Kota Banjar

Dinar Nur Fadilah   Mahasiswa IMA Kota Banjar Duta Baca Kota Banjar

MEMBACA KOTA BANJAR: DI BALIK DERETAN TROFI DAN PR YANG BELUM KUNJUNG USAI

Dinar Nur Fadilah  Mahasiswa IMA Kota Banjar
Duta Baca Kota Banjar
Dinar Nur Fadilah  
Mahasiswa IMA Kota Banjar
Duta Baca Kota Banjar

Membaca adalah gerbang utama pengetahuan. Membaca tidak terbatas pada tulisan, teks atau buku. Hal ini dipertegas dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan yaitu iqra, bacalah! M. Quraish Shihab dalam tafsirnya tidak menjelaskan objek apa yang dibaca, sehingga kata “baca” ini memiliki makna yang umum, yang artinya perintah membaca mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia, baik itu teks tertulis (ayat qauliyah) maupun fenomena alam semesta dan realitas sosial (ayat kauniyah). Dengan demikian membaca berarti sesuatu yang dapat kita analisa dan pahami untuk mendapatkan pengetahuan darinya.

Apresiasi terhadap Trofi Penghargaan Kota Banjar yang Membanggakan

Dewasa ini selain suka membaca berita juga mulai dihadapkan pada realita. Satu sisi bangga dan terharu melihat Kota Banjar bersinar dengan meraih peringkat terbaik l Pinunjul Award untuk kategori Kota/Kabupaten Non-Indeks Harga Konsumen (Non-IHK) tingkat Provinsi Jawa Barat 2025. Penghargaan ini merupakan kolaborasi banyak pihak terkait, khususnya apresiasi terhadap kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) atas keberhasilannya dalam pengendalian inflasi dan stabilitas ekonomi. Sehingga harga bahan pokok tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pemerintah Kota Banjar juga kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) ke-16 berturut-turut dari BPK RI, menegaskan komitmennya pada pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan sesuai prinsip akuntansi pemerintah, menjadikannya salah satu daerah dengan rekor tertinggi di Jawa Barat untuk akuntabilitas keuangan daerah. Yang tak kalah membanggakan, Kota Banjar kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan menerima Penghargaan Perlindungan Konsumen untuk kategori Daerah Tertib Ukur Tahun 2025. Penghargaan ini menegaskan komitmen Kota Banjar dalam melindungi hak konsumen, khususnya dalam hal keakuratan barang yang diperdagangkan.

Selain prestasi di bidang ekonomi dan tata kelola pemerintahan, sederet prestasi juga diraih dalam bidang kesehatan dan sosial masyarakat. Prestasi tersebut dibuktikan dengan penerimaan Penghargaan Swasti Saba Padapa 2025 Tingkat Nasional. Ini adalah penghargaan bagi Kabupaten/Kota Sehat (KKS) yang dinilai aman, nyaman, sehat, dan bersih bagi warganya. Lantas Kota Banjar meraih Juara 1 dalam Program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) kategori Kota. Program ini fokus pada pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga di desa/kelurahan binaan. Ini membuka kacamata masyarakat bahwa wanita juga harus berdaya, berkarya, dan berjaya.

Sungguh tak disangka, kota kecil ini terus berproses dan bertumbuh di kancah regional bahkan nasional. Kota Banjar juga tercatat mendapatkan penghargaan di bidang kewilayahan dan kebudayaan, antara lain Anugerah Gapura Sri Baduga 2025 tingkat Jawa Barat yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik yang terintegrasi. Selanjutnya Kecamatan Purwaharja di Kota Banjar pun berhasil meraih Kinerja Tertinggi ke-1 dalam Penilaian Sinergitas Kinerja Kecamatan Tingkat Provinsi Jawa Barat, membuktikan bahwa kinerja pelayanan publik berjalan baik hingga ke level kecamatan. Tentu penghargaan-penghargaan tersebut bukan hanya sebagai simbolis semata, tapi hal ini menunjukkan komitmen nyata pemangku kebijakan dan warganya dalam mewujudkan Kota Banjar yang semakin maju. Namun, di sisi lain juga terdapat Pekerjaan Rumah (PR) yang belum kunjung usai.

