter, intelektual, dan daya juang. Ketika seorang siswa berhasil meraih prestasi, keberhasilan tersebut membawa identitas daerahnya sebagai kota yang peduli pada pendidikan dan pengembangan potensi generasi muda. Oleh karena itu, pembinaan Olimpiade Matematika perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan kota dan bangsa.

Olimpiade Matematika sebagai Sarana Pengembangan Potensi Siswa

Olimpiade Matematika dirancang untuk menantang kemampuan berpikir logis, analitis, dan kreatif siswa. Soal-soal yang disajikan menuntut pemahaman konsep yang mendalam, ketelitian, serta kemampuan memecahkan masalah secara sistematis. Melalui proses ini, siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter seperti disiplin, ketekunan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Pembinaan Olimpiade Matematika yang terstruktur mendorong siswa untuk terbiasa berpikir kritis dan reflektif. Kemampuan ini sangat relevan dengan kebutuhan abad ke-21, di mana generasi muda dituntut mampu beradaptasi, berinovasi, dan bersaing secara global. Dengan demikian, partisipasi dalam Olimpiade Matematika menjadi sarana efektif untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul.

Peran Olimpiade Matematika dalam Mengharumkan Nama Kota

Prestasi siswa pada tingkat nasional dan internasional membawa dampak positif yang signifikan bagi citra sebuah kota. Kota yang konsisten melahirkan siswa berprestasi akan dikenal sebagai pusat pendidikan berkualitas. Hal ini tidak hanya meningkatkan kebanggaan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas kota sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual.

Selain itu, prestasi Olimpiade Matematika mampu mendorong tumbuhnya ekosistem pendidikan yang sehat. Sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah terdorong untuk berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dukungan berupa fasilitas, pelatihan guru, dan program pembinaan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan prestasi.

Partisipasi Nasional dan Internasional

Pada tingkat nasional, ajang seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) dan kompetisi sakal nasional lainnya menjadi tolok ukur kualitas pendidikan antar daerah. Siswa yang berhasil melaju hingga tingkat nasional menunjukkan bahwa sistem pembinaan di daerahnya berjalan efektif. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kota tersebut mampu bersaing secara akademik dengan daerah lain.

Sementara itu, partisipasi pada tingkat internasional, ajang seperti International Mathematics Contest Singapore (IMCS), International Kangoro Mathematics Competition (IKMC) dan kompetisi skala internasional lainnya memberikan dampak yang lebih luas. Olimpiade Matematika internasional membuka ruang interaksi lintas budaya dan memperkenalkan siswa pada standar global. Keikutsertaan siswa di ajang internasional tidak hanya membawa nama sekolah dan kota, tetapi juga mengangkat citra bangsa. Prestasi internasional menjadi kebanggaan kolektif yang mampu menginspirasi generasi muda lainnya.

Strategi Pembinaan Olimpiade Matematika

Keberhasilan dalam Olimpiade Matematika tidak terjadi secara instan. Diperlukan strategi pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan. Tahapan pembinaan meliputi identifikasi bakat sejak dini, pelatihan intensif, pendampingan oleh pembina berkompeten, serta evaluasi berkelanjutan.

Peran guru dan pembina sangat krusial dalam proses ini. Guru perlu dibekali pelatihan khusus agar mampu membimbing siswa sesuai standar kompetisi. Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor pendukung utama. Penyediaan fasilitas belajar, pendanaan, serta apresiasi terhadap siswa berprestasi akan meningkatkan motivasi dan keberlanjutan program pembinaan.

Dampak Sosial dan Budaya

Keberhasilan Olimpiade Matematika tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat luas. Prestasi siswa dapat menumbuhkan budaya belajar yang positif dan kompetitif secara sehat. Anak-anak muda memiliki teladan nyata bahwa prestasi akademik dapat menjadi jalan untuk mengharumkan nama daerah.

Selain itu, siswa berprestasi berperan sebagai duta pendidikan yang membawa nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan integritas. Hal ini memberikan kontribusi nyata dalam membangun karakter generasi muda yang berakhlak, cerdas, dan berwawasan global.

Penutup

Partisipasi dalam Olimpiade Matematika tingkat nasional dan internasional merupakan strategi efektif untuk mengharumkan nama kota tercinta. Melalui pembinaan yang terarah dan dukungan berbagai pihak, Olimpiade Matematika mampu menjadi sarana pengembangan potensi siswa sekaligus peningkatan reputasi daerah.

Ke depan, sinergi antara sekolah, pembina, pemerintah, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar prestasi yang diraih tidak bersifat sementara, melainkan berkelanjutan. Dengan demikian, kota tidak hanya dikenal sebagai wilayah administratif, tetapi juga sebagai pusat lahirnya generasi unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa dan dunia.***

MENGHARUMKAN KOTA TERCINTA MELALUI PARTISIPASI OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT NASIONAL DAN INTERNASIONAL Read More »

PMI KOTA BANJAR: BERKHIDMAT PADA KEMANUSIAAN

Penulis:
Siti Maryam, S.Pd., M.Pd.
(Sekretaris PMI Kota Banjar)

Siti Maryam, S.Pd., M.Pd., merupakan seorang pendidik berdedikasi yang lahir di Banjar pada 10 Oktober 1978. Lulusan S2 Manajemen Sistem Pendidikan ini memiliki rekam jejak panjang sebagai guru Biologi dan kini bertugas sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 2 Banjarsari. Selain aktif mengajar, ia menjabat sebagai Sekretaris PMI Kota Banjar dan Ketua MGMP Biologi Kota Banjar. Sebagai penulis produktif, ia telah menghasilkan berbagai karya, termasuk buku saku PMR dan artikel pendidikan. Atas dedikasinya, ia meraih penghargaan Guru Berprestasi serta terpilih dalam 100 Besar PNS Berprestasi Kategori Inspiratif tahun 2025. Sebagai Guru Penggerak dan Fasilitator Nasional PMI, Siti Maryam terus berkomitmen menebar manfaat bagi dunia pendidikan dan kemanusiaan.


Palang Merah Indonesia (PMI) bukan sekadar organisasi sosial biasa, ia adalah napas kemanusiaan yang hadir di tengah deru bencana dan kebutuhan mendesak akan setetes darah. Di Kota Banjar, Jawa Barat, PMI telah tumbuh menjadi pilar penting dalam menjaga resiliensi masyarakat. Dengan semangat pengabdian yang tulus, PMI Kota Banjar terus berupaya menerjemahkan nilai-nilai kemanusiaan universal ke dalam aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan warga “Kota Idaman” ini.

Latar Belakang: Sejarah dan Marwah Kemanusiaan

Eksistensi PMI sebagai Perhimpunan Nasional berakar kuat pada sejarah perjuangan kemerdekaan. Didirikan pada 17 September 1945, hanya sebulan setelah proklamasi, PMI lahir dari kebutuhan mendesak untuk menangani korban perang dan menjalankan misi kemanusiaan di masa transisi kekuasaan. Sebagai bagian dari gerakan internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, PMI memegang teguh tujuh prinsip dasar: Kemanusiaan, Kesamaan, Kenetralan, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, dan Kesemestaan. Keberadaan PMI diperkuat dengan Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2018 tentang kepalangmerahan, dan  Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan UU Kepalangmerahan.

