OPINI

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN

Rini Apriani adalah seorang pendidik lahir di Ciamis, 3 April 1986 yang aktif mengabdi di Kota Banjar. Ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, baik sebagai guru, dengan perhatian besar terhadap isu keadilan, kualitas, dan keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi guru honorer dan sekolah swasta.

Selain mengajar, Rini Apriani juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesional pendidik, penguatan karakter, serta transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar bersama untuk membangun masa depan anak bangsa melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada kemanusiaan.


Pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Di tangan para guru, masa depan anak-anak negeri ini dititipkan. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, akhlak, dan karakter yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sudah selayaknya profesi guru mendapatkan perhatian, perlindungan, dan keadilan yang setara.

Melalui tulisan ini, saya sebagai seorang guru di Kota Banjar ingin menyampaikan sebuah harapan, bukan tuntutan, dan bukan pula perbandingan yang menjatuhkan pihak mana pun. Harapan ini lahir dari realitas yang kami alami sehari-hari sebagai guru honorer, khususnya guru honorer di sekolah swasta, yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun tanpa kejelasan masa depan.

Kami memahami bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi ASN. Namun, dalam pelaksanaannya, kesempatan tersebut masih terasa lebih banyak berpihak kepada guru negeri. Sementara itu, ribuan guru honorer swasta tetap setia mengabdi, mengajar dengan hati, mendidik dengan penuh tanggung jawab, meski dengan keterbatasan yang sangat besar.

Bukan nasib seperti ini yang kami impikan. Menjadi guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak bukanlah pilihan ideal, melainkan bentuk pengabdian. Kami percaya, mungkin pemerintah memiliki pertimbangan dan kebijakan tersendiri. Namun kami juga berharap, masih ada ruang bagi hati nurani untuk melihat dan mendengar suara guru-guru swasta yang selama ini setia menjaga nyala pendidikan di daerah.

Ironis rasanya ketika kenyataan menunjukkan bahwa gaji pegawai di sektor lain, termasuk tenaga pelaksana program tertentu, bisa lebih besar dibandingkan gaji seorang guru.

Padahal, guru memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Guru bertanggung jawab atas masa depan satu, puluhan, bahkan jutaan anak bangsa. Sebuah amanah yang tidak ringan dan tidak ternilai dengan angka semata.

Kami tidak ingin membandingkan siapa yang lebih penting. Kami hanya ingin sedikit harapan. Harapan agar nasib guru honorer swasta juga diperhatikan dengan adil, sebagaimana perhatian yang diberikan kepada guru honorer di sekolah negeri. Kami juga manusia biasa yang memiliki keluarga, anak-anak, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Sementara itu, kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan tuntutan profesionalisme guru semakin besar.

Pada dasarnya, semua orang ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Namun, ketika harus dihadapkan pada pilihan antara terus mengabdi atau meninggalkan profesi demi mencari penghidupan yang lebih layak di kota besar, maka pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjaga pendidikan di daerah kecil seperti Kota Banjar

Jika orang-orang terbaik, para pendidik yang berpengalaman dan berdedikasi, perlahan meninggalkan daerahnya karena keterbatasan kesejahteraan, maka yang akan tertinggal bukan hanya kekosongan tenaga pengajar, tetapi juga hilangnya kualitas pendidikan dan harapan generasi muda di daerah tersebut.

Melalui tulisan ini, kami menitipkan harapan besar kepada para pemangku kebijakan di Kota Banjar dan pemerintah pada umumnya. Semoga ke depan kebijakan pendidikan semakin inklusif, adil, dan berpihak kepada seluruh guru tanpa membedakan status sekolahnya. Karena sejatinya, semua guru memiliki tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik

Semoga suara kecil dari daerah ini dapat menjadi bahan renungan, bahwa memperhatikan kesejahteraan guru honorer swasta bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan dan keberlanjutan daerah tercinta, Kota Banjar.***

 

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN Read More »

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.
Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd. (Kepala UPTD SDN 1 Waringinsari)

Keberhasilan sebuah satuan pendidikan bukanlah hasil dari kerja instan, apalagi sekadar pencitraan melalui dokumentasi foto dan video. Keberhasilan sejati lahir dari proses panjang yang direncanakan secara matang, dijalankan dengan konsistensi, serta dilandasi keberanian untuk melakukan perubahan. Prinsip inilah yang menjadi ruh utama di balik Succes Story ESDEJIWA (UPTD SDN 1 Waringinsari) dalam meraih Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA Tahun 2025.

Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan institusi, melainkan bukti konkret bahwa penguatan pendidikan karakter dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan. Nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran konsep atau administrasi, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan peserta didik, serta berdampak positif bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.

