MENGHARUMKAN KOTA TERCINTA MELALUI PARTISIPASI OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT NASIONAL DAN INTERNASIONAL

Penulis: Herri Herdiman, S.E., M.Pd., C.LM., C.BMS.

Herri Herdiman, S.E., M.Pd., C.LM., C.BMS. merupakan pembina nasional dan internasional di bidang matematika yang berpengalaman dalam pengembangan kompetensi siswa kompetitif. Beliau menempuh pendidikan dan pelatihan khusus matematika melalui Asian Math Summer Camp dengan para profesor ahli dari berbagai negara, di antaranya Dr. Ridwan Hasan Saputra (Indonesia), Prof. When Hsien Sun (Taiwan), Prof. Simon L. Chua (Filipina), Prof. Sombut (Thailand), dan Prof. Harold Riter (Amerika Serikat). Dedikasinya berfokus pada pembinaan siswa berprestasi dan penguatan pendidikan matematika berstandar global.


Pendahuluan

Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun peradaban dan kemajuan suatu daerah. Di era globalisasi, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Salah satu indikator penting kualitas pendidikan adalah prestasi akademik peserta didik, khususnya dalam bidang sains dan matematika. Olimpiade Matematika tingkat nasional dan internasional menjadi wahana strategis untuk mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi sekaligus mengharumkan nama kota tercinta di kancah yang lebih luas.

Partisipasi siswa dalam Olimpiade Matematika bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan proses pembinaan karakter, intelektual, dan daya juang. Ketika seorang siswa berhasil meraih prestasi, keberhasilan tersebut membawa identitas daerahnya sebagai kota yang peduli pada pendidikan dan pengembangan potensi generasi muda. Oleh karena itu, pembinaan Olimpiade Matematika perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan kota dan bangsa.

Olimpiade Matematika sebagai Sarana Pengembangan Potensi Siswa

Olimpiade Matematika dirancang untuk menantang kemampuan berpikir logis, analitis, dan kreatif siswa. Soal-soal yang disajikan menuntut pemahaman konsep yang mendalam, ketelitian, serta kemampuan memecahkan masalah secara sistematis. Melalui proses ini, siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter seperti disiplin, ketekunan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Pembinaan Olimpiade Matematika yang terstruktur mendorong siswa untuk terbiasa berpikir kritis dan reflektif. Kemampuan ini sangat relevan dengan kebutuhan abad ke-21, di mana generasi muda dituntut mampu beradaptasi, berinovasi, dan bersaing secara global. Dengan demikian, partisipasi dalam Olimpiade Matematika menjadi sarana efektif untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul.

Peran Olimpiade Matematika dalam Mengharumkan Nama Kota

Prestasi siswa pada tingkat nasional dan internasional membawa dampak positif yang signifikan bagi citra sebuah kota. Kota yang konsisten melahirkan siswa berprestasi akan dikenal sebagai pusat pendidikan berkualitas. Hal ini tidak hanya meningkatkan kebanggaan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas kota sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual.

Selain itu, prestasi Olimpiade Matematika mampu mendorong tumbuhnya ekosistem pendidikan yang sehat. Sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah terdorong untuk berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dukungan berupa fasilitas, pelatihan guru, dan program pembinaan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan prestasi.

Partisipasi Nasional dan Internasional

Pada tingkat nasional, ajang seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) dan kompetisi sakal nasional lainnya menjadi tolok ukur kualitas pendidikan antar daerah. Siswa yang berhasil melaju hingga tingkat nasional menunjukkan bahwa sistem pembinaan di daerahnya berjalan efektif. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kota tersebut mampu bersaing secara akademik dengan daerah lain.

Sementara itu, partisipasi pada tingkat internasional, ajang seperti International Mathematics Contest Singapore (IMCS), International Kangoro Mathematics Competition (IKMC) dan kompetisi skala internasional lainnya memberikan dampak yang lebih luas. Olimpiade Matematika internasional membuka ruang interaksi lintas budaya dan memperkenalkan siswa pada standar global. Keikutsertaan siswa di ajang internasional tidak hanya membawa nama sekolah dan kota, tetapi juga mengangkat citra bangsa. Prestasi internasional menjadi kebanggaan kolektif yang mampu menginspirasi generasi muda lainnya.

Strategi Pembinaan Olimpiade Matematika

Keberhasilan dalam Olimpiade Matematika tidak terjadi secara instan. Diperlukan strategi pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan. Tahapan pembinaan meliputi identifikasi bakat sejak dini, pelatihan intensif, pendampingan oleh pembina berkompeten, serta evaluasi berkelanjutan.

Peran guru dan pembina sangat krusial dalam proses ini. Guru perlu dibekali pelatihan khusus agar mampu membimbing siswa sesuai standar kompetisi. Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor pendukung utama. Penyediaan fasilitas belajar, pendanaan, serta apresiasi terhadap siswa berprestasi akan meningkatkan motivasi dan keberlanjutan program pembinaan.

Dampak Sosial dan Budaya

Keberhasilan Olimpiade Matematika tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat luas. Prestasi siswa dapat menumbuhkan budaya belajar yang positif dan kompetitif secara sehat. Anak-anak muda memiliki teladan nyata bahwa prestasi akademik dapat menjadi jalan untuk mengharumkan nama daerah.

Selain itu, siswa berprestasi berperan sebagai duta pendidikan yang membawa nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan integritas. Hal ini memberikan kontribusi nyata dalam membangun karakter generasi muda yang berakhlak, cerdas, dan berwawasan global.

Penutup

Partisipasi dalam Olimpiade Matematika tingkat nasional dan internasional merupakan strategi efektif untuk mengharumkan nama kota tercinta. Melalui pembinaan yang terarah dan dukungan berbagai pihak, Olimpiade Matematika mampu menjadi sarana pengembangan potensi siswa sekaligus peningkatan reputasi daerah.

Ke depan, sinergi antara sekolah, pembina, pemerintah, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar prestasi yang diraih tidak bersifat sementara, melainkan berkelanjutan. Dengan demikian, kota tidak hanya dikenal sebagai wilayah administratif, tetapi juga sebagai pusat lahirnya generasi unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa dan dunia.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PMI KOTA BANJAR: BERKHIDMAT PADA KEMANUSIAAN

Penulis:
Siti Maryam, S.Pd., M.Pd.
(Sekretaris PMI Kota Banjar)

Siti Maryam, S.Pd., M.Pd., merupakan seorang pendidik berdedikasi yang lahir di Banjar pada 10 Oktober 1978. Lulusan S2 Manajemen Sistem Pendidikan ini memiliki rekam jejak panjang sebagai guru Biologi dan kini bertugas sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 2 Banjarsari. Selain aktif mengajar, ia menjabat sebagai Sekretaris PMI Kota Banjar dan Ketua MGMP Biologi Kota Banjar. Sebagai penulis produktif, ia telah menghasilkan berbagai karya, termasuk buku saku PMR dan artikel pendidikan. Atas dedikasinya, ia meraih penghargaan Guru Berprestasi serta terpilih dalam 100 Besar PNS Berprestasi Kategori Inspiratif tahun 2025. Sebagai Guru Penggerak dan Fasilitator Nasional PMI, Siti Maryam terus berkomitmen menebar manfaat bagi dunia pendidikan dan kemanusiaan.


Palang Merah Indonesia (PMI) bukan sekadar organisasi sosial biasa, ia adalah napas kemanusiaan yang hadir di tengah deru bencana dan kebutuhan mendesak akan setetes darah. Di Kota Banjar, Jawa Barat, PMI telah tumbuh menjadi pilar penting dalam menjaga resiliensi masyarakat. Dengan semangat pengabdian yang tulus, PMI Kota Banjar terus berupaya menerjemahkan nilai-nilai kemanusiaan universal ke dalam aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan warga “Kota Idaman” ini.

Latar Belakang: Sejarah dan Marwah Kemanusiaan

Eksistensi PMI sebagai Perhimpunan Nasional berakar kuat pada sejarah perjuangan kemerdekaan. Didirikan pada 17 September 1945, hanya sebulan setelah proklamasi, PMI lahir dari kebutuhan mendesak untuk menangani korban perang dan menjalankan misi kemanusiaan di masa transisi kekuasaan. Sebagai bagian dari gerakan internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, PMI memegang teguh tujuh prinsip dasar: Kemanusiaan, Kesamaan, Kenetralan, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, dan Kesemestaan. Keberadaan PMI diperkuat dengan Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2018 tentang kepalangmerahan, dan  Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan UU Kepalangmerahan.

Perlu diketahui bahwa untuk dapat memperoleh persetujuan dari ICRC (International Committee of the Red Cross), sebuah Perhimpunan Nasional harus memenuhi 10 syarat yaitu:

  1. Didirikan di suatu negara yang telah menyetujui Konvensi Jenewa untuk perbaikan kondisi prajurit yang cedera dan sakit di medan perang.
  2. Adalah satu-satunya Perhimpunan Nasional palang merah atau bulan sabit merah di negara tersebut dan pimpinannya harus berwenang untuk mewakili Perhimpunan Nasionalnya.
  3. Diakui oleh pemerintah negaranya sebagai organisasi pendukung untuk instansi pemerintah dalam bantuan kemanusiaan.
  4. Bersifat mandiri untuk dapat bertindak sesuai dengan Prinsip Dasar Gerakan.
  5. Memakai nama dan Lambang Palang Merah atau Lambang Bulan Sabit Merah.
  6. Diorganisir supaya dapat melaksanakan tugasnya pada waktu peperangan dan di masa damai seperti ditentukan oleh anggaran dasarnya.
  7. Melaksanakan tugas di seluruh wilayahnya.
  8. Menerima anggota tanpa membedakan ras, jenis kelamin, tingkat sosial, agama ataupun pandangan politik.
  9. Menyetujui Anggaran Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional dan bekerja sama dengan semua bagian Gerakan.
  10. Menghormati Prinsip Dasar Gerakan dan mematuhi peraturan HPI dalam melaksanakan tugasnya.

