OPINI

PERAN DAN KIPRAH KAMPUS DALAM MENDORONG KEMAJUAN KOTA BANJAR

Penulis:
Nova Chalimah Girsang, SH, MH

Nova Chalimah Girsang, SH, MH lahir di Kota Yogyakarta 23 November 1979. Saat ini berdomisili di Kota Banjar berprofesi sebagai Dosen sekaligus juga sebagai seorang Advokat. Ibu dua anak ini, lebih dikenal dengan nama Bu Girsang sebagai Dosen di Perguruan Tinggi di Kota Banjar. Bu Girsang ini lebih dulu berprofesi sebagai advokat sejak 2007 dan kemudian pada 2012 masuk dunia pendidikan mengabdi menjadi dosen. Ilmu hukumnya ditransferkan sebagai dosen pada mata kuliah Sistem Hukum Indonesia, mata kuliah Pembentukan Karakter Etika dan Anti Korupsi serta beberapa mata kuliah lainnya. Bu Girsang juga mengabdi di P2TP2A Kota Banjar sebagai Pendamping Hukum sejak 2012 sampai dengan sekarang. Atas pengabdiannya ini pada 2024 mendapat Penghargaan dari Walikota Banjar. Motto hidupnya “Bersyukur dan Bersabar” telah diterapkan dan bertahan dan terus bergerak dalam dunia pendidikan dan hukum. Aktif menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan serta bersuara aktif di media merupakan salah satu transfer of knowledge yang terus dia laksanakan. Hal ini juga yang membuat Bu Girsang mendapat Penghargaan dari Radar TV sebagai Narasumber Kooperatif. Konsistensi menjadi manusia yang bermanfaat itu menjadi bekal utamanya dalam mengarungi kehidupan.


Manusia akan selalu mengalami permasalahan-permasalahan kehidupan, silih berganti. Kehidupan modern menuntut ekspektasi terlalu tinggi, sehingga manghadapkan manusia dalam dinamisasi problematika kehidupan. Maka diperlukan iman dan skill ilmu untuk menghadapi permasalahan duniawi tersebut. Dalam memperoleh skill maka ilmu mempunyai peran untuk menyelesaikan permasalahan. Ilmu dapat diperoleh secara formal ataupun non formal. Pendidikan secara formal ditempuh berjenjang secara sistematis, hal tersebut supaya tidak menghasilkan sesuatu yang prematur. Diantara jenjang formal adalah menempuh Pendidikan di Perguruan Tinggi.

Peran

Peran Perguruan Tinggi sebagai pusat akademik yaitu berperan untuk meningkatkan kualitas SDM, juga sebagai motorik agen perubahan serta pengembangan karakter yaitu melalui semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga dapat melahirkan lulusan yang kompeten dan berintegritas yang siap menghadapi tantangan global di masa depan. Sehingga Kampus merupakan tempat menimba ilmu mentransformasi pemikiran, perilaku, pemahaman menjadi lebih luas.

Melalui Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu, pertama melalui Pendidikan dan Pengajaran: dengan mentransfer ilmu pengetahuan dan membentuk karakter mahasiswa. Yang kedua adalah Penelitian dan Pengembangan: menghasilkan karya ilmiah, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Yang ketiga adalah Pengabdian kepada Masyarakat: mengabdi dengan menerapkan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah di masyarakat.

Kiprah

Kewajiban Tri Darma Perguruan Tinggi tersebut, dalam Pendidikan, yaitu dengan menghadirkan dosen dosen yang kompeten dibidangnya dengan bukti dosen-dosen yang telah bersertifikasi. Dosen sebagai Transfer of Knowledge dan juga membentuk karakter mahasiswa sehingga dapat capable dan survive dalam tantangan global. Pendidikan dilakukan dengan metode pembelajaran blended learning, dengan mekanisme Project Based Learning dan Case By Methode. Dosen harus bisa beradaptasi dengan perubahan dinamika perilaku mahasiswa. Pendekatan yang friendly mendudukkan mahasiswa untuk ruang sharing dan diskusi.

Di Bidang Penelitian, dalam penelitiannya, kiprah dosen-dosen dalam bidang hal research sehingga telah melahirkan banyak penelitian, yaitu Penelitian Pajak, Penelitian Retribusi, Naskah Akademik PUG, Analisis Kependudukan Toko Modern, Analisis Potensi Daerah dan penelitian-penelitian lainnya. Hal tersebut merupakan kiprah nyata dalam mewujudkan menghasilkan karya ilmiah yang berguna bagi Kota Banjar.

Kiprah dalam Pengabdian kepada Masyarakat, yaitu ikut kontribusi nyata dalam program P2WKSS. Wujud pengabdian juga dilakukan dalam kegiatan KKN yang dilaksanakan di Kota Banjar, merupakan kiprah nyata pengabdian mahasiswa untuk peduli dan merojong kemajuan Kota Banjar.

Tantangan

Tantangan yang dihadapi adalah, rendahnya minat anak-anak dalam melanjutkan Pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Rendahnya minat dikarenakan mereka dihadapkan dengan biaya dan waktu tempuh yang lama. Sehingga lebih memilih untuk bekerja, membuka usaha atau menikah. Untuk meningkatkan minat berkuliah memerlukan support semua pihak, baik Pemerintah Daerah, dunia usaha, maupun pihak keluarga. Beasiswa Pendidikan merupakan peluang untuk meningkatkan minat Pendidikan. Namun karena minimnya beasiswa yang tersedia maka diperlukan support Pemerintah Kota Banjar untuk menambah kuota Beasiswa Pendidikan, karena Pendidikan adalah investasi yang terbaik meraih masa depan, kalau tidak sekarang maka kapan lagi.

Tantangan selanjutnya adalah menciptakan lulusan-lulusan yang kompeten, hal tersebut perlu good environment untuk mewujudkannya. Mutu Pendidikan, kesempatan pekerjaan, penguatan resistensi dalam menghadapi masalah, diperlukan untuk lulusan yang capable. Diperlukan spirit semangat dari diri mahasiswa itu sendiri untuk terus maju dan menyelesaikan Pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa diharapkan bermetamorfosis, bentuk keberhasilan menempuh Pendidikan mereka. Menanamkan bahwa Pendidikan adalah penting dan utama perlu dimulai ditahapan keluarga, sehingga anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran pentingnya mencari ilmu.

Bila tetap dibiarkan angka lulusan S1 yang rendah, maka akan berat, karena anak-anak Banjar inilah yang akan menjadi pemimpin Banjar di masa mendatang, jadi memang perlu diperjuangkan bersama-sama untuk tujuan bersama yang mulia.

Harapan

Rendahnya angka lulusan Strata Satu di Kota Banjar harus mendapat perhatian untuk dibenahi.  Karena Kampus sebagai tempat menimba ilmu harus dijaga dan didorong untuk tetap maju. Dengan kampus yang maju maka menjadi efek untuk lebih ikut mendorong kemajuan Kota Banjar.  Menjadi Kampus Unggul berharap dapat menciptakan lulusan excellent yang berdaya guna untuk masa depan Kota Banjar, mari kita mulai bersama, siapapun anda, berperanlah untuk bergerak mendorong Pendidikan untuk mendorong kemajuan Kota Banjar.***

PERAN DAN KIPRAH KAMPUS DALAM MENDORONG KEMAJUAN KOTA BANJAR Read More »

DARI RUANG KELAS KE RUMAH BELAJAR

Penulis: Nurholilah, S.Pd.

Nurholiah merupakan seorang guru di UPTD SDN 1 Sukamukti Kec. Pataruman Kota Banjar. Ia aktif mengabdikan diri di dunia pendidikan formal sekaligus memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat bahwa minat anak terhadap literasi dan kebiasaan belajar anak-anak yang masih memerlukan bimbingan dan peningkatan, Nurholiah mendirikan rumah belajar Ki Hajar dan sekaligus menjadi pengajarnya. Rumah Belajar Ki Hajar merupakan sebuah bimbingan belajar gratis yang juga berfungsi sebagai taman baca anak. Rumah belajar tersebut beralamat di Lingkungan Cipadung RT 10/04, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Melalui kegiatan ini, ia berkomitmen mendedikasikan waktu dan tenaga untuk untuk masyarakat sekitar dalam membantu anak-anak PAUD dan SD agar tumbuh menjadi pembelajar yang aktif, mandiri, dan berkarakter


Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menentukan arah masa depan suatu bangsa. Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat saat ini, peran guru tidak hanya terbatas pada ruang kelas formal, tetapi juga meluas ke kehidupan sosial kemasyarakatan. Guru tidak sekadar berfungsi sebagai pengajar, melainkan juga sebagai pendidik, pembimbing, teladan, serta agen perubahan sosial. Kesadaran inilah yang mendorong penulis, sebagai seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), untuk menuliskan sekaligus merefleksikan sepak terjang pengabdian dalam dunia pendidikan dan masyarakat melalui inisiatif pendirian sebuah rumah belajar bernama Ki Hajar”.

Sebagai seorang guru, penulis memiliki komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Profesi guru bukan hanya pekerjaan, tetapi juga panggilan jiwa yang menuntut dedikasi, kepedulian, dan keikhlasan dalam membimbing generasi penerus bangsa. Selain menjalankan tugas utama sebagai pendidik di sekolah, penulis juga merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan tempat tinggal. Harapan yang tumbuh adalah agar kehadiran penulis dapat dirasakan, tidak hanya oleh murid di sekolah, tetapi juga oleh anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitar.