Anugerah PANCAWALUYA merupakan ajang apresiasi bagi satuan pendidikan yang mampu mengimplementasikan pendidikan karakter secara holistik dan sistemik. Bagi ESDEJIWA, keikutsertaan dalam ajang ini tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana refleksi atas ikhtiar panjang dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter, selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Karakter.

Keberhasilan meraih Juara Madya tidak terlepas dari kepemimpinan yang gigih, visioner, dan kolaboratif. Seorang pemimpin pendidikan tidak hanya dituntut mampu mengelola administrasi dan program, tetapi juga harus mampu menggerakkan seluruh sumber daya manusia (SDM) di sekolah. Di ESDEJIWA, kepemimpinan dimaknai sebagai proses mengajak, memberi teladan, serta membangun kesadaran kolektif bahwa penguatan karakter adalah tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

Menggerakkan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga komite sekolah bukanlah hal yang mudah. Setiap individu memiliki latar belakang, cara pandang, dan kebiasaan yang berbeda. Tantangan terbesar terletak pada menyatukan keberagaman tersebut dalam satu visi yang sama. Namun melalui komunikasi terbuka, pembinaan berkelanjutan, dan keteladanan nyata dari pimpinan, nilai-nilai Gapura Pancawaluya perlahan tumbuh menjadi budaya sekolah.

Sekolah mengintegrasikan sembilan langkah pembangunan pendidikan karakter Jawa Barat secara holistik ke dalam budaya sekolah, proses pembelajaran, pembiasaan harian, serta kemitraan dengan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya, dengan berlandaskan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Dalam aspek kebersihan lingkungan, ESDEJIWA menanamkan budaya bersih melalui pembiasaan harian, pengelolaan lingkungan sekolah yang sehat, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekitar. Program ini tidak hanya membentuk lingkungan yang nyaman, tetapi juga menumbuhkan karakter disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Pada peningkatan mutu dan kompetensi guru, sekolah mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian melalui pelatihan, komunitas belajar, serta refleksi praktik pembelajaran. Guru diposisikan sebagai teladan utama dalam implementasi nilai-nilai karakter Pancawaluya, baik dalam pembelajaran maupun interaksi sehari-hari dengan peserta didik.

Pendidikan ekologi diintegrasikan dalam pembelajaran dan kegiatan proyek berbasis lingkungan. Peserta didik dilatih untuk memiliki kesadaran ekologis, mencintai alam, serta berperilaku ramah lingkungan. Kegiatan ini menumbuhkan karakter peduli dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam hal kreativitas dan inovasi peserta didik, sekolah menyediakan ruang melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Karya berbasis pemanfaatan barang bekas, teknologi sederhana, dan proyek tematik menjadi sarana aktualisasi potensi peserta didik, sekaligus menanamkan nilai kreatif, inovatif, dan adaptif (Singer).

Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui program membawa bekal dari rumah, cuci tangan, olahraga rutin, serta optimalisasi layanan UKS. Program ini diperkuat melalui kerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Langensari, sebagai mitra strategis dalam mendukung kesehatan jasmani dan rohani peserta didik (Cageur).

Sekolah juga menanamkan kesadaran akan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan melalui optimalisasi berjalan kaki dan edukasi penggunaan transportasi yang bijak, disesuaikan dengan kondisi dan keamanan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter yang menekankan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan.

Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler diarahkan sebagai wahana pembentukan karakter, kepemimpinan, kerja sama, dan kemandirian peserta didik. Kegiatan disesuaikan dengan minat dan bakat siswa serta nilai-nilai Pancawaluya.

Dalam aspek perilaku peserta didik di luar sekolah, ESDEJIWA membangun sinergi erat dengan orang tua. Sekolah menyadari bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa kesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pembiasaan positif di sekolah diharapkan berlanjut di rumah dan lingkungan sosial.

Selanjutnya, peningkatan pendidikan keagamaan dilaksanakan melalui pembiasaan ibadah, kegiatan keagamaan rutin, serta penguatan nilai spiritual. Program ini menumbuhkan ketenangan batin, toleransi, dan akhlak mulia sebagai fondasi karakter Bageur dan Bener.

Keberhasilan implementasi penguatan karakter ini semakin kuat karena adanya ikatan kemitraan dengan berbagai pihak relevan, termasuk instansi pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas pendidikan. Kolaborasi ini memperluas ekosistem pembelajaran dan memberikan pengalaman kontekstual bagi peserta didik.

Sebagai bagian dari perencanaan strategis, ESDEJIWA menetapkan harapan pengembangan satuan pendidikan empat tahun ke depan (2025–2029) yang selaras dengan Program Gapura Pancawaluya Jawa Barat. Harapan tersebut mencakup terwujudnya sekolah sehat (Cageur), budaya peduli dan gotong royong (Bageur), integritas dan kedisiplinan tinggi (Bener), keunggulan literasi dan wawasan kebangsaan (Pinter), serta kreativitas dan adaptivitas terhadap perubahan (Singer).