Perlu diketahui bahwa untuk dapat memperoleh persetujuan dari ICRC (International Committee of the Red Cross), sebuah Perhimpunan Nasional harus memenuhi 10 syarat yaitu:

  1. Didirikan di suatu negara yang telah menyetujui Konvensi Jenewa untuk perbaikan kondisi prajurit yang cedera dan sakit di medan perang.
  2. Adalah satu-satunya Perhimpunan Nasional palang merah atau bulan sabit merah di negara tersebut dan pimpinannya harus berwenang untuk mewakili Perhimpunan Nasionalnya.
  3. Diakui oleh pemerintah negaranya sebagai organisasi pendukung untuk instansi pemerintah dalam bantuan kemanusiaan.
  4. Bersifat mandiri untuk dapat bertindak sesuai dengan Prinsip Dasar Gerakan.
  5. Memakai nama dan Lambang Palang Merah atau Lambang Bulan Sabit Merah.
  6. Diorganisir supaya dapat melaksanakan tugasnya pada waktu peperangan dan di masa damai seperti ditentukan oleh anggaran dasarnya.
  7. Melaksanakan tugas di seluruh wilayahnya.
  8. Menerima anggota tanpa membedakan ras, jenis kelamin, tingkat sosial, agama ataupun pandangan politik.
  9. Menyetujui Anggaran Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional dan bekerja sama dengan semua bagian Gerakan.
  10. Menghormati Prinsip Dasar Gerakan dan mematuhi peraturan HPI dalam melaksanakan tugasnya.

PMI Kota Banjar berdiri pada tanggal 3 Desember Tahun 2005 berdasarkan SK PMI Provinsi Jawa Barat Nomor 030/SKP/PD/JBR/PENG/XII/2005. Pada tahun 2020 sesuai surat Walikota Banjar Nomor 900/001.6/BPPKAD/2020 tentang Perjanjian Pinjam Pakai Aset Bangunan, ditetapkan gedung kantor permanen dengan status adalah hak pakai. PMI Kota Banjar beralamat di Jl.R.E Kosasih (Komplek Terminal) Kota Banjar 46311 Jawa Barat.

Memahami Payung Hukum: UU No. 1 Tahun 2018

Keberadaan PMI kini semakin kuat berkat disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan. UU ini merupakan tonggak sejarah yang memberikan kepastian hukum bagi PMI dalam menjalankan mandatnya.

Berdasarkan UU ini, PMI memiliki tugas dan fungsi strategis yang tidak bisa digantikan oleh lembaga lain secara identik, yaitu

  1. Pemberian Bantuan: Memberikan bantuan kepada korban konflik bersenjata, kerusuhan, dan gangguan keamanan lainnya.
  2. Pelayanan Darah: Mengerahkan dan membina donor darah sukarela.

Mengelola Unit Donor Darah (UDD) untuk menjamin ketersediaan darah yang aman, berkualitas, dan cukup bagi masyarakat.

  1. Penanggulangan Bencana: Tugas ini mencakup kesiapsiagaan ( edukasi masyarakat agar tangguh menghadapi ancaman bencana); tanggap darurat: (penanganan cepat saat bencana terjadi, termasuk evakuasi, pertolongan pertama, dan distribusi bantuan logistik); pemulihan ( membantu penyediaan air bersih, sanitasi, dan dukungan psikososial pasca-bencana).
  2. Pembinaan Relawan: Melakukan perekrutan dan pembinaan anggota serta relawan (PMR, KSR, TSR) sebagai motor penggerak organisasi.
  3. Pendidikan dan Pelatihan: Menyelenggarakan diklat yang berkaitan dengan Kepalangmerahan.
  4. Penyebarluasan Prinsip Dasar: Mensosialisasikan 7 Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Hukum Humaniter Internasional.

Kondisi PMI di Kota Banjar: Tantangan dan Bakti

Di Kota Banjar, implementasi UU No. 1 Tahun 2018 ini diwujudkan melalui berbagai program kerja yang adaptif. Namun, kondisi di lapangan tentu memiliki tantangan nyata. Dalam sektor kebencanaan, Kota Banjar secara geografis dilintasi oleh Sungai Citanduy. Hal ini membuat wilayah seperti Kecamatan Purwaharja dan beberapa titik di Pataruman rawan terhadap luapan air saat intensitas hujan tinggi. PMI Kota Banjar senantiasa menyiagakan personel Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR) yang terlatih. Potensi angin kencang juga menjadi kerentanan cukup tinggi di semua area Kota Banjar.

Koordinasi dengan BPBD Kota Banjar berjalan harmonis. PMI sering kali menjadi garda terdepan dalam penyediaan ambulans darurat dan pertolongan pertama. Tantangan utama saat ini adalah modernisasi peralatan evakuasi dan penguatan kapasitas relawan.

Dalam sektor donor darah, Pengambilan darah donor sukarela yang dilakukan oleh UDD PMI Kota Banjar dilaksanakan dalam gedung dan diluar gedung (Mobile Unit) yang dilakukan setiap hari sesuai permintaan dari instansi, dengan mendatangi kelompok masyarakat yang berasal dari pemerintah, swasta, akademik dan lain-lain. Kegiatan donor darah selalu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya karena adanya kesadaraan dari warga Kota Banjar yang sangat tinggi untuk mendonorkan darahnya.

Namun pada tahun 2020 dimana adanya penyebaran corona virus disease (Covid-19) secara nasional. Dan belum maksimalnya jadwal kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh Keluarga Donor Darah Sukarela (KDDS) di Wilayah Kota Banjar dan sekitarnya. Sehingga menimbulkan efek stok darah di Unit Donor darah PMI Kota Banjar yang sangat menipis, tetapi pelayanan atas permintaan darah dari Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Swasta, maupun Klinik harus tetap terpenuhi oleh UDD-PMI Kota Banjar. Kebutuhan darah di PMI Kota Banjar rata-rata 1000 labu/bulan.

Adapun standar proses pengolahan dan pemeriksaan darah di laboraturium antara lain:

1). Uji Saring Darah dari Infeksi Menular Lewat Transfusi darah (IMLTD)

Sebelum darah diberikan kepada pasien yang membutuhkan, darah donor tersebut terlebih dahulu melalui serangkaian pemeriksaan uji saring terhadap 4 jenis penyakit menular melalui transfusi darah (IMLTD), yaitu:

  1. VDRL (Syphilis)
  2. HIV (AIDS)
  3. HCV (Hepatitis C)
  4. HbsAg (Hepatitis B)

2). Pembuatan Komponen Darah

Kantong darah yang telah didapat selanjutnya akan diolah menjadi beberapa macam komponen darah yang dibutuhkan tergantung indikasi penyakit yang diderita pasien. Permintaan komponen darah tergantung dokter yang merawat pasien.

