Ramadan Menulis

LITERASI RAMADAN 1447 H / 2025 Parade Puisi, SaLiRa, dan RaMen

Bulan Ramadan selalu menjadi bulan yang istimewa. Begitu pun dalam hubungannya dengan kegiatan literasi. Kami sering menyebut bulan Ramadan sebagai “Bulan Literasi”, bulan diturunkannya kalam suci. Semangat Ramadan selalu kami sambut dengan beragam kegiatan.

Kegiatan Literasi Ramadan yang dilaksanakan Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) terus berlanjut. Setelah sebelumnya di awal Ramadan menggelar Peluncuran Buku dan Parade Puisi Ramadan (PPR) Jilid III, kini di pertengahan hingga penghujung Ramadan YRBK melaksanakan dua kegiatan lainnya, yaitu SaLiRa dan RaMen.  SaLiRa adalah Safari Literasi Ramadan. Sementara RaMen adalah Ramadan Menulis. Kedua kegiatan ini juga sama merupakan bagian dari rangkaian program Literasi Ramadan YRBK, Untuk kegiatan SaLiRa telah dilaksanakan di empat sekolah, yaitu di SDN 1 Cibeureum, MIS Banjar 2, MTsN 1 Banjar, serta di SMP Islam Langensari.

salira
Safari Literasi Ramadan (SaLiRa) 1447, Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) di SMP Islam Langensari, MTSN 1 banjar, SDN 1 Cibeureum dan MI Banjar 2

 Program Literasi Ramadan 1447 yang dilaksanakan YRBK tahun ini dipungkas dengan kegiatan Ramadan Menulis (RaMen). Untuk kegiatan RaMen Jilid III tahun ini, YRBK berkolaborasi dengan SMAN 3 Banjar yang sudah menyiapkan puluhan siswanya untuk menjadi penulis.Kegiatan RaMen di SMAN 3 Banjar juga diproyeksikan akan menghasilkan naslah buku antologi dengan tema “Pendidikan” karena encananya akan diluncurkan pada momentum Hari Pendidikan Nasional pada bulan Mei mendatang. Ini akan menjadi sesuatu yang monumental juga karena buku ini akan menjadi terbitan buku RBK yang ke-100. **

Ramadan Menulis

Informasi Terkait:

SaLiRa di MTsN1 Banjar: https://www.instagram.com/p/DVaXIVIDGgB/

SaLiRa di SDN 1 Cibeureum: https://www.instagram.com/p/DVj7Kg9ky8e/

SaLiRa di SMP Islam Langen: https://www.instagram.com/p/DVkVsGQjJmw/

SaLiRa di MIS banjar 2: https://www.instagram.com/p/DV0oeryjHNt/

 

Berita Terkait:

Berita Arahpena.id:  https://www.arahpena.com/berita/77916870068/perkuat-budaya-baca-tulis-di-bulan-ramadan-1447-h-yrbk-gelar-salira-dan-ramen-di-kota-banjar

Bandung Pos: https://bandungpos.id/salira-dan-ramen-meriahkan-literasi-ramadhan-1447-h-di-kota-banjar/

Zona Literasi:  https://zonaliterasi.id/salira-dan-ramen-meriahkan-literasi-ramadan/

 

Harian Jabar Ekspress

LITERASI RAMADAN 1447 H / 2025 Parade Puisi, SaLiRa, dan RaMen Read More »

KADO SPESIAL ULTAH KE-23 KOTA BANJAR

Februari tahun 2026 ini Kota Banjar memasuki usia yang ke-23 tahun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kota Banjar Jawa Barat lahir berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2002 yang merupakan peningkatan dari satus sebelumnya sebagai kota administratif. Berawal dari sini maka tanggal 21 Februari 2003 ditetapkan sebagai tonggak Hari Jadi Kota Banjar. Peringatan Hari Jadi Kota Bajar tahun ini mengusung tema “Banjar MASAGI Tumbuh Istimewa”.

Banyak ragam kegiatan yang dilakukan dalam menyambut Hari Jadi Kota Banjar, salah satu kreasi dan inisiatif kami dari Yayasan Ruang baca Komunitas (YRBK) dengan menerbitkan buku berjudul “Semangat Literasi Wujudkan Banjar MASAGI”. Penerbitan buku ini diharapkan dapat menjadi kado spesial Hari Jadi Kota Banjar tahun ini.

Buku setebal 154 halaman ini ditulis oleh 20 orang dari berbagai kalangan dengan beragam sudut pandang: sosial, agama, pendidikan, pariwisata, tata kota, baik berupa apresiasi maupun kritik untuk kondisi Kota Banjar yang lebih baik. Kedua puluh Penulis yaitu: Asep Suharto, Dinar Nur Fadhilah, Enay Sunarsih, Endang Tuti Supriatin, Eris Munandar, Herri Herdiman, Hermanto, Ina Indriyani, Mohammadan Yogarsiwayan, Nova Chalimah Girsang, Nurholiah, Rahila Sayidah Afifah Khansa, Reni Rahmawati, Reny Andriany, Rini Apriani, Siti Maryam, Tatang Mugiyana, dan Zahwa Ilmayra Cahyani serta tiga orang editor: Ivan Mahendrawanto, Putri Sri Jayanti, dan Sofian Munawar.

Buku ini merupakan ikhtiar kecil untuk memotret dan menyajikan sekelumit dinamika perjalanan kota dari berbagai sudut pangdang. Di dalamnya termuat sejumlah apresiasi dan juga kritik: saran serta masukan sebagai bagian dari kecintaan warganya untuk terus mendorong agar Kota Banjar senantiasa terus tumbuh menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang,

 

Cover Buku Semangat Literasi wujudkan Banjar Masagi

Link Informasi Terkait:

https://www.instagram.com/p/DVJcngrDLaQ/

https://www.instagram.com/p/DVP16rjDBq-/

https://www.instagram.com/p/DVO7SjWk0Gu/

https://www.instagram.com/p/DVUcVtIDBmd/

 

Link Berita Terkait:

https://www.arahpena.com/berita/77916799746/di-balik-peluncuran-buku-literasi-ini-ada-pesan-kritis-untuk-para-pengambil-kebijakan-dan-anggota-dprd-kota-banjar

https://bandungpos.id/peluncuran-buku-dan-parade-puisi-gelorakan-literasi-ramadan-1447h/

https://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-31910023327/apresiasi-dan-kritik-hut-ke-23-kota-banjar-dibukukan-20-penulis

 

KADO SPESIAL ULTAH KE-23 KOTA BANJAR Read More »

URGENSI LITERASI MENDORONG BANJAR MASAGI

Sofian Munawar

Founder Yayasan Ruang Baca Komunitas

Dalam momentum ulang tahun kota, saya lebih memilih istilah “mengkhidmati” ketimbang merayakan. Namun, apa pun istilahnya, mengkhidmati ataupun merayakan hari jadi sebuah kota setidaknya memiliki enam kepentingan utama. Pertama, menghormati sejarah. Perayaan ulang tahun merupakan upaya untuk menghormati hari jadi kota dan mengenang sejarah berdirinya kota. Kedua, meningkatkan kebanggaan. Perayaan ini dapat meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap kota tercinta. Ketiga, mempromosikan pariwisata. Perayaan hari jadi kota juga dapat dijadikan ajang untuk mempromosikan kota sebagai destinasi wisata, sehingga berimplikasi meningkatkan ekonomi lokal. Kelima, sebagai media hiburan warga. Perayaan hari jadi kota dapat menghibur masyarakat dengan berbagai acara dan kegiatan. Keenam, meningkatkan kesadaran masyarakat. Perayaan hari jadi kota dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan memelihara kota.

Meskipun disebutkan paling akhir, point keenam tersebut menurut saya lebih penting dan reflektif. Dalam konteks Kota Banjar, perayaan hari ulang tahun kota dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan memelihara kota sekaligus melakukan refleksi atas perjalanan panjangnya. Hari jadi Kota Banjar adalah momen yang tepat untuk merefleksikan perjalanan kota ini dari masa ke masa. Apa yang telah dicapai? Apa yang masih perlu diperbaiki? Bagaimana kita dapat membuat Kota Banjar menjadi lebih baik? Beberapa pertanyaan lainnya dapat kita ajukan sebagai bahan renungan. Apa yang membuat kita bangga dengan Kota Banjar? Apa tantangan terbesar yang dihadapi Kota Banjar saat ini? Bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat? Apa peran kita dalam membangun Kota Banjar? Dengan merefleksikan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menemukan inspirasi dan motivasi untuk membuat Kota Banjar menjadi lebih baik di masa depan.

Bangga pada Kota Tercinta

Pertanyaan pertama dapat kita deskripsikan sekaligus mencoba menginventarisir alternatif jawabannya. Apa yang membuat kita bangga dengan Kota Banjar? Harus disadari bahwa Kota Banjar memiliki banyak rapa hal yang dapat membuat kita bangga. Kita dapat mendeskripsikannya mulai dari aspek budaya dan tradisi yang dimiliki, sumber daya alam dan termasuk potensi pariwisata di dalamnya, maupun potensi sosial-kultural dan sejarah.

Dari aspek sosial-kultural, Kota Banjar memiliki potensi sosial budaya yang kaya. Letak geografis yang strategis perlintasan Sunda dan Jawa menjadikan Kota Banjar sebagai perlintasan budaya sehingga memiliki pengaruh budaya Sunda dan Jawa yang unik. Dari sini bukan saja lahir ragam pertunjukan budaya seperti tari-tari tradisional yang khas, tapi juga produk-produk kerajinan rumahan, seperti ragam anyaman bambo, kerajinan kayu, kampung angklung, batik tarum, serta ragam kuliner yang sering dipamerkan dalam kegiatan fetival budaya dan pesta rakyat. Dengan potensi sosial-kultural yang kaya, Kota Banjar dapat menjadi destinasi wisata yang menarik bagi para wisatawan.

Demikian halnya dari aspek sumber daya alam dan termasuk potensi pariwisa yang ada di dalamnya. Dari lokasi tertinggi di Puncak Pagarbatu, Batulawang Pataruman hingga lokasi terendah di seputaran sungai Citanduy, Kota Banjar menawarkan bentangan alam yang indah. Hamparan sawah di Pasirleutik nan cantik menawarkan pemandangan alam yang sangat indah dan mempesona. Sawah-sawah yang hijau dan terhampar luas, dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau, menciptakan suasana yang sangat damai dan tenang. Sementara dari Bukit Pejamben kita dapat menikmati pemandangan Kota Banjar yang terbentang luas, dengan sawah-sawah hijau dan bukit-bukit yang mengelilingi. Bukit Pejamben juga populer sebagai spot fotografi, terutama saat sunrise atau sunset.

Masih banyak tempat lainnya yang menawarkan keindahan Kota Banjar. Ada Situ Leutik, danau indah yang berada dekat pusat kota. Ada Curug Panganten, Edu Wisata Kampung Domba, Bukit Jambu, Bendungan Wadas Lintang, Tebing Tambang Batu Mandalare, dan masih banyak lagi yang lainnya.[1] Selain itu, ada juga destinasi wisata sejarah seperti Situs Banjarkolot, Makam Arya Kemuning, Situs Singaperbangsa, dan situs Kokoplak, sebuah situs sejarah yang memiliki peran penting dalam memberikan bukti tentang keberadaan penyebaran Islam pada masa kesultanan Mataram. Lokasi situs Kokoplak berada di Dusun Pananjung, Desa Sinar Tanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. [2]

Walhasil, dari sisi potensi alam, sejarah, sosial-budaua, pariwisata, dan berbagai aspek lainnya menunjukkan bahwa Kota Banjar memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kota Banjar memiliki banyak hal yang dapat menjadi modal sekaligus menjadi sumber kebanggaan bagi warganya.