Capaian Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA 2025 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan tonggak penguat semangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Lebih dari sekadar penghargaan, keberhasilan ini tercermin dari perubahan nyata pada diri peserta didik yang semakin berkarakter dan berdaya saing.

Akhir kata, Succes Story ESDEJIWA adalah kisah tentang kepemimpinan yang menggerakkan, kolaborasi yang menguatkan, dan komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Semoga praktik baik ini dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain dalam mengimplementasikan pendidikan karakter secara sistematis dan berkelanjutan.***

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025 Read More »

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN

Ina Indriyani

Ina Indriyani, S.Pd., Gr. lahir di Ciamis pada 3 Maret 1987. Ia adalah seorang pendidik yang saat ini mengabdikan diri sebagai pengajar di SMKN 1 Banjar. Dunia pendidikan bukan sekadar profesi baginya, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan nilai, tempat ia berinteraksi langsung dengan realitas generasi muda beserta tantangan zamannya. Selain berkiprah sebagai guru, Ina Indriyani aktif menulis dan dikenal sebagai pemerhati dunia pendidikan, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, adab, serta relasi humanis antara pendidik dan peserta didik. Pengalamannya di lapangan memberinya perspektif kritis namun empatik terhadap berbagai kebijakan dan praktik pendidikan yang berlangsung di daerah.Ia juga menaruh perhatian mendalam pada psikologi perempuan, terutama dalam konteks peran perempuan sebagai pendidik, ibu, dan agen perubahan sosial. Melalui tulisan-tulisannya, Ina kerap mengangkat persoalan ketahanan mental, luka batin, kelelahan emosional, serta perjuangan perempuan dalam ruang domestik dan publik, dengan pendekatan reflektif dan edukatif. Bagi Ina Indriyani, menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan moral. Tulisan-tulisannya tidak hanya bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi, harapan, dan ajakan untuk berpikir lebih jernih dan manusiawi. Ia meyakini bahwa pendidikan yang baik hanya dapat lahir dari keberanian untuk merefleksi, kejujuran dalam mengakui kekurangan, dan komitmen bersama untuk terus belajar. Melalui aktivitas mengajar dan menulis, Ina berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan peradaban, khususnya di lingkungan pendidikan dan masyarakat lokal Kota Banjar.


Pendidikan selalu menjadi jantung peradaban, dari ruang-ruang kelas sederhana hingga kebijakan strategis pemerintah daerah, masa depan suatu kota ditentukan oleh bagaimana pendidikan direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi. Kota Banjar, sebagai daerah otonom yang terus bertumbuh, tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab besar ini. Dunia pendidikan di Kota Banjar hari ini berada pada persimpangan penting: antara upaya perbaikan yang patut diapresiasi dan berbagai tantangan yang menuntut perhatian serius.

Opini publik ini disampaikan bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian intelektual dan sosial terhadap masa depan pendidikan di Kota Banjar. Kritik, saran, dan apresiasi perlu ditempatkan secara proporsional agar menjadi energi perubahan, bukan sekadar keluhan tanpa arah.

Apresiasi atas Komitmen dan Kerja Nyata Pendidikan

Harus diakui bahwa pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Banjar telah menunjukkan komitmen dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Sekolah-sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan, para guru terus mengajar dengan dedikasi, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan mulai digulirkan, meskipun hasilnya belum sepenuhnya merata.

Perhatian terhadap pendidikan vokasi, khususnya di tingkat SMK, patut diapresiasi. Upaya menyiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki keterampilan praktis merupakan langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, kehadiran berbagai pelatihan guru, penguatan kurikulum, serta adaptasi terhadap kebijakan pendidikan nasional menunjukkan bahwa Kota Banjar tidak menutup diri terhadap perubahan.

Yang tidak kalah penting, nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan etika sosial masih menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap menggerus karakter, sekolah-sekolah di Banjar masih berupaya menjaga keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan akhlak peserta didik. Ini adalah modal besar yang tidak boleh diabaikan.

Kritik terhadap Persoalan Struktural dan Kultural

Namun, di balik berbagai ikhtiar tersebut, dunia pendidikan di Kota Banjar masih menghadapi persoalan mendasar yang tidak bisa ditutup-tutupi. Salah satunya adalah kesenjangan antara idealisme kebijakan dan realitas di lapangan. Banyak program pendidikan yang dirancang dengan baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata guru dan peserta didik.

Beban administratif guru yang berlebihan masih menjadi keluhan klasik. Guru sering kali lebih sibuk mengurus laporan, dokumen, dan aplikasi daripada fokus pada esensi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik dan mental, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas interaksi edukatif di kelas. Pendidikan yang sehat seharusnya memerdekakan guru untuk mengajar, bukan membelenggu mereka dengan birokrasi yang rumit.