3). Uji Silang Serasi (Crossmatching)

Pemeriksaan Uji silang serasi darah merupakan pemeriksaan utama sebelum dilakukan transfusi darah yaitu memeriksa kecocokan antara darah pasien dengan darah donor sehingga darah yang dikeluarkan oleh UDD-PMI Kota Banjar benar-benar cocok (compatible) dengan darah pasien.

Unit Donor Darah PMI Kota Banjar melayani permintaan darah di wilayah Kota Banjar dan sekitarnya seperti Wilayah Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Majenang). Distribusi darah tersebut dilakukan setelah terjalin MoU dengan pihak Rumah Sakit atau Bank Darah. Mekanisme pengiriman darah dilakukan sesuai dengan SOP yang sudah ditetapkan dengan mengutamakan keamanan dan kualitas darah tersebut menggunakan coolbox dengan suhu 2-6 °C. UDD PMI Kota Banjar telah melakukan MoU dengan lebih dari 10 RS dan klinik kesehatan di dalam dan luar kota Banjar.

Kendala terkait donor darah adalah kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah secara rutin masih perlu ditingkatkan. Sering kali, stok darah mengalami penurunan pada momen tertentu seperti bulan Ramadan atau hari libur panjang, sementara permintaan medis tetap stabil atau bahkan meningkat.

Inovasi dan Harapan ke Depan

Berkhidmat pada kemanusiaan di era digital menuntut PMI Kota Banjar untuk bertransformasi. Penggunaan aplikasi SIDONI untuk informasi stok darah dan pendataan pendonor dan media sosial untuk edukasi mitigasi bencana menjadi langkah positif yang telah diambil. Melalui sinergi antara pemerintah kota, sektor swasta melalui CSR, dan partisipasi aktif masyarakat, PMI Kota Banjar optimis dapat terus menjadi lembaga yang mandiri dan profesional.

Setiap tetes darah yang disumbangkan dan setiap aksi relawan di lokasi bencana adalah wujud nyata dari pengamalan UU Kepalangmerahan. PMI Kota Banjar tidak hanya bekerja saat terjadi krisis, tetapi terus membangun budaya peduli agar kemanusiaan tetap tegak di atas segalanya.

Penutup

PMI Kota Banjar adalah milik kita semua. Dukungan masyarakat—baik dalam bentuk donasi, donor darah, maupun keterlibatan sebagai relawan—adalah energi utama bagi organisasi ini untuk terus berkhidmat. Mari jadikan kemanusiaan sebagai gaya hidup, demi Kota Banjar yang lebih baik, tangguh dan peduli.***

PMI KOTA BANJAR: BERKHIDMAT PADA KEMANUSIAAN Read More »

PERAN DAN KIPRAH KAMPUS DALAM MENDORONG KEMAJUAN KOTA BANJAR

Penulis:
Nova Chalimah Girsang, SH, MH

Nova Chalimah Girsang, SH, MH lahir di Kota Yogyakarta 23 November 1979. Saat ini berdomisili di Kota Banjar berprofesi sebagai Dosen sekaligus juga sebagai seorang Advokat. Ibu dua anak ini, lebih dikenal dengan nama Bu Girsang sebagai Dosen di Perguruan Tinggi di Kota Banjar. Bu Girsang ini lebih dulu berprofesi sebagai advokat sejak 2007 dan kemudian pada 2012 masuk dunia pendidikan mengabdi menjadi dosen. Ilmu hukumnya ditransferkan sebagai dosen pada mata kuliah Sistem Hukum Indonesia, mata kuliah Pembentukan Karakter Etika dan Anti Korupsi serta beberapa mata kuliah lainnya. Bu Girsang juga mengabdi di P2TP2A Kota Banjar sebagai Pendamping Hukum sejak 2012 sampai dengan sekarang. Atas pengabdiannya ini pada 2024 mendapat Penghargaan dari Walikota Banjar. Motto hidupnya “Bersyukur dan Bersabar” telah diterapkan dan bertahan dan terus bergerak dalam dunia pendidikan dan hukum. Aktif menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan serta bersuara aktif di media merupakan salah satu transfer of knowledge yang terus dia laksanakan. Hal ini juga yang membuat Bu Girsang mendapat Penghargaan dari Radar TV sebagai Narasumber Kooperatif. Konsistensi menjadi manusia yang bermanfaat itu menjadi bekal utamanya dalam mengarungi kehidupan.


Manusia akan selalu mengalami permasalahan-permasalahan kehidupan, silih berganti. Kehidupan modern menuntut ekspektasi terlalu tinggi, sehingga manghadapkan manusia dalam dinamisasi problematika kehidupan. Maka diperlukan iman dan skill ilmu untuk menghadapi permasalahan duniawi tersebut. Dalam memperoleh skill maka ilmu mempunyai peran untuk menyelesaikan permasalahan. Ilmu dapat diperoleh secara formal ataupun non formal. Pendidikan secara formal ditempuh berjenjang secara sistematis, hal tersebut supaya tidak menghasilkan sesuatu yang prematur. Diantara jenjang formal adalah menempuh Pendidikan di Perguruan Tinggi.

Peran

Peran Perguruan Tinggi sebagai pusat akademik yaitu berperan untuk meningkatkan kualitas SDM, juga sebagai motorik agen perubahan serta pengembangan karakter yaitu melalui semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga dapat melahirkan lulusan yang kompeten dan berintegritas yang siap menghadapi tantangan global di masa depan. Sehingga Kampus merupakan tempat menimba ilmu mentransformasi pemikiran, perilaku, pemahaman menjadi lebih luas.

Melalui Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu, pertama melalui Pendidikan dan Pengajaran: dengan mentransfer ilmu pengetahuan dan membentuk karakter mahasiswa. Yang kedua adalah Penelitian dan Pengembangan: menghasilkan karya ilmiah, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Yang ketiga adalah Pengabdian kepada Masyarakat: mengabdi dengan menerapkan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah di masyarakat.

Kiprah

Kewajiban Tri Darma Perguruan Tinggi tersebut, dalam Pendidikan, yaitu dengan menghadirkan dosen dosen yang kompeten dibidangnya dengan bukti dosen-dosen yang telah bersertifikasi. Dosen sebagai Transfer of Knowledge dan juga membentuk karakter mahasiswa sehingga dapat capable dan survive dalam tantangan global. Pendidikan dilakukan dengan metode pembelajaran blended learning, dengan mekanisme Project Based Learning dan Case By Methode. Dosen harus bisa beradaptasi dengan perubahan dinamika perilaku mahasiswa. Pendekatan yang friendly mendudukkan mahasiswa untuk ruang sharing dan diskusi.

Di Bidang Penelitian, dalam penelitiannya, kiprah dosen-dosen dalam bidang hal research sehingga telah melahirkan banyak penelitian, yaitu Penelitian Pajak, Penelitian Retribusi, Naskah Akademik PUG, Analisis Kependudukan Toko Modern, Analisis Potensi Daerah dan penelitian-penelitian lainnya. Hal tersebut merupakan kiprah nyata dalam mewujudkan menghasilkan karya ilmiah yang berguna bagi Kota Banjar.