 Tantangan Terbesar Kota Banjar

Meskipun Kota Banjar memiliki beragam potensi, namun kita juga tidak bisa menutup mata akan adanya ragam persoalan yang menjadi kendala. Dari berbagai pemberitaan di media massa dan temuan lapangan yang dilansir berbagai pihak tampak pula bahwa Kota Banjar menghadapi beberapa tantangan besar. Setidaknya, ada lima tantangan utama yang masih menjadi persoalan krusial di Kota Banjar saat ini, yaitu:

– Aspek Pendidikan: Angka partisipasi sekolah (APS) untuk usia 16-18 tahun menurun menjadi 67,98% pada 2024, dan hanya 8,85% untuk kelompok usia 7-18 tahun. Banyak anak tidak sekolah, dan kualitas pendidikan masih rendah. [3]

– Aspek Ekonomi: Tingkat kemiskinan masih tinggi, yaitu 5,35% atau sekitar 11,2 ribu jiwa dari total penduduk 209,1 ribu jiwa. PDRB per kapita hanya sekitar Rp26,4 juta, jauh di bawah rata-rata Jawa Barat.

– Kendala Infrastruktur: Fasilitas kesehatan dan tenaga medis masih kurang, dan banyak Puskesmas yang kekurangan dokter dan perawat.

– Tingginya ketergantungan pada dana pusat: Lebih dari 70% APBD Banjar masih bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). [4]

– Korupsi dan birokrasi: Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) masih marak terjadi, menghambat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Sebaik dan sebesar apa pun modal dasar pembangunan yang dimiliki tentu tidak akan mampu berjalan secara optimal manakala kita tidak mampu menghdapi kendala dan persoalan yang mengganjal. Karena itu, lima tantangan ini perlu segera diatasi dengan beragam program yang dapat menjawab personal itu sehingga pada gilirannya kita mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membuat Kota Banjar lebih maju ke depannya.

Bagaimana Meningkatkan Kualitas Hidup di Kota Banjar?

Meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kota Banjar memerlukan upaya bersama dan strategi yang tepat. Setidaknya, ada lima cara yang dapat dilakukan. Pertama, meningkatkan akses Pendidikan. Pastikan semua anak memiliki akses ke pendidikan berkualitas, termasuk pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan. Kedua, meningkatkan ekonomi lokal. Dukung UMKM dan industri kreatif, serta meningkatkan infrastruktur ekonomi seperti jalan dan pasar.

Ketiga, meningkatkan Kesehatan. Perkuat fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas dan rumah sakit, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Keempat, mningkatkan partisipasi masyarakat: libatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan pembangunan kota. Kelima, meningkatkan infrastruktur. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus segera melakukan perbaikan infrastruktur dasar seperti jalan, air bersih, dan sanitasi.

Selain berfokus pada menuntasan masalah, secara bersamaan kita juga dituntut untuk terus mengembangkan ide dan gagasan untuk memajukan Kota Banjar. Menurut hemat saya, hal ini dapat dimulai dari beberapa hal, antara lain melalui lima agenda berikut. Pertama. mengembangkan sektor pariwisata, terutama pariwisata alam. Kembangkan wisata alam seperti Bukit Jambu, Mandalare, dan Situs Kokoplak. Perluasan akses, promosi, dan fasilitas wisata sehingga mampu meningkatkan kunjungan.

Kedua, promosi massif kuliner lokal. Promosikan kuliner khas Banjar, seperti nasi tutug oncom atau lele goreng, untuk menarik wisatawan. Ketga, merancang Festival Budaya secara terprogram. Adakan festival budaya yang menampilkan kesenian dan tradisi lokal untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat sekaligus menarik kunjungan para wisatawan. Keempat, penguatan ekonomi kreatif: Dukung UMKM lokal dengan pelatihan dan promosi produk-produk kreatif, seperti kerajinan tangan atau makanan olahan.

Kelima, mempromosikan infrastruktur hijau. Kembangkan ruang terbuka hijau dan taman kota untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Pengembangan infrastruktur hijau di Kota Banjar dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Beberapa ide untuk pengembangan infrastruktur hijau di Kota Banjar dapat dimplementasikan melalui:

– Taman Kota: Membangun taman kota yang luas dan hijau untuk meningkatkan kualitas udara dan ruang rekreasi masyarakat.

– Jalur Hijau: Membangun jalur hijau di sepanjang jalan untuk mengurangi polusi udara dan meningkatkan keindahan kota.

– Kebun Komunitas: Membangun kebun komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan dan memberikan akses ke makanan segar.

– Sistem Pengelolaan Air Hujan: Membangun sistem pengelolaan air hujan untuk mengurangi banjir dan meningkatkan ketersediaan air.

Pengembangan infrastruktur hijau ini dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan proyek yang berorientasi pada upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kota Banjar. Dengan perencanaan yang baik, pengelolaan yang efektif, dan partisipasi masyarakat yang aktif, Kota Banjar dapat menjadi kota yang maju dan sejahtera.

Literasi Mendorong Banjar MASAGI

Kota Banjar memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang maju. Dengan sumber daya alam yang kaya, lokasi strategis, dan semangat masyarakat yang kuat, Kota Banjar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menjadi kota yang ideal sesuai tgline yang kini bayak dipakai, MASAGI: Mandiri, Adil, Sejahtera, Agamis, Guyub, dan Inovatif. Dalam konteks ini juga semangat literasi dapat menjadi salah satu modalnya.

Literasi sangat penting dalam mendorong pencapaian Banjar MASAGI karena dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempromosikan inovasi, dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan literasi, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks Banjar MASAGI, literasi dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Selain itu, literasi juga dapat mempromosikan inovasi dan kreativitas, sehingga dapat meningkatkan perekonomian lokal dan menciptakan lapangan kerja.

Oleh karena itu, upaya meningkatkan literasi masyarakat harus menjadi prioritas dalam mencapai Banjar MASAGI. Ini dapat dilakukan melalui program-program pendidikan, pelatihan, dan pengembangan masyarakat yang berfokus pada peningkatan literasi. Beberapa contoh program dan kegiatan literasi masyarakat yang dapat menunjang tercapainya Banjar MASAGI antara lain:

– Lokakarya Penulisan Kreatif: Meningkatkan kapasitas pegiat literasi masyarakat melalui lokakarya penulisan kreatif, yang dapat membantu meningkatkan kemampuan menulis dan kreativitas masyarakat.

– Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunitas: Memberdayakan masyarakat melalui kelompok baca dan diskusi, yang dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi masyarakat.

– Literasi Digital: Meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat, terutama generasi muda, melalui pelatihan penggunaan perangkat lunak, pemrograman dasar, dan keamanan internet.

– Kelompok Baca dan Diskusi: Membentuk kelompok baca dan diskusi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan mengemukakan pendapat masyarakat.

– Penerbitan Buku Antologi: Menerbitkan buku antologi yang berisi karya-karya tulis masyarakat, yang dapat meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap situasi dan kondisi kotanya.

Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi masyarakat, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat menuju tatanan kehidupan ideal yang diharapkan.

Semangat bersama untuk mengupayakan ikhtiar terbaik ini seperti disampaikan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Banjar, H Erman Hendraman. Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya tergantung kepada pemerintah dan sektor dunia usaha, tapi idealnya juga merupakan hasil sinergi dan kolaborasi dari seluruh lapisan masyarakat. Dalam semangat inilah urun-rembug publik yang terdokumentasi dalam buku ini menjadi sesuatu yang urgen sekaligus strategis. Kita berharap, segala impian, harapan, gagasan dan hal-hal baik lainnya dapat terwadahi, menjadi amunisi untuk mewujudkan idealisme bersama: Banjar MASAGI Tumbuh Istimewa!

 


Sofian Munawar adalah pendiri Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK). Setelah lulus dari Fakultas Sastra UGM, melanjutkan studi Magister Ilmu Politik dengan konsentrasi studi “Politik Demokrasi dan HAM”, kerja sama Fisipol UGM-UiO Norwegia. Meraih puluhan penghargaan dari berbagai sayembara penulisan tingkat nasional. Ratusan artikel, esai, dan karya tulisnya dimuat di sejumlah media, blog sosial media, serta puluhan buku. Terpilih menjadi salah satu Penulis Terbaik pada Program Inkubator Literasi Pustaka Nasional (2020), dan menerima penghargaan “Editor Paling Produktif” dari Penerbit Lingkaran Yogyakarta (2021). Pada 2022 ditetapkan sebagai penerima penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

 

 

[1] Deskripsi destinasi wisata Kota banjar antara lain dapat dismak pada link situs berikut: https://bukamata.id/10-tempat-wisata-kota-banjar-paling-populer-yang-wajib-dikunjungi/

[2] Deskripsi lebih lengkap mengenai sejarah dan peninggalan budaya, ragam situs serta “Cerita Rakyat Kota Banjar” lainnya dapat disimak pada link: https://ruangbacakomunitas.com/wp-content/uploads/2024/10/E-BOOK-CERITA-RAKYAT-KOTA-BANJAR.pdf

[3] Sumber: https://data.goodstats.id/statistic/angka-partisipasi-sekolah-di-indonesia-2024-tren-dan-tantangan-2W28Y

[4] Simak:  https://djpk.kemenkeu.go.id/portal/data/tkdd?tahun=2024&provinsi=10&pemda=25

URGENSI LITERASI MENDORONG BANJAR MASAGI Read More »

SEMANGAT LITERASI WUJUDKAN BANJAR MASAGI

Ir. H. Sudarsono
(Wali Kota Banjar)

Kota Banjar Jawa Barat lahir berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2002 yang merupakan peningkatan dari satusnya sebelumnya sebagai kota administratif. Berawal dari sini maka tanggal 21 Februari 2003 ditetapkan sebagai tonggak Hari Jadi Kota Banjar. Peringatan Hari Jadi Kota Bajar tahun ini mengusung tema “Banjar Masagi Tumbuh Istimewa”. Slogan ini diharapkan dapat menjadi pendorong semangat kita untuk membangun Kota Banjar yang maju, adil, sejahtera, agamis, inovatif dan terus tumbuh menjadi kota yang lebih baik.

Para ahli tatakota menyebutkan beberapa ciri utama kota yang baik. Pertama, kualitas hidup, mencakup akses ke fasilitas dasar seperti air bersih, listrik, sanitasi, dan kesehatan. Kedua, keamanan, yaitu rasa aman dan nyaman bagi warga, dengan tingkat kejahatan yang rendah. Ketiga, lingkungan yang sehat: udara bersih, ruang hijau, dan pengelolaan sampah yang baik. Keempat, pertumbuhan ekonomi yang kuat: lapangan kerja, peluang usaha, dan pendapatan warga yang stabil. Kelima, infrastruktur yang memadai: jalan, transportasi, dan fasilitas publik yang baik. Keenam, partisipasi warga yang aktif dan terlibat dalam pengambilan keputusan pembangunan.