Selain itu, tantangan karakter peserta didik semakin kompleks. Disrupsi teknologi, pengaruh media sosial, dan perubahan pola asuh keluarga berdampak langsung pada sikap, etika, dan motivasi belajar siswa. Sayangnya, pendekatan pendidikan karakter sering kali masih bersifat normatif dan seremonial, belum menyentuh akar persoalan secara mendalam.

Ketimpangan fasilitas dan kualitas pendidikan antar sekolah juga perlu mendapat perhatian. Masih terdapat sekolah yang berjuang dengan keterbatasan sarana, akses teknologi, dan dukungan lingkungan. Jika tidak ditangani dengan kebijakan yang adil dan afirmatif, kesenjangan ini berpotensi melahirkan ketidakadilan pendidikan yang berkepanjangan.

Saran untuk Penguatan Pendidikan yang Humanis dan Kontekstual

Ke depan, pendidikan di Kota Banjar perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih humanis, kontekstual, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, dan kelulusan, tetapi harus menempatkan peserta didik sebagai manusia utuh dengan kebutuhan intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Pertama, perlu adanya keberanian untuk menyederhanakan beban administratif guru. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaporan dan penilaian harus dilakukan dengan melibatkan suara guru sebagai pelaksana utama pendidikan. Guru yang dihargai dan dimanusiakan akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus dilakukan secara nyata dan kontekstual. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Program literasi, penguatan adab, kesehatan mental siswa, serta pendampingan psikososial perlu dirancang secara sistematis, bukan insidental.

Ketiga, pendidikan vokasi di Kota Banjar perlu diperkuat dengan kemitraan yang lebih konkret dengan dunia usaha dan dunia industri. Link and match tidak cukup berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran, magang bermutu, dan penyerapan lulusan secara nyata. Tanpa itu, SMK berisiko hanya menjadi pabrik ijazah tanpa daya saing.

Keempat, pemerintah daerah perlu lebih progresif dalam memastikan pemerataan fasilitas pendidikan. Akses teknologi, ruang belajar yang layak, serta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar peserta didik.

Apresiasi dan Harapan bagi Para Pendidik

Di tengah berbagai keterbatasan, para pendidik di Kota Banjar layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, melampaui tugas formal, dan menjadi figur teladan bagi siswanya. Dedikasi ini sering kali luput dari sorotan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan generasi muda.

Namun, apresiasi tidak cukup hanya dengan pujian moral. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan, pengembangan profesional, dan kesehatan mental guru. Guru yang sejahtera dan dihargai akan lebih mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Penutup: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Pendidikan di Kota Banjar tidak boleh berjalan apa adanya. Ia harus terus dikritisi, diperbaiki, dan diperkuat. Kritik yang disampaikan dengan niat baik adalah bentuk cinta terhadap dunia pendidikan. Saran yang lahir dari refleksi adalah kontribusi nyata bagi perbaikan bersama.

Masa depan Kota Banjar sangat ditentukan oleh bagaimana hari ini kita memperlakukan pendidikan. Apakah kita menjadikannya sekadar kewajiban administratif, atau benar-benar menempatkannya sebagai investasi peradaban. Jawaban atas pertanyaan itu akan tercermin pada wajah generasi Banjar di masa depan: apakah mereka tumbuh sebagai manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya, atau sebaliknya.

Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Dan Kota Banjar memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan peradaban besar, jika pendidikan dikelola dengan hati, visi, dan keberanian untuk berubah.***

 

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN Read More »

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH

Shannya Meisaskitha, lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 9 Mei 2007, adalah mahasiswa S1 Fakultas Hukum, Program Studi Hukum, Universitas Bangka Belitung. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan kuat pada dunia kreatif dan literasi, yang berkembang menjadi kegemaran menulis cerpen, membaca buku, dan menggambar. Dalam bidang cerpen, Shannya kerap meraih penghargaan hingga ke tingkat nasional, yang mendorongnya terus mengasah kemampuan bercerita. Baginya, menulis adalah cara untuk merekam pengalaman dan dinamika kehidupan, sementara membaca memperkaya sudut pandangnya. Menggambar menjadi pelarian tenang dan bentuk pemulihan diri ketika beban akademik mulai menumpuk. Menempuh studi hukum, Shannya bercita-cita berkontribusi dalam memperjuangkan apa yang adil bagi banyak orang, terutama mereka yang suaranya sering tidak terdengar. Melalui karya dan perjalanan belajarnya, ia berharap dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.