PMI Kota Banjar berdiri pada tanggal 3 Desember Tahun 2005 berdasarkan SK PMI Provinsi Jawa Barat Nomor 030/SKP/PD/JBR/PENG/XII/2005. Pada tahun 2020 sesuai surat Walikota Banjar Nomor 900/001.6/BPPKAD/2020 tentang Perjanjian Pinjam Pakai Aset Bangunan, ditetapkan gedung kantor permanen dengan status adalah hak pakai. PMI Kota Banjar beralamat di Jl.R.E Kosasih (Komplek Terminal) Kota Banjar 46311 Jawa Barat.

Memahami Payung Hukum: UU No. 1 Tahun 2018

Keberadaan PMI kini semakin kuat berkat disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan. UU ini merupakan tonggak sejarah yang memberikan kepastian hukum bagi PMI dalam menjalankan mandatnya.

Berdasarkan UU ini, PMI memiliki tugas dan fungsi strategis yang tidak bisa digantikan oleh lembaga lain secara identik, yaitu

  1. Pemberian Bantuan: Memberikan bantuan kepada korban konflik bersenjata, kerusuhan, dan gangguan keamanan lainnya.
  2. Pelayanan Darah: Mengerahkan dan membina donor darah sukarela.

Mengelola Unit Donor Darah (UDD) untuk menjamin ketersediaan darah yang aman, berkualitas, dan cukup bagi masyarakat.

  1. Penanggulangan Bencana: Tugas ini mencakup kesiapsiagaan ( edukasi masyarakat agar tangguh menghadapi ancaman bencana); tanggap darurat: (penanganan cepat saat bencana terjadi, termasuk evakuasi, pertolongan pertama, dan distribusi bantuan logistik); pemulihan ( membantu penyediaan air bersih, sanitasi, dan dukungan psikososial pasca-bencana).
  2. Pembinaan Relawan: Melakukan perekrutan dan pembinaan anggota serta relawan (PMR, KSR, TSR) sebagai motor penggerak organisasi.
  3. Pendidikan dan Pelatihan: Menyelenggarakan diklat yang berkaitan dengan Kepalangmerahan.
  4. Penyebarluasan Prinsip Dasar: Mensosialisasikan 7 Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Hukum Humaniter Internasional.

Kondisi PMI di Kota Banjar: Tantangan dan Bakti

Di Kota Banjar, implementasi UU No. 1 Tahun 2018 ini diwujudkan melalui berbagai program kerja yang adaptif. Namun, kondisi di lapangan tentu memiliki tantangan nyata. Dalam sektor kebencanaan, Kota Banjar secara geografis dilintasi oleh Sungai Citanduy. Hal ini membuat wilayah seperti Kecamatan Purwaharja dan beberapa titik di Pataruman rawan terhadap luapan air saat intensitas hujan tinggi. PMI Kota Banjar senantiasa menyiagakan personel Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR) yang terlatih. Potensi angin kencang juga menjadi kerentanan cukup tinggi di semua area Kota Banjar.

Koordinasi dengan BPBD Kota Banjar berjalan harmonis. PMI sering kali menjadi garda terdepan dalam penyediaan ambulans darurat dan pertolongan pertama. Tantangan utama saat ini adalah modernisasi peralatan evakuasi dan penguatan kapasitas relawan.

Dalam sektor donor darah, Pengambilan darah donor sukarela yang dilakukan oleh UDD PMI Kota Banjar dilaksanakan dalam gedung dan diluar gedung (Mobile Unit) yang dilakukan setiap hari sesuai permintaan dari instansi, dengan mendatangi kelompok masyarakat yang berasal dari pemerintah, swasta, akademik dan lain-lain. Kegiatan donor darah selalu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya karena adanya kesadaraan dari warga Kota Banjar yang sangat tinggi untuk mendonorkan darahnya.

Namun pada tahun 2020 dimana adanya penyebaran corona virus disease (Covid-19) secara nasional. Dan belum maksimalnya jadwal kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh Keluarga Donor Darah Sukarela (KDDS) di Wilayah Kota Banjar dan sekitarnya. Sehingga menimbulkan efek stok darah di Unit Donor darah PMI Kota Banjar yang sangat menipis, tetapi pelayanan atas permintaan darah dari Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Swasta, maupun Klinik harus tetap terpenuhi oleh UDD-PMI Kota Banjar. Kebutuhan darah di PMI Kota Banjar rata-rata 1000 labu/bulan.

Adapun standar proses pengolahan dan pemeriksaan darah di laboraturium antara lain:

1). Uji Saring Darah dari Infeksi Menular Lewat Transfusi darah (IMLTD)

Sebelum darah diberikan kepada pasien yang membutuhkan, darah donor tersebut terlebih dahulu melalui serangkaian pemeriksaan uji saring terhadap 4 jenis penyakit menular melalui transfusi darah (IMLTD), yaitu:

  1. VDRL (Syphilis)
  2. HIV (AIDS)
  3. HCV (Hepatitis C)
  4. HbsAg (Hepatitis B)

2). Pembuatan Komponen Darah

Kantong darah yang telah didapat selanjutnya akan diolah menjadi beberapa macam komponen darah yang dibutuhkan tergantung indikasi penyakit yang diderita pasien. Permintaan komponen darah tergantung dokter yang merawat pasien.

3). Uji Silang Serasi (Crossmatching)

Pemeriksaan Uji silang serasi darah merupakan pemeriksaan utama sebelum dilakukan transfusi darah yaitu memeriksa kecocokan antara darah pasien dengan darah donor sehingga darah yang dikeluarkan oleh UDD-PMI Kota Banjar benar-benar cocok (compatible) dengan darah pasien.

Unit Donor Darah PMI Kota Banjar melayani permintaan darah di wilayah Kota Banjar dan sekitarnya seperti Wilayah Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Majenang). Distribusi darah tersebut dilakukan setelah terjalin MoU dengan pihak Rumah Sakit atau Bank Darah. Mekanisme pengiriman darah dilakukan sesuai dengan SOP yang sudah ditetapkan dengan mengutamakan keamanan dan kualitas darah tersebut menggunakan coolbox dengan suhu 2-6 °C. UDD PMI Kota Banjar telah melakukan MoU dengan lebih dari 10 RS dan klinik kesehatan di dalam dan luar kota Banjar.

Kendala terkait donor darah adalah kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah secara rutin masih perlu ditingkatkan. Sering kali, stok darah mengalami penurunan pada momen tertentu seperti bulan Ramadan atau hari libur panjang, sementara permintaan medis tetap stabil atau bahkan meningkat.

Inovasi dan Harapan ke Depan

Berkhidmat pada kemanusiaan di era digital menuntut PMI Kota Banjar untuk bertransformasi. Penggunaan aplikasi SIDONI untuk informasi stok darah dan pendataan pendonor dan media sosial untuk edukasi mitigasi bencana menjadi langkah positif yang telah diambil. Melalui sinergi antara pemerintah kota, sektor swasta melalui CSR, dan partisipasi aktif masyarakat, PMI Kota Banjar optimis dapat terus menjadi lembaga yang mandiri dan profesional.

Setiap tetes darah yang disumbangkan dan setiap aksi relawan di lokasi bencana adalah wujud nyata dari pengamalan UU Kepalangmerahan. PMI Kota Banjar tidak hanya bekerja saat terjadi krisis, tetapi terus membangun budaya peduli agar kemanusiaan tetap tegak di atas segalanya.

Penutup

PMI Kota Banjar adalah milik kita semua. Dukungan masyarakat—baik dalam bentuk donasi, donor darah, maupun keterlibatan sebagai relawan—adalah energi utama bagi organisasi ini untuk terus berkhidmat. Mari jadikan kemanusiaan sebagai gaya hidup, demi Kota Banjar yang lebih baik, tangguh dan peduli.***

PERAN DAN KIPRAH KAMPUS DALAM MENDORONG KEMAJUAN KOTA BANJAR

Penulis:
Nova Chalimah Girsang, SH, MH

Nova Chalimah Girsang, SH, MH lahir di Kota Yogyakarta 11 November 1979. Saat ini berdomisili di Kota Banjar berprofesi sebagai Dosen sekaligus juga sebagai seorang Advokat. Ibu dua anak ini, lebih dikenal dengan nama Bu Girsang sebagai Dosen di Perguruan Tinggi di Kota Banjar. Bu Girsang ini lebih dulu berprofesi sebagai advokat sejak 2007 dan kemudian pada 2012 masuk dunia pendidikan mengabdi menjadi dosen. Ilmu hukumnya ditransferkan sebagai dosen pada mata kuliah Sistem Hukum Indonesia, mata kuliah Pembentukan Karakter Etika dan Anti Korupsi serta beberapa mata kuliah lainnya. Bu Girsang juga mengabdi di P2TP2A Kota Banjar sebagai Pendamping Hukum sejak 2012 sampai dengan sekarang. Atas pengabdiannya ini pada 2024 mendapat Penghargaan dari Walikota Banjar. Motto hidupnya “Bersyukur dan Bersabar” telah diterapkan dan bertahan dan terus bergerak dalam dunia pendidikan dan hukum. Aktif menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan serta bersuara aktif di media merupakan salah satu transfer of knowledge yang terus dia laksanakan. Hal ini juga yang membuat Bu Girsang mendapat Penghargaan dari Radar TV sebagai Narasumber Kooperatif. Konsistensi menjadi manusia yang bermanfaat itu menjadi bekal utamanya dalam mengarungi kehidupan.


Manusia akan selalu mengalami permasalahan-permasalahan kehidupan, silih berganti. Kehidupan modern menuntut ekspektasi terlalu tinggi, sehingga manghadapkan manusia dalam dinamisasi problematika kehidupan. Maka diperlukan iman dan skill ilmu untuk menghadapi permasalahan duniawi tersebut. Dalam memperoleh skill maka ilmu mempunyai peran untuk menyelesaikan permasalahan. Ilmu dapat diperoleh secara formal ataupun non formal. Pendidikan secara formal ditempuh berjenjang secara sistematis, hal tersebut supaya tidak menghasilkan sesuatu yang prematur. Diantara jenjang formal adalah menempuh Pendidikan di Perguruan Tinggi.