Namun demikian, niat untuk berkontribusi secara lebih luas di masyarakat bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Sebagai guru PNS, keseharian penulis banyak dihabiskan di tempat kerja dengan tanggung jawab administratif dan pembelajaran yang cukup padat. Waktu dan tenaga sering kali tersita untuk memenuhi kewajiban profesional di sekolah, sehingga ruang untuk melakukan kegiatan sosial pendidikan di luar jam kerja menjadi terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis dalam upaya menyeimbangkan peran sebagai pendidik formal dan sebagai warga masyarakat yang ingin berkontribusi secara langsung.

Tantangan lain yang semakin menguatkan kegelisahan penulis adalah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, khususnya pada anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar. Setiap akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif, pembelajaran, atau interaksi sosial yang bermakna, justru banyak dihabiskan untuk bermain gawai. Anak-anak tampak larut dalam dunia digital tanpa pendampingan yang memadai, sehingga berpotensi menurunkan minat belajar, kemampuan literasi dasar, serta interaksi sosial mereka. Kondisi ini tentu memprihatinkan, mengingat usia dini dan usia sekolah dasar merupakan masa emas perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak.

Di sisi lain, pembelajaran di sekolah juga dirasakan semakin menantang. Waktu belajar yang relatif singkat, tuntutan kurikulum yang padat, serta perbedaan kemampuan murid membuat proses pembelajaran tidak selalu dapat berjalan secara optimal. Tidak semua anak mampu memahami materi pelajaran dengan baik dalam waktu yang terbatas. Akibatnya, masih terdapat anak-anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, berhitung, maupun memahami konsep-konsep dasar pelajaran. Jika kondisi ini tidak segera mendapatkan perhatian dan pendampingan tambahan, dikhawatirkan akan berdampak pada capaian belajar dan kepercayaan diri anak di masa depan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, penulis merasa terpanggil untuk mengambil langkah nyata. Dengan segala keterbatasan waktu dan sumber daya, penulis menginisiasi pendirian sebuah rumah belajar yang diberi nama Rumah Belajar “Ki Hajar”. Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, yang menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, humanis, dan berpihak pada kebutuhan murid. Rumah belajar ini diharapkan menjadi ruang alternatif pembelajaran yang ramah, inklusif, dan bermanfaat bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Rumah Belajar Ki Hajar didirikan sebagai bentuk dedikasi penulis kepada masyarakat, dengan tujuan utama membantu anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung, serta memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran di sekolah. Selain berfungsi sebagai tempat bimbingan belajar gratis, rumah belajar Ki Hajar juga dikembangkan sebagai taman baca anak yang menyediakan berbagai bahan bacaan sesuai usia dan jenjang pendidikan. Kehadiran taman baca ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca, meningkatkan literasi, serta membiasakan anak-anak berinteraksi dengan buku sebagai sumber pengetahuan yang menyenangkan. Rumah belajar ini diselenggarakan secara gratis sebagai wujud kepedulian sosial dan komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu dengan durasi waktu sekitar 90 menit mulai pukul 10.00 sampai pukul 11.30, sehingga tidak mengganggu kewajiban utama penulis sebagai guru di sekolah.

Peserta rumah belajar Ki Hajar terbuka untuk anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar, baik kelas bawah maupun kelas tinggi. Pendekatan pembelajaran yang digunakan bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik murid. Anak-anak PAUD difokuskan pada pengenalan huruf, angka, serta pengembangan motorik dan minat belajar melalui kegiatan yang menyenangkan. Sementara itu, siswa SD kelas bawah diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi dasar, sedangkan siswa SD kelas tinggi dibimbing untuk memahami materi pelajaran sekolah, mengerjakan latihan, serta mengembangkan keterampilan berpikir.

Saat ini, rumah belajar Ki Hajar secara rutin diikuti oleh sekitar 15 orang anak yang berasal dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD kelas bawah, hingga SD kelas tinggi. Jumlah ini mungkin belum besar, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi penulis. Setiap anak yang hadir membawa harapan, potensi, dan cerita masing-masing. Melalui rumah belajar ini, penulis berupaya menciptakan suasana belajar yang nyaman, aman, dan memotivasi, sehingga anak-anak merasa senang untuk belajar dan tidak sekadar menjadikan belajar sebagai kewajiban.

Keberadaan rumah belajar Ki Hajar juga diharapkan dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di akhir pekan, sehingga waktu mereka tidak sepenuhnya dihabiskan untuk bermain gawai. Dengan pendampingan belajar yang tepat, anak-anak diajak untuk memanfaatkan waktu luang secara lebih produktif, membangun kebiasaan belajar, serta meningkatkan kemampuan akademik dan karakter. Selain itu, rumah belajar ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat nilai kebersamaan, disiplin, dan saling menghargai.

Bagi penulis, rumah belajar Ki Hajar bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga sarana pengabdian dan pembelajaran hidup. Melalui kegiatan ini, penulis belajar untuk lebih memahami kondisi masyarakat, kebutuhan anak-anak, serta pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Meski dijalankan dengan sederhana, rumah belajar ini menjadi wujud nyata dari keyakinan bahwa setiap individu dapat berkontribusi bagi pendidikan, sesuai dengan peran dan kemampuannya masing-masing.

Ke depan, penulis berharap rumah belajar Ki Hajar dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Rumah belajar ini berlokasi di wilayah Cipadung, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, dan dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar serta dedikasi penulis dalam momentum peringatan ulang tahun Kota Banjar. Melalui langkah sederhana ini, penulis berupaya berkontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah, khususnya di lingkungan terdekat tempat tinggal. Tidak hanya dari segi jumlah peserta, tetapi juga dari kualitas pembelajaran dan dampak positif yang dihasilkan. Dengan dukungan lingkungan dan niat tulus untuk berbagi, rumah belajar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat dimulai dari langkah kecil, namun konsisten.

Pada akhirnya, tulisan ini merupakan refleksi perjalanan dan dedikasi penulis sebagai seorang guru dan warga masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, keyakinan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama menjadi landasan utama dalam setiap langkah pengabdian. Melalui rumah belajar Ki Hajar, penulis berharap dapat terus menebar manfaat, menyalakan semangat belajar, dan turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari lingkungan terdekat.***

DARI RUANG KELAS KE RUMAH BELAJAR Read More »

KIPRAH JABAR BERGERAK KOTA BANJAR MENDORONG SEMANGAT SOLIDARITAS

Penulis: Hermanto

Jabar Bergerak Kota Banjar merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri pada Februari 2019 dan resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada November 2019 di Gedung Pakuan Bandung.  Dipimpin oleh Ari Faturohman, organisasi ini mengusung semangat Salam KolaborAksi dan Bergerak Bersama dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, keagamaan, budaya, pariwisata, serta kesehatan lingkungan. Dengan enam bidang utama, Jabar Bergerak Kota Banjar berkomitmen menumbuhkan solidaritas, gotong royong, dan kepedulian masyarakat demi terwujudnya Kota Banjar yang lebih berdaya dan berkeadilan.

Pendahuluan

Kota Banjar sebagai wilayah paling timur di Provinsi Jawa Barat memiliki karakter sosial yang kuat, menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kepedulian antar warga.

Di tengah tantangan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan yang terus berkembang, kehadiran gerakan kolaboratif menjadi sangat penting. Salah satu organisasi sosial yang konsisten menghidupkan semangat tersebut adalah Jabar Bergerak Kota Banjar.

Jabar Bergerak Kota Banjar berdiri pada Februari 2019 sebagai bagian dari gerakan besar Jabar Bergerak yang diinisiasi di tingkat Provinsi Jawa Barat. Jabar Bergerak Kota Banjar ini kemudian resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada November 2019 di Gedung Pakuan, Bandung. Hal ini menandai pengakuan dan legitimasi peran Jabar Bergerak sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat.

Mengusung semangat “Salam KolaborAksi” dan “Bergerak Bersama”, Jabar Bergerak Kota Banjar terus berkomitmen menjadi motor penggerak solidaritas sosial dengan prinsip kerja nyata, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Semangat KolaborAksi sebagai Fondasi Gerakan

Motto KolaborAksi bukan sekedar slogan, melainkan roh pergerakan Jabar Bergerak Kota Banjar. Kolaborasi dipadukan dengan aksi nyata menjadi kekuatan utama dalam setiap kegiatan.

Gerakan ini menyatukan berbagai elemen mulai dari pemuda, komunitas, tokoh masyarakat, relawan, hingga pemerintah daerah untuk bergerak bersama menjawab persoalan sosial di Kota Banjar.

Prinsip “Bergerak Bersama” menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Setiap program Jabar Bergerak Kota Banjar selalu mengedepankan partisipasi aktif masyarakat, sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan dan dimiliki bersama.

Frasa penyemangat “Terus Bergerak Sampai Jantung Berhenti Berdetak” menjadi pengingat bahwa pengabdian sosial adalah perjalanan panjang yang menuntut konsistensi, keikhlasan, dan ketulusan tanpa henti.