Untuk menjadikan Kota Banjar semakin maju di usianya yang ke-23 tentu dipelukan sinergitas dan kolaborasi dari para pihak. Sejalan dengan itu, ada beberapa hal yang perlu terus diupayakan, antara lain:

– Meningkatkan kualitas pendidikan: fokus pada pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

– Mendorong ekonomi lokal: mendukung UMKM, meningkatkan pariwisata, dan mengembangkan industri kreatif.

– Meningkatkan infrastruktur: memperbaiki jalan, transportasi, dan fasilitas publik.

– Meningkatkan partisipasi warga: melibatkan warga dalam pengambilan keputusan dan mempromosikan gotong royong.

– Meningkatkan keamanan: meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga dengan meningkatkan patroli dan pengawasan.

– Meningkatkan kebersihan: menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik.

– Mengembangkan konsep “smart city” untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.

Sebagai bentuk partisipasi warga, dalam buku ini juga termuat sejumlah saran, harapan dan juga kritik yang membangun untuk perbaikan Kota Banjar. Karena itu, atas nama pemerintahan Kota Banjar, kami menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para Penulis yang telah mencurahkan ide, pikiran, serta gagasannya melalui buku ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) yang telah menjadi inisiator bagi gerakan literasi di Kota Banjar.

Semoga saran, harapan dan beragam usulan positif-konstruktif yang termuat dalam buku ini dapat terwadahi dan dapat dijadikan modal untuk memperkuat pengetahuan kita dalam rangka membangun Kota Banjar lebih baik lagi. Dengan semangat Banjar MASAGI, kita berharap di usianya yang ke-23 tahun ini Kota Banjar dapat “tumbuh istimewa” meraih berbagai prestasi dan pencapaian pembangunan yang mampu melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

 

Kota Banjar, 21 Februari 2026

SEMANGAT LITERASI WUJUDKAN BANJAR MASAGI Read More »

LITERASI KUNCI MASAGI

Siti Maroah
(Ketua Yayasan Ruang Baca Komunitas)

Akronim MASAGI kini makin popular di kalangan masyarakat Banjar. MASAGI yang berarti Mandiri, Adil, Sejahtera, Agamis, Guyub, Inovatif yang selalu dilekatkan pada “Banjar MASAGI” menjadi harapan besar warga Banjar. Slogan ini mencerminkan tujuan bersama untuk menciptakan masyarakat ideal yang handal, memiliki daya saing global dalam segala sektor kehidupan.

Dalam momentum hari jadi Kota Banjar ke-23 tahun ini mengusung tema “Banjar MASAGI Tumbuh Istimewa”. Semangat dari slogan ini bagaimana mendorong warga Kota Banjar mampu menjadikan Kota Banjar sebagai kota yang maju. Ada beberapa prinsip kota yang maju, antara lain melingkupi soal efisiensi dan efektivitas, inovasi dan teknologi, keberlangsungan lingkungan, keamanan dan kenyamanan warga, serta keterlibatan masyarakat atau partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan pembangunan.

Lalu, apa kaitannya literasi dengan sebuah kemajuan kota? Literasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat kemajuan kota. Beberapa illustrasi dapat dijelaskan di sini, pertama, bahwa masyarakat yang terdidik atau masyarakat literat selalu memiliki keinginan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam pembangunan kota.

Kedua, literasi dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat. Sejalan dengan ini, literasi membantu masyarakat memahami informasi dan membuat keputusan yang lebih baik. Semangat literasi juga mendorong inovasi dan kreativitas. Literasi mendorong masyarakat untuk berpikir kritis, sekaligus menciptakan solusi inovatif secara kreatif. Berikutnya, literasi juga akan mendorong kita meningkatkan keterampilan dan produktivitas sehingga hal ini pun akan turut berimplikasi pada peningkatan perekonomian kota.

Bahkan, literasi dapat menjadi kunci bagi kemajuan sebuah kota. Mengapa ini bisa terjadi? Pertama, literasi meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Kedua, sikap literat akan mendorong tumbuhnya partisipasi aktif dalam pembangunan kota. Ketiga, meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat. Keempat membantu masyarakat memahami informasi dan membuat keputusan yang lebih baik dan tepat.  Dengan literasi, masyarakat bisa lebih siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang sekaligus mengantisipasi berbagi persoalan sehingga memunculkan potensi untuk bisa lebih maju dan sejahtera!

Dalam hubungannya dengan ulang tahun ke-23 Kota Banjar pada 22 Februari 2026 ini, ada beberapa fokus agenda yang dapat menjadi kunci kemajuan sehingga perlu menjadi program tersendiri untuk diagendakan, antara lain:

– Peningkatan Literasi: Literasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan kota.

– Pengembangan Seni dan Budaya: Pelestarian seni dan budaya lokal, seperti parade seni budaya yang akan digelar pada peringatan ulang tahun ke-23, dapat meningkatkan identitas dan kebanggaan masyarakat.

– Peningkatan Infrastruktur: Pembangunan infrastruktur yang memadai dapat meningkatkan konektivitas dan kualitas hidup masyarakat.

– Pemberdayaan Ekonomi: Pengembangan UMKM dan industri kreatif dapat meningkatkan perekonomian lokal.

– Kolaborasi dan Partisipasi Masyarakat: Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi dapat meningkatkan efektivitas pembangunan kota.

Dengan fokus pada aspek-aspek tersebut, Kota Banjar diharapkan dapat menjadi lebih maju dan sejahtera sebagaimana tagline hari jadi ke-23 Kota Banjar tahun ini: “Banjar MASAGI Tumbuh Istimewa”. Perlu disadari bahwa kota yang maju adalah kota yang terus belajar, berinovasi, dan berani berubah untuk menjadi lebih baik. Kota yang maju adalah cerminan dari masyarakat yang terdidik, kreatif, dan berjiwa inovatif. Karena itu, semangat literasi di Kota Banjar harus terus ditingkatkan. Dengan literasi yang tinggi, masyarakat Kota Banjar dapat menjadi lebih cerdas, kritis, dan memiliki daya saing yang kompetitif. Mari kita tingkatkan literasi di Kota Banjar, karena daya literasi yang tinggi dapat menjadi kunci bagi terwujudnya Banjar MASAGI.***

LITERASI KUNCI MASAGI Read More »

BANJAR LIVABLE CITY: GAGASAN DAN REFLEKSI ARSITEKTUR PERKOTAAN UNTUK KOTA BANJAR KINI DAN MASA DEPAN

Penulis: Mohammadan Yogarsiwayan, S. Ars.

Mohammadan Yogarsiwayan, S.Ars., adalah seorang praktisi di bidang arsitektur dengan pengalaman profesional lebih dari tiga tahun. Saat ini, ia sedang menempuh Pendidikan Profesi Arsitek di Universitas Islam Indonesia. Karya-karyanya mencakup berbagai jenis proyek, antara lain hunian privat dengan berbagai skala, bangunan perhotelan skala rendah hingga menengah, perkantoran skala rendah hingga menengah, serta bangunan komersial yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Selain berpraktik di dunia arsitektur, Yogar juga memiliki pengalaman akademik sebagai Asisten Laboratorium dan Asisten Dosen di Universitas Islam Indonesia. Karya tulisnya, “Pengaruh Identitas Kota terhadap Sektor Pariwisata: Studi Kasus Kota Banjar” terpilih menjadi Tulisan Terbaik Program Inkubator Pustaka Nasional, Perpusnas RI dan telah dibukukan pada 2022.


Dalam berbagai kesempatan mengunjungi kota-kota tertentu, baik dalam rangka perjalanan kerja, melanjutkan pendidikan, maupun bersilaturahmi dengan sanak saudara, penulis secara empiris kerap memiliki kesan spontan berupa pemikiran, “Enak ya tinggal di sini”. Namun, ketika menjumpai kondisi yang kurang baik atau tidak menyenangkan di suatu tempat, penulis juga mengalami reaksi sebaliknya dalam bentuk penilaian negatif yang muncul secara reflektif.

Di sisi lain, ketika kita terlalu sering berada di suatu tempat dan telah terbiasa hidup di dalamnya, jarang—bahkan hampir tidak pernah—muncul respons spontan untuk menggunakan kepekaan observasi dan sikap kritis terhadap lingkungan tempat kita tinggal. Oleh karena itu, penulis mempertanyakan: apakah penulis akan mengatakan, “Enak ya tinggal di sini,” kepada Kota Banjar jika penulis bukan orang yang dibesarkan dan telah lama tinggal di kota ini?

Pemikiran ini lambat laun tidak lagi sekadar menjadi pikiran selintas, melainkan berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendalam tentang bagaimana perasaan tersebut dapat muncul, serta insting apa yang sebenarnya membentuk kepekaan tersebut. Pada akhirnya, hal ini melahirkan pertanyaan besar: jika sebuah sekolah memiliki indikator baik dan buruk yang diukur melalui akreditasi, apakah sebuah kota juga memiliki indikator penilaian yang serupa? Jika memang ada, nilai apa yang pantas diberikan untuk Kota Banjar?

Sembari mendalami ilmu arsitektur yang merupakan latar belakang akademis penulis, ranah perkotaan juga kerap bersinggungan dan menjadi sebuah ranah yang tidak terlewatkan untuk penulis dalami. Yang akhirnya penulis tahu bahwa indikator yang penulis tanyakan ternyata ada, meskipun tidak dalam bentuk yang serigit dan sesederhana ketika sebuah sekolah mendapatkan sebuah penilaian akreditasi, indikator tersebut bernama MLCI/Most Livable City Index.

Most Livable City Index merupakan penilaian yang dirilis oleh Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia yang berupaya untuk mengenali tingkat kenyamanan kota. Indeks ini didasarkan atas persepsi warga kota terhadap kotanya, mengenai kelayak hunian kota tempat tinggalnya. Hasil studi ini sifatnya adalah “snapshot”. Indeks ini merupakan pionir indeks yang berbasiskan pada survey dan persepsi warga kota terhadap kotanya, yang diharapkan dapat menjadi benchmark terkait kualitas kehidupan di kota-kota di Indonesia. Aspek kelayakan yang diuji antara lain berkaitan dengan keamanan, ekonomi, fasilitas publik, kebebasan beragama, dan lain lain. Sayangnya, kota Banjar bukanlah salah satu kota beruntung yang dilakukan penilaian oleh indeks sendiri sehingga penilaian ini perlu dilakukan untuk merefleksikan seberapa livable kota Banjar ini.

Menurut keyakinan penulis, refleksi terhadap perancangan sebuah kota dan menilai kota sendiri dengan  indikator kota ini penting sebagai acuan, baik untuk perkembangan kota itu sendiri dalam memperbaiki sistem yang sudah ada maupun dapat menjadi arahan yang konkrit bagi kota tersebut. Sehingga pembangunan yang ada diciptakan berdasarkan tinjauan ilmiah yang absah dan bukan hanya berdasarkan intuisi tak berdasar. Tulisan ini akan lebih banyak membahas refleksi  aspek Livability kota Banjar dari sudut pandang penulis yang berlatar keahlian di bidang arsitektur.

Mengenal lebih jauh Livable City

Konsep livable city atau kota layak huni semakin menjadi paradigma utama dalam perencanaan dan pembangunan perkotaan. Livabilitas kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas lingkungan, aksesibilitas, keadilan spasial, serta kenyamanan hidup bagi seluruh lapisan masyarakat yang ada di kota.