Peran

Peran Perguruan Tinggi sebagai pusat akademik yaitu berperan untuk meningkatkan kualitas SDM, juga sebagai motorik agen perubahan serta pengembangan karakter yaitu melalui semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga dapat melahirkan lulusan yang kompeten dan berintegritas yang siap menghadapi tantangan global di masa depan. Sehingga Kampus merupakan tempat menimba ilmu mentransformasi pemikiran, perilaku, pemahaman menjadi lebih luas.

Melalui Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu, pertama melalui Pendidikan dan Pengajaran: dengan mentransfer ilmu pengetahuan dan membentuk karakter mahasiswa. Yang kedua adalah Penelitian dan Pengembangan: menghasilkan karya ilmiah, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Yang ketiga adalah Pengabdian kepada Masyarakat: mengabdi dengan menerapkan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah di masyarakat.

Kiprah

Kewajiban Tri Darma Perguruan Tinggi tersebut, dalam Pendidikan, yaitu dengan menghadirkan dosen dosen yang kompeten dibidangnya dengan bukti dosen-dosen yang telah bersertifikasi. Dosen sebagai Transfer of Knowledge dan juga membentuk karakter mahasiswa sehingga dapat capable dan survive dalam tantangan global. Pendidikan dilakukan dengan metode pembelajaran blended learning, dengan mekanisme Project Based Learning dan Case By Methode. Dosen harus bisa beradaptasi dengan perubahan dinamika perilaku mahasiswa. Pendekatan yang friendly mendudukkan mahasiswa untuk ruang sharing dan diskusi.

Di Bidang Penelitian, dalam penelitiannya, kiprah dosen-dosen dalam bidang hal research sehingga telah melahirkan banyak penelitian, yaitu Penelitian Pajak, Penelitian Retribusi, Naskah Akademik PUG, Analisis Kependudukan Toko Modern, Analisis Potensi Daerah dan penelitian-penelitian lainnya. Hal tersebut merupakan kiprah nyata dalam mewujudkan menghasilkan karya ilmiah yang berguna bagi Kota Banjar.

Kiprah dalam Pengabdian kepada Masyarakat, yaitu ikut kontribusi nyata dalam program P2WKSS. Wujud pengabdian juga dilakukan dalam kegiatan KKN yang dilaksanakan di Kota Banjar, merupakan kiprah nyata pengabdian mahasiswa untuk peduli dan merojong kemajuan Kota Banjar.

Tantangan

Tantangan yang dihadapi adalah, rendahnya minat anak-anak dalam melanjutkan Pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Rendahnya minat dikarenakan mereka dihadapkan dengan biaya dan waktu tempuh yang lama. Sehingga lebih memilih untuk bekerja, membuka usaha atau menikah. Untuk meningkatkan minat berkuliah memerlukan support semua pihak, baik Pemerintah Daerah, dunia usaha, maupun pihak keluarga. Beasiswa Pendidikan merupakan peluang untuk meningkatkan minat Pendidikan. Namun karena minimnya beasiswa yang tersedia maka diperlukan support Pemerintah Kota Banjar untuk menambah kuota Beasiswa Pendidikan, karena Pendidikan adalah investasi yang terbaik meraih masa depan, kalau tidak sekarang maka kapan lagi.

Tantangan selanjutnya adalah menciptakan lulusan-lulusan yang kompeten, hal tersebut perlu good environment untuk mewujudkannya. Mutu Pendidikan, kesempatan pekerjaan, penguatan resistensi dalam menghadapi masalah, diperlukan untuk lulusan yang capable. Diperlukan spirit semangat dari diri mahasiswa itu sendiri untuk terus maju dan menyelesaikan Pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa diharapkan bermetamorfosis, bentuk keberhasilan menempuh Pendidikan mereka. Menanamkan bahwa Pendidikan adalah penting dan utama perlu dimulai ditahapan keluarga, sehingga anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran pentingnya mencari ilmu.

Bila tetap dibiarkan angka lulusan S1 yang rendah, maka akan berat, karena anak-anak Banjar inilah yang akan menjadi pemimpin Banjar di masa mendatang, jadi memang perlu diperjuangkan bersama-sama untuk tujuan bersama yang mulia.

Harapan

Rendahnya angka lulusan Strata Satu di Kota Banjar harus mendapat perhatian untuk dibenahi.  Karena Kampus sebagai tempat menimba ilmu harus dijaga dan didorong untuk tetap maju. Dengan kampus yang maju maka menjadi efek untuk lebih ikut mendorong kemajuan Kota Banjar.  Menjadi Kampus Unggul berharap dapat menciptakan lulusan excellent yang berdaya guna untuk masa depan Kota Banjar, mari kita mulai bersama, siapapun anda, berperanlah untuk bergerak mendorong Pendidikan untuk mendorong kemajuan Kota Banjar.***

BERTEPATAN MOMENTUM HGN 2026 BUKU LITERASI KESEHATAN DILUNCURKAN

Sebagaimana kita mafhum bahwa penetapan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimulai pada tahun 1964, tepatnya pada tanggal 12 November 1964. Penetapan waktu ini dipilih mengingat keberhasilan Indonesia saat itu dalam memberantas wabah malaria melalui Program Pemberantasan Malaria Nasional (PMN). Momen ini menjadi tonggak sejarah dan komitmen bangsa untuk membangun kesehatan masyarakat, dengan peringatan pertama HKN dilakukan pada 12 November 1964.

Kini setiap tanggal 12 November pemerintah selalu memperingati HKN sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, baik kesehatan diri, keluarga maupun lingkungan. Peringatan HKN juga bertujuan membangun semangat, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat serta mengajak masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tema HKN pada tahun 2025 saat kami menyelenggarakan seminar tersebut adalah “Generasi Sehat Masa Depan Hebat” menjadi momentum tersendiri bagi kawula muda untuk turut berkiprah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. Dalam semangat ini, kami dari YRBK bersama para pihak berupaya mendorong kawula muda di Kota Banjar agar senantiasa memiliki kesadaran akan pentingnya literasi kesehatan.

Qodarulloh, tepat dua bulan setelah acara seminar tersebut, kini naskah buku hasil tulisan para peserta seminar mewujud menjadi “dokumentasi serius” yang siap diluncurkan pada momen yang juga sangat tepat yakni pada Hari Gizi Nasional (HGN) yang secara resmi ditetapkan dan diperingati pemerintah pada setiap tanggal 25 Januari.

Penyambutan Hari Gizi Nasional (HGN) tahun 2026 menorehkan rekor MURI.  Pelaksanaan kegiatan Gebyar Edukasi Kesehatan yang digagas PERSAGI dan Dinas Kesehatan ini tercatat sebagai kegiatan yang luar biasa sehingga menorehkan prestasi dan dicatat oleh Museum Rekor Indonesia atau MURI sebagai salah satu kegiatan spektakuler.

Seperti dilansir DPP PERSAGI yang melaporkan bahwa kegiatan Gebyar Edukasi Kesehatan ini diikuti oleh ribuan sekolah se-Indonesia secara serenpak dan tercatat diikuti oleh lebih dari 55.000 siswa secara nasional dari Aceh hingga Papua. Ketua Umum DPP PERSAGI Doddy Izwardy mengatakan bahwa kegiatan ini melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, serta sekitar 18 ribu sekolah di seluruh Indonesia.

“Tujuan kita hari ini, pertama insyaallah mendapatkan rekor MURI karena melakukan edukasi gizi serentak dan besar. Tapi yang paling penting, ini adalah bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki kualitas gizi bangsa,” pungkasnya.

HGN di Kota Banjar

Kota Banjar juga menjadi salah satu titik pelaksanaan penyambutan Hari Gizi Nasional (HGN) yang ke-66 tahun ini yang diprakarsai PERSAGI Kota Banjar dan Dinas Kesehatan Kota Banjar. Di Kota Banjar, Jawa Barat kegiatan ini dipusatkan di SMK Negeri 2 Banjar.

“Saya mewakili lembaga merasa bangga dan mengucapkan terima terima kasih karena sekolah kami, SMKN 2 Banjar dipilih sebagai lokasi kegiatan gebyar HGN tingkat Kota Banjar. Ini tentu saja menjadi sebuah kehormatan dan kebanggan bagi kami warga SMKN 2 Banjar,” kata Kepala SMKN 2 Banjar Dra. Hj. Nunung Erni Nuraeni, M.M., Pd. dalam sambutan pembukanya.  

Selain Kepala SMKN 2 Banjar, sambutan juga disampaikan Ketua PERSAGI Kota Banjar Galih Permana Putra, SKM dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, H. Saifuddin, A.Ks., M.Kes. Ketua PERSAGI Kota Banjar dan Kepala Dinas Kesehatan mengingatkan pentingnya edukasi kesehatan di kalangan pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan bukan saja menjadi siswa yang pintar, tapi juga sehat sehingga mampu bersaing di tingkat nasional maupun di tingkat global.

“Semoga kegiatan ini menjadi momentum penting dan memberikan dukungan dalam pencapaian masa depan kita, terutama para kawula muda sebagai generasi penerus, untuk menuju Generasi Emas di Tahun 2045,” kata H. Saifuddin, A.Ks., M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar.

Kegiatan Gebyar Edukasi Kesehatan yang dilaksanakan secara nasional ini untuk di Kota Banjar ada nilai tambahnya yaitu dengan diluncurkannya buku “Antologi Literasi Kesehatan Versi GenZi”. Buku ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bersama Dinas Kesehatan Kota Banjar dan Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN) Kota Banjar.

Buku Literasi Kesehatan Diluncurkan

Buku “Antologi Literasi Kesehatan Versi GenZi” ditulis oleh para siswa terpilih dari tingkat SLTA se-Kota Banjar. Ada 15 Penulis terpih yaitu: Adinda Zahra Sofiantima, Azka Khoerunnisa, Doni Rayhan Nugraha, Ilham Sahrul, Isna Nabila, Luzaena Farah Jamila, Nara Agustin, Putri Nazjla Nataneila, Raisya Aulia Putri, Rara Sekar Andini, Rina Kustianingsih, Risma Wati, Rizki Zian Nurfalah, Siti Nurrohmah, Wiedya Natalya Az Zahra serta Ivan Mahendrawanto, Putri Sri Jayanti dan Sofian Munawar sebagai Tim Editor.