Kepemimpinan yang Menggerakkan

Di bawah kepemimpinan Ari Faturohman, Jabar Bergerak Kota Banjar berkembang menjadi organisasi yang solid, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kepemimpinan yang inklusif dan komunikatif mampu merangkul berbagai kalangan untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

Ari Faturohman menanamkan nilai bahwa relawan bukan sekedar pelaksana kegiatan, melainkan agen perubahan sosial. Melalui pendekatan humanis dan visioner, ia mendorong setiap bidang untuk terus berinovasi, membuka ruang kolaborasi, serta berorientasi pada dampak nyata dan berkelanjutan. Kepemimpinan ini menciptakan iklim organisasi yang sehat, partisipatif, dan penuh semangat pengabdian.

Enam Bidang sebagai Pilar Gerakan

Untuk menjalankan visi besarnya, Jabar Bergerak Kota Banjar memiliki enam bidang utama yang saling melengkapi:

  1. Bidang Sosial

Bidang Sosial menjadi garda terdepan dalam kegiatan kemanusiaan, mulai dari bantuan bencana alam, santunan masyarakat kurang mampu, pembagian sembako, bedah rumah, hingga pendampingan sosial. Kehadiran bidang ini memperkuat rasa empati dan solidaritas antarwarga, terutama bagi kelompok rentan.

  1. Bidang Agama

Bidang Agama berperan memperkuat nilai spiritual dan toleransi melalui kegiatan keagamaan, santunan anak yatim, safari Ramadhan, dukungan kegiatan lintas komunitas keagamaan, serta pembinaan akhlak sosial. Nilai religius dijadikan fondasi moral dalam setiap gerakan kemanusiaan.

  1. Bidang Hubungan Masyarakat (Humas)

Bidang Humas menjadi jembatan komunikasi antara organisasi dan publik. Melalui publikasi, dokumentasi, dan strategi komunikasi yang baik, bidang ini memastikan setiap kegiatan Jabar Bergerak Kota Banjar tersampaikan secara transparan, edukatif, dan menginspirasi.

  1. Bidang Pariwisata, Kuliner, dan Budaya (PAKUYA)

Bidang PAKUYA berfokus pada pelestarian budaya lokal, pengembangan potensi pariwisata, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis kuliner khas Banjar. Bidang ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, seniman, dan generasi muda dalam mengangkat identitas lokal.

  1. Bidang Kesehatan Lingkungan (Kesling)

Bidang Kesling aktif mengampanyekan pola hidup bersih dan sehat melalui kegiatan bersih lingkungan, edukasi kesehatan masyarakat, serta kepedulian terhadap kelestarian alam. Kesadaran akan lingkungan sehat diposisikan sebagai bagian penting dari kesejahteraan sosial.

  1. Bidang Pendidikan

Bidang Pendidikan berfokus pada peningkatan literasi, pendampingan belajar, dukungan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, serta penguatan karakter generasi muda. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Kota Banjar.

Dampak Nyata bagi Masyarakat Kota Banjar

Kiprah Jabar Bergerak Kota Banjar tidak hanya terlihat dari banyaknya program, tetapi dari dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui pendekatan kolaboratif, organisasi ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya saling membantu dan peduli.

Partisipasi relawan dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa Jabar Bergerak Kota Banjar telah menjadi ruang belajar sosial, tempat generasi muda mengasah empati, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Menuju Kota Banjar yang Lebih Solid dan Berdaya

Dengan semangat “Jabar Juara Lahir Batin” dan visi besar “Indonesia Juara”, Jabar Bergerak Kota Banjar terus melangkah maju. Tantangan sosial yang ada dijadikan peluang untuk berinovasi dan memperkuat jejaring kolaborasi.

Ke depan, Jabar Bergerak Kota Banjar berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra masyarakat dan pemerintah, menjaga semangat gotong royong, serta memastikan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan memberi arti besar bagi kemanusiaan.

Penutup

Jabar Bergerak Kota Banjar adalah bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari kepedulian dan kebersamaan. Dengan KolaborAksi sebagai napas perjuangan, organisasi ini terus menggerakkan solidaritas sosial tanpa pamrih.

“Terus Bergerak Sampai Jantung Berhenti Berdetak” bukan sekedar slogan, melainkan janji pengabdian bagi Kota Banjar dan Jawa Barat yang lebih berdaya, adil, dan berkeadaban.

***

KIPRAH JABAR BERGERAK KOTA BANJAR MENDORONG SEMANGAT SOLIDARITAS Read More »

KETIKA ANGKA TURUN, INTEGRITAS DIUJI: Membaca MCP dan SPI Kota Banjar dalam Semangat Banjar Masagi

Penulis: Reny Andriany

Penulis adalah praktisi pendidikan dan penguatan integritas yang aktif sebagai Master Asesor Kompetensi dari BNSP RI, Penyuluh Antikorupsi Utama dari LSP KPK RI, serta fasilitator pelatihan di bidang asesmen dan tata kelola kelembagaan. Peran-peran tersebut ia jalani dengan keyakinan bahwa kualitas sistem tidak pernah melampaui kualitas manusia yang menggerakkannya.

Dalam pengalamannya mendampingi pendidik, asesor, dan institusi publik, penulis berulang kali menemukan satu benang merah: regulasi dan indikator sudah tersedia, tetapi integritas kerap diuji pada praktik paling sederhana. Dari situlah ketertarikannya pada isu antikorupsi dan asesmen tumbuh—bukan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai sikap sadar dalam menjalankan peran.

Melalui tulisan dan fasilitasi, ia memilih pendekatan yang membumi, berbasis data dan standar, namun tetap memberi ruang refleksi. Baginya, pendidikan, asesmen, dan antikorupsi bertemu pada satu titik penting: keberanian untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab, bahkan ketika tidak sedang diawasi.


Dalam wacana pemberantasan korupsi di daerah, angka seringkali dipahami secara dangkal: naik berarti berhasil, turun berarti gagal. Padahal, dalam konteks tata kelola pemerintahan dan integritas publik, angka justru harus dibaca sebagai sinyal, bukan sekadar skor. Kota Banjar, Jawa Barat, memberikan contoh menarik bagaimana data antikorupsi perlu dimaknai secara jernih, kritis, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Berdasarkan data yang dipublikasikan melalui platform JAGA.ID milik Komisi Pemberantasan Korupsi, nilai Monitoring Center for Prevention (MCP) Kota Banjar pada tahun 2024 tercatat 90, lalu turun menjadi 85 pada tahun 2025. Sementara itu, Survei Penilaian Integritas (SPI) juga mengalami penurunan tipis dari 77,87 (2024) menjadi 77,53 (2025).

Penurunan ini mungkin terlihat kecil, tetapi justru di situlah letak pentingnya: integritas tidak pernah runtuh secara dramatis, melainkan melemah perlahan ketika kewaspadaan menurun.

Antara Sistem yang Kuat dan Implementasi yang Rapuh

MCP pada dasarnya mengukur kepatuhan sistem pencegahan korupsi di pemerintah daerah. Skor 85 pada 2025 menunjukkan bahwa secara struktural, sistem antikorupsi Kota Banjar masih berada dalam kategori baik. Namun jika dibandingkan dengan capaian 2024, penurunan lima poin mengindikasikan adanya pelemahan konsistensi implementasi, bukan pembongkaran sistem.

Data MCP 2025 Kota Banjar menunjukkan bahwa penurunan skor tidak terjadi merata, melainkan terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu. Dua area yang paling menonjol adalah pelayanan publik dan pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD), yang masing-masing mencatat skor 76.

Pelayanan publik merupakan wajah paling nyata dari negara di mata warga. Ketika standar layanan tidak konsisten, transparansi biaya dan waktu belum seragam, atau mekanisme pengaduan tidak responsif, maka risiko korupsi mikro—seperti pungutan liar atau perlakuan diskriminatif—menjadi lebih besar. Inilah sektor yang secara langsung mempengaruhi persepsi publik, dan karenanya sangat beririsan dengan SPI.

Sementara itu, pengelolaan BMD adalah persoalan klasik di banyak daerah. Aset yang tidak tertib administrasi, tidak mutakhir, atau tidak optimal pemanfaatannya bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga celah integritas. Penurunan skor di sektor ini menunjukkan bahwa reformasi birokrasi membutuhkan ketekunan jangka panjang, bukan sekadar kepatuhan sesaat.

SPI dan Persepsi Publik yang Tak Bisa Direkayasa

Berbeda dengan MCP yang menilai sistem, SPI mengukur pengalaman dan persepsi—baik dari internal birokrasi maupun pengguna layanan. Penurunan SPI Kota Banjar dari 77,87 menjadi 77,53 mungkin terlihat minimal, tetapi dalam logika survei integritas, perubahan sekecil ini tetap signifikan.

SPI sensitif terhadap hal-hal yang sering luput dari laporan formal: sikap aparatur di loket layanan, konsistensi penerapan aturan, tindak lanjut pengaduan, hingga rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Dengan kata lain, SPI adalah cermin kepercayaan, dan kepercayaan publik tidak bisa dipertahankan hanya dengan regulasi atau aplikasi digital.

Penurunan tipis ini memperkuat dugaan bahwa tantangan Kota Banjar bukan terletak pada ketiadaan komitmen antikorupsi, melainkan pada internalisasi nilai integritas dalam praktik sehari-hari, terutama di titik-titik layanan langsung.