Kiprah dalam Pengabdian kepada Masyarakat, yaitu ikut kontribusi nyata dalam program P2WKSS. Wujud pengabdian juga dilakukan dalam kegiatan KKN yang dilaksanakan di Kota Banjar, merupakan kiprah nyata pengabdian mahasiswa untuk peduli dan merojong kemajuan Kota Banjar.

Tantangan

Tantangan yang dihadapi adalah, rendahnya minat anak-anak dalam melanjutkan Pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Rendahnya minat dikarenakan mereka dihadapkan dengan biaya dan waktu tempuh yang lama. Sehingga lebih memilih untuk bekerja, membuka usaha atau menikah. Untuk meningkatkan minat berkuliah memerlukan support semua pihak, baik Pemerintah Daerah, dunia usaha, maupun pihak keluarga. Beasiswa Pendidikan merupakan peluang untuk meningkatkan minat Pendidikan. Namun karena minimnya beasiswa yang tersedia maka diperlukan support Pemerintah Kota Banjar untuk menambah kuota Beasiswa Pendidikan, karena Pendidikan adalah investasi yang terbaik meraih masa depan, kalau tidak sekarang maka kapan lagi.

Tantangan selanjutnya adalah menciptakan lulusan-lulusan yang kompeten, hal tersebut perlu good environment untuk mewujudkannya. Mutu Pendidikan, kesempatan pekerjaan, penguatan resistensi dalam menghadapi masalah, diperlukan untuk lulusan yang capable. Diperlukan spirit semangat dari diri mahasiswa itu sendiri untuk terus maju dan menyelesaikan Pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa diharapkan bermetamorfosis, bentuk keberhasilan menempuh Pendidikan mereka. Menanamkan bahwa Pendidikan adalah penting dan utama perlu dimulai ditahapan keluarga, sehingga anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran pentingnya mencari ilmu.

Bila tetap dibiarkan angka lulusan S1 yang rendah, maka akan berat, karena anak-anak Banjar inilah yang akan menjadi pemimpin Banjar di masa mendatang, jadi memang perlu diperjuangkan bersama-sama untuk tujuan bersama yang mulia.

Harapan

Rendahnya angka lulusan Strata Satu di Kota Banjar harus mendapat perhatian untuk dibenahi.  Karena Kampus sebagai tempat menimba ilmu harus dijaga dan didorong untuk tetap maju. Dengan kampus yang maju maka menjadi efek untuk lebih ikut mendorong kemajuan Kota Banjar.  Menjadi Kampus Unggul berharap dapat menciptakan lulusan excellent yang berdaya guna untuk masa depan Kota Banjar, mari kita mulai bersama, siapapun anda, berperanlah untuk bergerak mendorong Pendidikan untuk mendorong kemajuan Kota Banjar.***

PERAN DAN KIPRAH KAMPUS DALAM MENDORONG KEMAJUAN KOTA BANJAR Read More »

BERTEPATAN MOMENTUM HGN 2026 BUKU LITERASI KESEHATAN DILUNCURKAN

Sebagaimana kita mafhum bahwa penetapan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimulai pada tahun 1964, tepatnya pada tanggal 12 November 1964. Penetapan waktu ini dipilih mengingat keberhasilan Indonesia saat itu dalam memberantas wabah malaria melalui Program Pemberantasan Malaria Nasional (PMN). Momen ini menjadi tonggak sejarah dan komitmen bangsa untuk membangun kesehatan masyarakat, dengan peringatan pertama HKN dilakukan pada 12 November 1964.

Kini setiap tanggal 12 November pemerintah selalu memperingati HKN sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, baik kesehatan diri, keluarga maupun lingkungan. Peringatan HKN juga bertujuan membangun semangat, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat serta mengajak masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tema HKN pada tahun 2025 saat kami menyelenggarakan seminar tersebut adalah “Generasi Sehat Masa Depan Hebat” menjadi momentum tersendiri bagi kawula muda untuk turut berkiprah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. Dalam semangat ini, kami dari YRBK bersama para pihak berupaya mendorong kawula muda di Kota Banjar agar senantiasa memiliki kesadaran akan pentingnya literasi kesehatan.

Qodarulloh, tepat dua bulan setelah acara seminar tersebut, kini naskah buku hasil tulisan para peserta seminar mewujud menjadi “dokumentasi serius” yang siap diluncurkan pada momen yang juga sangat tepat yakni pada Hari Gizi Nasional (HGN) yang secara resmi ditetapkan dan diperingati pemerintah pada setiap tanggal 25 Januari.

Penyambutan Hari Gizi Nasional (HGN) tahun 2026 menorehkan rekor MURI.  Pelaksanaan kegiatan Gebyar Edukasi Kesehatan yang digagas PERSAGI dan Dinas Kesehatan ini tercatat sebagai kegiatan yang luar biasa sehingga menorehkan prestasi dan dicatat oleh Museum Rekor Indonesia atau MURI sebagai salah satu kegiatan spektakuler.

Seperti dilansir DPP PERSAGI yang melaporkan bahwa kegiatan Gebyar Edukasi Kesehatan ini diikuti oleh ribuan sekolah se-Indonesia secara serenpak dan tercatat diikuti oleh lebih dari 55.000 siswa secara nasional dari Aceh hingga Papua. Ketua Umum DPP PERSAGI Doddy Izwardy mengatakan bahwa kegiatan ini melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, serta sekitar 18 ribu sekolah di seluruh Indonesia.

“Tujuan kita hari ini, pertama insyaallah mendapatkan rekor MURI karena melakukan edukasi gizi serentak dan besar. Tapi yang paling penting, ini adalah bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki kualitas gizi bangsa,” pungkasnya.

HGN di Kota Banjar

Kota Banjar juga menjadi salah satu titik pelaksanaan penyambutan Hari Gizi Nasional (HGN) yang ke-66 tahun ini yang diprakarsai PERSAGI Kota Banjar dan Dinas Kesehatan Kota Banjar. Di Kota Banjar, Jawa Barat kegiatan ini dipusatkan di SMK Negeri 2 Banjar.

“Saya mewakili lembaga merasa bangga dan mengucapkan terima terima kasih karena sekolah kami, SMKN 2 Banjar dipilih sebagai lokasi kegiatan gebyar HGN tingkat Kota Banjar. Ini tentu saja menjadi sebuah kehormatan dan kebanggan bagi kami warga SMKN 2 Banjar,” kata Kepala SMKN 2 Banjar Dra. Hj. Nunung Erni Nuraeni, M.M., Pd. dalam sambutan pembukanya.  

Selain Kepala SMKN 2 Banjar, sambutan juga disampaikan Ketua PERSAGI Kota Banjar Galih Permana Putra, SKM dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, H. Saifuddin, A.Ks., M.Kes. Ketua PERSAGI Kota Banjar dan Kepala Dinas Kesehatan mengingatkan pentingnya edukasi kesehatan di kalangan pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan bukan saja menjadi siswa yang pintar, tapi juga sehat sehingga mampu bersaing di tingkat nasional maupun di tingkat global.