Ada ironi yang pelan-pelan berdenyut di negeri yang selalu memanggil dirinya bangsa yang beradab. Seperti yang kita tahu, kita tumbuh dalam budaya yang mencintai sopan santun secara seremonial, namun rupanya diam-diam membiarkan kekerasan bersembunyi di balik candaan yang dipaksakan, hierarki yang diagungkan, juga pergaulan yang mengukur harga diri dari seberapa kuat seseorang menahan luka. Perundungan jarang datang dengan suara keras. Ia kerap merayap dalam bentuk-bentuk yang tak dianggap jahat seperti gurauan yang menusuk, tatapan yang merendahkan, bahkan pengucilan yang dibungkus dengan alasan klasik seperti “kedewasaan”.

Tragedi yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, adalah cermin yang pecah tepat di hadapan kita. Pecahannya seperti memaksa kita untuk melihat wajah asli sebuah kenyataan yang selama ini kita biarkan suram. Menurut laporan berbagai media nasional, sebelum kematiannya, Timothy diduga mengalami serangkaian penghinaan dan tekanan sosial yang meninggalkan jejak digital. Gelombang kemarahan publik yang muncul kemudian bukan hanya reaksi emosional, tetapi sebuah pengakuan bahwa kita terlambat, berkali-kali terlambat, memahami bahwa bullying bukan sekadar salah langkah pergaulan, melainkan kekerasan yang mampu menghapus sebuah hidup seseorang.

Padahal, hukum telah lama berusaha berbicara. Aturan yang kita miliki bukanlah sekadar teks tanpa jiwa. Ia memuat perlindungan yang, bila kita mau, bisa menjadi pagar tempat manusia berlindung.

Pasal 27 ayat (3) UU ITE menyatakan dengan tegas, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik.”

Meski demikian, hukum kerap hadir ketika semuanya telah kehilangan detak. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh ingin mencegah, atau kita hanya bergerak ketika tragedi menjadi sorotan utama?

Perundungan tumbuh dari tanah sosial yang terlalu lama dibiarkan tandus. Ia disiram oleh budaya yang abai, dibesarkan oleh institusi yang lebih takut pada rusaknya citra ketimbang rusaknya nyawa, dan dijaga oleh kebiasaan yang menertawakan luka orang lain. Saya pernah melihat teman terjerat dalam cemoohan, lukanya tak berbekas di wajah, tetapi menetap di relung hatinya seperti bayangan yang enggan pergi. Kita hidup dalam masyarakat yang menyepelekan kekuatan kata-kata, seolah ucapan yang menusuk tidak mampu menimbulkan memar. Padahal, ada kata-kata yang bekerja seperti duri kecil, tidak tampak, tetapi terus menembus ke dalam

Tanpa perubahan budaya, hukum akan terus menjadi teks yang tak berjiwa. Kita membutuhkan keberanian yang tidak lagi diam di tengah kekerasan yang disamarkan sebagai keakraban. Kita membutuhkan empati yang tidak perlu menunggu duka untuk mengetuk kesadaran. Kita membutuhkan ruang sosial yang tidak lagi memperbolehkan luka-luka seperti ini menyelinap tanpa suara.

Kasus Timothy seharusnya menjadi titik balik. Ia mengingatkan kita bahwa perundungan bukanlah sebuah tradisi, bukanlah bahan candaan, bukanlah bagian dari proses pendewasaan. Ia adalah kekerasan yang merampas masa depan seseorang. Jika tragedi ini tidak menggugah nurani, maka kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah bangsa gagal melindungi anaknya sendiri.

Pada akhirnya, melawan budaya bullying bukan hanya tentang menuntut pelaku atau mencari siapa yang salah. Ini tentang keberanian menantang sesuatu yang lebih besar. Cara hidup yang selama ini membuat kita merasa wajar untuk membiarkan seseorang hancur perlahan. Ada kepedihan yang kita pura-pura tidak dengar, ada tangis yang tenggelam di antara tawa yang dipaksakan, dan ada manusia yang kehilangan dirinya, bukan karena satu pukulan, tapi karena seribu kata yang tidak dianggap serius.

Kita terlalu sering meminta korban untuk “sabar”, “dewasa”, atau bahkan “mengerti situasi”, seolah luka batin tidak lebih dari goresan kecil yang bisa hilang dengan waktu. Padahal, ada orang-orang yang bertahan sambil menggenggam hati yang sudah remuk, berharap ada satu saja suara yang berpihak pada mereka. Namun sering kali, yang mereka temukan hanyalah sunyi. Dan sunyi itulah yang membunuh paling pelan.

Institusi yang mestinya menjadi pelindung justru sibuk menjaga nama baik. Teman sebaya yang harusnya menjadi sandaran malah ikut menertawakan. Dan kita, masyarakat yang bangga disebut “ramah”, sering hanya bergerak ketika seseorang sudah terlanjur tiada. Luka Timothy adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kita tidak hanya terlambat, tetapi juga lalai. Kita membiarkan seorang anak bangsa berperang sendirian di medan yang tidak seharusnya ia hadapi.