Banjar Masagi: Filosofi yang Diuji oleh Data

Dalam konteks lokal, Kota Banjar mengusung visi pembangunan Banjar Masagi—sebuah konsep yang berakar pada filosofi Sunda masagi, yang berarti paripurna, utuh, dan kokoh. Secara konseptual, Banjar Masagi mencerminkan cita-cita pembangunan yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga adil, sejahtera, berlandaskan nilai moral, serta adaptif terhadap perubahan.

Namun, data MCP dan SPI 2024–2025 menunjukkan bahwa filosofi Masagi sedang diuji pada level implementasi, khususnya pada aspek keadilan layanan dan konsistensi tata kelola. Ini bukan pertentangan, melainkan pengingat: nilai-nilai luhur hanya akan bermakna jika diterjemahkan ke dalam perilaku birokrasi yang nyata.

Jika Banjar Masagi dimaknai sebagai pembangunan manusia yang utuh, maka integritas aparatur dan kualitas pelayanan publik harus menjadi indikator utama keberhasilannya.

Membaca Penurunan sebagai Alarm, Bukan Vonis

Penting untuk ditegaskan bahwa penurunan MCP dan SPI Kota Banjar bukanlah kegagalan, melainkan alarm dini. Alarm bahwa sistem yang relatif kuat tetap membutuhkan pemeliharaan serius. Alarm bahwa budaya antikorupsi tidak boleh berhenti pada dokumen RPJMD atau forum koordinasi, tetapi harus hidup dalam rutinitas pelayanan dan pengambilan keputusan.

Justru daerah yang berani membaca penurunan skor secara jujur memiliki peluang lebih besar untuk melakukan koreksi dini, dibanding daerah yang terlena oleh angka tinggi tanpa refleksi.

Rekomendasi Strategis Menuju 2026

Jika Kota Banjar ingin mengembalikan —bahkan meningkatkan— nilai MCP dan SPI pada 2026, beberapa langkah strategis perlu diprioritaskan.

Pertama, pembenahan pelayanan publik sebagai fokus utama. Standarisasi SOP layanan prioritas, transparansi biaya dan waktu secara visual, serta penguatan tindak lanjut pengaduan publik harus menjadi agenda lintas OPD. Perbaikan di sektor ini berpotensi langsung mendongkrak SPI sekaligus MCP.

Kedua, penataan serius pengelolaan BMD. Digitalisasi basis data aset, audit internal tematik, serta integrasi antara perencanaan, penganggaran, dan pemanfaatan aset perlu dilakukan secara konsisten. BMD bukan sekadar aset fisik, tetapi simbol akuntabilitas negara.

Ketiga, penguatan peran ASN sebagai role model integritas. Penilaian kinerja aparatur seharusnya tidak hanya berbasis output, tetapi juga perilaku etis. Reward terhadap praktik integritas yang baik sama pentingnya dengan sanksi terhadap pelanggaran.

Keempat, mendorong partisipasi publik yang bermakna. Masyarakat perlu tahu bahwa laporan mereka ditindaklanjuti, bukan sekadar diterima. Transparansi proses tindak lanjut akan memperkuat kepercayaan dan memperbaiki persepsi integritas.

Penutup

Integritas tidak pernah statis. Ia bergerak seiring dengan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk berbenah. Data MCP dan SPI Kota Banjar 2024–2025 mengajarkan satu hal penting: pembangunan antikorupsi bukan soal mempertahankan angka, tetapi menjaga nilai.

Jika Banjar Masagi ingin benar-benar menjadi wajah pembangunan yang paripurna, maka pembacaan jujur atas data integritas harus dijadikan pijakan. Sebab di situlah masa depan kepercayaan publik ditentukan—bukan oleh slogan, melainkan oleh pengalaman nyata warga dalam berinteraksi dengan negara.***

KETIKA ANGKA TURUN, INTEGRITAS DIUJI: Membaca MCP dan SPI Kota Banjar dalam Semangat Banjar Masagi Read More »

MEMBACA KOTA BANJAR: DI BALIK DERETAN TROFI DAN PR YANG BELUM KUNJUNG USAI

Membaca adalah gerbang utama pengetahuan. Membaca tidak terbatas pada tulisan, teks atau buku. Hal ini dipertegas dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan yaitu iqra, bacalah! M. Quraish Shihab dalam tafsirnya tidak menjelaskan objek apa yang dibaca, sehingga kata “baca” ini memiliki makna yang umum, yang artinya perintah membaca mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia, baik itu teks tertulis (ayat qauliyah) maupun fenomena alam semesta dan realitas sosial (ayat kauniyah). Dengan demikian membaca berarti sesuatu yang dapat kita analisa dan pahami untuk mendapatkan pengetahuan darinya.

Apresiasi terhadap Trofi Penghargaan Kota Banjar yang Membanggakan

Dewasa ini selain suka membaca berita juga mulai dihadapkan pada realita. Satu sisi bangga dan terharu melihat Kota Banjar bersinar dengan meraih peringkat terbaik l Pinunjul Award untuk kategori Kota/Kabupaten Non-Indeks Harga Konsumen (Non-IHK) tingkat Provinsi Jawa Barat 2025. Penghargaan ini merupakan kolaborasi banyak pihak terkait, khususnya apresiasi terhadap kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) atas keberhasilannya dalam pengendalian inflasi dan stabilitas ekonomi. Sehingga harga bahan pokok tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pemerintah Kota Banjar juga kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) ke-16 berturut-turut dari BPK RI, menegaskan komitmennya pada pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan sesuai prinsip akuntansi pemerintah, menjadikannya salah satu daerah dengan rekor tertinggi di Jawa Barat untuk akuntabilitas keuangan daerah. Yang tak kalah membanggakan, Kota Banjar kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan menerima Penghargaan Perlindungan Konsumen untuk kategori Daerah Tertib Ukur Tahun 2025. Penghargaan ini menegaskan komitmen Kota Banjar dalam melindungi hak konsumen, khususnya dalam hal keakuratan barang yang diperdagangkan.

Selain prestasi di bidang ekonomi dan tata kelola pemerintahan, sederet prestasi juga diraih dalam bidang kesehatan dan sosial masyarakat. Prestasi tersebut dibuktikan dengan penerimaan Penghargaan Swasti Saba Padapa 2025 Tingkat Nasional. Ini adalah penghargaan bagi Kabupaten/Kota Sehat (KKS) yang dinilai aman, nyaman, sehat, dan bersih bagi warganya. Lantas Kota Banjar meraih Juara 1 dalam Program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) kategori Kota. Program ini fokus pada pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga di desa/kelurahan binaan. Ini membuka kacamata masyarakat bahwa wanita juga harus berdaya, berkarya, dan berjaya.

Sungguh tak disangka, kota kecil ini terus berproses dan bertumbuh di kancah regional bahkan nasional. Kota Banjar juga tercatat mendapatkan penghargaan di bidang kewilayahan dan kebudayaan, antara lain Anugerah Gapura Sri Baduga 2025 tingkat Jawa Barat yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik yang terintegrasi. Selanjutnya Kecamatan Purwaharja di Kota Banjar pun berhasil meraih Kinerja Tertinggi ke-1 dalam Penilaian Sinergitas Kinerja Kecamatan Tingkat Provinsi Jawa Barat, membuktikan bahwa kinerja pelayanan publik berjalan baik hingga ke level kecamatan. Tentu penghargaan-penghargaan tersebut bukan hanya sebagai simbolis semata, tapi hal ini menunjukkan komitmen nyata pemangku kebijakan dan warganya dalam mewujudkan Kota Banjar yang semakin maju. Namun, di sisi lain juga terdapat Pekerjaan Rumah (PR) yang belum kunjung usai.

Kritik Tajam pada PR yang Belum Kunjung Usai

Tahukah kamu, Banjar Water Park (BWP)? BWP adalah isu klasik yang tak kunjung tuntas. Aset bernilai miliaran rupiah ini dalam kondisi “mati suri” dan mengalami kerusakan aset yang parah. BWP telah tutup sejak Mei 2019, dan sekitar 80 persen asetnya dilaporkan rusak atau hilang. Sempat senang sebetulnya melihat dibangunnya proyek wahana baru “The Mummy”, namun proyek itu kini mangkrak selama lebih dari dua tahun. Ini menjadi sebuah pertanyaan, mau dibawa kemanakah nasib BWP? Apakah akan dilikuidasi? Atau direvitalisasi? Semakin lambat pengambilan keputusan, maka akan semakin membuat aset daerah terus menyusut nilainya.

Beberapa waktu ke belakang, ramai juga terkait dampak Bendungan Leuwikeris. Meski Bendungan Leuwikeris adalah Proyek Strategis Nasional, proses impounding (pengisian air) pada 2024-2025 berdampak pada debit Sungai Citanduy. Perumdam Tirta Anom (PDAM) juga sempat mengalami gangguan suplai air baku karena debit sungai turun drastis. Pemkot Banjar seharusnya punya contingency plan (rencana cadangan) yang lebih kuat, seperti pembuatan sumur dalam di titik intake, agar ketergantungan pada debit permukaan Citanduy tidak menyengsarakan warga saat musim kemarau atau pemeliharaan bendungan.