“Buku ini menjadi bukti dan penanda penting bahwa kawula muda memiliki kepedulian soal isu kesehatan dan lebih dari itu mereka diharapkan dapat menjadi motor utama yang mendorong masyarakat menjadi literat, memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatan sebagai salah satu modal dasar pembangunan,” pungkas Sofian Munawar, editor buku yang juga Founder Ruang Baca Komunitas.***

Link berita terkait:

  1. Arah Pena.id

Hari Gizi Nasional 2026 Pecahkan Rekor MURI  Kota Banjar Luncurkan Buku Karya Siswa Gen Z https://www.arahpena.com/berita/77916600780/hari-gizi-nasional-2026-pecahkan-rekor-muri-kota-banjar-luncurkan-buku-karya-siswa-gen-z

  1. Bandung Pos

Di Hari Gizi Nasional-2026, Buku Literasi Kesehatan Diluncurkan – Bandung Pos https://share.google/hJ07XD0gyS5oPNyoq

  1. Zona Literasi

Sambut HGN YRBK Kolaborasi dengan Para Pihak Luncurkan Buku:

https://zonaliterasi.id/sambut-hgn-2026-yrbk-dinkes-dan-asklin-kota-banjar-kolaborasi-luncurkan-buku-literasi-kesehatan/

  1. Kabar Priangan Cetak, Edisi 23 Januari 2026

Link terkait lainnya:

Sambut HGN, Buku Meluncur, https://www.instagram.com/p/DTwk_f1jGYg/

Headline News: https://www.instagram.com/p/DT2RPC2EdEh/

DARI RUANG KELAS KE RUMAH BELAJAR

Penulis: Nurholilah, S.Pd.

Nurholiah merupakan seorang guru di UPTD SDN 1 Sukamukti Kec. Pataruman Kota Banjar. Ia aktif mengabdikan diri di dunia pendidikan formal sekaligus memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat bahwa minat anak terhadap literasi dan kebiasaan belajar anak-anak yang masih memerlukan bimbingan dan peningkatan, Nurholiah mendirikan rumah belajar Ki Hajar dan sekaligus menjadi pengajarnya. Rumah Belajar Ki Hajar merupakan sebuah bimbingan belajar gratis yang juga berfungsi sebagai taman baca anak. Rumah belajar tersebut beralamat di Lingkungan Cipadung RT 10/04, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Melalui kegiatan ini, ia berkomitmen mendedikasikan waktu dan tenaga untuk untuk masyarakat sekitar dalam membantu anak-anak PAUD dan SD agar tumbuh menjadi pembelajar yang aktif, mandiri, dan berkarakter


Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menentukan arah masa depan suatu bangsa. Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat saat ini, peran guru tidak hanya terbatas pada ruang kelas formal, tetapi juga meluas ke kehidupan sosial kemasyarakatan. Guru tidak sekadar berfungsi sebagai pengajar, melainkan juga sebagai pendidik, pembimbing, teladan, serta agen perubahan sosial. Kesadaran inilah yang mendorong penulis, sebagai seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), untuk menuliskan sekaligus merefleksikan sepak terjang pengabdian dalam dunia pendidikan dan masyarakat melalui inisiatif pendirian sebuah rumah belajar bernama Ki Hajar”.

Sebagai seorang guru, penulis memiliki komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Profesi guru bukan hanya pekerjaan, tetapi juga panggilan jiwa yang menuntut dedikasi, kepedulian, dan keikhlasan dalam membimbing generasi penerus bangsa. Selain menjalankan tugas utama sebagai pendidik di sekolah, penulis juga merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan tempat tinggal. Harapan yang tumbuh adalah agar kehadiran penulis dapat dirasakan, tidak hanya oleh murid di sekolah, tetapi juga oleh anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitar.

Namun demikian, niat untuk berkontribusi secara lebih luas di masyarakat bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Sebagai guru PNS, keseharian penulis banyak dihabiskan di tempat kerja dengan tanggung jawab administratif dan pembelajaran yang cukup padat. Waktu dan tenaga sering kali tersita untuk memenuhi kewajiban profesional di sekolah, sehingga ruang untuk melakukan kegiatan sosial pendidikan di luar jam kerja menjadi terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis dalam upaya menyeimbangkan peran sebagai pendidik formal dan sebagai warga masyarakat yang ingin berkontribusi secara langsung.

Tantangan lain yang semakin menguatkan kegelisahan penulis adalah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, khususnya pada anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar. Setiap akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif, pembelajaran, atau interaksi sosial yang bermakna, justru banyak dihabiskan untuk bermain gawai. Anak-anak tampak larut dalam dunia digital tanpa pendampingan yang memadai, sehingga berpotensi menurunkan minat belajar, kemampuan literasi dasar, serta interaksi sosial mereka. Kondisi ini tentu memprihatinkan, mengingat usia dini dan usia sekolah dasar merupakan masa emas perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak.

Di sisi lain, pembelajaran di sekolah juga dirasakan semakin menantang. Waktu belajar yang relatif singkat, tuntutan kurikulum yang padat, serta perbedaan kemampuan murid membuat proses pembelajaran tidak selalu dapat berjalan secara optimal. Tidak semua anak mampu memahami materi pelajaran dengan baik dalam waktu yang terbatas. Akibatnya, masih terdapat anak-anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, berhitung, maupun memahami konsep-konsep dasar pelajaran. Jika kondisi ini tidak segera mendapatkan perhatian dan pendampingan tambahan, dikhawatirkan akan berdampak pada capaian belajar dan kepercayaan diri anak di masa depan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, penulis merasa terpanggil untuk mengambil langkah nyata. Dengan segala keterbatasan waktu dan sumber daya, penulis menginisiasi pendirian sebuah rumah belajar yang diberi nama Rumah Belajar “Ki Hajar”. Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, yang menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, humanis, dan berpihak pada kebutuhan murid. Rumah belajar ini diharapkan menjadi ruang alternatif pembelajaran yang ramah, inklusif, dan bermanfaat bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Rumah Belajar Ki Hajar didirikan sebagai bentuk dedikasi penulis kepada masyarakat, dengan tujuan utama membantu anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung, serta memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran di sekolah. Selain berfungsi sebagai tempat bimbingan belajar gratis, rumah belajar Ki Hajar juga dikembangkan sebagai taman baca anak yang menyediakan berbagai bahan bacaan sesuai usia dan jenjang pendidikan. Kehadiran taman baca ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca, meningkatkan literasi, serta membiasakan anak-anak berinteraksi dengan buku sebagai sumber pengetahuan yang menyenangkan. Rumah belajar ini diselenggarakan secara gratis sebagai wujud kepedulian sosial dan komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu dengan durasi waktu sekitar 90 menit mulai pukul 10.00 sampai pukul 11.30, sehingga tidak mengganggu kewajiban utama penulis sebagai guru di sekolah.

Peserta rumah belajar Ki Hajar terbuka untuk anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar, baik kelas bawah maupun kelas tinggi. Pendekatan pembelajaran yang digunakan bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik murid. Anak-anak PAUD difokuskan pada pengenalan huruf, angka, serta pengembangan motorik dan minat belajar melalui kegiatan yang menyenangkan. Sementara itu, siswa SD kelas bawah diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi dasar, sedangkan siswa SD kelas tinggi dibimbing untuk memahami materi pelajaran sekolah, mengerjakan latihan, serta mengembangkan keterampilan berpikir.

Saat ini, rumah belajar Ki Hajar secara rutin diikuti oleh sekitar 15 orang anak yang berasal dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD kelas bawah, hingga SD kelas tinggi. Jumlah ini mungkin belum besar, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi penulis. Setiap anak yang hadir membawa harapan, potensi, dan cerita masing-masing. Melalui rumah belajar ini, penulis berupaya menciptakan suasana belajar yang nyaman, aman, dan memotivasi, sehingga anak-anak merasa senang untuk belajar dan tidak sekadar menjadikan belajar sebagai kewajiban.

Keberadaan rumah belajar Ki Hajar juga diharapkan dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di akhir pekan, sehingga waktu mereka tidak sepenuhnya dihabiskan untuk bermain gawai. Dengan pendampingan belajar yang tepat, anak-anak diajak untuk memanfaatkan waktu luang secara lebih produktif, membangun kebiasaan belajar, serta meningkatkan kemampuan akademik dan karakter. Selain itu, rumah belajar ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat nilai kebersamaan, disiplin, dan saling menghargai.

Bagi penulis, rumah belajar Ki Hajar bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga sarana pengabdian dan pembelajaran hidup. Melalui kegiatan ini, penulis belajar untuk lebih memahami kondisi masyarakat, kebutuhan anak-anak, serta pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Meski dijalankan dengan sederhana, rumah belajar ini menjadi wujud nyata dari keyakinan bahwa setiap individu dapat berkontribusi bagi pendidikan, sesuai dengan peran dan kemampuannya masing-masing.

Ke depan, penulis berharap rumah belajar Ki Hajar dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Rumah belajar ini berlokasi di wilayah Cipadung, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, dan dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar serta dedikasi penulis dalam momentum peringatan ulang tahun Kota Banjar. Melalui langkah sederhana ini, penulis berupaya berkontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah, khususnya di lingkungan terdekat tempat tinggal. Tidak hanya dari segi jumlah peserta, tetapi juga dari kualitas pembelajaran dan dampak positif yang dihasilkan. Dengan dukungan lingkungan dan niat tulus untuk berbagi, rumah belajar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat dimulai dari langkah kecil, namun konsisten.