Kalau tragedi seperti ini masih tidak menggugah kita, maka ada sesuatu yang sedang mati dalam diri kita sebagai bangsa. Rasa peka, rasa peduli, rasa manusiawi. Kita tidak butuh lagi semboyan tentang keramahan. Kita butuh keberanian untuk menghentikan kekerasan yang dibungkus sebagai candaan, keakraban, atau “proses pendewasaan.”

Perubahan tidak boleh lagi sekadar wacana. Tidak boleh menunggu korban berikutnya untuk jatuh. Yang kita perlukan kini bukan hanya sekadar penegakan pasal, tetapi penegakan nurani. Sebab bangsa yang sungguh beradab tidak diukur dari seberapa tebal buku hukumnya, melainkan dari seberapa tulus ia menjaga mereka yang paling rentan agar tidak jatuh dalam senyap.***

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH Read More »

PENINGKATAN KAPASITAS PEGIAT LITERASI MASYARAKAT KOTA BANJAR MELALUI LOKAKARYA PENULISAN KREATIF

Gerakan literasi tentu saja bukanlah sekadar jargon, namun telah menjadi suatu hal fundamental, kecakapan hidup yang sangat diperlukan untuk meraih kemajuan. Tidaklah heran jika para ahli pendidikan mengingatkan kita betapa literasi memiliki urgensi dalam kehidupan. Namun begitu, disadari bahwa gerakan literasi belum begitu menggembirakan sehingga karenanya perlu terus didorong bersama secara kolaboratif.

Gerakan literasi di Kota Banjar Jawa Barat terus menggeliat dan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Banjar berada di “papan bawah” dan pada tahun 2024 mengalami kenaikan signifikan menjadi berada di “papan atas”.

Meskipun belum berada pada kondisi paling ideal, namun capaian positif ini tentunya merupakan buah dari sinergitas dan kolaborasi para pihak untuk terus memperkuat atmosfir yang mendukung gerakan literasi secara berkelanjutan.

Meskipun tidak bersifat baku dan mutlak, IPLM dapat menjadi gambaran umum bahwa gerakan literasi seringkali mengalami fluktuasi. Pasang-surut semangat gerakan literasi tentunya akan sangat tergantung pada berbagai aspek, baik dari sisi kebijakan, kondisi budaya baca masyarakat, maupun hal-hal lainnya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Karenanya, kunci utama untuk menjaga soliditas gerakan literasi terletak pada sinergitas dan kolaborasi para pihak untuk secara sadar dan terus menerus melakukan penguatan gerakan literasi secara terintegrasi.

Bantuan Pemerintah Bidang Sastra dan Kebahasaan melalui Fasilitasi dan Pembinaan komunitas Masyarakat melalui kegiatan “Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat Kota Banjar Melalui Lokakarya Penulisan Kreatif” diharapkan menjadi media sinergi dan kolaborasi yang mampu menguatkan gerakan literasi di ranah masyarakat. Hal ini secara skematis dapat divisualisasikan pada bagan berikut. Pemerintah melalui Kemendikdasmen dan struktur di bawahnya (Balai Bahasa, Kemendikbud Kabupaten/Kota), Gerakan Literasi Sekolah, berkolaborasi dengan kekuatan Komunitas Literasi Masyarakat, baik itu Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), Komunitas Literasi Kampus, para Pegiat Literasi Masyarakat lainnya seperti Pustakawan di tingkat desa/kelurahan serta Komunitas Literasi Pesantren.

 

Tema utama program yang digagas adalah “Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat Kota Banjar Melalui Lokakarya Penulisan Kreatif”. Tema ini dijabarkan dalam tiga kegiatan utama. yaitu: (1) Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Kota Banjar melalui Lokakarya Penulisan Kreatif, (2) Penulisan dan Penerbitan Buku Antologi Pegiat Literasi Kota Banjar (Versi e-Book), (3) Seminar Publik Penguatan Literasi Masyarakat dan Peluncuran e-Book Antologi Pegiat Literasi.

Secara skematik, hasil dan dampak program Banpem Komunitas Literasi melalui kegiatan “Peningkatan Kapasitas Literasi Masyarakat di Kota Banjar Jawa Barat” ini dapat divisualisasikan dalam diagram berikut:

Secara garis besar tujuan dan manfaat kegiatan yang akan dijalankan adalah sebagai berikut.

  1. Tujuan utama kegiatan
  • Meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya literasi sebagai salah satu modal utama dalam pembangunan.
  • Meningkatkan kapasitas para pegiat literasi masyarakat sehingga memiliki kemampuan dalam menulis cerita kreatif sebagai salah satu modal dalam kegiatan literasi.
  1. Manfaat kegiatan yang akan dijalankan
  • Terbangunnya sinergi dan kebersamaan dalam mendorong gerakan literasi dengan beragam kegiatannya secara berkelanjutan.
  • Meningkatnya kapasitas, kapabelitas, serta wawasan keilmuan para pegiat literasi, terutama dalam penulisan buku sehingga dengan begitu para pegiat literasi diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam gerakan literasi secara simultan.