Kritik Tajam pada PR yang Belum Kunjung Usai

Tahukah kamu, Banjar Water Park (BWP)? BWP adalah isu klasik yang tak kunjung tuntas. Aset bernilai miliaran rupiah ini dalam kondisi “mati suri” dan mengalami kerusakan aset yang parah. BWP telah tutup sejak Mei 2019, dan sekitar 80 persen asetnya dilaporkan rusak atau hilang. Sempat senang sebetulnya melihat dibangunnya proyek wahana baru “The Mummy”, namun proyek itu kini mangkrak selama lebih dari dua tahun. Ini menjadi sebuah pertanyaan, mau dibawa kemanakah nasib BWP? Apakah akan dilikuidasi? Atau direvitalisasi? Semakin lambat pengambilan keputusan, maka akan semakin membuat aset daerah terus menyusut nilainya.

Beberapa waktu ke belakang, ramai juga terkait dampak Bendungan Leuwikeris. Meski Bendungan Leuwikeris adalah Proyek Strategis Nasional, proses impounding (pengisian air) pada 2024-2025 berdampak pada debit Sungai Citanduy. Perumdam Tirta Anom (PDAM) juga sempat mengalami gangguan suplai air baku karena debit sungai turun drastis. Pemkot Banjar seharusnya punya contingency plan (rencana cadangan) yang lebih kuat, seperti pembuatan sumur dalam di titik intake, agar ketergantungan pada debit permukaan Citanduy tidak menyengsarakan warga saat musim kemarau atau pemeliharaan bendungan.

Beralih dari itu, lagi-lagi soal Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Banjar. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Banjar (Agustus 2023/2024), TPT Kota Banjar berada di kisaran 5-6%. Meski trennya fluktuatif, angka ini perlu ditekan. Apakah sudah sesuai dengan kebutuhan industri lokal? Mengingat Banjar adalah kota transit, sektor apa yang sebenarnya menyerap tenaga kerja? Realitasnya, mencari kerja di Banjar masih seperti mencari jarum dalam jerami. Kita punya banyak sarjana, tapi minim industri penyerap. Jangan sampai Banjar hanya menjadi “pabrik” pengangguran terdidik, atau sekadar kota pensiunan yang nyaman untuk hari tua tapi “kering” bagi anak muda yang haus karya.

Hal senada pun terpantau ramai diperbincangkan netizen pada sebuah konten video yang menampilkan ungkapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bahwa Kota Banjar adalah Kota Ripuh di laman media sosial harapanrakyat.com. Netizen ramai-ramai mengiyakan ungkapan tersebut dengan berbagai realita, salah satunya seperti banyaknya orang-orang asli Kota Banjar justru merantau ke luar kota dengan alasan kecilnya UMR dan sulitnya lapangan pekerjaan.

Polemik juga muncul di bidang lingkungan. Ketika Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kamisama di Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat, yang melibatkan Pemerintah Kota (Pemkot) dan pengelola (PT Top Tekno Indo/Hejotekno) mengalami penumpukan sampah, target konsumen tidak tercapai, dan saling tuding dalam perjanjian kerja sama. Hal ini menyebabkan potensi pemutusan kontrak dan masalah kesehatan warga, dengan warga sekitar (Forum Ketua RT) mendesak penyelesaian masalah tersebut.

Dalam tulisan yang penuh dengan kekurangan ini, sama sekali tidak ingin menyudutkan salah satu pihak. Tulisan ini juga bukan nyinyiran, melainkan surat cinta dari seorang anak muda yang tidak ingin melihat kotanya jalan di tempat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Mari duduk, diskusi  dan berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk membangun Kota Banjar berdaya! Jangan tutup mata, jangan tutup telinga, mari sama-sama berperan pada suatu hal yang bisa kita lakukan. Kalo kata BJ.Habibie, “Berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan.” Mulai kokoh dari lingkup terkecil yaitu menjadi pribadi yang baik, keluarga yang memberikan rasa aman, menjadi masyarakat yang berpartisipasi aktif, dan abdi negara yang amanah. Tangkap setiap tanda-tanda di sekitar kita. Jadikan yang belum baik menjadi baik, yang sudah baik semakin baik. Salam Kolaborasi!