“Semoga kegiatan ini menjadi momentum penting dan memberikan dukungan dalam pencapaian masa depan kita, terutama para kawula muda sebagai generasi penerus, untuk menuju Generasi Emas di Tahun 2045,” kata H. Saifuddin, A.Ks., M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar.

Kegiatan Gebyar Edukasi Kesehatan yang dilaksanakan secara nasional ini untuk di Kota Banjar ada nilai tambahnya yaitu dengan diluncurkannya buku “Antologi Literasi Kesehatan Versi GenZi”. Buku ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bersama Dinas Kesehatan Kota Banjar dan Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN) Kota Banjar.

Buku Literasi Kesehatan Diluncurkan

Buku “Antologi Literasi Kesehatan Versi GenZi” ditulis oleh para siswa terpilih dari tingkat SLTA se-Kota Banjar. Ada 15 Penulis terpih yaitu: Adinda Zahra Sofiantima, Azka Khoerunnisa, Doni Rayhan Nugraha, Ilham Sahrul, Isna Nabila, Luzaena Farah Jamila, Nara Agustin, Putri Nazjla Nataneila, Raisya Aulia Putri, Rara Sekar Andini, Rina Kustianingsih, Risma Wati, Rizki Zian Nurfalah, Siti Nurrohmah, Wiedya Natalya Az Zahra serta Ivan Mahendrawanto, Putri Sri Jayanti dan Sofian Munawar sebagai Tim Editor.

“Buku ini menjadi bukti dan penanda penting bahwa kawula muda memiliki kepedulian soal isu kesehatan dan lebih dari itu mereka diharapkan dapat menjadi motor utama yang mendorong masyarakat menjadi literat, memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatan sebagai salah satu modal dasar pembangunan,” pungkas Sofian Munawar, editor buku yang juga Founder Ruang Baca Komunitas.***

Link berita terkait:

  1. Arah Pena.id

Hari Gizi Nasional 2026 Pecahkan Rekor MURI  Kota Banjar Luncurkan Buku Karya Siswa Gen Z https://www.arahpena.com/berita/77916600780/hari-gizi-nasional-2026-pecahkan-rekor-muri-kota-banjar-luncurkan-buku-karya-siswa-gen-z

  1. Bandung Pos

Di Hari Gizi Nasional-2026, Buku Literasi Kesehatan Diluncurkan – Bandung Pos https://share.google/hJ07XD0gyS5oPNyoq

  1. Zona Literasi

Sambut HGN YRBK Kolaborasi dengan Para Pihak Luncurkan Buku:

https://zonaliterasi.id/sambut-hgn-2026-yrbk-dinkes-dan-asklin-kota-banjar-kolaborasi-luncurkan-buku-literasi-kesehatan/

  1. Kabar Priangan Cetak, Edisi 23 Januari 2026

Link terkait lainnya:

Sambut HGN, Buku Meluncur, https://www.instagram.com/p/DTwk_f1jGYg/

Headline News: https://www.instagram.com/p/DT2RPC2EdEh/

BERTEPATAN MOMENTUM HGN 2026 BUKU LITERASI KESEHATAN DILUNCURKAN Read More »

DARI RUANG KELAS KE RUMAH BELAJAR

Penulis: Nurholilah, S.Pd.

Nurholiah merupakan seorang guru di UPTD SDN 1 Sukamukti Kec. Pataruman Kota Banjar. Ia aktif mengabdikan diri di dunia pendidikan formal sekaligus memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat bahwa minat anak terhadap literasi dan kebiasaan belajar anak-anak yang masih memerlukan bimbingan dan peningkatan, Nurholiah mendirikan rumah belajar Ki Hajar dan sekaligus menjadi pengajarnya. Rumah Belajar Ki Hajar merupakan sebuah bimbingan belajar gratis yang juga berfungsi sebagai taman baca anak. Rumah belajar tersebut beralamat di Lingkungan Cipadung RT 10/04, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Melalui kegiatan ini, ia berkomitmen mendedikasikan waktu dan tenaga untuk untuk masyarakat sekitar dalam membantu anak-anak PAUD dan SD agar tumbuh menjadi pembelajar yang aktif, mandiri, dan berkarakter


Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menentukan arah masa depan suatu bangsa. Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat saat ini, peran guru tidak hanya terbatas pada ruang kelas formal, tetapi juga meluas ke kehidupan sosial kemasyarakatan. Guru tidak sekadar berfungsi sebagai pengajar, melainkan juga sebagai pendidik, pembimbing, teladan, serta agen perubahan sosial. Kesadaran inilah yang mendorong penulis, sebagai seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), untuk menuliskan sekaligus merefleksikan sepak terjang pengabdian dalam dunia pendidikan dan masyarakat melalui inisiatif pendirian sebuah rumah belajar bernama Ki Hajar”.

Sebagai seorang guru, penulis memiliki komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Profesi guru bukan hanya pekerjaan, tetapi juga panggilan jiwa yang menuntut dedikasi, kepedulian, dan keikhlasan dalam membimbing generasi penerus bangsa. Selain menjalankan tugas utama sebagai pendidik di sekolah, penulis juga merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan tempat tinggal. Harapan yang tumbuh adalah agar kehadiran penulis dapat dirasakan, tidak hanya oleh murid di sekolah, tetapi juga oleh anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitar.

Namun demikian, niat untuk berkontribusi secara lebih luas di masyarakat bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Sebagai guru PNS, keseharian penulis banyak dihabiskan di tempat kerja dengan tanggung jawab administratif dan pembelajaran yang cukup padat. Waktu dan tenaga sering kali tersita untuk memenuhi kewajiban profesional di sekolah, sehingga ruang untuk melakukan kegiatan sosial pendidikan di luar jam kerja menjadi terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis dalam upaya menyeimbangkan peran sebagai pendidik formal dan sebagai warga masyarakat yang ingin berkontribusi secara langsung.

Tantangan lain yang semakin menguatkan kegelisahan penulis adalah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, khususnya pada anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar. Setiap akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif, pembelajaran, atau interaksi sosial yang bermakna, justru banyak dihabiskan untuk bermain gawai. Anak-anak tampak larut dalam dunia digital tanpa pendampingan yang memadai, sehingga berpotensi menurunkan minat belajar, kemampuan literasi dasar, serta interaksi sosial mereka. Kondisi ini tentu memprihatinkan, mengingat usia dini dan usia sekolah dasar merupakan masa emas perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak.