Livable city pada dasarnya merujuk pada kondisi kota yang mampu memenuhi kebutuhan dasar warganya secara berkelanjutan, termasuk kebutuhan akan hunian yang layak, ruang terbuka hijau, mobilitas yang aman dan efisien, fasilitas publik yang merata, serta lingkungan yang sehat. Dalam perspektif perencanaan, livabilitas memiliki dimensi spasial yang kuat karena berkaitan langsung dengan bagaimana ruang kota diatur, digunakan, dan diakses. Pada praktiknya, Livable city tidak akan terwujud hanya melalui jargon atau proyek fisik semata, melainkan melalui pengelolaan ruang yang berorientasi pada manusia.

Mewujudkan Pembangunan Kota Banjar yang Tertib

Pembangunan perkotaan pada hakekatnya tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada pembentukan kualitas hidup masyarakatnya. Kota Banjar,  cukup strategis karena berada di jalur Nasional Selatan Jawa, dan bahkan secara budaya cukup unik karena merupakan tempat akulturasi antara budaya sunda dan budaya jawa.

Saat ini, Kota Banjar masih berada pada arah pembangunan yang cenderung baik sehingga tidak banyak masalah perkotaan seperti kemacetan, banjir, dan masalah perkotaan lainnya. Hal ini terjadi bisa karena memang Kota Banjar sudah berada di jalan yang benar, atau hanya terjadi karena Kota Banjar yang terhitung masih merupakan kota muda dengan perkembangan yang belum signifikan besar. Sering perkembangan zaman, akan ada dimana Kota Banjar berkembang lebih besar dari sekarang. Mengingat bahwa perkembangan tanpa arahan yang jelas, dapat menimbulkan kegagalan di masa yang akan datang, maka sebuah gagasan dan refleksi berkala perlu dilakukan kota ini agar perkembangan kota tetap pada jalur yang benar.

Sejatinya dalam ranah pembangunan kota, peraturan daerah berupa RDTR (Rencana Detail Tata Ruang)  dan RTRW  (Rencana Tata Ruang Wilayah) memiliki kendali dan peranan penting. Keduanya mungkin terdengar sangat teknokratis, tapi sejatinya, keduanya lah yang merupakan “naskah masa depan” sebuah kota. RTRW adalah visi besar—peta arah pembangunan jangka panjang yang menjawab pertanyaan mendasar: kota ini mau jadi apa? Kota industri, kota jasa, kota pariwisata, atau kota hunian? Sementara itu, RDTR adalah turunan yang lebih konkret, dimana nasib sebidang tanah ditentukan: boleh dibangun apa, setinggi apa, sepadat apa.

Pendudukan RDTR dan RTRW sering menggarisbawahi satu hal penting: ketertiban. Tanpa aturan yang kuat, kota akan tumbuh liar—perumahan masuk kawasan resapan, ruko menyusup ke permukiman, gedung tinggi muncul tanpa infrastruktur pendukung. Kita sudah terlalu sering melihat contoh real di berbagai kota besar, akibatnya jika ketertiban perkotaan tidak dijalankan dengan baik: banjir, macet, konflik ruang akan timbul. Maka sejatinya, jika peraturan ini dilaksanakan dengan baik, ketertiban kota akan tercipta dan kemungkinan kegagalan pembangunan akan lebih terminimalisasi.

Dalam praktik pembangunan, selain penertiban yang dilakukan di tingkat kebijakan, diperlukan juga peran tenaga profesional yang mampu menjembatani antara regulasi tata ruang, kebutuhan pengguna/masyarakat, serta konteks lingkungan setempat agar bangunan yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga berkontribusi positif terhadap tatanan kota. Dalam hal inilah arsitektur khususnya Arsitek memiliki peranan penting, karena keberadaan arsitek lah yang menjembatani terbitnya sebuah izin, dan dibangunnya sebuah bangunan.

Selain arsitek dan ahli perencanaan tertentu, masyarakat juga memiliki andil besar dalam menjadikan kota ini akan livable tidaknya. Pada hakikatnya, tidak semua lahan yang ada di kota merupakan lahan milik pemerintah. Sebagian besar lahan dan bangunan yang ada di Kota Banjar adalah milik pribadi atau perusahaan, yang merupakan bagian dari masyarakat. Sehingga, masyarakat juga perlu merefleksikan kembali, apakah lahan yang kita miliki sudah sesuai dengan peruntukannya?, Jika telah sesuai, apakah bangunan yang kita miliki telah memenuhi aturan yang ada?. Jangan sampai kedepannya terdapat masalah kegagalan bangunan di Kota Banjar ini, sehingga dapat membahayakan pengguna dan memperburuk citra kota seperti beberapa kejadian belakangan di negeri  ini.

Refleksi tersebut perlu kita tanyakan kepada diri kita masing masing. Satu dua bangunan melanggar memang tidak akan membuat kota mati dan rusak, tapi menormalisasi kesalahan pada waktu kini akan berimbas besar bagi pada akumulasi kesalahan pada masa yang akan datang yang dapat memperburuk keadaan Kota Banjar yang kita tinggali ini.

Melahirkan Kota Banjar yang Hidup dan Bermakna

Berlawanan sisi dari sebuah ketertiban, penulis berpendapat bahwa ketika regulasi terlalu kaku, kota berisiko kehilangan spontanitas dan daya hidupnya. Arsitektur menjadi repetitif, ruang publik minim kejutan, dan inovasi terhambat oleh tabel-tabel angka. Sebuah pembangunan kota tidak hanya bisa didasarkan pada aturan, namun juga perlu aspek aspek yang keterlibatan akan kebutuhan manusia yang hidup didalamnya.

Banjar Patroman memiliki akar sejarah dan identitas lokal yang kuat. Selain dari posisi geografisnya sebagai simpul perlintasan Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadikannya kota pertemuan—ruang temu budaya, ekonomi, dan mobilitas, hampir setiap lokasi di kota banjar memiliki budaya dan cerita rakyat yang unik. Namun, potensi ini kerap tereduksi ketika pembangunan kota lebih menitikberatkan pada aspek kuantitatif: pertumbuhan ekonomi, perluasan kawasan terbangun, dan peningkatan infrastruktur, tanpa diimbangi pemaknaan ruang bagi manusia yang menghuninya.

Sebagai refleksi akan tingkat Livability dan Pemaknaan Kota Banjar ini, penulis mencoba untuk mengidentifikasi secara singkat fasilitas publik yang ada di kota ini. Dalam perencanaan kota, fasilitas publik memiliki peran penting dan juga dapat menjadi representasi dan identitas dari kota itu sendiri. Hal ini dikarenakan fasilitas publik merupakan elemen strategis yang menentukan kualitas hidup dan keberlanjutan suatu wilayah.

Masih senada dengan tulisan penulis terbitan lima tahun yang lalu, penulis berbicara terkait pariwisata di Kota Banjar dalam buku “Kancah Juang Kawula Muda”. Bahwa kota Banjar bukan kota yang terbelakang secara infrastruktur terkhususnya dalam fasilitas publik. Kota Banjar sudah memiliki infrastruktur kota yang cukup komplit, dimana hampir semua kebutuhan fisik kota dimulai dari gedung pemerintahan, sekolah, taman kota, tempat beribadah , dan unsur fisik lainnya sudah terpenuhi. Bahkan saat ini Kota banjar telah memiliki Mixed Use Building baru berupa Terminal yang terintegrasi dengan Mall Pelayanan Publik. Keberadaan fasilitas ini merupakan hal positif, namun tentu unsur-unsur fasilitas publik tersebut belum dapat dikatakan sempurna.

Keberadaan beberapa fasilitas publik baru bukan berarti meninggalkan fasilitas lama tanpa adanya pemeliharaan yang baik. Kita dapat berkaca kepada salah satu Ruang Publik pertama yang ada di Kota Banjar, yaitu Alun Alun Kota. Dahulunya tempat ini merupakan icon utama dan landmark Banjar. Keberadaan alun-alun tentunya sangat strategis dalam keberlangsungan hidup masyarakat kota Banjar. Namun,  penulis memiliki segudang pertanyaan terkait keberlangsungan alun-alun kini, sebenarnya alun-alun ini miliki siapa? Pedagang? Polisi? Organisasi? Agama tertentu? Atau bahkan tidak berkepemilikan sehingga kita bisa saksikan sendiri seperti apa keadaan alun alun sekarang ini. Karena biasanya tempat tak berkepemilikanlah yang biasanya tidak terkelola dengan baik. Harapannya alun-alun ini kedepannya dapat menjadi perhatian untuk dapat divitalkan kembali fungsinya. Sejatinya fasilitas publik lain selain alun-alun pun sama perlu untuk dapat kita tafsirkan bagaimana keadaannya sekarang, dan apakah kita bangga memilikinya.

Dalam perancangan Kota Banjar kedepannya, penulis memiliki harapan bahwa orientasi perencanaan bisa berlandaskan pada dua hal, yaitu hidup dan bermakna. Kota yang hidup adalah kota yang memberi ruang bagi warganya untuk berpartisipasi. Ruang publik bukan sekadar taman atau alun-alun yang indah secara visual, melainkan ruang sosial yang memungkinkan interaksi, ekspresi budaya, dan aktivitas keseharian. Ruang publik tidak bisa hanya miliki satu kelompok saja, melainkan milik bersama dengan sesuai kapasitasnya masing masing. Pedagang berjualan dengan tertib dan layak, masyarakat umum dapat berkegiatan dengan nyaman, kelompok masyarakat dapat berkegiatan tanpa membedakan dari kelompok mana mereka berasal. Sehingga ruang publik dapat inklusif dan tidak kehilangan fungsi sosialnya, karena ketika ruang publik kehilangan fungsi sosialnya, kota perlahan menjadi asing bagi warganya sendiri.

Selain menciptakan kota yang hidup, penulis berharap Kota Banjar pembangunan kota dapat berorientasi pada kebermaknaan, makna kota dapat lahir dari narasi masyarakatnya itu sendiri. Banjar Patroman memiliki sejarah, kebudayaan dan cerita rakyat di dalamnya. Sayangnya, narasi ini sering luput dari wajah kota yang dibangun hari ini. Penamaan jalan, desain bangunan publik, hingga penataan kawasan seharusnya mampu merefleksikan memori kolektif tersebut. Kota yang bermakna adalah kota yang dapat “bercerita”, sehingga setiap sudutnya dapat dibaca dan dirasakan sebagai bagian dari perjalanan bersama.

Penutup

Penulis menyadari bahwa mewujudkan gagasan ini—sebagaimana membangun sebuah kota—bukanlah pekerjaan yang sederhana. Banyak tantangan, keterbatasan, dan kompromi yang harus dihadapi dalam prosesnya. Namun demikian, penulis meyakini bahwa bermimpi tentang kebaikan kota ini bukanlah sebuah kesalahan. Justru dari mimpi dan harapan itulah arah masa depan dapat dirumuskan.