***

Doni Rayhan Nugraha

PARTISIPASI KAWULA MUDA TINGKATKAN LITERASI KESEHATAN DI MEDIA SOSIAL

Doni Rayhan Nugraha

Doni Rayhan Nugraha, siswa aktif di SMK Negeri 2 Banjar. Puji dan syukur atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya sebagai anggota Team Literasi SMK Negeri 2 Banjar. Saya sangat tertarik membahas topik literasi kesehatan, khususnya di kalangan pelajar. Suatu kehormatan bagi saya dapat menyuarakan topik krusial ini, karena kita sebagai anak muda memiliki peranan penting dalam mencapai visi bersama, Indonesia Emas 2045. Selain itu, saya juga tertarik dengan pembahasan SDGs yang berfokus pada poin ke-tiga yakni menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi siapapun. Karena sejatinya, kita sebagai manusia memiliki hak untuk mendapatkan layanan serta akses kesehatan yang memadai. Dengan tulisan ini, peran saya sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan dapat menjadi bukti bahwa anak muda memiliki peranan penting dalam bidang kesehatan.


Pendahuluan

Jangan jadi anak muda yang enjoy aja di waktu muda, tapi lemah ekonomi dan rusak kesehatan karena kebiasaan buruk”, ujar Mario Teguh, Konsultan Motivasi Indonesia.

Berdasarkan World Health Organization (2011) dalam Strategic directions for improving Adolescent Health in South-East Asia Region menyatakan bahwa perkiraan dua pertiga kematian dini dan sepertiga total beban penyakit yang dialami oleh orang dewasa adalah akibat perilaku buruk yang dilakukannya ketika berada di fase muda.

Masa muda, masa yang berapi-api”, penggalan lirik dari lagu sang maestro dangdut Indonesia, Rhoma Irama. Menyadarkan kita bahwa masa muda tidak hanya diisi dengan kisah cinta dan serunya game mobile. Akan tetapi, jika kita mengingat Indonesia saat ini dimana akses pendidikan dapat dijangkau dan terbebas dari penjajahan adalah berkat pahlawan saat muda yang memiliki semangat serta ambisi untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Masa muda adalah masa transisi dari fase kanak-kanak menuju fase dewasa, masa dimana kita haus akan pengetahuan dan eksplorasi terkait banyak hal. Akan tetapi, jika tidak dimanfaatkan dengan baik rasa keingintahuan tersebut akan menjadi boomerang bagi kita di masa yang akan datang.

Literasi kesehatan dapat dijadikan sebagai solusi dari permasalahan dimana para pemuda masih enggan untuk memprioritaskan keperluan di bidang kesehatannya. Sangat disayangkan, literasi kesehatan di Indonesia masih cukup rendah dan menjadi tantangan bagi anak muda di masa sekarang. Literasi bukan hanya membaca, literasi juga bukan hanya sebatas melihat secara sepintas flyer terkait kesehatan remaja. Tetapi, literasi jauh lebih dalam daripada itu, literasi kesehatan adalah bagaimana cara pandang kita menganalisis suatu informasi dengan keterampilan kognitif yang mempengaruhi semangat serta ambisi anak muda dalam mengakses, memahami serta mengimplementasikan informasi kesehatan yang diterimanya untuk membuat keputusan yang tepat, guna mengakses layanan kesehatan yang baik dan inklusif.

Literasi kesehatan juga menjadi sorotan global saat ini. Terdapat agenda besar pada tahun 2030, dimana dalam agenda ini terdapat kesepakatan yang telah disetujui bersama dan memegang prinsip No-one left behind. Agenda yang dimaksud adalah Sustainable Development Goals (SGDs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang berlaku dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2030. Yang mana salah satu fokusnya ialah, menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi siapapun. Di tahun 2030 semua negara yang telah menyepakati patut merealisasikan jaminan kesehatan universal atau tanpa adanya beban biaya yang ditanggung oleh pasien sehingga semuanya dapat merasakan layanan kesehatan secara inklusif.

Pembahasan

Sebagai langkah awal upaya peningkatan literasi kesehatan anak muda, anak muda saat ini harus paham terkait hak dan kewajiban sebagai peserta dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Di negara kita sudah terdapat jaminan kesehatan yang menjunjung tinggi nilai inklusif. Dimana semua pasien mendapatkan kesempatan yang sama yakni layanan kesehatan yang memadai.