Di sisi lain, pembelajaran di sekolah juga dirasakan semakin menantang. Waktu belajar yang relatif singkat, tuntutan kurikulum yang padat, serta perbedaan kemampuan murid membuat proses pembelajaran tidak selalu dapat berjalan secara optimal. Tidak semua anak mampu memahami materi pelajaran dengan baik dalam waktu yang terbatas. Akibatnya, masih terdapat anak-anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, berhitung, maupun memahami konsep-konsep dasar pelajaran. Jika kondisi ini tidak segera mendapatkan perhatian dan pendampingan tambahan, dikhawatirkan akan berdampak pada capaian belajar dan kepercayaan diri anak di masa depan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, penulis merasa terpanggil untuk mengambil langkah nyata. Dengan segala keterbatasan waktu dan sumber daya, penulis menginisiasi pendirian sebuah rumah belajar yang diberi nama Rumah Belajar “Ki Hajar”. Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, yang menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, humanis, dan berpihak pada kebutuhan murid. Rumah belajar ini diharapkan menjadi ruang alternatif pembelajaran yang ramah, inklusif, dan bermanfaat bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Rumah Belajar Ki Hajar didirikan sebagai bentuk dedikasi penulis kepada masyarakat, dengan tujuan utama membantu anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung, serta memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran di sekolah. Selain berfungsi sebagai tempat bimbingan belajar gratis, rumah belajar Ki Hajar juga dikembangkan sebagai taman baca anak yang menyediakan berbagai bahan bacaan sesuai usia dan jenjang pendidikan. Kehadiran taman baca ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca, meningkatkan literasi, serta membiasakan anak-anak berinteraksi dengan buku sebagai sumber pengetahuan yang menyenangkan. Rumah belajar ini diselenggarakan secara gratis sebagai wujud kepedulian sosial dan komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu dengan durasi waktu sekitar 90 menit mulai pukul 10.00 sampai pukul 11.30, sehingga tidak mengganggu kewajiban utama penulis sebagai guru di sekolah.

Peserta rumah belajar Ki Hajar terbuka untuk anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar, baik kelas bawah maupun kelas tinggi. Pendekatan pembelajaran yang digunakan bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik murid. Anak-anak PAUD difokuskan pada pengenalan huruf, angka, serta pengembangan motorik dan minat belajar melalui kegiatan yang menyenangkan. Sementara itu, siswa SD kelas bawah diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi dasar, sedangkan siswa SD kelas tinggi dibimbing untuk memahami materi pelajaran sekolah, mengerjakan latihan, serta mengembangkan keterampilan berpikir.

Saat ini, rumah belajar Ki Hajar secara rutin diikuti oleh sekitar 15 orang anak yang berasal dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD kelas bawah, hingga SD kelas tinggi. Jumlah ini mungkin belum besar, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi penulis. Setiap anak yang hadir membawa harapan, potensi, dan cerita masing-masing. Melalui rumah belajar ini, penulis berupaya menciptakan suasana belajar yang nyaman, aman, dan memotivasi, sehingga anak-anak merasa senang untuk belajar dan tidak sekadar menjadikan belajar sebagai kewajiban.

Keberadaan rumah belajar Ki Hajar juga diharapkan dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di akhir pekan, sehingga waktu mereka tidak sepenuhnya dihabiskan untuk bermain gawai. Dengan pendampingan belajar yang tepat, anak-anak diajak untuk memanfaatkan waktu luang secara lebih produktif, membangun kebiasaan belajar, serta meningkatkan kemampuan akademik dan karakter. Selain itu, rumah belajar ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat nilai kebersamaan, disiplin, dan saling menghargai.

Bagi penulis, rumah belajar Ki Hajar bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga sarana pengabdian dan pembelajaran hidup. Melalui kegiatan ini, penulis belajar untuk lebih memahami kondisi masyarakat, kebutuhan anak-anak, serta pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Meski dijalankan dengan sederhana, rumah belajar ini menjadi wujud nyata dari keyakinan bahwa setiap individu dapat berkontribusi bagi pendidikan, sesuai dengan peran dan kemampuannya masing-masing.

Ke depan, penulis berharap rumah belajar Ki Hajar dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Rumah belajar ini berlokasi di wilayah Cipadung, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, dan dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar serta dedikasi penulis dalam momentum peringatan ulang tahun Kota Banjar. Melalui langkah sederhana ini, penulis berupaya berkontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah, khususnya di lingkungan terdekat tempat tinggal. Tidak hanya dari segi jumlah peserta, tetapi juga dari kualitas pembelajaran dan dampak positif yang dihasilkan. Dengan dukungan lingkungan dan niat tulus untuk berbagi, rumah belajar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat dimulai dari langkah kecil, namun konsisten.

Pada akhirnya, tulisan ini merupakan refleksi perjalanan dan dedikasi penulis sebagai seorang guru dan warga masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, keyakinan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama menjadi landasan utama dalam setiap langkah pengabdian. Melalui rumah belajar Ki Hajar, penulis berharap dapat terus menebar manfaat, menyalakan semangat belajar, dan turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari lingkungan terdekat.***

DARI RUANG KELAS KE RUMAH BELAJAR Read More »

KIPRAH JABAR BERGERAK KOTA BANJAR MENDORONG SEMANGAT SOLIDARITAS

Penulis: Hermanto

Jabar Bergerak Kota Banjar merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri pada Februari 2019 dan resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada November 2019 di Gedung Pakuan Bandung.  Dipimpin oleh Ari Faturohman, organisasi ini mengusung semangat Salam KolaborAksi dan Bergerak Bersama dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, keagamaan, budaya, pariwisata, serta kesehatan lingkungan. Dengan enam bidang utama, Jabar Bergerak Kota Banjar berkomitmen menumbuhkan solidaritas, gotong royong, dan kepedulian masyarakat demi terwujudnya Kota Banjar yang lebih berdaya dan berkeadilan.

Pendahuluan

Kota Banjar sebagai wilayah paling timur di Provinsi Jawa Barat memiliki karakter sosial yang kuat, menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kepedulian antar warga.

Di tengah tantangan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan yang terus berkembang, kehadiran gerakan kolaboratif menjadi sangat penting. Salah satu organisasi sosial yang konsisten menghidupkan semangat tersebut adalah Jabar Bergerak Kota Banjar.

Jabar Bergerak Kota Banjar berdiri pada Februari 2019 sebagai bagian dari gerakan besar Jabar Bergerak yang diinisiasi di tingkat Provinsi Jawa Barat. Jabar Bergerak Kota Banjar ini kemudian resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada November 2019 di Gedung Pakuan, Bandung. Hal ini menandai pengakuan dan legitimasi peran Jabar Bergerak sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat.

Mengusung semangat “Salam KolaborAksi” dan “Bergerak Bersama”, Jabar Bergerak Kota Banjar terus berkomitmen menjadi motor penggerak solidaritas sosial dengan prinsip kerja nyata, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Semangat KolaborAksi sebagai Fondasi Gerakan

Motto KolaborAksi bukan sekedar slogan, melainkan roh pergerakan Jabar Bergerak Kota Banjar. Kolaborasi dipadukan dengan aksi nyata menjadi kekuatan utama dalam setiap kegiatan.