Mengutip dari perkataan Benjamin Franklin, salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat, “Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.” Sebuah rumah yang dirancang melalui perencanaan arsitektural yang matang dengan mempertimbangkan aspek estetika, fungsi, dan teknis, tentu akan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan bangunan yang dibangun semata-mata berdasarkan intuisi. Analogi ini menegaskan bahwa sebuah kota, dengan kompleksitas dan dampaknya yang jauh lebih besar, membutuhkan arahan, keahlian, dan perencanaan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kota Banjar tidak boleh melangkah ke masa depan tanpa kompas yang jelas, sebab kegagalan dalam merencanakan hari ini dapat menjadi penyesalan di kemudian hari.***

BANJAR LIVABLE CITY: GAGASAN DAN REFLEKSI ARSITEKTUR PERKOTAAN UNTUK KOTA BANJAR KINI DAN MASA DEPAN Read More »

TRANSFORMASI MASJID: DARI RUANG RITUAL KE PUSAT PERADABAN

Penulis: Hamzah Durisa
(Analis Kebijakan, Pegiat Literasi dan Aktivis GUSDURian)

Di hampir setiap sudut Indonesia, masjid mudah ditemukan. Dari kota metropolitan hingga desa terpencil, dari pesisir hingga pegunungan, masjid berdiri sebagai penanda paling massif dari kehadiran Islam di ruang publik. Ia sering menjadi bangunan paling terawat, paling ramai saat waktu-waktu tertentu, dan paling cepat direspons ketika membutuhkan renovasi. Namun ironisnya, di tengah kemegahan fisik itu, banyak masjid justru kehilangan denyut sosialnya.

Masjid hari ini sering hidup hanya pada jam-jam ibadah. Lima waktu salat, salat Jumat, dan peringatan hari besar Islam. Di luar itu, masjid kembali lengang. Pintu ditutup, aktivitas berpindah ke ruang lain: media sosial, kafe, ruang komunitas, atau bahkan pusat perbelanjaan. Masjid tetap berdiri, tetapi perannya menyempit. Padahal, jika kita membuka kembali ingatan kolektif umat Islam, masjid tidak pernah dilahirkan sebagai ruang sunyi. Sejak awal kehadiran Islam, masjid adalah pusat kehidupan. Ia adalah sekolah, balai musyawarah, ruang advokasi, pusat solidaritas sosial, bahkan simpul ekonomi umat. Masjid bukan hanya tempat orang bersujud, tetapi tempat orang merajut dan membangun masa depan bersama.

Masjid dan DNA Peradaban Islam

Masjid Nabawi di Madinah sering dijadikan rujukan, bukan karena romantisme sejarah, tetapi karena fungsinya yang sangat konkret. Di sana, Rasulullah SAW membangun masyarakat yang beradab dengan menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas. Pendidikan berlangsung di serambi masjid. Persoalan sosial dibicarakan di dalamnya. Strategi umat dirumuskan di sana. Spiritualitas dan sosial berjalan beriringan.

Model ini kemudian diwariskan ke berbagai wilayah dunia Islam. Masjid di Baghdad, Kairo, Damaskus, hingga Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan. Perpustakaan masjid berkembang. Diskusi ilmiah hidup. Dari masjid lahir ulama, ilmuwan, dan pemikir besar yang membentuk peradaban.

Indonesia pun memiliki jejak sejarah serupa. Masjid dan surau menjadi pusat pendidikan rakyat. Pesantren tumbuh dari tradisi masjid. Dari ruang-ruang sederhana itu lahir tokoh-tokoh bangsa, ulama, dan pemimpin pergerakan. Masjid tidak pernah terpisah dari proses pembentukan kesadaran kolektif umat. Namun, seiring perjalanan waktu, fungsi itu perlahan memudar.

Penyempitan Fungsi di Era Modern

Di Indonesia hari ini, masjid sering direduksi menjadi ruang ritual semata. Ini bukan karena masjid kehilangan potensinya, melainkan karena perubahan sosial yang tidak diimbangi dengan adaptasi kelembagaan. Globalisasi, digitalisasi, dan gaya hidup modern mengubah cara masyarakat belajar, berinteraksi, dan membangun komunitas.

Di saat yang sama, tantangan umat semakin kompleks. Moderasi beragama menjadi isu nasional di tengah maraknya polarisasi dan narasi keagamaan yang ekstrem. Kualitas sumber daya manusia masih timpang. Ketahanan ekonomi umat diuji oleh ketidakpastian global. Generasi muda hidup di dunia serba cepat, tetapi sering kehilangan ruang dialog yang sehat. Dalam situasi seperti ini, masjid seharusnya tampil sebagai solusi, bukan sekadar simbol. Sayangnya, banyak masjid belum siap memainkan peran itu.

Masjid Banyak, Daya Hidup Terbatas

Secara kuantitas, Indonesia adalah negara dengan jumlah masjid yang sangat besar. Namun secara kualitas pengelolaan, kondisinya sangat beragam. Banyak masjid dikelola oleh takmir yang bekerja dengan niat tulus, tetapi dengan keterbatasan kapasitas. Manajemen masih tradisional. Program berjalan sporadis. Keuangan belum selalu dikelola secara akuntabel.

Lebih jauh, masjid sering berjalan sendiri, terpisah dari agenda pembangunan nasional dan daerah. Padahal, isu-isu yang menjadi fokus pembangunan—pendidikan karakter, penguatan moderasi beragama, pemberdayaan ekonomi, pembinaan generasi muda—sangat dekat dengan fungsi masjid.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya kebijakan yang secara spesifik mendorong transformasi masjid sebagai pusat peradaban umat. Regulasi memang ada, tetapi sering berhenti sebagai dokumen administratif, belum menjadi gerakan sosial yang hidup di akar rumput.

Saatnya Masjid Menambah Peran

Transformasi masjid bukan berarti mengubah arah kiblat atau menggeser fungsi ibadah. Justru sebaliknya, ini adalah upaya mengembalikan masjid pada khittahnya. Ibadah tetap menjadi inti, tetapi dari ibadah lahir aksi sosial. Dari salat tumbuh kepedulian. Dari zikir lahir kesadaran kolektif.

Masjid dapat menjadi pusat literasi keagamaan yang sehat dan moderat. Diskusi keislaman yang kontekstual, kajian tematik yang menjawab persoalan kekinian, hingga ruang dialog lintas generasi dapat hidup di dalamnya. Dengan pendekatan ini, masjid menjadi benteng dari pemahaman keagamaan yang sempit dan eksklusif.

Di bidang ekonomi, masjid dapat berperan sebagai simpul pemberdayaan umat. Zakat, infak, dan wakaf tidak hanya dikelola secara konsumtif, tetapi juga produktif. Pelatihan kewirausahaan, koperasi masjid, dan penguatan UMKM berbasis komunitas bisa tumbuh dari sana. Bagi generasi muda, masjid perlu tampil sebagai ruang yang ramah dan relevan. Bukan ruang yang menghakimi, tetapi ruang bertumbuh. Bukan hanya tempat mendengar ceramah satu arah, tetapi ruang dialog, literasi, dan kreativitas.

 

Peran Negara: Memfasilitasi, Bukan Mendominasi

Transformasi masjid tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada pengurus masjid. Negara harus hadir sebagai fasilitator. Dalam konteks Indonesia, peran ini sangat strategis berada di tangan Kementerian Agama dan pemerintah daerah. Landasan kebijakan sebenarnya sudah tersedia. Undang-Undang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Standar Pelayanan Minimal, hingga Peraturan Menteri Agama tentang pengelolaan masjid memberi ruang besar bagi penguatan peran masjid. Tantangannya adalah implementasi yang konsisten dan kontekstual.

Kementerian Agama, melalui KUA dan penyuluh agama, memiliki posisi kunci sebagai pendamping umat. Mereka dapat menjadi motor penggerak transformasi masjid dengan pendekatan partisipatif dan berkelanjutan. Pelatihan takmir, pendampingan program, hingga integrasi masjid dengan agenda pembangunan sosial-keagamaan perlu dilakukan secara sistematis.

Pemerintah daerah juga perlu memosisikan masjid sebagai mitra strategis. Program berbasis masjid dapat diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Dukungan anggaran diberikan secara terukur dan akuntabel. Monitoring dan evaluasi dilakukan bukan untuk membatasi, tetapi untuk memastikan keberlanjutan.

Masjid sebagai Ruang Masa Depan Bangsa

Di tengah krisis kepercayaan sosial, polarisasi identitas, dan kegamangan generasi muda, masjid memiliki peluang besar untuk menjadi ruang pemulihan. Ia bisa menjadi tempat belajar hidup bersama, merawat perbedaan, dan membangun solidaritas.

Masjid yang hidup bukan masjid yang paling megah bangunannya, tetapi yang paling terasa manfaatnya. Masjid yang mampu menjawab kebutuhan umat di zamannya. Masjid yang tidak alergi terhadap perubahan, tetapi tetap berakar pada nilai.

Merawat masjid sejatinya adalah merawat peradaban. Ketika masjid hidup, umat bergerak. Ketika masjid berdaya, masyarakat menguat. Transformasi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat bukan agenda pinggiran, tetapi kebutuhan nasional.

Dengan pengelolaan yang profesional, dukungan kebijakan yang jelas, serta sinergi antara negara dan masyarakat, masjid dapat kembali menjadi jantung kehidupan umat Islam Indonesia. Ia bukan hanya ruang ibadah, tetapi ruang pembentukan karakter, solidaritas sosial, dan kemandirian ekonomi.

Jika Indonesia ingin membangun masa depan yang religius sekaligus berkeadaban, mungkin kita tidak perlu mencari konsep baru. Kita hanya perlu menghidupkan kembali sesuatu yang telah lama kita miliki—masjid sebagai pusat peradaban umat.***

TRANSFORMASI MASJID: DARI RUANG RITUAL KE PUSAT PERADABAN Read More »

PERAN MADRASAH MEMAJUKAN KOTA BANJAR YANG AGAMIS

Enay Sunarsih, M.Pd.I., lahir di Bandung 11 April 1969 dan sekarang tinggal di Kota Banjar Jawa Barat. Menempuh Pendidikan dimulai dari SD Negeri Sukataris Cianjur Jawa Barat (lulus tahun 1977), melanjutkan ke SMP Negeri Mergo Cilacap Jawa Tengah (lulus tahun 1986), dan SPG Negeri Ciamis (lulus tahun 1989), serta D2 PGSD di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) lulus tahun 1997. Selanjutnya menyelesaikan program S1 di STAIMA Kota Banjar (lulus tahun 2005) dan studi S2 di IAID Ciamis Jawa Barat (lulus tahun 2013). Sebagai ASN, sejak tahun 1999 sampai tahun 2021 bertugas di MIN 3 Kota Banjar, bulan Maret 2021 mutasi ke MIN 1 Kota Banjar sampai dengan sekarang menjabat sebagai Kepala Madrasah.


Kota Banjar dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki karakter religius yang kuat. Nuansa keagamaan terasa dalam kehidupan sosial masyarakat, mulai dari aktivitas ibadah, tradisi keagamaan, hingga peran lembaga pendidikan berbasis agama. Di antara lembaga tersebut, madrasah memegang peranan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan Kota Banjar yang agamis dan berkemajuan.

Madrasah bukan sekadar lembaga pendidikan formal yang mengajarkan mata pelajaran agama, tetapi juga menjadi pusat pembinaan karakter, moral, dan spiritual generasi muda. Dengan mengintegrasikan pendidikan agama dan pendidikan umum, madrasah berkontribusi besar dalam mencetak insan yang seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Peran inilah yang menjadikan madrasah sebagai pilar penting dalam mewujudkan Kota Banjar yang religius, harmonis, dan berdaya saing.

Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan Berbasis Nilai Agama

Madrasah, dalam akar katanya darasa yang berarti belajar, telah bertransformasi dari sekadar sekolah agama menjadi lembaga pendidikan umum berciri khas Islam yang modern. Di Kota Banjar, kehadiran Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) memberikan warna unik pada sistem pendidikan lokal.