Permasalahan saat ini adalah kurangnya kesadaran anak muda akan hak dan kewajibannya sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia mencapai 80% di tahun 2025, angka ini menunjukkan bahwa jutaan pengguna internet di Indonesia sudah semakin meningkat. Tapi bagaimana dengan kesadaran masyarakat terkait hak dan kewajibannya?

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah suatu program yang diinisiasikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dalam program ini BPJS Kesehatan sudah membuat sistem digital seperti Mobile JKN, Pandawa dan banyak lainnya dengan harapan peserta dapat mengakses layanan kesehatan yang mudah dan terstruktur. Akan tetapi, karena kurangnya pemahaman serta kepedulian peserta terkait program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum bisa dimanfaatkan secara baik.

Tingginya angka pengguna internet di Indonesia, seharusnya memudahkan peserta untuk menganalisis, memperoleh dan menerapkan informasi terkait program ini. Namun, karena terdapat budaya buruk yang tetap eksis di Indonesia yakni malas membaca khususnya di kalangan anak muda, tentu hal tersebut masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membuat program baru yakni Duta Muda BPJS Kesehatan.

Berbicara terkait peran anak muda, tentu kita dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan. Hadirnya Duta Muda BPJS Kesehatan, yang telah melewati beberapa tahap seleksi dari masing-masing kantor cabang, dapat menjadi perantara atau jembatan antara peserta (masyarakat) dengan BPJS Kesehatan. Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar yang meliputi tiga daerah yakni Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran tahun 2025, memiliki visi sebagai berikut:

Menjadi Duta Muda BPJS Kesehatan sebagai agen perubahan yang berinisiatif dan edukasi digital dalam memperluas pemahaman serta partisipasi anak muda terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Didukung oleh beberapa misi yang akan direalisasikan selama masa jabatan, adapun misinya sebagai berikut,

  1. Meningkatkan literasi digital. Sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan tentu kamimemiliki tanggung jawab dalam meningkatkan literasi digital khususnya dalammemaksimalkan penggunaan hak serta tanggung jawab peserta program JKN.
  2. Mengoptimalkan media sosial. Hadirnya media sosial dapat menjadi media yangtepat untuk menyebarkan informasi terkait program JKN, karena aksesnya yangmudah dan dapat dijangkau oleh setiap kalangan, tanpa adanya batasan.
  3. Membangun kolaborasi dengan beberapa pihak. Dengan bekerja sama dan bertukaride serta pendapat untuk mencapai kebaikan bersama tentu ini akan sangat

Agar dapat merealisasikan misi tersebut, berikut program kerja yang akan direalisasikan oleh Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar tahun 2025.

  1. Konten edukasi #SobatJKN. Tingginya pengguna internet di Indonesia dapatdimaksimalkan jika ditemani dengan edukasi sehingga menjadi wadah yang positifterutama dalam pemahaman terkait kesehatan.
  2. Ngariung Bareng (NgaBar). Program ini ditujukan bukan hanya untuk anak mudasaja, tetapi semua usia dapat dijangkau dengan harapan mereka paham terkait hakbeserta tanggung jawabnya sebagai peserta JKN. Program ini akan dilakukan secara offline atau tatap muka ditemani oleh pihak BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar.
  3. JKN Go To School. Program ini memiliki target anak muda khususnya pelajar. Jika di media sosial sudah ada konten edukasi #SobatJKN. Maka, untuk memahami apa itu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara intens dibuatkan program JKN Go To School dengan harapan akan adanya interaksi aktif antara Duta Muda BPJS Kesehatan dan para pelajar (audiens).

Duta Muda BPJS Kesehatan tidak hanya sekadar nama saja, tetapi dampaknya sudah dirasakan oleh para pengguna internet. Contoh nyata, sebuah video reels yang diunggah dalam akun instagram dengan username @dnryhnngrh menuai banyak komentar positif dari masyarakat setelah menginformasikan terkait pembayaran auto-debit yang sekarang dapat diakses di Mobile JKN.

Perlu diketahui bahwa BPJS Kesehatan dengan Program JKN merupakan instrumen Indonesia menuju Universal Health Coverage atau Cakupan Kesehatan Universal. Untuk mencapainya jelas membutuhkan kontribusi dari beberapa pihak seperti pemerintah dan masyarakat. Selalu ingat bahwa program JKN bersifat gotong royong, “yang sakit dibantu oleh yang sehat”.