Gerakan ini menyatukan berbagai elemen mulai dari pemuda, komunitas, tokoh masyarakat, relawan, hingga pemerintah daerah untuk bergerak bersama menjawab persoalan sosial di Kota Banjar.

Prinsip “Bergerak Bersama” menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Setiap program Jabar Bergerak Kota Banjar selalu mengedepankan partisipasi aktif masyarakat, sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan dan dimiliki bersama.

Frasa penyemangat “Terus Bergerak Sampai Jantung Berhenti Berdetak” menjadi pengingat bahwa pengabdian sosial adalah perjalanan panjang yang menuntut konsistensi, keikhlasan, dan ketulusan tanpa henti.

Kepemimpinan yang Menggerakkan

Di bawah kepemimpinan Ari Faturohman, Jabar Bergerak Kota Banjar berkembang menjadi organisasi yang solid, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kepemimpinan yang inklusif dan komunikatif mampu merangkul berbagai kalangan untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

Ari Faturohman menanamkan nilai bahwa relawan bukan sekedar pelaksana kegiatan, melainkan agen perubahan sosial. Melalui pendekatan humanis dan visioner, ia mendorong setiap bidang untuk terus berinovasi, membuka ruang kolaborasi, serta berorientasi pada dampak nyata dan berkelanjutan. Kepemimpinan ini menciptakan iklim organisasi yang sehat, partisipatif, dan penuh semangat pengabdian.

Enam Bidang sebagai Pilar Gerakan

Untuk menjalankan visi besarnya, Jabar Bergerak Kota Banjar memiliki enam bidang utama yang saling melengkapi:

  1. Bidang Sosial

Bidang Sosial menjadi garda terdepan dalam kegiatan kemanusiaan, mulai dari bantuan bencana alam, santunan masyarakat kurang mampu, pembagian sembako, bedah rumah, hingga pendampingan sosial. Kehadiran bidang ini memperkuat rasa empati dan solidaritas antarwarga, terutama bagi kelompok rentan.

  1. Bidang Agama

Bidang Agama berperan memperkuat nilai spiritual dan toleransi melalui kegiatan keagamaan, santunan anak yatim, safari Ramadhan, dukungan kegiatan lintas komunitas keagamaan, serta pembinaan akhlak sosial. Nilai religius dijadikan fondasi moral dalam setiap gerakan kemanusiaan.

  1. Bidang Hubungan Masyarakat (Humas)

Bidang Humas menjadi jembatan komunikasi antara organisasi dan publik. Melalui publikasi, dokumentasi, dan strategi komunikasi yang baik, bidang ini memastikan setiap kegiatan Jabar Bergerak Kota Banjar tersampaikan secara transparan, edukatif, dan menginspirasi.

  1. Bidang Pariwisata, Kuliner, dan Budaya (PAKUYA)

Bidang PAKUYA berfokus pada pelestarian budaya lokal, pengembangan potensi pariwisata, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis kuliner khas Banjar. Bidang ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, seniman, dan generasi muda dalam mengangkat identitas lokal.

  1. Bidang Kesehatan Lingkungan (Kesling)

Bidang Kesling aktif mengampanyekan pola hidup bersih dan sehat melalui kegiatan bersih lingkungan, edukasi kesehatan masyarakat, serta kepedulian terhadap kelestarian alam. Kesadaran akan lingkungan sehat diposisikan sebagai bagian penting dari kesejahteraan sosial.

  1. Bidang Pendidikan

Bidang Pendidikan berfokus pada peningkatan literasi, pendampingan belajar, dukungan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, serta penguatan karakter generasi muda. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Kota Banjar.

Dampak Nyata bagi Masyarakat Kota Banjar

Kiprah Jabar Bergerak Kota Banjar tidak hanya terlihat dari banyaknya program, tetapi dari dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui pendekatan kolaboratif, organisasi ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya saling membantu dan peduli.

Partisipasi relawan dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa Jabar Bergerak Kota Banjar telah menjadi ruang belajar sosial, tempat generasi muda mengasah empati, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Menuju Kota Banjar yang Lebih Solid dan Berdaya

Dengan semangat “Jabar Juara Lahir Batin” dan visi besar “Indonesia Juara”, Jabar Bergerak Kota Banjar terus melangkah maju. Tantangan sosial yang ada dijadikan peluang untuk berinovasi dan memperkuat jejaring kolaborasi.

Ke depan, Jabar Bergerak Kota Banjar berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra masyarakat dan pemerintah, menjaga semangat gotong royong, serta memastikan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan memberi arti besar bagi kemanusiaan.

Penutup

Jabar Bergerak Kota Banjar adalah bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari kepedulian dan kebersamaan. Dengan KolaborAksi sebagai napas perjuangan, organisasi ini terus menggerakkan solidaritas sosial tanpa pamrih.

“Terus Bergerak Sampai Jantung Berhenti Berdetak” bukan sekedar slogan, melainkan janji pengabdian bagi Kota Banjar dan Jawa Barat yang lebih berdaya, adil, dan berkeadaban.

***

KIPRAH JABAR BERGERAK KOTA BANJAR MENDORONG SEMANGAT SOLIDARITAS Read More »

KETIKA ANGKA TURUN, INTEGRITAS DIUJI: Membaca MCP dan SPI Kota Banjar dalam Semangat Banjar Masagi

Penulis: Reny Andriany

Penulis adalah praktisi pendidikan dan penguatan integritas yang aktif sebagai Master Asesor Kompetensi dari BNSP RI, Penyuluh Antikorupsi Utama dari LSP KPK RI, serta fasilitator pelatihan di bidang asesmen dan tata kelola kelembagaan. Peran-peran tersebut ia jalani dengan keyakinan bahwa kualitas sistem tidak pernah melampaui kualitas manusia yang menggerakkannya.

Dalam pengalamannya mendampingi pendidik, asesor, dan institusi publik, penulis berulang kali menemukan satu benang merah: regulasi dan indikator sudah tersedia, tetapi integritas kerap diuji pada praktik paling sederhana. Dari situlah ketertarikannya pada isu antikorupsi dan asesmen tumbuh—bukan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai sikap sadar dalam menjalankan peran.

Melalui tulisan dan fasilitasi, ia memilih pendekatan yang membumi, berbasis data dan standar, namun tetap memberi ruang refleksi. Baginya, pendidikan, asesmen, dan antikorupsi bertemu pada satu titik penting: keberanian untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab, bahkan ketika tidak sedang diawasi.


Dalam wacana pemberantasan korupsi di daerah, angka seringkali dipahami secara dangkal: naik berarti berhasil, turun berarti gagal. Padahal, dalam konteks tata kelola pemerintahan dan integritas publik, angka justru harus dibaca sebagai sinyal, bukan sekadar skor. Kota Banjar, Jawa Barat, memberikan contoh menarik bagaimana data antikorupsi perlu dimaknai secara jernih, kritis, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Berdasarkan data yang dipublikasikan melalui platform JAGA.ID milik Komisi Pemberantasan Korupsi, nilai Monitoring Center for Prevention (MCP) Kota Banjar pada tahun 2024 tercatat 90, lalu turun menjadi 85 pada tahun 2025. Sementara itu, Survei Penilaian Integritas (SPI) juga mengalami penurunan tipis dari 77,87 (2024) menjadi 77,53 (2025).