Salah satu keunggulan utama madrasah adalah penanaman nilai-nilai keislaman secara terstruktur dan berkelanjutan. Kurikulum madrasah dirancang untuk menyeimbangkan penguasaan ilmu pengetahuan umum dengan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam. Mata pelajaran seperti Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik.

Di Kota Banjar, madrasah berperan aktif dalam membangun masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah. Dengan demikian, lulusan madrasah diharapkan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.

Kontribusi Madrasah dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda

Peran pertama dan utama madrasah adalah sebagai penyemai nilai-nilai Akhlakul Karimah. Di tengah gempuran arus globalisasi dan digitalisasi yang seringkali mengikis etika tradisional, madrasah di Banjar menjadi benteng pertahanan. Para siswa tidak hanya diajarkan untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga dibimbing untuk memiliki integritas moral (kesalihan individual) dan kepekaan sosial (kesalihan sosial).

Kemajuan sebuah kota sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Madrasah memiliki peran sentral dalam membentuk karakter generasi muda Kota Banjar agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia. Melalui pembiasaan ibadah seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan kegiatan keagamaan lainnya, madrasah menanamkan nilai religius sejak dini.

Selain itu, madrasah juga membina sikap toleransi, moderasi beragama, dan cinta tanah air. Hal ini sangat relevan dalam konteks kehidupan masyarakat Kota Banjar yang majemuk. Peserta didik madrasah diajarkan untuk menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Dengan karakter seperti ini, generasi muda madrasah menjadi agen perubahan dalam menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis.

Integrasi Imtaq dan Iptek: Menjawab Tantangan Zaman

Salah satu kesalahpahaman umum adalah menganggap madrasah hanya fokus pada urusan ukhrawi atau akhirat semata. Kenyataannya, madrasah di Kota Banjar telah melakukan lompatan besar dalam mengintegrasikan Iman dan Taqwa (Imtaq) dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).

Banyak madrasah di Banjar kini memiliki laboratorium komputer yang canggih, program robotik, hingga kurikulum kewirausahaan. Hal ini sangat krusial bagi kemajuan Kota Banjar. Mengapa? Karena kota yang maju tidak hanya butuh ahli teknologi, tetapi ahli teknologi yang memiliki rasa takut kepada Tuhan sehingga tidak menyalahgunakan ilmunya. Madrasah mencetak kader-kader yang mampu mengoperasikan perangkat modern dengan tetap memegang teguh prinsip syariah.

Madrasah sebagai Simpul Harmoni Sosial dan Penggerak Ekonomi Umat

Kota Banjar dikenal dengan masyarakatnya yang guyub dan rukun. Madrasah berkontribusi besar dalam menjaga harmoni ini melalui pengajaran Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam). Kurikulum madrasah di Banjar menekankan pada konsep moderasi beragama atau Wasathiyah.

Para santri dan siswa diajarkan untuk menghargai perbedaan, menjunjung tinggi toleransi, dan menjauhi paham radikalisme. Dalam konteks kemajuan kota, stabilitas sosial adalah prasyarat mutlak. Tanpa kedamaian yang diajarkan di bangku-bangku madrasah, pembangunan fisik di Kota Banjar tidak akan memiliki fondasi yang kokoh. Madrasah menciptakan warga kota yang tidak hanya taat beribadah, tetapi juga taat hukum dan menghormati sesama manusia.

Peran madrasah tidak berhenti di dalam ruang kelas. Di Banjar, banyak madrasah yang berafiliasi dengan Pondok Pesantren, menciptakan ekosistem ekonomi mikro. Kantin madrasah, koperasi siswa, hingga unit produksi yang dikelola madrasah (seperti percetakan atau pertanian hidroponik) menjadi penggerak ekonomi lokal.

Selain itu, lulusan madrasah yang memiliki bekal kemandirian seringkali menjadi wirausahawan muda di Banjar. Mereka membawa etika bisnis Islam—jujur, amanah, dan tidak spekulatif—ke pasar-pasar di Banjar. Ini adalah kontribusi nyata bagi visi Kota Banjar yang tidak hanya agamis secara ritual, tetapi juga sejahtera secara material.

Memberdayakan Masyarakat Menyiapkan Pemimpin Masa Depan

Peran madrasah tidak terbatas pada lingkungan sekolah saja, tetapi juga meluas ke tengah masyarakat. Banyak madrasah di Kota Banjar yang aktif menyelenggarakan kegiatan sosial dan keagamaan seperti pengajian, bakti sosial, peringatan hari besar Islam, dan kegiatan pemberdayaan umat. Kegiatan-kegiatan ini memperkuat hubungan antara madrasah dan masyarakat serta meningkatkan kesadaran keagamaan warga.

Madrasah juga menjadi pusat dakwah dan pembinaan umat. Guru dan tenaga pendidik madrasah sering kali berperan sebagai tokoh agama yang membimbing masyarakat dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar dan moderat. Dengan demikian, madrasah berkontribusi langsung dalam membangun kehidupan masyarakat Kota Banjar yang agamis dan berakhlak.

Kota Banjar membutuhkan regenerasi kepemimpinan yang bersih dan berkomitmen. Madrasah adalah kawah candradimuka bagi pemimpin masa depan tersebut. Melalui organisasi siswa seperti OSIS (di madrasah disebut OSIM) dan Pramuka, siswa dilatih kepemimpinan, retorika, dan manajemen konflik.

Bedanya, calon pemimpin dari madrasah memiliki keunggulan dalam aspek kepemimpinan spiritual. Mereka memahami bahwa jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dengan mencetak ribuan lulusan setiap tahunnya, madrasah memastikan bahwa stok sumber daya manusia (SDM) berkualitas untuk mengisi pos-pos pemerintahan dan swasta di Kota Banjar tidak akan pernah habis.

Peran Madrasah: Mendukung Pembangunan Menjawab Tantangan

Pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia. Madrasah berperan penting dalam mendukung pembangunan Kota Banjar melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat. Lulusan madrasah diharapkan mampu menjadi tenaga kerja yang kompeten, jujur, dan bertanggung jawab.

Selain itu, madrasah juga berkontribusi dalam mencetak calon pemimpin masa depan yang memiliki integritas dan visi keagamaan. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama, lulusan madrasah dapat berperan aktif dalam berbagai bidang pembangunan, baik di sektor pemerintahan, pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Hal ini sejalan dengan visi Kota Banjar sebagai kota yang maju dan religius.

Di era globalisasi dan digitalisasi, madrasah dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persaingan global. Namun, tantangan ini juga menjadi peluang bagi madrasah untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan. Banyak madrasah di Kota Banjar yang mulai memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran dan pengelolaan pendidikan.

Penguatan literasi digital, penguasaan bahasa asing, dan pengembangan keterampilan abad ke-21 menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing lulusan madrasah. Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman, madrasah mampu mencetak generasi yang religius, cerdas, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Inilah kontribusi nyata madrasah dalam memajukan Kota Banjar di era modern.

Sinergi Madrasah sebagai Pilar Kota Banjar yang Agamis

Keberhasilan madrasah dalam memajukan Kota Banjar yang agamis tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Sinergi antara madrasah, pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan madrasah. Dukungan dalam bentuk kebijakan, sarana prasarana, dan pembinaan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam pengembangan madrasah.

Pemerintah Kota Banjar bersama Kementerian Agama dapat mendorong program-program penguatan madrasah sebagai pusat pendidikan dan pembinaan karakter. Sementara itu, masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam mendukung kegiatan madrasah dan menjadikan madrasah sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.

Secara keseluruhan, madrasah memiliki peran yang sangat strategis dalam memajukan Kota Banjar yang agamis. Melalui pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, pembentukan karakter generasi muda, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan terhadap pembangunan daerah, madrasah menjadi pilar utama dalam mewujudkan masyarakat yang religius, berakhlak, dan berdaya saing.

Ke depan, peran madrasah diharapkan semakin diperkuat dan dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Dengan madrasah yang berkualitas dan berdaya saing, Kota Banjar akan semakin kokoh sebagai kota yang tidak hanya maju secara fisik dan ekonomi, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral.***

PERAN MADRASAH MEMAJUKAN KOTA BANJAR YANG AGAMIS Read More »

GERAKAN INSAN KOPERASI WUJUDKAN BANJAR MASAGI

Penulis: Asep Suharto
(Ketua DEKOPINDA Kota Banjar)

Asep Suharto lahir di  Banten, 9 Oktober 1979. Tahun 1998 lulus dari SMKN 1 Banjar, melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi Universitas Galuh Ciamis lulus tahun 2003. Kemudian melanjutkan Program Universitas Terbuka Pendidikan Ekonomi lulus tahun 2008. Gelar Pasca Sarjana diraihnya dari Universitas Galuh Ciamis Prodi Manajemen Pendidikan pada tahun 2018. Menjadi Staf Pengajar di SMK Negeri I Banjar sampai dengan tahun 2016 dan saat ini menjadi Kepala SMKS Muhammadiyah Banjar, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Kota Banjar, Ketua FKKSMKS Kota Banjar, Pengurus PMI Kota Banjar, dan Ketua Dekopinda Kota Banjar Periode 2025-2030.


Sebagai insan gerakan koperasi, kita tentu sama-sama merasakan bahwa lima tahun mendatang merupakan tahun-tahun yang penuh tantangan bagi gerakan koperasi Indonesia agar semakin mampu menempatkan diri sebagai kumpulan orang-orang yang melakukan pergerakan di bidang sosial-ekonomi serta melakukan usaha bersama berazaskan kekeluargaan untuk menjadi salah satu pelaku ekonomi nasional yang mampu menunjukkan bahwa dirinya setara dan sederajat dengan para pelaku ekonomi lainnya yang berada di lingkungan perusahaan milik negara maupun pelaku ekonomi swasta yang merupakan perwujudan usaha dari para pemilik modal dan atau teknologi dalam bentuk badan usaha, baik yang dikelola secara pribadi maupun secara kelompok/persekutuan/kongsi. Ketiga kelompok pelaku ekonomi tersebut lebih kita kenal dengan sebutan KOPERASI, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).

Sesuai dengan Undang-Undang Perkoperasian dalam UU No. 25 Tahun 1992 Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.

Undang-Undang Koperasi No.25 Tahun 1992 Pasal 4  juga menegaskan tentang peran dan fungsi Koperasi adalah : membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial.

DEKOPINDA, Rumah Besar Gerakan Koperasi

DEKOPINDA adalah satu-satunya wadah Gerakan Koperasi yang memiliki tugas pokok, fungsi, dan peran menjunjung tinggi nilai dan prinsip-prinsip koperasi dengan memperjuangkan kepentingan serta menyalurkan aspirasi koperasi melalui supervisi dan advokasi dalam penerapan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi, meningkatkan kesadaran berkoperasi di kalangan masyarakat, serta menyelenggarakan sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat, di tingkat Kabupaten/Kota.

Sebagai organisasi tunggal yang mewadahi Gerakan Koperasi di Kota Banjar, dalam melaksanakan program dan kegiatannya, Dekopinda Kota Banjar mengacu kepada AD / ART Dekopin dan dituntut peka terhadap aspirasi yang berkembang, yang disampaikan anggota, juga diselaraskan dengan kebijakan serta program dan kebijakan pemerintah. Di samping itu, sebagai pengemban amanat Gerakan Koperasi, DEKOPINDA Kota Banjar juga dituntut untuk terus-menerus mengembangkan tugas dan peran koperasi dalam penguatan perekonomian daerah. Hal ini dimaksudkan agar koperasi mampu mengaktualisasi jati dirinya serta benar-benar dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam mewujudkan masyarakat Kota Banjar yang maju, mandiri, serta adil dan makmur, sebagaimana diamanatkan Pancasila dan UUD 1945.