Penutup

Anak muda saat ini harus peduli dengan kondisi kesehatannya. Tidak ada salahnya, jika kita sebagai anak muda sudah mulai paham terkait jaminan kesehatan kita, karena permasalahan terkait kesehatan susah untuk ditebak. Tentang bagaimana cara mengantisipasinya, kita perlu jaminan kesehatan yang sudah beregulasi dan menjunjung nilai inklusif agar setiap orang mendapatkan hak yang sama, yakni layanan serta akses kesehatan yang baik.

Sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan kantor cabang Banjar tahun 2025, kami akan terus memberikan edukasi terkait jaminan kesehatan nasional di Indonesia. Kemudian, sesuai dengan tagline Visi Indonesia Emas 2045, kami menetapkan anak muda sebagai fokus kami dalam berjalannya misi tersebut. Namun, tetap memberikan perhatian yang sama dan mendengarkan aspirasi dari semua kalangan.

Mari buktikan bahwa anak muda dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan di Indonesia!

***

DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU

Tatang Mugiyana, S.Pd.
(Kepala UPTD SDN 1 Bank Jabar, Langensari, Kota Banjar)

Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan merupakan kunci utama dalam meningkatkan minat, motivasi, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Pada jenjang Sekolah Dasar, tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah bagaimana menyajikan materi pembelajaran agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan siswa, serta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Pembelajaran yang bersifat abstrak dan verbalistik sering kali membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Dalam konteks pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), materi tentang daerah tempat tinggal dan keadaan alamnya menjadi salah satu materi penting yang perlu dipahami siswa. Materi ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan faktual, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membentuk identitas, rasa cinta terhadap lingkungan, serta kepedulian terhadap budaya lokal. Namun demikian, penyampaian materi tentang letak geografis, batas wilayah, kondisi alam, dan potensi daerah sering kali dilakukan secara konvensional melalui buku teks dan penjelasan lisan, sehingga kurang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Berangkat dari kondisi tersebut, UPTD SDN 1 Bank Jabar Langensari mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran bertajuk “Deskripsi Daerahku melalui Lagu”. Inovasi ini memadukan pembelajaran IPAS dengan seni musik sebagai media utama untuk menyampaikan materi tentang daerah dan keadaan alam Kota Banjar. Kepala sekolah berperan aktif dalam memotivasi dan mendampingi guru kelas IV untuk menggunakan lagu ciptaan sendiri berjudul “Ciciren Banjar” sebagai sarana pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.

Penggunaan lagu sebagai media pembelajaran memiliki kekuatan tersendiri. Lagu mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara bersamaan. Melalui lirik, irama, dan melodi, informasi dapat disampaikan secara lebih mudah diingat dan dipahami. Lagu juga menciptakan suasana belajar yang rileks, menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif siswa. Dalam konteks pembelajaran daerah, lagu “Ciciren Banjar” menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan lingkungan geografis, alam, dan budaya tempat mereka tinggal.

Inovasi ini memiliki landasan yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan menegaskan pentingnya pembelajaran yang mendorong pemahaman kontekstual dan penguatan karakter peserta didik. Permendikbudristek Nomor 7 Tahun 2022 tentang Struktur Kurikulum juga memberikan ruang yang luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah.

Dalam Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran IPAS Fase B menekankan pengenalan peserta didik terhadap berbagai komponen lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia. Materi ini sangat relevan jika disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Selain itu, inovasi ini juga mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Penggunaan lagu daerah turut mendukung implementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui penguatan nilai cinta tanah air dan budaya lokal.