Beralih dari itu, lagi-lagi soal Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Banjar. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Banjar (Agustus 2023/2024), TPT Kota Banjar berada di kisaran 5-6%. Meski trennya fluktuatif, angka ini perlu ditekan. Apakah sudah sesuai dengan kebutuhan industri lokal? Mengingat Banjar adalah kota transit, sektor apa yang sebenarnya menyerap tenaga kerja? Realitasnya, mencari kerja di Banjar masih seperti mencari jarum dalam jerami. Kita punya banyak sarjana, tapi minim industri penyerap. Jangan sampai Banjar hanya menjadi “pabrik” pengangguran terdidik, atau sekadar kota pensiunan yang nyaman untuk hari tua tapi “kering” bagi anak muda yang haus karya.

Hal senada pun terpantau ramai diperbincangkan netizen pada sebuah konten video yang menampilkan ungkapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bahwa Kota Banjar adalah Kota Ripuh di laman media sosial harapanrakyat.com. Netizen ramai-ramai mengiyakan ungkapan tersebut dengan berbagai realita, salah satunya seperti banyaknya orang-orang asli Kota Banjar justru merantau ke luar kota dengan alasan kecilnya UMR dan sulitnya lapangan pekerjaan.

Polemik juga muncul di bidang lingkungan. Ketika Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kamisama di Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat, yang melibatkan Pemerintah Kota (Pemkot) dan pengelola (PT Top Tekno Indo/Hejotekno) mengalami penumpukan sampah, target konsumen tidak tercapai, dan saling tuding dalam perjanjian kerja sama. Hal ini menyebabkan potensi pemutusan kontrak dan masalah kesehatan warga, dengan warga sekitar (Forum Ketua RT) mendesak penyelesaian masalah tersebut.

Dalam tulisan yang penuh dengan kekurangan ini, sama sekali tidak ingin menyudutkan salah satu pihak. Tulisan ini juga bukan nyinyiran, melainkan surat cinta dari seorang anak muda yang tidak ingin melihat kotanya jalan di tempat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Mari duduk, diskusi  dan berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk membangun Kota Banjar berdaya! Jangan tutup mata, jangan tutup telinga, mari sama-sama berperan pada suatu hal yang bisa kita lakukan. Kalo kata BJ.Habibie, “Berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan.” Mulai kokoh dari lingkup terkecil yaitu menjadi pribadi yang baik, keluarga yang memberikan rasa aman, menjadi masyarakat yang berpartisipasi aktif, dan abdi negara yang amanah. Tangkap setiap tanda-tanda di sekitar kita. Jadikan yang belum baik menjadi baik, yang sudah baik semakin baik. Salam Kolaborasi!

***

MEMBACA KOTA BANJAR: DI BALIK DERETAN TROFI DAN PR YANG BELUM KUNJUNG USAI Read More »

Doni Rayhan Nugraha

PARTISIPASI KAWULA MUDA TINGKATKAN LITERASI KESEHATAN DI MEDIA SOSIAL

Doni Rayhan Nugraha

Doni Rayhan Nugraha, siswa aktif di SMK Negeri 2 Banjar. Puji dan syukur atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya sebagai anggota Team Literasi SMK Negeri 2 Banjar. Saya sangat tertarik membahas topik literasi kesehatan, khususnya di kalangan pelajar. Suatu kehormatan bagi saya dapat menyuarakan topik krusial ini, karena kita sebagai anak muda memiliki peranan penting dalam mencapai visi bersama, Indonesia Emas 2045. Selain itu, saya juga tertarik dengan pembahasan SDGs yang berfokus pada poin ke-tiga yakni menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi siapapun. Karena sejatinya, kita sebagai manusia memiliki hak untuk mendapatkan layanan serta akses kesehatan yang memadai. Dengan tulisan ini, peran saya sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan dapat menjadi bukti bahwa anak muda memiliki peranan penting dalam bidang kesehatan.


Pendahuluan

Jangan jadi anak muda yang enjoy aja di waktu muda, tapi lemah ekonomi dan rusak kesehatan karena kebiasaan buruk”, ujar Mario Teguh, Konsultan Motivasi Indonesia.

Berdasarkan World Health Organization (2011) dalam Strategic directions for improving Adolescent Health in South-East Asia Region menyatakan bahwa perkiraan dua pertiga kematian dini dan sepertiga total beban penyakit yang dialami oleh orang dewasa adalah akibat perilaku buruk yang dilakukannya ketika berada di fase muda.

Masa muda, masa yang berapi-api”, penggalan lirik dari lagu sang maestro dangdut Indonesia, Rhoma Irama. Menyadarkan kita bahwa masa muda tidak hanya diisi dengan kisah cinta dan serunya game mobile. Akan tetapi, jika kita mengingat Indonesia saat ini dimana akses pendidikan dapat dijangkau dan terbebas dari penjajahan adalah berkat pahlawan saat muda yang memiliki semangat serta ambisi untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Masa muda adalah masa transisi dari fase kanak-kanak menuju fase dewasa, masa dimana kita haus akan pengetahuan dan eksplorasi terkait banyak hal. Akan tetapi, jika tidak dimanfaatkan dengan baik rasa keingintahuan tersebut akan menjadi boomerang bagi kita di masa yang akan datang.

Literasi kesehatan dapat dijadikan sebagai solusi dari permasalahan dimana para pemuda masih enggan untuk memprioritaskan keperluan di bidang kesehatannya. Sangat disayangkan, literasi kesehatan di Indonesia masih cukup rendah dan menjadi tantangan bagi anak muda di masa sekarang. Literasi bukan hanya membaca, literasi juga bukan hanya sebatas melihat secara sepintas flyer terkait kesehatan remaja. Tetapi, literasi jauh lebih dalam daripada itu, literasi kesehatan adalah bagaimana cara pandang kita menganalisis suatu informasi dengan keterampilan kognitif yang mempengaruhi semangat serta ambisi anak muda dalam mengakses, memahami serta mengimplementasikan informasi kesehatan yang diterimanya untuk membuat keputusan yang tepat, guna mengakses layanan kesehatan yang baik dan inklusif.

Literasi kesehatan juga menjadi sorotan global saat ini. Terdapat agenda besar pada tahun 2030, dimana dalam agenda ini terdapat kesepakatan yang telah disetujui bersama dan memegang prinsip No-one left behind. Agenda yang dimaksud adalah Sustainable Development Goals (SGDs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang berlaku dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2030. Yang mana salah satu fokusnya ialah, menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi siapapun. Di tahun 2030 semua negara yang telah menyepakati patut merealisasikan jaminan kesehatan universal atau tanpa adanya beban biaya yang ditanggung oleh pasien sehingga semuanya dapat merasakan layanan kesehatan secara inklusif.

Pembahasan

Sebagai langkah awal upaya peningkatan literasi kesehatan anak muda, anak muda saat ini harus paham terkait hak dan kewajiban sebagai peserta dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Di negara kita sudah terdapat jaminan kesehatan yang menjunjung tinggi nilai inklusif. Dimana semua pasien mendapatkan kesempatan yang sama yakni layanan kesehatan yang memadai.

Permasalahan saat ini adalah kurangnya kesadaran anak muda akan hak dan kewajibannya sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia mencapai 80% di tahun 2025, angka ini menunjukkan bahwa jutaan pengguna internet di Indonesia sudah semakin meningkat. Tapi bagaimana dengan kesadaran masyarakat terkait hak dan kewajibannya?

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah suatu program yang diinisiasikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dalam program ini BPJS Kesehatan sudah membuat sistem digital seperti Mobile JKN, Pandawa dan banyak lainnya dengan harapan peserta dapat mengakses layanan kesehatan yang mudah dan terstruktur. Akan tetapi, karena kurangnya pemahaman serta kepedulian peserta terkait program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum bisa dimanfaatkan secara baik.

Tingginya angka pengguna internet di Indonesia, seharusnya memudahkan peserta untuk menganalisis, memperoleh dan menerapkan informasi terkait program ini. Namun, karena terdapat budaya buruk yang tetap eksis di Indonesia yakni malas membaca khususnya di kalangan anak muda, tentu hal tersebut masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membuat program baru yakni Duta Muda BPJS Kesehatan.

Berbicara terkait peran anak muda, tentu kita dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan. Hadirnya Duta Muda BPJS Kesehatan, yang telah melewati beberapa tahap seleksi dari masing-masing kantor cabang, dapat menjadi perantara atau jembatan antara peserta (masyarakat) dengan BPJS Kesehatan. Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar yang meliputi tiga daerah yakni Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran tahun 2025, memiliki visi sebagai berikut:

Menjadi Duta Muda BPJS Kesehatan sebagai agen perubahan yang berinisiatif dan edukasi digital dalam memperluas pemahaman serta partisipasi anak muda terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Didukung oleh beberapa misi yang akan direalisasikan selama masa jabatan, adapun misinya sebagai berikut,

  1. Meningkatkan literasi digital. Sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan tentu kamimemiliki tanggung jawab dalam meningkatkan literasi digital khususnya dalammemaksimalkan penggunaan hak serta tanggung jawab peserta program JKN.
  2. Mengoptimalkan media sosial. Hadirnya media sosial dapat menjadi media yangtepat untuk menyebarkan informasi terkait program JKN, karena aksesnya yangmudah dan dapat dijangkau oleh setiap kalangan, tanpa adanya batasan.
  3. Membangun kolaborasi dengan beberapa pihak. Dengan bekerja sama dan bertukaride serta pendapat untuk mencapai kebaikan bersama tentu ini akan sangat

Agar dapat merealisasikan misi tersebut, berikut program kerja yang akan direalisasikan oleh Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar tahun 2025.