Dekopinda Kota Banjar menyadari sepenuhnya bahwa dalam upaya melaksanakan tugas dan perannya, dihadapkan kepada berbagai permasalahan dan tantangan yang semakin rumit dan kompleks, sebagai akibat dari pesatnya perkembangan dan tuntutan zaman, termasuk pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi teknologi dan komunikasi. Kondisi tersebut hanya akan bisa diatasi oleh Gerakan Koperasi, jika koperasi, baik sebagai sebuah gerakan maupun sebagai badan usaha, mampu menyelaraskan diri dengan keadaan tersebut, baik dari sisi manajemen, termasuk sumber daya manusia, maupun dari sisi usaha yang dikelolanya, juga mampu memanfaatkan teknologi informasi, baik untuk pengelolaan kelembagaannya, maupun untuk pengelolaan usahanya.

Gerakan Koperasi Kota Banjar dalam wadah organisasi DEKOPINDA Kota Banjar, akan terus berusaha berkontribusi positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dengan bahu membahu bersama lembaga-lembaga koperasi di Kota Banjar sehingga menjadi kuat, efisien, efektif, dan tetap produktif, dengan bercirikan jati diri koperasi serta berjuang atas dasar prinsip-prinsip koperasi.

Ragam Pesoalan Antar Bidang

Dewan Koperasi Indonesia yang sejak lahirnya memposisikan diri sebagai wadah pemersatu insan gerakan koperasi dan pemerjuang cita-cita koperasi Indonesia, melalui fungsinya sebagai Advokator aspirasi dan kepentingan gerakan koperasi, Edukator untuk memberdayakan dan mendidik sumber daya insan koperasi, serta Fasilitator untuk mempersatukan gerak usaha koperasi dalam kurun waktu lima tahun, harus hadir untuk memecahkan berbagai masalah aktual dan isu-isu strategis yang dihadapi gerakan koperasi Indonesia, antara lain:

Bidang Kualitas Sumber Daya Insan Koperasi

  • Masih adanya anggota dan pengurus/pengawas yang belum memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai serta prinsip-prinsip koperasi dalam perilaku berkoperasi yang berdasarkan kepada jati diri koperasi;
  • Masih adanya anggota dan pengurus/pengawas yang belum menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dijadikan sarana dan prasarana dalam pengelolaan organisasi maupun usaha koperasi;
  • Masih adanya anggota dan pengurus/pengawas yang belum menguasai manajemen pengelolaan organisasi dan usaha koperasi seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, maupun dalam rangka menyikapi perkembangan situasi dan kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya, dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bidang Pengelolaan Organisasi

  • Masih adanya koperasi yang lemah dalam penguasaan ilmu dan penerapan manajemen pengelolaan organisasi koperasi, seperti manajemen penyusunan rencana kerja dan anggaran, penyusunan kerangka bisnis, penyusunan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas yang akuntabel, serta berbagai aspek pengelolaan organisasi koperasi lainnya
  • Masih adanya regulasi/ketentuan perundang-undangan yang belum kondusif untuk mendukung pengembangan organisasi dan usaha koperasi sebagai wadah usaha bersama yang berasaskan kekeluargaan (seperti regulasi di bidang perpajakan, di bidang perijinan, dan lainnya)
  • Masih adanya aspirasi maupun cita-cita gerakan koperasi yang belum sepenuhnya dapat diwujudkan, seperti penyelesaian Rancangan Undang-Undang Perkoperasian serta menyusun Undang-Undang perekonomian nasional yang menempatkan BUMN, BUMS dan Koperasi dalam kedudukan yang setara.

Di Bidang Pengelolaan Manajemen Usaha dan Akses Permodalan

  • Masih adanya koperasi yang lemah di bidang permodalan dan lemah dalam rangka akses pembiayaan baik yang bersumber dari peran serta anggota maupun dari luar anggota
  • Masih adanya koperasi yang masih lemah dalam rangka akses informasi usaha dan pasar
  • Masih adanya koperasi yang lemah dalam penguasaan ilmu maupun penerapan praktek manajemen pengelolaan usaha (baik pengelolaan sektor SDM, organisasi, keuangan, dan berbagai aspek usaha lainnya).

Fungsi Utama DEKOPINDA

Berangkat dari latar belakang sebagaimana dipaparkan di atas, dalam rangka melaksanakan fungsi Dewan Koperasi Indonesia Daerah Kota Banjar sebagai advokator, edukator, fasilitator gerakan koperasi di Kota Banjar, maka pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut dijabarkan dalam langkah-langkah operasional sebagai arahan program umum, yang disusun sebagai berikut:

Funsi Advokator

Sebagai wadah untuk membela dan memperjuangkan kepentingan gerakan koperasi di Kota Banjar, program kegiatan di bidang advokator meliputi;

  • Penyampaian aspirasi gerakan koperasi kepada pemerintah dan lembaga berkompeten untuk melahirkan kebijakan dan regulasi yang berpihak kepada perkembangan dan pemberdayaan gerakan koperasi;
  • Memperjuangkan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang tidak atau kurang tidak berpihak kepada gerakan koperasi menjadi perundangan yang dapat menciptakan situasi kondusif bagi perkembangan atau pemberdayaan koperasi;
  • Membela dan membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi gerakan koperasi.

Fungsi Edukator

Sebagai wadah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perkoperasian di Kota Banjar, program kegiatan di bidang edukator meliputi;

  • Program kemitraan dengan pemerintah dan lembaga pendidikan yang berkompeten untuk mendukung terselenggaranya pendidikan dan promosi perkoperasian
  • Program penyusunan pedoman atau materi pendidikan perkoperasian bagi kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk anggota maupun pengurus/ pengawas koperasi
  • Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan perkoperasian bagi anggota maupun pengurus/pengawas koperasi

Fungsi Fasilitator

Sebagai wadah bagi pengembangan dan pemberdayaan gerakan koperasi di Kota Banjar, program kegiatan di bidang fasilitator meliputi:

  • Program koordinasi dan kerja sama dengan pemerintah dan lembaga berkompeten agar tersedia fasilitas pembiayaan, permodalan, pemasaran bagi pemberdayaan usaha koperasi;
  • Program kerja sama baik di bidang manajemen, permodalan maupun pemasaran antar gerakan koperasi untuk menciptakan pengembangan pasar dan usaha koperasi;
  • Program kerja sama usaha dan pasar antara koperasi dengan sesama pelaku ekonomi di luar koperasi.

Pelaksanaan Kegiatan Insan Koperasi

Salah satu wujud kegiatan Insan Gerakan koperasi adalah setiap tahunnya mampu melaksanakan kegiatan yang dinamakan Rapat Anggota Tahunan ( RAT ). Kegiatan ini mutlak harus dilaksanakan karena sesuai dengan amanah UU No. 25 Tahun 1992 adalah rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi.

Koperasi melaksanakan prinsip koperasi sebagai berikut : 1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka, 2) Pengelolaan dilakukan secara demokratis, 3) Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing angggota.

Selanjutnya dalam  Pasal 30 ayat 1 Tugas pengurus koperasi : 1) Mengelola koperasi dan usahanya, 2) Mengajukan rancangan rencana kerja serta rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi, 3) Menyelenggarakan RAT dan 4) Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan.

Dengan demikian koperasi yang berkualitas adalah koperasi yg terwujud dan memiliki indikator baik sebagai berikut:

  • Sumber Daya Manusia (SDM) baik anggota maupun pengurus yang aktif dan optimal hadirkan semangat membangun kebersamaan dan semangat kekeluargaan dan semangat meningkatkan kesejahteraan bersama.
  • Keuangan Koperasi. Indikatornya: Liquiditas (kemampuan membayar utang jangka pendek) – Solvabilitas (aktivitas usaha dibiayai dari modal pinjaman/ kemampuan membayar utang jangka panjang) – Rentabilitas (kemampuan untuk menghasilkan keuntungan dari kegiatan operasional.

Adapun dari sisi jenisnya, jenis usaha koperasi dapat dibedakan dalam beberapa kategori jenis berdasarkan usahanya meliputi:

  1. Koperasi Konsumen (menyediakan barang harian).
  2. Koperasi Produsen (Mengelola bahan mentah/produksi).
  3. Koperasi Jasa (Menyediakan layanan jasa umum, asuransi, kesehatan atau jasa profesional).
  4. Koperasi Simpan Pinjam (KSP), mengelola simpanan dan memberikan pinjamankepada anggota.
  5. Koperasi Serba Usaha (KSU), Unit usaha penggabungan Waserda dan Layanan Simpanan.

Pengelolaaan koperasi  seiring dengan berkembangnya tekhnologi dan modernisasi, maka seyogyanya pengelolaan koperasi sudah berbasis perangkat tekhnologi (digitalisasi koperasi).

Struktur Keanggotaan DEKOPINDA

Secara keorganisasian, DEKOPINDA memiliki struktur mulai dari tingkat pusat, yaitu Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN). Kemudian di tingkat provinsi Dewan Koperasi Wilayah (DEKOPINWIL) sera di tingkat Kabupaten/Kota yaitu Dewan Koperasi Daerah (DEKOPINDA).

Untuk di Kota Banjar, keanggotaan DEKOPINDA meliputi koperasi primer maupun koperasi sekunder yang ada di seluruh wilayah Kota Banjar yang telah melaksanakan kewajiban organisasi sebagai berikut:

  • Telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) rutin dan melaporkan kegiatan RAT-nya kepada DEKOPINDA.
  • Memenuhi kewajiban organisasi berupa Iuran Keanggotaan.

Dari jumlah koperasi di kota Banjar saat ini tahun (2026 ) baru 31 Koperasi di Kota Banjar yang mampu dan berhasil melaksanakan kewajiban organisasi dari sekitar 95 Koperasi yang tercatat di DEKOPINDA Kota Banjar. Berikut data koperasi yang saat ini tercatat sebagai Anggota DEKOPINDA Kota Banjar.