***

 Previous Program:

 

PENINGKATAN KAPASITAS PEGIAT LITERASI MASYARAKAT KOTA BANJAR MELALUI LOKAKARYA PENULISAN KREATIF Read More »

Buku Cerita Rakyat Kota Banjar Dapat Respons Positif, Penulisnya Anak Anak Muda

BANJAR, RADARTASIK.ID – Buku Cerita Rakyat Kota Banjar yang ditulis kawula muda mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Buku itu sendiri diluncurkan akhir bulan lalu.

Respons positif itu terlihat dari banyaknya kunjungan pustaka ke RBK (Ruang Baca Komunitas) dari beberapa sekolah. Seperti yang dilakukan siswa MTs Negeri 3 Banjar.

Buku Cerita Rakyat Kota Banjar ini diklaim menjadi salah satu favorit yang diburu para pemustaka untuk dibaca di RBK. Bukunya sendiri tidak diperjualbelikan.

Pendiri RBK Sofian Munawar mengatakan, setelah peluncuran buku hampir setiap hari ada yang menanyakan dan ingin memesannya.

“Untuk tahap awal, buku ini dicetak secara terbatas, dan dibagikan secara gratis (tidak diperjualbelikan),” ucapnya, Minggu 13 Oktober 2024.

Selain diberikan kepada para penulisnya, juga para pihak lainnya yakni untuk perpustakaan sekolah, perpustakaan desa/kelurahan dan pihak lainnya.

“Alhamdulillah atensinya cukup luar biasa, tapi maaf karena ada keterbatasan. Bagi yang membutuhkan silakan bisa mengunduh buku secara gratis pada laman yang sudah disediakan di website RBK,” jelasnya.

Saat kunjungan pustaka dari MTs Negeri 3 Banjar, sejumlah siswa asyik dengan membolak-balik dan mencerna buku Cerita Rakyat Kota Banjar.

“Saya kira buku ini sangat menarik, terutama bagi para siswa. Karena buku penting menjadi rujukan para guru terutama guru bahasa maupun sejarah,” ucap guru MTsN 3 Banjar, Tati Sutiati.

Kata dia, buku tersebut bisa jadi rujukan bagi para guru Bahasa Indonesia dan Sunda. Bahkan guru Sejarah dalam menambah wawasan. (Anto Sugiarto).

Link Terkait:

  • RadSik Online:

https://radartasik.id/2024/10/13/buku-cerita-rakyat-kota-banjar-dapat-respons-positif-penulisnya-anak-anak-muda/

  • Testimoni Siswa:
  • Kontributor Penulis:

Buku Cerita Rakyat Kota Banjar Dapat Respons Positif, Penulisnya Anak Anak Muda Read More »

SASTRA DAN KEMAJUAN BANGSA

SASTRA DAN KEMAJUAN BANGSA

Sofian Munawar [1]

 

“Mendorong sastra dan seni adalah kewajiban setiap warga negara yang baik kepada negaranya.” – George Washington

 

Membincang ulang sastra, saya selalu teringat Rachmat Djoko Pradopo, salah satu dosen idola saya di Fakultas Sastra UGM. Dalam banyak kesempatan perkuliahan, khususnya mata kuliah “teori sastra” yang diampunya, beliau seringkali menyitir ucapan Horace atau nama panjangnya Quintus Horatius Flaccus dalam bukunya Ars Poetica bahwa sastra yang baik harus memuat dulce et utile.

Dulce et utile merupakan istilah yang digunakan Horace untuk menyebut bahwa karya sastra mesti menampilkan keindahan (dulce) sekaligus memberikan makna atau kebermanfaatan bagi kehidupan (utile). Meski banyak juga yang berpendapat bahwa “dulce et utile” bukan saja sebagai syarat bagi sebuah karya sastra, melainkan juga untuk semua disiplin keilmuan.

Namun point yang ingin saya tekankan di sini adalah persepsi dominan yang saat ini masih terkesan di masyarakat bahwa sastra dipahami sebatas hobi atau kesenangan. Sastra hanya identik dengan puisi, cerpen, novel atau karya-karya fiksi lain sebagai media hiburan semata.  Padahal, perjalanan sejarah telah menunjukkan pada kita bahwa sastra juga lekat kaitannya dengan perjuangan bangsa.

Benar bahwa sastra telah dijadikan media sebagian orang yang memiliki hobi dan panggilan jiwa menjadi seorang penulis. Konsistensi mereka yang memilih panggilan hidup di jalur ini tak sedikit meraih predikat sebagai sastrawan, penyair, atau bahkan budayawan. Namun lebih dari itu, butuh suatu kesadaran atau mungkin penyadaran bahwa dalam perjalanan sejarah kebangsaan, sastra telah menunjukkan peranannya sebagai arena perjuangan. Dari sejarah kita memahami, betapa sastra berperan sangat penting dalam membangun peradaban. Sastra bahkan dapat menjadi media untuk memupuk, membentuk, dan mewariskan jati diri sekaligus menjadi cermin yang merefleksikan tingkat peradaban suatu bangsa.