Pada akhirnya, tulisan ini merupakan refleksi perjalanan dan dedikasi penulis sebagai seorang guru dan warga masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, keyakinan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama menjadi landasan utama dalam setiap langkah pengabdian. Melalui rumah belajar Ki Hajar, penulis berharap dapat terus menebar manfaat, menyalakan semangat belajar, dan turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari lingkungan terdekat.***

KIPRAH JABAR BERGERAK KOTA BANJAR MENDORONG SEMANGAT SOLIDARITAS

Penulis: Hermanto

Jabar Bergerak Kota Banjar merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri pada Februari 2019 dan resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada November 2019 di Gedung Pakuan Bandung.  Dipimpin oleh Ari Faturohman, organisasi ini mengusung semangat Salam KolaborAksi dan Bergerak Bersama dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, keagamaan, budaya, pariwisata, serta kesehatan lingkungan. Dengan enam bidang utama, Jabar Bergerak Kota Banjar berkomitmen menumbuhkan solidaritas, gotong royong, dan kepedulian masyarakat demi terwujudnya Kota Banjar yang lebih berdaya dan berkeadilan.

Pendahuluan

Kota Banjar sebagai wilayah paling timur di Provinsi Jawa Barat memiliki karakter sosial yang kuat, menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kepedulian antar warga.

Di tengah tantangan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan yang terus berkembang, kehadiran gerakan kolaboratif menjadi sangat penting. Salah satu organisasi sosial yang konsisten menghidupkan semangat tersebut adalah Jabar Bergerak Kota Banjar.

Jabar Bergerak Kota Banjar berdiri pada Februari 2019 sebagai bagian dari gerakan besar Jabar Bergerak yang diinisiasi di tingkat Provinsi Jawa Barat. Jabar Bergerak Kota Banjar ini kemudian resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada November 2019 di Gedung Pakuan, Bandung. Hal ini menandai pengakuan dan legitimasi peran Jabar Bergerak sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat.

Mengusung semangat “Salam KolaborAksi” dan “Bergerak Bersama”, Jabar Bergerak Kota Banjar terus berkomitmen menjadi motor penggerak solidaritas sosial dengan prinsip kerja nyata, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Semangat KolaborAksi sebagai Fondasi Gerakan

Motto KolaborAksi bukan sekedar slogan, melainkan roh pergerakan Jabar Bergerak Kota Banjar. Kolaborasi dipadukan dengan aksi nyata menjadi kekuatan utama dalam setiap kegiatan.

Gerakan ini menyatukan berbagai elemen mulai dari pemuda, komunitas, tokoh masyarakat, relawan, hingga pemerintah daerah untuk bergerak bersama menjawab persoalan sosial di Kota Banjar.

Prinsip “Bergerak Bersama” menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Setiap program Jabar Bergerak Kota Banjar selalu mengedepankan partisipasi aktif masyarakat, sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan dan dimiliki bersama.

Frasa penyemangat “Terus Bergerak Sampai Jantung Berhenti Berdetak” menjadi pengingat bahwa pengabdian sosial adalah perjalanan panjang yang menuntut konsistensi, keikhlasan, dan ketulusan tanpa henti.

Kepemimpinan yang Menggerakkan

Di bawah kepemimpinan Ari Faturohman, Jabar Bergerak Kota Banjar berkembang menjadi organisasi yang solid, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kepemimpinan yang inklusif dan komunikatif mampu merangkul berbagai kalangan untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

Ari Faturohman menanamkan nilai bahwa relawan bukan sekedar pelaksana kegiatan, melainkan agen perubahan sosial. Melalui pendekatan humanis dan visioner, ia mendorong setiap bidang untuk terus berinovasi, membuka ruang kolaborasi, serta berorientasi pada dampak nyata dan berkelanjutan. Kepemimpinan ini menciptakan iklim organisasi yang sehat, partisipatif, dan penuh semangat pengabdian.

Enam Bidang sebagai Pilar Gerakan

Untuk menjalankan visi besarnya, Jabar Bergerak Kota Banjar memiliki enam bidang utama yang saling melengkapi:

  1. Bidang Sosial

Bidang Sosial menjadi garda terdepan dalam kegiatan kemanusiaan, mulai dari bantuan bencana alam, santunan masyarakat kurang mampu, pembagian sembako, bedah rumah, hingga pendampingan sosial. Kehadiran bidang ini memperkuat rasa empati dan solidaritas antarwarga, terutama bagi kelompok rentan.

  1. Bidang Agama

Bidang Agama berperan memperkuat nilai spiritual dan toleransi melalui kegiatan keagamaan, santunan anak yatim, safari Ramadhan, dukungan kegiatan lintas komunitas keagamaan, serta pembinaan akhlak sosial. Nilai religius dijadikan fondasi moral dalam setiap gerakan kemanusiaan.

  1. Bidang Hubungan Masyarakat (Humas)

Bidang Humas menjadi jembatan komunikasi antara organisasi dan publik. Melalui publikasi, dokumentasi, dan strategi komunikasi yang baik, bidang ini memastikan setiap kegiatan Jabar Bergerak Kota Banjar tersampaikan secara transparan, edukatif, dan menginspirasi.

  1. Bidang Pariwisata, Kuliner, dan Budaya (PAKUYA)

Bidang PAKUYA berfokus pada pelestarian budaya lokal, pengembangan potensi pariwisata, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis kuliner khas Banjar. Bidang ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, seniman, dan generasi muda dalam mengangkat identitas lokal.

  1. Bidang Kesehatan Lingkungan (Kesling)

Bidang Kesling aktif mengampanyekan pola hidup bersih dan sehat melalui kegiatan bersih lingkungan, edukasi kesehatan masyarakat, serta kepedulian terhadap kelestarian alam. Kesadaran akan lingkungan sehat diposisikan sebagai bagian penting dari kesejahteraan sosial.

  1. Bidang Pendidikan

Bidang Pendidikan berfokus pada peningkatan literasi, pendampingan belajar, dukungan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, serta penguatan karakter generasi muda. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Kota Banjar.

Dampak Nyata bagi Masyarakat Kota Banjar

Kiprah Jabar Bergerak Kota Banjar tidak hanya terlihat dari banyaknya program, tetapi dari dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui pendekatan kolaboratif, organisasi ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya saling membantu dan peduli.

Partisipasi relawan dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa Jabar Bergerak Kota Banjar telah menjadi ruang belajar sosial, tempat generasi muda mengasah empati, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Menuju Kota Banjar yang Lebih Solid dan Berdaya

Dengan semangat “Jabar Juara Lahir Batin” dan visi besar “Indonesia Juara”, Jabar Bergerak Kota Banjar terus melangkah maju. Tantangan sosial yang ada dijadikan peluang untuk berinovasi dan memperkuat jejaring kolaborasi.

Ke depan, Jabar Bergerak Kota Banjar berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra masyarakat dan pemerintah, menjaga semangat gotong royong, serta memastikan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan memberi arti besar bagi kemanusiaan.

Penutup

Jabar Bergerak Kota Banjar adalah bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari kepedulian dan kebersamaan. Dengan KolaborAksi sebagai napas perjuangan, organisasi ini terus menggerakkan solidaritas sosial tanpa pamrih.

“Terus Bergerak Sampai Jantung Berhenti Berdetak” bukan sekedar slogan, melainkan janji pengabdian bagi Kota Banjar dan Jawa Barat yang lebih berdaya, adil, dan berkeadaban.

***

KETIKA ANGKA TURUN, INTEGRITAS DIUJI: Membaca MCP dan SPI Kota Banjar dalam Semangat Banjar Masagi

Penulis: Reny Andriany

Penulis adalah praktisi pendidikan dan penguatan integritas yang aktif sebagai Master Asesor Kompetensi dari BNSP RI, Penyuluh Antikorupsi Utama dari LSP KPK RI, serta fasilitator pelatihan di bidang asesmen dan tata kelola kelembagaan. Peran-peran tersebut ia jalani dengan keyakinan bahwa kualitas sistem tidak pernah melampaui kualitas manusia yang menggerakkannya.

Dalam pengalamannya mendampingi pendidik, asesor, dan institusi publik, penulis berulang kali menemukan satu benang merah: regulasi dan indikator sudah tersedia, tetapi integritas kerap diuji pada praktik paling sederhana. Dari situlah ketertarikannya pada isu antikorupsi dan asesmen tumbuh—bukan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai sikap sadar dalam menjalankan peran.

Melalui tulisan dan fasilitasi, ia memilih pendekatan yang membumi, berbasis data dan standar, namun tetap memberi ruang refleksi. Baginya, pendidikan, asesmen, dan antikorupsi bertemu pada satu titik penting: keberanian untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab, bahkan ketika tidak sedang diawasi.


Dalam wacana pemberantasan korupsi di daerah, angka seringkali dipahami secara dangkal: naik berarti berhasil, turun berarti gagal. Padahal, dalam konteks tata kelola pemerintahan dan integritas publik, angka justru harus dibaca sebagai sinyal, bukan sekadar skor. Kota Banjar, Jawa Barat, memberikan contoh menarik bagaimana data antikorupsi perlu dimaknai secara jernih, kritis, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Berdasarkan data yang dipublikasikan melalui platform JAGA.ID milik Komisi Pemberantasan Korupsi, nilai Monitoring Center for Prevention (MCP) Kota Banjar pada tahun 2024 tercatat 90, lalu turun menjadi 85 pada tahun 2025. Sementara itu, Survei Penilaian Integritas (SPI) juga mengalami penurunan tipis dari 77,87 (2024) menjadi 77,53 (2025).

Penurunan ini mungkin terlihat kecil, tetapi justru di situlah letak pentingnya: integritas tidak pernah runtuh secara dramatis, melainkan melemah perlahan ketika kewaspadaan menurun.

Antara Sistem yang Kuat dan Implementasi yang Rapuh

MCP pada dasarnya mengukur kepatuhan sistem pencegahan korupsi di pemerintah daerah. Skor 85 pada 2025 menunjukkan bahwa secara struktural, sistem antikorupsi Kota Banjar masih berada dalam kategori baik. Namun jika dibandingkan dengan capaian 2024, penurunan lima poin mengindikasikan adanya pelemahan konsistensi implementasi, bukan pembongkaran sistem.