DATA ANGGOTA DEKOPINDA KOTA BANJAR

PER 31 DESEMBER 2024

NO NAMA KOPERASI ANGGOTA JUMLAH SHU
L P JUMLAH
1 Koperasi KGB 201 485 686 50.000.000,00
2 Koperasi KGBT 127 243 370 112.230.372,00
3 Koperasi KOSWARKIT 232 194 426 33.765.839,00
4 KSUS Al Kautsar 44 48 92 1.150.000,00
5 KOPPAS WARGA USAHA 893 1.123 2.016 213.734.567,00
6 KOPPAS Langkaplancar 80 70 150 10.278.400,00
7 KPRI WS SMAN 1 75 53 128 29.392.950,00
8 KOPPAM Tirta Anom 74 23 97 60.593.777,00
9 KPRI CITRA SMPN 5 35 26 61 15.758.000,00
10 KPRI SMEAN/SMKN 1 69 53 122 34.925.866,00
11 KPRI HASANAH SMAN 3 48 37 85 65.707.086,00
12 RAT Koptan Margaluyu 38 32 70 3.975.000,00
13 RAT KUD Berkah 335 116 451 753.606,00
14 KSPPS Al Uswah Indonesia 34.801 237.922.303,00
15 KPRI IKMAL Kemenag 121 102 223 30.000.000,00
16 KPRI Banjar Patroman 480 409 889 667.397.474,00
17 KPRI HUSADA MANDIRI 101 237 338 242.937.307,00
18 KPRI PIB Dinas KUKMP 151 99 250 114.311.811,00
19 KPRI Bhakti Husada RSUD 145 110 255 124.602.587,00
20 Koperasi PEKKA 49 49 490.000,00
21 Koperasi PURWAJAYA MS 166 178 344 4.074.997,00
22 KSU TUNAS KARYA 49 26 75 10.735.700,00
23 Koperasi PRIMKOPPOL Polres 419 22 441 199.554.329,00
24 Koperasi PRIMKOPTAMA 90 122 212 0,00
25 Koperasi KP LAPAS PB 32 42 74 405.489.109,00
26 Koperasi JEMBAR KKMI 41 110 151 8.000.000,00
27 Koperasi MOTEKAR 203 312 515 12.587.770,00
28 Koperasi Rikrik Gemi 12 28 40 3.603.900,00
29 Koperasi ARMEY JM
30 Koperasi MITRA IDAMAN 143 200 343 63.000.000,00
31 Koperasi Sekunder KOBAMA 5 2.000.000,00
JUMLAH     43.579

Sumber: DEKOPINDA Kota Banjar

 Harapan dan Inovasi

Melalui Gerakan Insan Koperasi, Dekopinda tidak hanya berfungsi sebagai wadah organisasi, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan yang mampu meningkatkan kapasitas koperasi, memperkuat solidaritas antar anggota, dan menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan anggota serta wujudkan Banjar Masagi. Meminimalisir potensi masyarakat yang terjebak dalam pinjaman yang cepat dan mudah (Pinjol, Bank Emok dan sebagainya) yang sangat meresahkan. Dengan peran aktif DEKOPINDA Gerakan Insan Koperasi diharapkan mampu menghadirkan koperasi yang sehat, anggota yang sejahtera.

Inovasi DEKOPINDA ke depan akan diarahkan pada penguatan layanan kelembagaan, digitalisasi data koperasi, peningkatan kapasitas SDM, serta kolaborasi strategis menjadi mitra pemerintah dalam mendorong Banjar MASAGI sekaligus mewujudkan harapan anggota koperasi yang lebih sejahtera.***

GERAKAN INSAN KOPERASI WUJUDKAN BANJAR MASAGI Read More »

PARADOKS KOTA BANJAR: Menghidupkan Ekonomi Malam, Membedah Tembok Birokrasi, dan Menjawab Krisis Pengangguran di Tepian Citanduy

Penulis: Rahila Sayidah Afifah Khansa

Mahasiswa IMA Kota Banjar

Kami adalah mahasiswa sekaligus aktivis pembela rakyat yang sering kali ditindas. Suara rakyat memang jarang terdengar, maka dari itu saya ingin merangkul dan menyampaikan aspirasi mereka melalui tulisan ini.

Memang pada dasarnya kota menjadi pusat dari segala hal, mulai dari kesehatan, ekonomi dan transportasi. Itu adalah fakta yang tidak terbantahkan. Namun, kota ini juga terjebak dalam ‘Aktivitas Ekonomi Malam yang Belum Optimal.’ Namun dampaknya adalah minimnya wadah aktualisasi bagi ekonomi kreatif.

Padahal, berdasarkan studi terbaru, persentase penduduk usia muda (Gen Z dan Milenial) yang memiliki tipe kronotipe malam (Night Owl atau Evening Type) sangat tinggi, dengan estimasi sekitar 50% dari dewasa muda mengidentifikasi diri mereka sebagai night owl. Riset yang menunjukkan bahwa pada siang hari fungsi kognitif cenderung analitis (menyaring ide yang dianggap aneh). Sebaliknya, pada malam hari adalah “Fase Puncak Kreativitas di Luar Jam Kerja Formal.” Hasilnya, ide-ide yang tidak biasa dan kreatif bisa lolos begitu saja tanpa dihakimi oleh logika kita sendiri, walaupun kota ini tidak benar benar mati secara fisik namun tetap terasa secara ekonomi dan kreativitas.

Pemerintah kota dan swasta perlu mengubah fungsi gedung yang “mati” di malam hari menjadi wadah aktualisasi tidak perlu membangun gedung yang baru. Perpustakaan & Galeri Komunal 24/7. Creative Night Markets, bukan sekadar pasar malam makanan, tapi pasar ide tempat di mana para anak muda bertransaksi secara langsung, juga menempatkan beberapa petugas keamanan dibeberapa titik.

Kota ini juga terkenal dengan sebutan kota wisata namun kenyataannya justru berbanding dengan faktanya. Maka dari itu, kita seharusnya belajar dari Banjarmasin, yang berhasil membuat sungai itu menjadi ikon kota dan perlu adanya optimalisasi skala prioritas anggaran agar wisata di kota ini bisa maksimal. Sebab, di kota ini memiliki potensi wisata yang beragam untuk menjadi sebuah wisata, namun masih kurang visi keberlanjutan (sustainability).

Pertanyanya apakah sebuah wisata itu akan berjalan dengan baik, berjalan sesuai SOP yang ada, atau justru malah terbengkalai karena manajemen buruk? Padahal, implikasi positifnya sangat besar bagi daerah ekonomi. Kebanyakan tempat wisata hanya mengejar angka jumlah pengunjungnya (kuantitas) resikonya jika manajemen buruk, tempat wisata akan overcrowded, sampah menumpuk dan infrastruktur cepat rusak. Manajemen yang baik seharusnya menggunaakan data untuk mengambil keputusan. Tanpa data, anggaran hanya akan habis untuk promosi yang salah sasaran. Solusinya adalah perlu adanya sistem manajemen pengunjung, misalnya resevasi digital atau pembatasan kuata agar pengalaman wisata tetap terjaga dan lingkungan tidak rusak. Hentikan promosi buta. Gunakan anggaran untuk membangun sistem data sederhana yang mampu memandu kebijakan.

Selain itu, kota ini juga belum mempunyai branding spesifik seperti kota- kota lainnya. Hal inilah yang membuat rendahnya daya tarik bagi investor luar untuk datang secara khusus di daerah ini. Padahal, setiap kota memerlukan identitas kuat guna menarik wisatawan juga investasi. Masuknya investor tentu akan membawa dampak domino, seperti meningkatkan pendapatan asli daerah, pemberdayaan UMKM, pembangunan infrastruktur masif dan hingga pembukaan lapangan kerja. Jika sebuah kota sudah memiliki branding yang hebat di sosial media namun tetap akan runtuh jika investor masih menemukan tembok biroktasi yang terbelit dan tidak transparan. Audit potensi unik, kita harus berani memilih satu fokus, jika kita kuat di dalam bidang UMKM maka jadilah ‘Pusat Kreativitas Lokal yang Handal’. Jika kita kuat dalam posisi geografis, jadilah ‘Hub Logistik Nasional’. Memiliki fokus adalah kunci utama.

Selain masalah citra kota, persoalan sampah selalu menjadi permasalahan di setiap daerah terutama di perkotaan dan itu juga menjadi tantangan besar bagi Kota Banjar. Apa lagi untuk kota yang dibelah oleh sungai Citanduy, pengelolaan sampah yang buruk beresiko tinggi dan berpotensi banjir saat musim hujan bisa terjadi. Jika hal itu tidak ditangani, maka tidak hanya mengancam warga tetapi juga akan merusak estetika kota.

Sungai yang seharusnya menjadi daya tarik utama, menguatkan infrastruktur di awal pertahanan sungai, pemasangan Trash Racks atau Trash Booms, penyediaan tempat sampah tematik Menempatkan tempat sampah yang menarik secara visual di sepanjang bantaran sungai untuk mendorong masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Satgas Penjaga Sungai yang ditempatkan di beberapa titik adalah salah satu upaya dalam menangani permasalahan sampah.

Hal lainnya adalah masalah penganggguran yang kian mengkhawatirkan. Meskipun secara statistik Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Banjar menunjukkan penurunan menjadi 5,26 persen, namun pada kenyataaannya banyak jumlah warga yang menganggur secara real justru meningkat sebanyak 106 orang dibanding tahun lalu.

Kondisi ini semakin ironis bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Data menunjukkan bahwa pengangguran tingkat SMK justru melonjak tajam sebesar 7,67 persen. Saat ini, lulusan SMK mendominasi total pengganguran di Kota Banjar dengan angka mencapai 50,88 persen. Selain itu, ketersediaan lapangan kerja formal pun sedang lesu dengan penurunan, mengapa banyak sekali terjadinya penganguran? Karena banyaknya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan keterampilan menjadikan penganguran kian banyak, juga tidak adanya paket pelatihan kerja yang bersumber dari APBN tahun 2025.

Walikoata Banjar Sudarsono berjanji akan meningkatkan anggaran untuk pelatihan kerja bagi masyarakat melalui program berdaya lokal. Namun, aktivis mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Jawa Barat, mengkritisi jumlah paket pelatihan kerja yang difasilitasi oleh pemerintah justru berkurang drastis di tahun 2026. Ketua PMII Kota Banjar M. Abdul Wahid menyebut, penurunan jumlah paket pelatihan kerja tahun 2026 menjadi 9 paket dari tahun sebelumnya 27 paket merupakan bentuk kemunduran kebijakan yang serius.

Pihaknya mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Karena, berkurangnya paket pelatihan kerja tentunya akan berdampak terhadap kompetensi, daya saing tenaga kerja dan kemandirian. Namun, bukan hanya lulusan SMK saja, lulusan sarjana, korban PHK, ibu rumah tangga yang ingin produktif juga terkena dampaknya. Solusi kebijakan pemerintah Kota Banjar adalah mengalokasikan Dana Desa dan APBN, revitalisasi BLK (Balai Latihan Kerja) berbasis komunitas, pivot ekonomi digital mengingat faktor formal sedang lesu pencari kerja harus didorong ke sektor mandiri, sertifikasi kompetensi tambahan, program “Mom-preneur” & Re-skilling. Pelatihan yang diberikan adalah manajemen keuangan mikro dan pemasaran produk lewat media sosial.

Capaian Kota Banjar bukan sekadar angka statistik di atas kertas laporan pertanggungjawaban formalistik. Ia adalah denyut nadi anak muda yang kreatif di tengah malam, harapan lulusan SMK yang menanti kepastian kerja, dan kesetiaan warga yang tinggal di sepanjang bantaran Citanduy. Mengabaikan potensi ekonomi malam, membiarkan birokrasi berbelit, dan memangkas paket pelatihan kerja di tengah lesunya sektor formal adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan.

Kita tidak butuh sekadar jargon ‘Kota Wisata’ jika sampah masih menghantui sungai dan investor masih menemui jalan buntu. Yang kita butuhkan adalah keberanian politik untuk fokus: fokus pada data, fokus pada pemberdayaan lokal, dan fokus pada transparansi. Perubahan tidak akan datang dari ruang rapat yang tertutup, melainkan dari kebijakan yang inklusif dan mau mendengar suara mereka yang selama ini dianggap sunyi. Banjar harus bangun atau ia akan selamanya menjadi kota transit yang terlupakan oleh sejarahnya sendiri.***

PARADOKS KOTA BANJAR: Menghidupkan Ekonomi Malam, Membedah Tembok Birokrasi, dan Menjawab Krisis Pengangguran di Tepian Citanduy Read More »

Scroll to Top