  1. Konten edukasi #SobatJKN. Tingginya pengguna internet di Indonesia dapatdimaksimalkan jika ditemani dengan edukasi sehingga menjadi wadah yang positifterutama dalam pemahaman terkait kesehatan.
  2. Ngariung Bareng (NgaBar). Program ini ditujukan bukan hanya untuk anak mudasaja, tetapi semua usia dapat dijangkau dengan harapan mereka paham terkait hakbeserta tanggung jawabnya sebagai peserta JKN. Program ini akan dilakukan secara offline atau tatap muka ditemani oleh pihak BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar.
  3. JKN Go To School. Program ini memiliki target anak muda khususnya pelajar. Jika di media sosial sudah ada konten edukasi #SobatJKN. Maka, untuk memahami apa itu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara intens dibuatkan program JKN Go To School dengan harapan akan adanya interaksi aktif antara Duta Muda BPJS Kesehatan dan para pelajar (audiens).

Duta Muda BPJS Kesehatan tidak hanya sekadar nama saja, tetapi dampaknya sudah dirasakan oleh para pengguna internet. Contoh nyata, sebuah video reels yang diunggah dalam akun instagram dengan username @dnryhnngrh menuai banyak komentar positif dari masyarakat setelah menginformasikan terkait pembayaran auto-debit yang sekarang dapat diakses di Mobile JKN.

Perlu diketahui bahwa BPJS Kesehatan dengan Program JKN merupakan instrumen Indonesia menuju Universal Health Coverage atau Cakupan Kesehatan Universal. Untuk mencapainya jelas membutuhkan kontribusi dari beberapa pihak seperti pemerintah dan masyarakat. Selalu ingat bahwa program JKN bersifat gotong royong, “yang sakit dibantu oleh yang sehat”.

Penutup

Anak muda saat ini harus peduli dengan kondisi kesehatannya. Tidak ada salahnya, jika kita sebagai anak muda sudah mulai paham terkait jaminan kesehatan kita, karena permasalahan terkait kesehatan susah untuk ditebak. Tentang bagaimana cara mengantisipasinya, kita perlu jaminan kesehatan yang sudah beregulasi dan menjunjung nilai inklusif agar setiap orang mendapatkan hak yang sama, yakni layanan serta akses kesehatan yang baik.

Sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar tahun 2025, kami akan terus memberikan edukasi terkait jaminan kesehatan nasional di Indonesia. Kemudian, sesuai dengan tagline Visi Indonesia Emas 2045, kami menetapkan anak muda sebagai fokus kami dalam berjalannya misi tersebut. Namun, tetap memberikan perhatian yang sama dan mendengarkan aspirasi dari semua kalangan.

Mari buktikan bahwa anak muda dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan di Indonesia!

***

PARTISIPASI KAWULA MUDA TINGKATKAN LITERASI KESEHATAN DI MEDIA SOSIAL Read More »

DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU

Tatang Mugiyana, S.Pd.
(Kepala UPTD SDN 1 Bank Jabar, Langensari, Kota Banjar)

Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan merupakan kunci utama dalam meningkatkan minat, motivasi, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Pada jenjang Sekolah Dasar, tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah bagaimana menyajikan materi pembelajaran agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan siswa, serta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Pembelajaran yang bersifat abstrak dan verbalistik sering kali membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Dalam konteks pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), materi tentang daerah tempat tinggal dan keadaan alamnya menjadi salah satu materi penting yang perlu dipahami siswa. Materi ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan faktual, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membentuk identitas, rasa cinta terhadap lingkungan, serta kepedulian terhadap budaya lokal. Namun demikian, penyampaian materi tentang letak geografis, batas wilayah, kondisi alam, dan potensi daerah sering kali dilakukan secara konvensional melalui buku teks dan penjelasan lisan, sehingga kurang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Berangkat dari kondisi tersebut, UPTD SDN 1 Bank Jabar Langensari mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran bertajuk “Deskripsi Daerahku melalui Lagu”. Inovasi ini memadukan pembelajaran IPAS dengan seni musik sebagai media utama untuk menyampaikan materi tentang daerah dan keadaan alam Kota Banjar. Kepala sekolah berperan aktif dalam memotivasi dan mendampingi guru kelas IV untuk menggunakan lagu ciptaan sendiri berjudul “Ciciren Banjar” sebagai sarana pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.

Penggunaan lagu sebagai media pembelajaran memiliki kekuatan tersendiri. Lagu mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara bersamaan. Melalui lirik, irama, dan melodi, informasi dapat disampaikan secara lebih mudah diingat dan dipahami. Lagu juga menciptakan suasana belajar yang rileks, menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif siswa. Dalam konteks pembelajaran daerah, lagu “Ciciren Banjar” menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan lingkungan geografis, alam, dan budaya tempat mereka tinggal.

Inovasi ini memiliki landasan yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan menegaskan pentingnya pembelajaran yang mendorong pemahaman kontekstual dan penguatan karakter peserta didik. Permendikbudristek Nomor 7 Tahun 2022 tentang Struktur Kurikulum juga memberikan ruang yang luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah.

Dalam Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran IPAS Fase B menekankan pengenalan peserta didik terhadap berbagai komponen lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia. Materi ini sangat relevan jika disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Selain itu, inovasi ini juga mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Penggunaan lagu daerah turut mendukung implementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui penguatan nilai cinta tanah air dan budaya lokal.

Inovasi “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” bertujuan untuk memotivasi guru agar lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, khususnya dalam mengajarkan materi tentang batas wilayah dan keadaan alam Kota Banjar. Lagu “Ciciren Banjar” digunakan sebagai alat bantu untuk memperkenalkan letak geografis, kondisi alam, serta potensi budaya daerah kepada siswa kelas IV. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pelaksanaan inovasi diawali dengan persiapan pembelajaran yang matang. Kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan guru kelas IV untuk mendiskusikan strategi pembelajaran kreatif yang dapat digunakan dalam materi daerah dan keadaan alam. Pada tahap ini, guru diberikan pendampingan mengenai cara mengintegrasikan lagu ke dalam alur pembelajaran, mulai dari apersepsi, penyampaian materi, hingga evaluasi. Guru juga dibekali pemahaman tentang pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Pada tahap pelaksanaan di kelas, guru memperkenalkan lagu “Ciciren Banjar” kepada siswa dengan cara mendengarkan dan menyanyikannya bersama. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan antusias. Guru kemudian menjelaskan makna lirik lagu yang menggambarkan batas wilayah Kota Banjar, keberadaan gunung, sungai, serta kekayaan alam dan budaya setempat. Penjelasan ini membantu siswa memahami bahwa lirik lagu tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung informasi penting tentang daerah mereka.

Setelah siswa mengenal lagu, kegiatan dilanjutkan dengan analisis lirik. Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai isi lagu, seperti nama-nama wilayah, kondisi geografis, sungai, gunung, serta kehidupan masyarakat Banjar. Melalui diskusi ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menghubungkan informasi dalam lagu dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, serta menyampaikan pendapat secara lisan.

Untuk memperkuat pemahaman, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan tugas praktik. Setiap kelompok diminta membuat poster atau presentasi yang menggambarkan letak desa, kecamatan, keadaan alam, serta budaya daerah berdasarkan lirik lagu “Ciciren Banjar”. Aktivitas ini mendorong siswa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekspresikan ide secara kreatif. Pada saat presentasi, siswa diminta menyanyikan bagian lagu yang relevan dengan materi yang mereka sampaikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan berkesan.

Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan dan tertulis. Guru menilai pemahaman konsep, kreativitas, serta kemampuan siswa dalam menyampaikan informasi. Selain itu, siswa juga diajak melakukan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar mereka. Refleksi ini membantu siswa menyadari bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.

Penerapan inovasi ini dilaksanakan secara bertahap dan terencana, dimulai dari perencanaan pada bulan Desember 2024, pelaksanaan pada Januari hingga Maret 2025, evaluasi pada April 2025, dan tindak lanjut pada Mei 2025. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis seni yang dipadukan dengan diskusi kelompok. Media utama berupa lagu “Ciciren Banjar” didukung oleh perangkat audio-visual dan alat bantu pembelajaran lainnya.

Lirik lagu “Ciciren Banjar” yang menggunakan bahasa Sunda menjadi kekuatan tersendiri dalam inovasi ini. Bahasa daerah yang digunakan membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi pembelajaran. Lagu ini tidak hanya menyampaikan informasi geografis, tetapi juga menanamkan nilai kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Banjar sebagai daerah tempat tinggal mereka.

Hasil penerapan inovasi menunjukkan dampak yang sangat positif. Motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan. Siswa terlihat lebih antusias, aktif bertanya, dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Kreativitas siswa juga berkembang melalui kegiatan membuat poster dan presentasi. Mereka mampu mengekspresikan pemahaman tentang daerah dan budaya secara lebih variatif dan menarik.