Penurunan ini mungkin terlihat kecil, tetapi justru di situlah letak pentingnya: integritas tidak pernah runtuh secara dramatis, melainkan melemah perlahan ketika kewaspadaan menurun.

Antara Sistem yang Kuat dan Implementasi yang Rapuh

MCP pada dasarnya mengukur kepatuhan sistem pencegahan korupsi di pemerintah daerah. Skor 85 pada 2025 menunjukkan bahwa secara struktural, sistem antikorupsi Kota Banjar masih berada dalam kategori baik. Namun jika dibandingkan dengan capaian 2024, penurunan lima poin mengindikasikan adanya pelemahan konsistensi implementasi, bukan pembongkaran sistem.

Data MCP 2025 Kota Banjar menunjukkan bahwa penurunan skor tidak terjadi merata, melainkan terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu. Dua area yang paling menonjol adalah pelayanan publik dan pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD), yang masing-masing mencatat skor 76.

Pelayanan publik merupakan wajah paling nyata dari negara di mata warga. Ketika standar layanan tidak konsisten, transparansi biaya dan waktu belum seragam, atau mekanisme pengaduan tidak responsif, maka risiko korupsi mikro—seperti pungutan liar atau perlakuan diskriminatif—menjadi lebih besar. Inilah sektor yang secara langsung mempengaruhi persepsi publik, dan karenanya sangat beririsan dengan SPI.

Sementara itu, pengelolaan BMD adalah persoalan klasik di banyak daerah. Aset yang tidak tertib administrasi, tidak mutakhir, atau tidak optimal pemanfaatannya bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga celah integritas. Penurunan skor di sektor ini menunjukkan bahwa reformasi birokrasi membutuhkan ketekunan jangka panjang, bukan sekadar kepatuhan sesaat.

SPI dan Persepsi Publik yang Tak Bisa Direkayasa

Berbeda dengan MCP yang menilai sistem, SPI mengukur pengalaman dan persepsi—baik dari internal birokrasi maupun pengguna layanan. Penurunan SPI Kota Banjar dari 77,87 menjadi 77,53 mungkin terlihat minimal, tetapi dalam logika survei integritas, perubahan sekecil ini tetap signifikan.

SPI sensitif terhadap hal-hal yang sering luput dari laporan formal: sikap aparatur di loket layanan, konsistensi penerapan aturan, tindak lanjut pengaduan, hingga rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Dengan kata lain, SPI adalah cermin kepercayaan, dan kepercayaan publik tidak bisa dipertahankan hanya dengan regulasi atau aplikasi digital.

Penurunan tipis ini memperkuat dugaan bahwa tantangan Kota Banjar bukan terletak pada ketiadaan komitmen antikorupsi, melainkan pada internalisasi nilai integritas dalam praktik sehari-hari, terutama di titik-titik layanan langsung.

Banjar Masagi: Filosofi yang Diuji oleh Data

Dalam konteks lokal, Kota Banjar mengusung visi pembangunan Banjar Masagi—sebuah konsep yang berakar pada filosofi Sunda masagi, yang berarti paripurna, utuh, dan kokoh. Secara konseptual, Banjar Masagi mencerminkan cita-cita pembangunan yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga adil, sejahtera, berlandaskan nilai moral, serta adaptif terhadap perubahan.

Namun, data MCP dan SPI 2024–2025 menunjukkan bahwa filosofi Masagi sedang diuji pada level implementasi, khususnya pada aspek keadilan layanan dan konsistensi tata kelola. Ini bukan pertentangan, melainkan pengingat: nilai-nilai luhur hanya akan bermakna jika diterjemahkan ke dalam perilaku birokrasi yang nyata.

Jika Banjar Masagi dimaknai sebagai pembangunan manusia yang utuh, maka integritas aparatur dan kualitas pelayanan publik harus menjadi indikator utama keberhasilannya.

Membaca Penurunan sebagai Alarm, Bukan Vonis

Penting untuk ditegaskan bahwa penurunan MCP dan SPI Kota Banjar bukanlah kegagalan, melainkan alarm dini. Alarm bahwa sistem yang relatif kuat tetap membutuhkan pemeliharaan serius. Alarm bahwa budaya antikorupsi tidak boleh berhenti pada dokumen RPJMD atau forum koordinasi, tetapi harus hidup dalam rutinitas pelayanan dan pengambilan keputusan.

Justru daerah yang berani membaca penurunan skor secara jujur memiliki peluang lebih besar untuk melakukan koreksi dini, dibanding daerah yang terlena oleh angka tinggi tanpa refleksi.

Rekomendasi Strategis Menuju 2026

Jika Kota Banjar ingin mengembalikan —bahkan meningkatkan— nilai MCP dan SPI pada 2026, beberapa langkah strategis perlu diprioritaskan.

Pertama, pembenahan pelayanan publik sebagai fokus utama. Standarisasi SOP layanan prioritas, transparansi biaya dan waktu secara visual, serta penguatan tindak lanjut pengaduan publik harus menjadi agenda lintas OPD. Perbaikan di sektor ini berpotensi langsung mendongkrak SPI sekaligus MCP.

Kedua, penataan serius pengelolaan BMD. Digitalisasi basis data aset, audit internal tematik, serta integrasi antara perencanaan, penganggaran, dan pemanfaatan aset perlu dilakukan secara konsisten. BMD bukan sekadar aset fisik, tetapi simbol akuntabilitas negara.

Ketiga, penguatan peran ASN sebagai role model integritas. Penilaian kinerja aparatur seharusnya tidak hanya berbasis output, tetapi juga perilaku etis. Reward terhadap praktik integritas yang baik sama pentingnya dengan sanksi terhadap pelanggaran.

Keempat, mendorong partisipasi publik yang bermakna. Masyarakat perlu tahu bahwa laporan mereka ditindaklanjuti, bukan sekadar diterima. Transparansi proses tindak lanjut akan memperkuat kepercayaan dan memperbaiki persepsi integritas.

Penutup

Integritas tidak pernah statis. Ia bergerak seiring dengan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk berbenah. Data MCP dan SPI Kota Banjar 2024–2025 mengajarkan satu hal penting: pembangunan antikorupsi bukan soal mempertahankan angka, tetapi menjaga nilai.

Jika Banjar Masagi ingin benar-benar menjadi wajah pembangunan yang paripurna, maka pembacaan jujur atas data integritas harus dijadikan pijakan. Sebab di situlah masa depan kepercayaan publik ditentukan—bukan oleh slogan, melainkan oleh pengalaman nyata warga dalam berinteraksi dengan negara.***

KETIKA ANGKA TURUN, INTEGRITAS DIUJI: Membaca MCP dan SPI Kota Banjar dalam Semangat Banjar Masagi Read More »

Scroll to Top