Inovasi “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” bertujuan untuk memotivasi guru agar lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, khususnya dalam mengajarkan materi tentang batas wilayah dan keadaan alam Kota Banjar. Lagu “Ciciren Banjar” digunakan sebagai alat bantu untuk memperkenalkan letak geografis, kondisi alam, serta potensi budaya daerah kepada siswa kelas IV. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pelaksanaan inovasi diawali dengan persiapan pembelajaran yang matang. Kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan guru kelas IV untuk mendiskusikan strategi pembelajaran kreatif yang dapat digunakan dalam materi daerah dan keadaan alam. Pada tahap ini, guru diberikan pendampingan mengenai cara mengintegrasikan lagu ke dalam alur pembelajaran, mulai dari apersepsi, penyampaian materi, hingga evaluasi. Guru juga dibekali pemahaman tentang pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Pada tahap pelaksanaan di kelas, guru memperkenalkan lagu “Ciciren Banjar” kepada siswa dengan cara mendengarkan dan menyanyikannya bersama. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan antusias. Guru kemudian menjelaskan makna lirik lagu yang menggambarkan batas wilayah Kota Banjar, keberadaan gunung, sungai, serta kekayaan alam dan budaya setempat. Penjelasan ini membantu siswa memahami bahwa lirik lagu tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung informasi penting tentang daerah mereka.

Setelah siswa mengenal lagu, kegiatan dilanjutkan dengan analisis lirik. Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai isi lagu, seperti nama-nama wilayah, kondisi geografis, sungai, gunung, serta kehidupan masyarakat Banjar. Melalui diskusi ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menghubungkan informasi dalam lagu dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, serta menyampaikan pendapat secara lisan.

Untuk memperkuat pemahaman, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan tugas praktik. Setiap kelompok diminta membuat poster atau presentasi yang menggambarkan letak desa, kecamatan, keadaan alam, serta budaya daerah berdasarkan lirik lagu “Ciciren Banjar”. Aktivitas ini mendorong siswa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekspresikan ide secara kreatif. Pada saat presentasi, siswa diminta menyanyikan bagian lagu yang relevan dengan materi yang mereka sampaikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan berkesan.

Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan dan tertulis. Guru menilai pemahaman konsep, kreativitas, serta kemampuan siswa dalam menyampaikan informasi. Selain itu, siswa juga diajak melakukan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar mereka. Refleksi ini membantu siswa menyadari bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.

Penerapan inovasi ini dilaksanakan secara bertahap dan terencana, dimulai dari perencanaan pada bulan Desember 2024, pelaksanaan pada Januari hingga Maret 2025, evaluasi pada April 2025, dan tindak lanjut pada Mei 2025. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis seni yang dipadukan dengan diskusi kelompok. Media utama berupa lagu “Ciciren Banjar” didukung oleh perangkat audio-visual dan alat bantu pembelajaran lainnya.

Lirik lagu “Ciciren Banjar” yang menggunakan bahasa Sunda menjadi kekuatan tersendiri dalam inovasi ini. Bahasa daerah yang digunakan membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi pembelajaran. Lagu ini tidak hanya menyampaikan informasi geografis, tetapi juga menanamkan nilai kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Banjar sebagai daerah tempat tinggal mereka.

Hasil penerapan inovasi menunjukkan dampak yang sangat positif. Motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan. Siswa terlihat lebih antusias, aktif bertanya, dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Kreativitas siswa juga berkembang melalui kegiatan membuat poster dan presentasi. Mereka mampu mengekspresikan pemahaman tentang daerah dan budaya secara lebih variatif dan menarik.

Pemahaman konsep siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka tidak hanya menghafal, tetapi memahami melalui pengalaman belajar yang melibatkan emosi, visual, dan auditori. Lagu membantu siswa mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Selain itu, inovasi ini juga berhasil menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah asal, serta meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam dan budaya lokal.

Secara keseluruhan, inovasi pembelajaran “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di kelas IV. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui integrasi seni dan budaya lokal, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga nilai dan sikap positif terhadap lingkungan dan daerahnya.

Ke depan, inovasi ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan. Kepala sekolah dapat terus mendorong guru untuk memanfaatkan lagu daerah sebagai media pembelajaran pada berbagai materi. Integrasi seni dan budaya lokal perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter dan identitas peserta didik. Selain itu, penyediaan sumber belajar kreatif seperti media audio-visual dan lagu daerah akan sangat mendukung keberlanjutan praktik baik ini dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka dan bermakna.***

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN

Rini Apriani adalah seorang pendidik lahir di Ciamis, 3 April 1986 yang aktif mengabdi di Kota Banjar. Ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, baik sebagai guru, dengan perhatian besar terhadap isu keadilan, kualitas, dan keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi guru honorer dan sekolah swasta.