Data MCP 2025 Kota Banjar menunjukkan bahwa penurunan skor tidak terjadi merata, melainkan terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu. Dua area yang paling menonjol adalah pelayanan publik dan pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD), yang masing-masing mencatat skor 76.

Pelayanan publik merupakan wajah paling nyata dari negara di mata warga. Ketika standar layanan tidak konsisten, transparansi biaya dan waktu belum seragam, atau mekanisme pengaduan tidak responsif, maka risiko korupsi mikro—seperti pungutan liar atau perlakuan diskriminatif—menjadi lebih besar. Inilah sektor yang secara langsung mempengaruhi persepsi publik, dan karenanya sangat beririsan dengan SPI.

Sementara itu, pengelolaan BMD adalah persoalan klasik di banyak daerah. Aset yang tidak tertib administrasi, tidak mutakhir, atau tidak optimal pemanfaatannya bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga celah integritas. Penurunan skor di sektor ini menunjukkan bahwa reformasi birokrasi membutuhkan ketekunan jangka panjang, bukan sekadar kepatuhan sesaat.

SPI dan Persepsi Publik yang Tak Bisa Direkayasa

Berbeda dengan MCP yang menilai sistem, SPI mengukur pengalaman dan persepsi—baik dari internal birokrasi maupun pengguna layanan. Penurunan SPI Kota Banjar dari 77,87 menjadi 77,53 mungkin terlihat minimal, tetapi dalam logika survei integritas, perubahan sekecil ini tetap signifikan.

SPI sensitif terhadap hal-hal yang sering luput dari laporan formal: sikap aparatur di loket layanan, konsistensi penerapan aturan, tindak lanjut pengaduan, hingga rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Dengan kata lain, SPI adalah cermin kepercayaan, dan kepercayaan publik tidak bisa dipertahankan hanya dengan regulasi atau aplikasi digital.

Penurunan tipis ini memperkuat dugaan bahwa tantangan Kota Banjar bukan terletak pada ketiadaan komitmen antikorupsi, melainkan pada internalisasi nilai integritas dalam praktik sehari-hari, terutama di titik-titik layanan langsung.

Banjar Masagi: Filosofi yang Diuji oleh Data

Dalam konteks lokal, Kota Banjar mengusung visi pembangunan Banjar Masagi—sebuah konsep yang berakar pada filosofi Sunda masagi, yang berarti paripurna, utuh, dan kokoh. Secara konseptual, Banjar Masagi mencerminkan cita-cita pembangunan yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga adil, sejahtera, berlandaskan nilai moral, serta adaptif terhadap perubahan.

Namun, data MCP dan SPI 2024–2025 menunjukkan bahwa filosofi Masagi sedang diuji pada level implementasi, khususnya pada aspek keadilan layanan dan konsistensi tata kelola. Ini bukan pertentangan, melainkan pengingat: nilai-nilai luhur hanya akan bermakna jika diterjemahkan ke dalam perilaku birokrasi yang nyata.

Jika Banjar Masagi dimaknai sebagai pembangunan manusia yang utuh, maka integritas aparatur dan kualitas pelayanan publik harus menjadi indikator utama keberhasilannya.

Membaca Penurunan sebagai Alarm, Bukan Vonis

Penting untuk ditegaskan bahwa penurunan MCP dan SPI Kota Banjar bukanlah kegagalan, melainkan alarm dini. Alarm bahwa sistem yang relatif kuat tetap membutuhkan pemeliharaan serius. Alarm bahwa budaya antikorupsi tidak boleh berhenti pada dokumen RPJMD atau forum koordinasi, tetapi harus hidup dalam rutinitas pelayanan dan pengambilan keputusan.

Justru daerah yang berani membaca penurunan skor secara jujur memiliki peluang lebih besar untuk melakukan koreksi dini, dibanding daerah yang terlena oleh angka tinggi tanpa refleksi.

Rekomendasi Strategis Menuju 2026

Jika Kota Banjar ingin mengembalikan —bahkan meningkatkan— nilai MCP dan SPI pada 2026, beberapa langkah strategis perlu diprioritaskan.

Pertama, pembenahan pelayanan publik sebagai fokus utama. Standarisasi SOP layanan prioritas, transparansi biaya dan waktu secara visual, serta penguatan tindak lanjut pengaduan publik harus menjadi agenda lintas OPD. Perbaikan di sektor ini berpotensi langsung mendongkrak SPI sekaligus MCP.

Kedua, penataan serius pengelolaan BMD. Digitalisasi basis data aset, audit internal tematik, serta integrasi antara perencanaan, penganggaran, dan pemanfaatan aset perlu dilakukan secara konsisten. BMD bukan sekadar aset fisik, tetapi simbol akuntabilitas negara.

Ketiga, penguatan peran ASN sebagai role model integritas. Penilaian kinerja aparatur seharusnya tidak hanya berbasis output, tetapi juga perilaku etis. Reward terhadap praktik integritas yang baik sama pentingnya dengan sanksi terhadap pelanggaran.

Keempat, mendorong partisipasi publik yang bermakna. Masyarakat perlu tahu bahwa laporan mereka ditindaklanjuti, bukan sekadar diterima. Transparansi proses tindak lanjut akan memperkuat kepercayaan dan memperbaiki persepsi integritas.

Penutup

Integritas tidak pernah statis. Ia bergerak seiring dengan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk berbenah. Data MCP dan SPI Kota Banjar 2024–2025 mengajarkan satu hal penting: pembangunan antikorupsi bukan soal mempertahankan angka, tetapi menjaga nilai.

Jika Banjar Masagi ingin benar-benar menjadi wajah pembangunan yang paripurna, maka pembacaan jujur atas data integritas harus dijadikan pijakan. Sebab di situlah masa depan kepercayaan publik ditentukan—bukan oleh slogan, melainkan oleh pengalaman nyata warga dalam berinteraksi dengan negara.***

MEMBACA KOTA BANJAR: DI BALIK DERETAN TROFI DAN PR YANG BELUM KUNJUNG USAI

Membaca adalah gerbang utama pengetahuan. Membaca tidak terbatas pada tulisan, teks atau buku. Hal ini dipertegas dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan yaitu iqra, bacalah! M. Quraish Shihab dalam tafsirnya tidak menjelaskan objek apa yang dibaca, sehingga kata “baca” ini memiliki makna yang umum, yang artinya perintah membaca mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia, baik itu teks tertulis (ayat qauliyah) maupun fenomena alam semesta dan realitas sosial (ayat kauniyah). Dengan demikian membaca berarti sesuatu yang dapat kita analisa dan pahami untuk mendapatkan pengetahuan darinya.

Apresiasi terhadap Trofi Penghargaan Kota Banjar yang Membanggakan

Dewasa ini selain suka membaca berita juga mulai dihadapkan pada realita. Satu sisi bangga dan terharu melihat Kota Banjar bersinar dengan meraih peringkat terbaik l Pinunjul Award untuk kategori Kota/Kabupaten Non-Indeks Harga Konsumen (Non-IHK) tingkat Provinsi Jawa Barat 2025. Penghargaan ini merupakan kolaborasi banyak pihak terkait, khususnya apresiasi terhadap kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) atas keberhasilannya dalam pengendalian inflasi dan stabilitas ekonomi. Sehingga harga bahan pokok tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pemerintah Kota Banjar juga kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) ke-16 berturut-turut dari BPK RI, menegaskan komitmennya pada pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan sesuai prinsip akuntansi pemerintah, menjadikannya salah satu daerah dengan rekor tertinggi di Jawa Barat untuk akuntabilitas keuangan daerah. Yang tak kalah membanggakan, Kota Banjar kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan menerima Penghargaan Perlindungan Konsumen untuk kategori Daerah Tertib Ukur Tahun 2025. Penghargaan ini menegaskan komitmen Kota Banjar dalam melindungi hak konsumen, khususnya dalam hal keakuratan barang yang diperdagangkan.

Selain prestasi di bidang ekonomi dan tata kelola pemerintahan, sederet prestasi juga diraih dalam bidang kesehatan dan sosial masyarakat. Prestasi tersebut dibuktikan dengan penerimaan Penghargaan Swasti Saba Padapa 2025 Tingkat Nasional. Ini adalah penghargaan bagi Kabupaten/Kota Sehat (KKS) yang dinilai aman, nyaman, sehat, dan bersih bagi warganya. Lantas Kota Banjar meraih Juara 1 dalam Program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) kategori Kota. Program ini fokus pada pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga di desa/kelurahan binaan. Ini membuka kacamata masyarakat bahwa wanita juga harus berdaya, berkarya, dan berjaya.

Sungguh tak disangka, kota kecil ini terus berproses dan bertumbuh di kancah regional bahkan nasional. Kota Banjar juga tercatat mendapatkan penghargaan di bidang kewilayahan dan kebudayaan, antara lain Anugerah Gapura Sri Baduga 2025 tingkat Jawa Barat yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik yang terintegrasi. Selanjutnya Kecamatan Purwaharja di Kota Banjar pun berhasil meraih Kinerja Tertinggi ke-1 dalam Penilaian Sinergitas Kinerja Kecamatan Tingkat Provinsi Jawa Barat, membuktikan bahwa kinerja pelayanan publik berjalan baik hingga ke level kecamatan. Tentu penghargaan-penghargaan tersebut bukan hanya sebagai simbolis semata, tapi hal ini menunjukkan komitmen nyata pemangku kebijakan dan warganya dalam mewujudkan Kota Banjar yang semakin maju. Namun, di sisi lain juga terdapat Pekerjaan Rumah (PR) yang belum kunjung usai.

Kritik Tajam pada PR yang Belum Kunjung Usai

Tahukah kamu, Banjar Water Park (BWP)? BWP adalah isu klasik yang tak kunjung tuntas. Aset bernilai miliaran rupiah ini dalam kondisi “mati suri” dan mengalami kerusakan aset yang parah. BWP telah tutup sejak Mei 2019, dan sekitar 80 persen asetnya dilaporkan rusak atau hilang. Sempat senang sebetulnya melihat dibangunnya proyek wahana baru “The Mummy”, namun proyek itu kini mangkrak selama lebih dari dua tahun. Ini menjadi sebuah pertanyaan, mau dibawa kemanakah nasib BWP? Apakah akan dilikuidasi? Atau direvitalisasi? Semakin lambat pengambilan keputusan, maka akan semakin membuat aset daerah terus menyusut nilainya.