 

Berkaca pada Perjuangan Bangsa

Adalah Muhammad Yamin, salah seorang begawan sastra yang secara konsisten mendedikasikan hidupnya, memperjuangkan kemerdekaan bangsa melalui “jalur sastra”. Yamin dikenal sebagai penggagas utama penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan dan bahasa persatuan. Dari tangannyalah konsep Sumpah Pemuda dan juga konsep awal Pancasila mengemuka hingga kini keduanya menjadi pedoman utama kita dalam berbangsa-bernegara.

Kalau kita komparasikan dengan pengalaman di sejumlah negara, kita pun akan menyaksikan hal serupa. Sejarah mencatat, misalnya Rabrinndarath Tagore di India, Muhammad Iqbal di Pakistan, Jose Rizal di Philipina, termasuk beberapa sastrawan Amerika latin yang memiliki kiprah luar biasa dalam perjuangan bangsanya. Tak heran jika George Washington mengatakan bahwa “Mendorong sastra dan seni adalah kewajiban setiap warga negara yang baik kepada negaranya.”

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia pun kita melihat betapa sastrawan dan karya-karyanya telah menjadi inspirasi, mengisi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal maupun nilai-nilai keindonesiaan. Dari Amir Hamzah, Abdoel Moeis, Muhammad Yamin, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Buya Hamka, Putu Wijaya, WS. Rendra, dan para Sastrawan terkemuka lainnya kita dapat menggali inspirasi dan semangat kebangsaan melalui karya-karyanya yang luar biasa.

 

Ikhtiar Kecil: Antologi Puisi Kebangsaan

Buku Antologi Puisi Kebangsaan yang kami luncurkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-95, Sabtu 28 Oktober 2023 merupakan rangkaian tak terpisahkan dari program “Penguatan Komunitas Sastra” Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK). Kegiatan ini didukung penuh oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

Program Penguatan Komunitas Sastra yang kami gulirkan didasarkan pada asumsi dasar bahwa selain menjadi identitas bangsa, sastra dan kebahasaan merupakan salah satu kebutuhan tidak terpisahkan dari kemajuan sebuah bangsa. Karenanya, apresiasi sastra dan kebahasaan harus menjadi keinsafan semua pihak untuk turut menjaga dan mengembangkannya dalam beragam bentuknya, menjadi bagian tak terpisahkan dari literasi peradaban sebagai kunci kemajuan.

Ada empat rangkaian kegiatan yang kemudian kami agendakan, di mana antara satu sama lainnya saling menguatkan. Pertama, lomba cipta puisi untuk para guru. Kedua, lomba baca puisi untuk  para pelajar. Ketiga, pagelaran sastra dan apresiasi puisi hasil lomba cipta dan baca puisi. Keempat, penerbitan dan peluncuran buku antologi puisi yang berasal dari para pesera maupun juri lomba baca dan cipta puisi.  Keempat agenda kegiatan tersebut   dapat divisualisasiakn dalam bagan berikut.

Mencipta puisi adalah seni mengungkapkan perasaan dan gagasan melalui media kata dan kepekaan bahasa. Lomba puisi untuk guru bertujuan untuk mewadahi gagasan, ide, imajinasi, serta kreativitas para guru melalui penulisan puisi. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan dan pengembangan apresiasi sastra, memupuk kepekaan berbahasa serta memacu semangat dan merangsang kreativitas para guru untuk berkarya.

Adapun tematiknya disesuaikan dengan konteks Bulan Bahasa dan pengkhidmatan Hari Sumpah Pemuda sehingga tema seluruh segmen kegiatan diorientasikan pada tematik “Semangat Kebangsaan” di mana momentum Sumpah Pemuda menjadi salah satu elan vitalnya. Karena itu, penerbitan dan peluncuran buku “Antologi Puisi Kebangsaan” dipilih menjadi tema sentral sebagai bentuk pengkhidmatan Bulan Bahasa dan semangat Sumpah Pemuda. Ikhtiar kecil ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya kita dalam memupuk semangat dan nilai-nilai kebangsaan dengan menjadikan bahasa dan sastra sebagai salah satu modal utamanya.

 

Banjar, 28 Oktober 2023

[1] Sofian Munawar, Pendiri Yayasan Ruang Baca Komunitas, penanggung jawab program Penguatan Komunitas Sastra YRBK yang didukung penuh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek RI, 2023.

SASTRA DAN KEMAJUAN BANGSA Read More »

Scroll to Top