Pemahaman konsep siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka tidak hanya menghafal, tetapi memahami melalui pengalaman belajar yang melibatkan emosi, visual, dan auditori. Lagu membantu siswa mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Selain itu, inovasi ini juga berhasil menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah asal, serta meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam dan budaya lokal.

Secara keseluruhan, inovasi pembelajaran “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di kelas IV. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui integrasi seni dan budaya lokal, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga nilai dan sikap positif terhadap lingkungan dan daerahnya.

Ke depan, inovasi ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan. Kepala sekolah dapat terus mendorong guru untuk memanfaatkan lagu daerah sebagai media pembelajaran pada berbagai materi. Integrasi seni dan budaya lokal perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter dan identitas peserta didik. Selain itu, penyediaan sumber belajar kreatif seperti media audio-visual dan lagu daerah akan sangat mendukung keberlanjutan praktik baik ini dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka dan bermakna.***

DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU Read More »

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN

Rini Apriani adalah seorang pendidik lahir di Ciamis, 3 April 1986 yang aktif mengabdi di Kota Banjar. Ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, baik sebagai guru, dengan perhatian besar terhadap isu keadilan, kualitas, dan keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi guru honorer dan sekolah swasta.

Selain mengajar, Rini Apriani juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesional pendidik, penguatan karakter, serta transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar bersama untuk membangun masa depan anak bangsa melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada kemanusiaan.


Pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Di tangan para guru, masa depan anak-anak negeri ini dititipkan. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, akhlak, dan karakter yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sudah selayaknya profesi guru mendapatkan perhatian, perlindungan, dan keadilan yang setara.

Melalui tulisan ini, saya sebagai seorang guru di Kota Banjar ingin menyampaikan sebuah harapan, bukan tuntutan, dan bukan pula perbandingan yang menjatuhkan pihak mana pun. Harapan ini lahir dari realitas yang kami alami sehari-hari sebagai guru honorer, khususnya guru honorer di sekolah swasta, yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun tanpa kejelasan masa depan.

Kami memahami bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi ASN. Namun, dalam pelaksanaannya, kesempatan tersebut masih terasa lebih banyak berpihak kepada guru negeri. Sementara itu, ribuan guru honorer swasta tetap setia mengabdi, mengajar dengan hati, mendidik dengan penuh tanggung jawab, meski dengan keterbatasan yang sangat besar.

Bukan nasib seperti ini yang kami impikan. Menjadi guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak bukanlah pilihan ideal, melainkan bentuk pengabdian. Kami percaya, mungkin pemerintah memiliki pertimbangan dan kebijakan tersendiri. Namun kami juga berharap, masih ada ruang bagi hati nurani untuk melihat dan mendengar suara guru-guru swasta yang selama ini setia menjaga nyala pendidikan di daerah.

Ironis rasanya ketika kenyataan menunjukkan bahwa gaji pegawai di sektor lain, termasuk tenaga pelaksana program tertentu, bisa lebih besar dibandingkan gaji seorang guru.

Padahal, guru memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Guru bertanggung jawab atas masa depan satu, puluhan, bahkan jutaan anak bangsa. Sebuah amanah yang tidak ringan dan tidak ternilai dengan angka semata.

Kami tidak ingin membandingkan siapa yang lebih penting. Kami hanya ingin sedikit harapan. Harapan agar nasib guru honorer swasta juga diperhatikan dengan adil, sebagaimana perhatian yang diberikan kepada guru honorer di sekolah negeri. Kami juga manusia biasa yang memiliki keluarga, anak-anak, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Sementara itu, kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan tuntutan profesionalisme guru semakin besar.

Pada dasarnya, semua orang ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Namun, ketika harus dihadapkan pada pilihan antara terus mengabdi atau meninggalkan profesi demi mencari penghidupan yang lebih layak di kota besar, maka pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjaga pendidikan di daerah kecil seperti Kota Banjar

Jika orang-orang terbaik, para pendidik yang berpengalaman dan berdedikasi, perlahan meninggalkan daerahnya karena keterbatasan kesejahteraan, maka yang akan tertinggal bukan hanya kekosongan tenaga pengajar, tetapi juga hilangnya kualitas pendidikan dan harapan generasi muda di daerah tersebut.

Melalui tulisan ini, kami menitipkan harapan besar kepada para pemangku kebijakan di Kota Banjar dan pemerintah pada umumnya. Semoga ke depan kebijakan pendidikan semakin inklusif, adil, dan berpihak kepada seluruh guru tanpa membedakan status sekolahnya. Karena sejatinya, semua guru memiliki tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik

Semoga suara kecil dari daerah ini dapat menjadi bahan renungan, bahwa memperhatikan kesejahteraan guru honorer swasta bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan dan keberlanjutan daerah tercinta, Kota Banjar.***

 

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN Read More »

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.
Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd. (Kepala UPTD SDN 1 Waringinsari)

Keberhasilan sebuah satuan pendidikan bukanlah hasil dari kerja instan, apalagi sekadar pencitraan melalui dokumentasi foto dan video. Keberhasilan sejati lahir dari proses panjang yang direncanakan secara matang, dijalankan dengan konsistensi, serta dilandasi keberanian untuk melakukan perubahan. Prinsip inilah yang menjadi ruh utama di balik Succes Story ESDEJIWA (UPTD SDN 1 Waringinsari) dalam meraih Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA Tahun 2025.

Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan institusi, melainkan bukti konkret bahwa penguatan pendidikan karakter dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan. Nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran konsep atau administrasi, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan peserta didik, serta berdampak positif bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.

Anugerah PANCAWALUYA merupakan ajang apresiasi bagi satuan pendidikan yang mampu mengimplementasikan pendidikan karakter secara holistik dan sistemik. Bagi ESDEJIWA, keikutsertaan dalam ajang ini tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana refleksi atas ikhtiar panjang dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter, selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Karakter.

Keberhasilan meraih Juara Madya tidak terlepas dari kepemimpinan yang gigih, visioner, dan kolaboratif. Seorang pemimpin pendidikan tidak hanya dituntut mampu mengelola administrasi dan program, tetapi juga harus mampu menggerakkan seluruh sumber daya manusia (SDM) di sekolah. Di ESDEJIWA, kepemimpinan dimaknai sebagai proses mengajak, memberi teladan, serta membangun kesadaran kolektif bahwa penguatan karakter adalah tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

Menggerakkan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga komite sekolah bukanlah hal yang mudah. Setiap individu memiliki latar belakang, cara pandang, dan kebiasaan yang berbeda. Tantangan terbesar terletak pada menyatukan keberagaman tersebut dalam satu visi yang sama. Namun melalui komunikasi terbuka, pembinaan berkelanjutan, dan keteladanan nyata dari pimpinan, nilai-nilai Gapura Pancawaluya perlahan tumbuh menjadi budaya sekolah.

Sekolah mengintegrasikan sembilan langkah pembangunan pendidikan karakter Jawa Barat secara holistik ke dalam budaya sekolah, proses pembelajaran, pembiasaan harian, serta kemitraan dengan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya, dengan berlandaskan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Dalam aspek kebersihan lingkungan, ESDEJIWA menanamkan budaya bersih melalui pembiasaan harian, pengelolaan lingkungan sekolah yang sehat, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekitar. Program ini tidak hanya membentuk lingkungan yang nyaman, tetapi juga menumbuhkan karakter disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Pada peningkatan mutu dan kompetensi guru, sekolah mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian melalui pelatihan, komunitas belajar, serta refleksi praktik pembelajaran. Guru diposisikan sebagai teladan utama dalam implementasi nilai-nilai karakter Pancawaluya, baik dalam pembelajaran maupun interaksi sehari-hari dengan peserta didik.

Pendidikan ekologi diintegrasikan dalam pembelajaran dan kegiatan proyek berbasis lingkungan. Peserta didik dilatih untuk memiliki kesadaran ekologis, mencintai alam, serta berperilaku ramah lingkungan. Kegiatan ini menumbuhkan karakter peduli dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam hal kreativitas dan inovasi peserta didik, sekolah menyediakan ruang melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Karya berbasis pemanfaatan barang bekas, teknologi sederhana, dan proyek tematik menjadi sarana aktualisasi potensi peserta didik, sekaligus menanamkan nilai kreatif, inovatif, dan adaptif (Singer).

Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui program membawa bekal dari rumah, cuci tangan, olahraga rutin, serta optimalisasi layanan UKS. Program ini diperkuat melalui kerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Langensari, sebagai mitra strategis dalam mendukung kesehatan jasmani dan rohani peserta didik (Cageur).

Sekolah juga menanamkan kesadaran akan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan melalui optimalisasi berjalan kaki dan edukasi penggunaan transportasi yang bijak, disesuaikan dengan kondisi dan keamanan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter yang menekankan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan.

Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler diarahkan sebagai wahana pembentukan karakter, kepemimpinan, kerja sama, dan kemandirian peserta didik. Kegiatan disesuaikan dengan minat dan bakat siswa serta nilai-nilai Pancawaluya.

Dalam aspek perilaku peserta didik di luar sekolah, ESDEJIWA membangun sinergi erat dengan orang tua. Sekolah menyadari bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa kesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pembiasaan positif di sekolah diharapkan berlanjut di rumah dan lingkungan sosial.