Beberapa waktu ke belakang, ramai juga terkait dampak Bendungan Leuwikeris. Meski Bendungan Leuwikeris adalah Proyek Strategis Nasional, proses impounding (pengisian air) pada 2024-2025 berdampak pada debit Sungai Citanduy. Perumdam Tirta Anom (PDAM) juga sempat mengalami gangguan suplai air baku karena debit sungai turun drastis. Pemkot Banjar seharusnya punya contingency plan (rencana cadangan) yang lebih kuat, seperti pembuatan sumur dalam di titik intake, agar ketergantungan pada debit permukaan Citanduy tidak menyengsarakan warga saat musim kemarau atau pemeliharaan bendungan.

Beralih dari itu, lagi-lagi soal Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Banjar. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Banjar (Agustus 2023/2024), TPT Kota Banjar berada di kisaran 5-6%. Meski trennya fluktuatif, angka ini perlu ditekan. Apakah sudah sesuai dengan kebutuhan industri lokal? Mengingat Banjar adalah kota transit, sektor apa yang sebenarnya menyerap tenaga kerja? Realitasnya, mencari kerja di Banjar masih seperti mencari jarum dalam jerami. Kita punya banyak sarjana, tapi minim industri penyerap. Jangan sampai Banjar hanya menjadi “pabrik” pengangguran terdidik, atau sekadar kota pensiunan yang nyaman untuk hari tua tapi “kering” bagi anak muda yang haus karya.

Hal senada pun terpantau ramai diperbincangkan netizen pada sebuah konten video yang menampilkan ungkapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bahwa Kota Banjar adalah Kota Ripuh di laman media sosial harapanrakyat.com. Netizen ramai-ramai mengiyakan ungkapan tersebut dengan berbagai realita, salah satunya seperti banyaknya orang-orang asli Kota Banjar justru merantau ke luar kota dengan alasan kecilnya UMR dan sulitnya lapangan pekerjaan.

Polemik juga muncul di bidang lingkungan. Ketika Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kamisama di Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat, yang melibatkan Pemerintah Kota (Pemkot) dan pengelola (PT Top Tekno Indo/Hejotekno) mengalami penumpukan sampah, target konsumen tidak tercapai, dan saling tuding dalam perjanjian kerja sama. Hal ini menyebabkan potensi pemutusan kontrak dan masalah kesehatan warga, dengan warga sekitar (Forum Ketua RT) mendesak penyelesaian masalah tersebut.

Dalam tulisan yang penuh dengan kekurangan ini, sama sekali tidak ingin menyudutkan salah satu pihak. Tulisan ini juga bukan nyinyiran, melainkan surat cinta dari seorang anak muda yang tidak ingin melihat kotanya jalan di tempat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Mari duduk, diskusi  dan berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk membangun Kota Banjar berdaya! Jangan tutup mata, jangan tutup telinga, mari sama-sama berperan pada suatu hal yang bisa kita lakukan. Kalo kata BJ.Habibie, “Berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan.” Mulai kokoh dari lingkup terkecil yaitu menjadi pribadi yang baik, keluarga yang memberikan rasa aman, menjadi masyarakat yang berpartisipasi aktif, dan abdi negara yang amanah. Tangkap setiap tanda-tanda di sekitar kita. Jadikan yang belum baik menjadi baik, yang sudah baik semakin baik. Salam Kolaborasi!

***

Doni Rayhan Nugraha

PARTISIPASI KAWULA MUDA TINGKATKAN LITERASI KESEHATAN DI MEDIA SOSIAL

Doni Rayhan Nugraha

Doni Rayhan Nugraha, siswa aktif di SMK Negeri 2 Banjar. Puji dan syukur atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya sebagai anggota Team Literasi SMK Negeri 2 Banjar. Saya sangat tertarik membahas topik literasi kesehatan, khususnya di kalangan pelajar. Suatu kehormatan bagi saya dapat menyuarakan topik krusial ini, karena kita sebagai anak muda memiliki peranan penting dalam mencapai visi bersama, Indonesia Emas 2045. Selain itu, saya juga tertarik dengan pembahasan SDGs yang berfokus pada poin ke-tiga yakni menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi siapapun. Karena sejatinya, kita sebagai manusia memiliki hak untuk mendapatkan layanan serta akses kesehatan yang memadai. Dengan tulisan ini, peran saya sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan dapat menjadi bukti bahwa anak muda memiliki peranan penting dalam bidang kesehatan.


Pendahuluan

Jangan jadi anak muda yang enjoy aja di waktu muda, tapi lemah ekonomi dan rusak kesehatan karena kebiasaan buruk”, ujar Mario Teguh, Konsultan Motivasi Indonesia.

Berdasarkan World Health Organization (2011) dalam Strategic directions for improving Adolescent Health in South-East Asia Region menyatakan bahwa perkiraan dua pertiga kematian dini dan sepertiga total beban penyakit yang dialami oleh orang dewasa adalah akibat perilaku buruk yang dilakukannya ketika berada di fase muda.

Masa muda, masa yang berapi-api”, penggalan lirik dari lagu sang maestro dangdut Indonesia, Rhoma Irama. Menyadarkan kita bahwa masa muda tidak hanya diisi dengan kisah cinta dan serunya game mobile. Akan tetapi, jika kita mengingat Indonesia saat ini dimana akses pendidikan dapat dijangkau dan terbebas dari penjajahan adalah berkat pahlawan saat muda yang memiliki semangat serta ambisi untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Masa muda adalah masa transisi dari fase kanak-kanak menuju fase dewasa, masa dimana kita haus akan pengetahuan dan eksplorasi terkait banyak hal. Akan tetapi, jika tidak dimanfaatkan dengan baik rasa keingintahuan tersebut akan menjadi boomerang bagi kita di masa yang akan datang.

Literasi kesehatan dapat dijadikan sebagai solusi dari permasalahan dimana para pemuda masih enggan untuk memprioritaskan keperluan di bidang kesehatannya. Sangat disayangkan, literasi kesehatan di Indonesia masih cukup rendah dan menjadi tantangan bagi anak muda di masa sekarang. Literasi bukan hanya membaca, literasi juga bukan hanya sebatas melihat secara sepintas flyer terkait kesehatan remaja. Tetapi, literasi jauh lebih dalam daripada itu, literasi kesehatan adalah bagaimana cara pandang kita menganalisis suatu informasi dengan keterampilan kognitif yang mempengaruhi semangat serta ambisi anak muda dalam mengakses, memahami serta mengimplementasikan informasi kesehatan yang diterimanya untuk membuat keputusan yang tepat, guna mengakses layanan kesehatan yang baik dan inklusif.

Literasi kesehatan juga menjadi sorotan global saat ini. Terdapat agenda besar pada tahun 2030, dimana dalam agenda ini terdapat kesepakatan yang telah disetujui bersama dan memegang prinsip No-one left behind. Agenda yang dimaksud adalah Sustainable Development Goals (SGDs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang berlaku dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2030. Yang mana salah satu fokusnya ialah, menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi siapapun. Di tahun 2030 semua negara yang telah menyepakati patut merealisasikan jaminan kesehatan universal atau tanpa adanya beban biaya yang ditanggung oleh pasien sehingga semuanya dapat merasakan layanan kesehatan secara inklusif.

Pembahasan

Sebagai langkah awal upaya peningkatan literasi kesehatan anak muda, anak muda saat ini harus paham terkait hak dan kewajiban sebagai peserta dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Di negara kita sudah terdapat jaminan kesehatan yang menjunjung tinggi nilai inklusif. Dimana semua pasien mendapatkan kesempatan yang sama yakni layanan kesehatan yang memadai.

Permasalahan saat ini adalah kurangnya kesadaran anak muda akan hak dan kewajibannya sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia mencapai 80% di tahun 2025, angka ini menunjukkan bahwa jutaan pengguna internet di Indonesia sudah semakin meningkat. Tapi bagaimana dengan kesadaran masyarakat terkait hak dan kewajibannya?

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah suatu program yang diinisiasikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dalam program ini BPJS Kesehatan sudah membuat sistem digital seperti Mobile JKN, Pandawa dan banyak lainnya dengan harapan peserta dapat mengakses layanan kesehatan yang mudah dan terstruktur. Akan tetapi, karena kurangnya pemahaman serta kepedulian peserta terkait program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum bisa dimanfaatkan secara baik.

Tingginya angka pengguna internet di Indonesia, seharusnya memudahkan peserta untuk menganalisis, memperoleh dan menerapkan informasi terkait program ini. Namun, karena terdapat budaya buruk yang tetap eksis di Indonesia yakni malas membaca khususnya di kalangan anak muda, tentu hal tersebut masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membuat program baru yakni Duta Muda BPJS Kesehatan.

Berbicara terkait peran anak muda, tentu kita dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan. Hadirnya Duta Muda BPJS Kesehatan, yang telah melewati beberapa tahap seleksi dari masing-masing kantor cabang, dapat menjadi perantara atau jembatan antara peserta (masyarakat) dengan BPJS Kesehatan. Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar yang meliputi tiga daerah yakni Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran tahun 2025, memiliki visi sebagai berikut:

Menjadi Duta Muda BPJS Kesehatan sebagai agen perubahan yang berinisiatif dan edukasi digital dalam memperluas pemahaman serta partisipasi anak muda terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Didukung oleh beberapa misi yang akan direalisasikan selama masa jabatan, adapun misinya sebagai berikut,

  1. Meningkatkan literasi digital. Sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan tentu kamimemiliki tanggung jawab dalam meningkatkan literasi digital khususnya dalammemaksimalkan penggunaan hak serta tanggung jawab peserta program JKN.
  2. Mengoptimalkan media sosial. Hadirnya media sosial dapat menjadi media yangtepat untuk menyebarkan informasi terkait program JKN, karena aksesnya yangmudah dan dapat dijangkau oleh setiap kalangan, tanpa adanya batasan.
  3. Membangun kolaborasi dengan beberapa pihak. Dengan bekerja sama dan bertukaride serta pendapat untuk mencapai kebaikan bersama tentu ini akan sangat

Agar dapat merealisasikan misi tersebut, berikut program kerja yang akan direalisasikan oleh Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar tahun 2025.

  1. Konten edukasi #SobatJKN. Tingginya pengguna internet di Indonesia dapatdimaksimalkan jika ditemani dengan edukasi sehingga menjadi wadah yang positifterutama dalam pemahaman terkait kesehatan.
  2. Ngariung Bareng (NgaBar). Program ini ditujukan bukan hanya untuk anak mudasaja, tetapi semua usia dapat dijangkau dengan harapan mereka paham terkait hakbeserta tanggung jawabnya sebagai peserta JKN. Program ini akan dilakukan secara offline atau tatap muka ditemani oleh pihak BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar.
  3. JKN Go To School. Program ini memiliki target anak muda khususnya pelajar. Jika di media sosial sudah ada konten edukasi #SobatJKN. Maka, untuk memahami apa itu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara intens dibuatkan program JKN Go To School dengan harapan akan adanya interaksi aktif antara Duta Muda BPJS Kesehatan dan para pelajar (audiens).

Duta Muda BPJS Kesehatan tidak hanya sekadar nama saja, tetapi dampaknya sudah dirasakan oleh para pengguna internet. Contoh nyata, sebuah video reels yang diunggah dalam akun instagram dengan username @dnryhnngrh menuai banyak komentar positif dari masyarakat setelah menginformasikan terkait pembayaran auto-debit yang sekarang dapat diakses di Mobile JKN.

Perlu diketahui bahwa BPJS Kesehatan dengan Program JKN merupakan instrumen Indonesia menuju Universal Health Coverage atau Cakupan Kesehatan Universal. Untuk mencapainya jelas membutuhkan kontribusi dari beberapa pihak seperti pemerintah dan masyarakat. Selalu ingat bahwa program JKN bersifat gotong royong, “yang sakit dibantu oleh yang sehat”.

Penutup

Anak muda saat ini harus peduli dengan kondisi kesehatannya. Tidak ada salahnya, jika kita sebagai anak muda sudah mulai paham terkait jaminan kesehatan kita, karena permasalahan terkait kesehatan susah untuk ditebak. Tentang bagaimana cara mengantisipasinya, kita perlu jaminan kesehatan yang sudah beregulasi dan menjunjung nilai inklusif agar setiap orang mendapatkan hak yang sama, yakni layanan serta akses kesehatan yang baik.

Sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar tahun 2025, kami akan terus memberikan edukasi terkait jaminan kesehatan nasional di Indonesia. Kemudian, sesuai dengan tagline Visi Indonesia Emas 2045, kami menetapkan anak muda sebagai fokus kami dalam berjalannya misi tersebut. Namun, tetap memberikan perhatian yang sama dan mendengarkan aspirasi dari semua kalangan.

Mari buktikan bahwa anak muda dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan di Indonesia!

***

DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU

Tatang Mugiyana, S.Pd.
(Kepala UPTD SDN 1 Bank Jabar, Langensari, Kota Banjar)

Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan merupakan kunci utama dalam meningkatkan minat, motivasi, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Pada jenjang Sekolah Dasar, tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah bagaimana menyajikan materi pembelajaran agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan siswa, serta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Pembelajaran yang bersifat abstrak dan verbalistik sering kali membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Dalam konteks pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), materi tentang daerah tempat tinggal dan keadaan alamnya menjadi salah satu materi penting yang perlu dipahami siswa. Materi ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan faktual, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membentuk identitas, rasa cinta terhadap lingkungan, serta kepedulian terhadap budaya lokal. Namun demikian, penyampaian materi tentang letak geografis, batas wilayah, kondisi alam, dan potensi daerah sering kali dilakukan secara konvensional melalui buku teks dan penjelasan lisan, sehingga kurang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Berangkat dari kondisi tersebut, UPTD SDN 1 Bank Jabar Langensari mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran bertajuk “Deskripsi Daerahku melalui Lagu”. Inovasi ini memadukan pembelajaran IPAS dengan seni musik sebagai media utama untuk menyampaikan materi tentang daerah dan keadaan alam Kota Banjar. Kepala sekolah berperan aktif dalam memotivasi dan mendampingi guru kelas IV untuk menggunakan lagu ciptaan sendiri berjudul “Ciciren Banjar” sebagai sarana pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.

Penggunaan lagu sebagai media pembelajaran memiliki kekuatan tersendiri. Lagu mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara bersamaan. Melalui lirik, irama, dan melodi, informasi dapat disampaikan secara lebih mudah diingat dan dipahami. Lagu juga menciptakan suasana belajar yang rileks, menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif siswa. Dalam konteks pembelajaran daerah, lagu “Ciciren Banjar” menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan lingkungan geografis, alam, dan budaya tempat mereka tinggal.

Inovasi ini memiliki landasan yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan menegaskan pentingnya pembelajaran yang mendorong pemahaman kontekstual dan penguatan karakter peserta didik. Permendikbudristek Nomor 7 Tahun 2022 tentang Struktur Kurikulum juga memberikan ruang yang luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah.

Dalam Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran IPAS Fase B menekankan pengenalan peserta didik terhadap berbagai komponen lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia. Materi ini sangat relevan jika disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Selain itu, inovasi ini juga mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Penggunaan lagu daerah turut mendukung implementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui penguatan nilai cinta tanah air dan budaya lokal.

Inovasi “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” bertujuan untuk memotivasi guru agar lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, khususnya dalam mengajarkan materi tentang batas wilayah dan keadaan alam Kota Banjar. Lagu “Ciciren Banjar” digunakan sebagai alat bantu untuk memperkenalkan letak geografis, kondisi alam, serta potensi budaya daerah kepada siswa kelas IV. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pelaksanaan inovasi diawali dengan persiapan pembelajaran yang matang. Kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan guru kelas IV untuk mendiskusikan strategi pembelajaran kreatif yang dapat digunakan dalam materi daerah dan keadaan alam. Pada tahap ini, guru diberikan pendampingan mengenai cara mengintegrasikan lagu ke dalam alur pembelajaran, mulai dari apersepsi, penyampaian materi, hingga evaluasi. Guru juga dibekali pemahaman tentang pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Pada tahap pelaksanaan di kelas, guru memperkenalkan lagu “Ciciren Banjar” kepada siswa dengan cara mendengarkan dan menyanyikannya bersama. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan antusias. Guru kemudian menjelaskan makna lirik lagu yang menggambarkan batas wilayah Kota Banjar, keberadaan gunung, sungai, serta kekayaan alam dan budaya setempat. Penjelasan ini membantu siswa memahami bahwa lirik lagu tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung informasi penting tentang daerah mereka.

Setelah siswa mengenal lagu, kegiatan dilanjutkan dengan analisis lirik. Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai isi lagu, seperti nama-nama wilayah, kondisi geografis, sungai, gunung, serta kehidupan masyarakat Banjar. Melalui diskusi ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menghubungkan informasi dalam lagu dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, serta menyampaikan pendapat secara lisan.

Untuk memperkuat pemahaman, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan tugas praktik. Setiap kelompok diminta membuat poster atau presentasi yang menggambarkan letak desa, kecamatan, keadaan alam, serta budaya daerah berdasarkan lirik lagu “Ciciren Banjar”. Aktivitas ini mendorong siswa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekspresikan ide secara kreatif. Pada saat presentasi, siswa diminta menyanyikan bagian lagu yang relevan dengan materi yang mereka sampaikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan berkesan.

Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan dan tertulis. Guru menilai pemahaman konsep, kreativitas, serta kemampuan siswa dalam menyampaikan informasi. Selain itu, siswa juga diajak melakukan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar mereka. Refleksi ini membantu siswa menyadari bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.

Penerapan inovasi ini dilaksanakan secara bertahap dan terencana, dimulai dari perencanaan pada bulan Desember 2024, pelaksanaan pada Januari hingga Maret 2025, evaluasi pada April 2025, dan tindak lanjut pada Mei 2025. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis seni yang dipadukan dengan diskusi kelompok. Media utama berupa lagu “Ciciren Banjar” didukung oleh perangkat audio-visual dan alat bantu pembelajaran lainnya.

Lirik lagu “Ciciren Banjar” yang menggunakan bahasa Sunda menjadi kekuatan tersendiri dalam inovasi ini. Bahasa daerah yang digunakan membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi pembelajaran. Lagu ini tidak hanya menyampaikan informasi geografis, tetapi juga menanamkan nilai kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Banjar sebagai daerah tempat tinggal mereka.

Hasil penerapan inovasi menunjukkan dampak yang sangat positif. Motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan. Siswa terlihat lebih antusias, aktif bertanya, dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Kreativitas siswa juga berkembang melalui kegiatan membuat poster dan presentasi. Mereka mampu mengekspresikan pemahaman tentang daerah dan budaya secara lebih variatif dan menarik.

Pemahaman konsep siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka tidak hanya menghafal, tetapi memahami melalui pengalaman belajar yang melibatkan emosi, visual, dan auditori. Lagu membantu siswa mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Selain itu, inovasi ini juga berhasil menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah asal, serta meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam dan budaya lokal.

Secara keseluruhan, inovasi pembelajaran “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di kelas IV. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui integrasi seni dan budaya lokal, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga nilai dan sikap positif terhadap lingkungan dan daerahnya.

Ke depan, inovasi ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan. Kepala sekolah dapat terus mendorong guru untuk memanfaatkan lagu daerah sebagai media pembelajaran pada berbagai materi. Integrasi seni dan budaya lokal perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter dan identitas peserta didik. Selain itu, penyediaan sumber belajar kreatif seperti media audio-visual dan lagu daerah akan sangat mendukung keberlanjutan praktik baik ini dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka dan bermakna.***

Scroll to Top