Selanjutnya, peningkatan pendidikan keagamaan dilaksanakan melalui pembiasaan ibadah, kegiatan keagamaan rutin, serta penguatan nilai spiritual. Program ini menumbuhkan ketenangan batin, toleransi, dan akhlak mulia sebagai fondasi karakter Bageur dan Bener.

Keberhasilan implementasi penguatan karakter ini semakin kuat karena adanya ikatan kemitraan dengan berbagai pihak relevan, termasuk instansi pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas pendidikan. Kolaborasi ini memperluas ekosistem pembelajaran dan memberikan pengalaman kontekstual bagi peserta didik.

Sebagai bagian dari perencanaan strategis, ESDEJIWA menetapkan harapan pengembangan satuan pendidikan empat tahun ke depan (2025–2029) yang selaras dengan Program Gapura Pancawaluya Jawa Barat. Harapan tersebut mencakup terwujudnya sekolah sehat (Cageur), budaya peduli dan gotong royong (Bageur), integritas dan kedisiplinan tinggi (Bener), keunggulan literasi dan wawasan kebangsaan (Pinter), serta kreativitas dan adaptivitas terhadap perubahan (Singer).

Capaian Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA 2025 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan tonggak penguat semangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Lebih dari sekadar penghargaan, keberhasilan ini tercermin dari perubahan nyata pada diri peserta didik yang semakin berkarakter dan berdaya saing.

Akhir kata, Succes Story ESDEJIWA adalah kisah tentang kepemimpinan yang menggerakkan, kolaborasi yang menguatkan, dan komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Semoga praktik baik ini dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain dalam mengimplementasikan pendidikan karakter secara sistematis dan berkelanjutan.***

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025 Read More »

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN

Ina Indriyani

Ina Indriyani, S.Pd., Gr. lahir di Ciamis pada 3 Maret 1987. Ia adalah seorang pendidik yang saat ini mengabdikan diri sebagai pengajar di SMKN 1 Banjar. Dunia pendidikan bukan sekadar profesi baginya, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan nilai, tempat ia berinteraksi langsung dengan realitas generasi muda beserta tantangan zamannya. Selain berkiprah sebagai guru, Ina Indriyani aktif menulis dan dikenal sebagai pemerhati dunia pendidikan, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, adab, serta relasi humanis antara pendidik dan peserta didik. Pengalamannya di lapangan memberinya perspektif kritis namun empatik terhadap berbagai kebijakan dan praktik pendidikan yang berlangsung di daerah.Ia juga menaruh perhatian mendalam pada psikologi perempuan, terutama dalam konteks peran perempuan sebagai pendidik, ibu, dan agen perubahan sosial. Melalui tulisan-tulisannya, Ina kerap mengangkat persoalan ketahanan mental, luka batin, kelelahan emosional, serta perjuangan perempuan dalam ruang domestik dan publik, dengan pendekatan reflektif dan edukatif. Bagi Ina Indriyani, menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan moral. Tulisan-tulisannya tidak hanya bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi, harapan, dan ajakan untuk berpikir lebih jernih dan manusiawi. Ia meyakini bahwa pendidikan yang baik hanya dapat lahir dari keberanian untuk merefleksi, kejujuran dalam mengakui kekurangan, dan komitmen bersama untuk terus belajar. Melalui aktivitas mengajar dan menulis, Ina berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan peradaban, khususnya di lingkungan pendidikan dan masyarakat lokal Kota Banjar.


Pendidikan selalu menjadi jantung peradaban, dari ruang-ruang kelas sederhana hingga kebijakan strategis pemerintah daerah, masa depan suatu kota ditentukan oleh bagaimana pendidikan direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi. Kota Banjar, sebagai daerah otonom yang terus bertumbuh, tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab besar ini. Dunia pendidikan di Kota Banjar hari ini berada pada persimpangan penting: antara upaya perbaikan yang patut diapresiasi dan berbagai tantangan yang menuntut perhatian serius.

Opini publik ini disampaikan bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian intelektual dan sosial terhadap masa depan pendidikan di Kota Banjar. Kritik, saran, dan apresiasi perlu ditempatkan secara proporsional agar menjadi energi perubahan, bukan sekadar keluhan tanpa arah.

Apresiasi atas Komitmen dan Kerja Nyata Pendidikan

Harus diakui bahwa pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Banjar telah menunjukkan komitmen dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Sekolah-sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan, para guru terus mengajar dengan dedikasi, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan mulai digulirkan, meskipun hasilnya belum sepenuhnya merata.

Perhatian terhadap pendidikan vokasi, khususnya di tingkat SMK, patut diapresiasi. Upaya menyiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki keterampilan praktis merupakan langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, kehadiran berbagai pelatihan guru, penguatan kurikulum, serta adaptasi terhadap kebijakan pendidikan nasional menunjukkan bahwa Kota Banjar tidak menutup diri terhadap perubahan.

Yang tidak kalah penting, nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan etika sosial masih menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap menggerus karakter, sekolah-sekolah di Banjar masih berupaya menjaga keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan akhlak peserta didik. Ini adalah modal besar yang tidak boleh diabaikan.

Kritik terhadap Persoalan Struktural dan Kultural

Namun, di balik berbagai ikhtiar tersebut, dunia pendidikan di Kota Banjar masih menghadapi persoalan mendasar yang tidak bisa ditutup-tutupi. Salah satunya adalah kesenjangan antara idealisme kebijakan dan realitas di lapangan. Banyak program pendidikan yang dirancang dengan baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata guru dan peserta didik.

Beban administratif guru yang berlebihan masih menjadi keluhan klasik. Guru sering kali lebih sibuk mengurus laporan, dokumen, dan aplikasi daripada fokus pada esensi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik dan mental, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas interaksi edukatif di kelas. Pendidikan yang sehat seharusnya memerdekakan guru untuk mengajar, bukan membelenggu mereka dengan birokrasi yang rumit.

Selain itu, tantangan karakter peserta didik semakin kompleks. Disrupsi teknologi, pengaruh media sosial, dan perubahan pola asuh keluarga berdampak langsung pada sikap, etika, dan motivasi belajar siswa. Sayangnya, pendekatan pendidikan karakter sering kali masih bersifat normatif dan seremonial, belum menyentuh akar persoalan secara mendalam.

Ketimpangan fasilitas dan kualitas pendidikan antar sekolah juga perlu mendapat perhatian. Masih terdapat sekolah yang berjuang dengan keterbatasan sarana, akses teknologi, dan dukungan lingkungan. Jika tidak ditangani dengan kebijakan yang adil dan afirmatif, kesenjangan ini berpotensi melahirkan ketidakadilan pendidikan yang berkepanjangan.

Saran untuk Penguatan Pendidikan yang Humanis dan Kontekstual

Ke depan, pendidikan di Kota Banjar perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih humanis, kontekstual, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, dan kelulusan, tetapi harus menempatkan peserta didik sebagai manusia utuh dengan kebutuhan intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Pertama, perlu adanya keberanian untuk menyederhanakan beban administratif guru. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaporan dan penilaian harus dilakukan dengan melibatkan suara guru sebagai pelaksana utama pendidikan. Guru yang dihargai dan dimanusiakan akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus dilakukan secara nyata dan kontekstual. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Program literasi, penguatan adab, kesehatan mental siswa, serta pendampingan psikososial perlu dirancang secara sistematis, bukan insidental.

Ketiga, pendidikan vokasi di Kota Banjar perlu diperkuat dengan kemitraan yang lebih konkret dengan dunia usaha dan dunia industri. Link and match tidak cukup berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran, magang bermutu, dan penyerapan lulusan secara nyata. Tanpa itu, SMK berisiko hanya menjadi pabrik ijazah tanpa daya saing.

Keempat, pemerintah daerah perlu lebih progresif dalam memastikan pemerataan fasilitas pendidikan. Akses teknologi, ruang belajar yang layak, serta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar peserta didik.

Apresiasi dan Harapan bagi Para Pendidik

Di tengah berbagai keterbatasan, para pendidik di Kota Banjar layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, melampaui tugas formal, dan menjadi figur teladan bagi siswanya. Dedikasi ini sering kali luput dari sorotan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan generasi muda.

Namun, apresiasi tidak cukup hanya dengan pujian moral. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan, pengembangan profesional, dan kesehatan mental guru. Guru yang sejahtera dan dihargai akan lebih mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Penutup: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Pendidikan di Kota Banjar tidak boleh berjalan apa adanya. Ia harus terus dikritisi, diperbaiki, dan diperkuat. Kritik yang disampaikan dengan niat baik adalah bentuk cinta terhadap dunia pendidikan. Saran yang lahir dari refleksi adalah kontribusi nyata bagi perbaikan bersama.

Masa depan Kota Banjar sangat ditentukan oleh bagaimana hari ini kita memperlakukan pendidikan. Apakah kita menjadikannya sekadar kewajiban administratif, atau benar-benar menempatkannya sebagai investasi peradaban. Jawaban atas pertanyaan itu akan tercermin pada wajah generasi Banjar di masa depan: apakah mereka tumbuh sebagai manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya, atau sebaliknya.

Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Dan Kota Banjar memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan peradaban besar, jika pendidikan dikelola dengan hati, visi, dan keberanian untuk berubah.***

 

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN Read More »

Scroll to Top