Selain mengajar, Rini Apriani juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesional pendidik, penguatan karakter, serta transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar bersama untuk membangun masa depan anak bangsa melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada kemanusiaan.


Pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Di tangan para guru, masa depan anak-anak negeri ini dititipkan. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, akhlak, dan karakter yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sudah selayaknya profesi guru mendapatkan perhatian, perlindungan, dan keadilan yang setara.

Melalui tulisan ini, saya sebagai seorang guru di Kota Banjar ingin menyampaikan sebuah harapan, bukan tuntutan, dan bukan pula perbandingan yang menjatuhkan pihak mana pun. Harapan ini lahir dari realitas yang kami alami sehari-hari sebagai guru honorer, khususnya guru honorer di sekolah swasta, yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun tanpa kejelasan masa depan.

Kami memahami bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi ASN. Namun, dalam pelaksanaannya, kesempatan tersebut masih terasa lebih banyak berpihak kepada guru negeri. Sementara itu, ribuan guru honorer swasta tetap setia mengabdi, mengajar dengan hati, mendidik dengan penuh tanggung jawab, meski dengan keterbatasan yang sangat besar.

Bukan nasib seperti ini yang kami impikan. Menjadi guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak bukanlah pilihan ideal, melainkan bentuk pengabdian. Kami percaya, mungkin pemerintah memiliki pertimbangan dan kebijakan tersendiri. Namun kami juga berharap, masih ada ruang bagi hati nurani untuk melihat dan mendengar suara guru-guru swasta yang selama ini setia menjaga nyala pendidikan di daerah.

Ironis rasanya ketika kenyataan menunjukkan bahwa gaji pegawai di sektor lain, termasuk tenaga pelaksana program tertentu, bisa lebih besar dibandingkan gaji seorang guru.

Padahal, guru memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Guru bertanggung jawab atas masa depan satu, puluhan, bahkan jutaan anak bangsa. Sebuah amanah yang tidak ringan dan tidak ternilai dengan angka semata.

Kami tidak ingin membandingkan siapa yang lebih penting. Kami hanya ingin sedikit harapan. Harapan agar nasib guru honorer swasta juga diperhatikan dengan adil, sebagaimana perhatian yang diberikan kepada guru honorer di sekolah negeri. Kami juga manusia biasa yang memiliki keluarga, anak-anak, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Sementara itu, kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan tuntutan profesionalisme guru semakin besar.

Pada dasarnya, semua orang ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Namun, ketika harus dihadapkan pada pilihan antara terus mengabdi atau meninggalkan profesi demi mencari penghidupan yang lebih layak di kota besar, maka pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjaga pendidikan di daerah kecil seperti Kota Banjar

Jika orang-orang terbaik, para pendidik yang berpengalaman dan berdedikasi, perlahan meninggalkan daerahnya karena keterbatasan kesejahteraan, maka yang akan tertinggal bukan hanya kekosongan tenaga pengajar, tetapi juga hilangnya kualitas pendidikan dan harapan generasi muda di daerah tersebut.

Melalui tulisan ini, kami menitipkan harapan besar kepada para pemangku kebijakan di Kota Banjar dan pemerintah pada umumnya. Semoga ke depan kebijakan pendidikan semakin inklusif, adil, dan berpihak kepada seluruh guru tanpa membedakan status sekolahnya. Karena sejatinya, semua guru memiliki tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik

Semoga suara kecil dari daerah ini dapat menjadi bahan renungan, bahwa memperhatikan kesejahteraan guru honorer swasta bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan dan keberlanjutan daerah tercinta, Kota Banjar.***

 

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.
Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd. (Kepala UPTD SDN 1 Waringinsari)

Keberhasilan sebuah satuan pendidikan bukanlah hasil dari kerja instan, apalagi sekadar pencitraan melalui dokumentasi foto dan video. Keberhasilan sejati lahir dari proses panjang yang direncanakan secara matang, dijalankan dengan konsistensi, serta dilandasi keberanian untuk melakukan perubahan. Prinsip inilah yang menjadi ruh utama di balik Succes Story ESDEJIWA (UPTD SDN 1 Waringinsari) dalam meraih Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA Tahun 2025.

Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan institusi, melainkan bukti konkret bahwa penguatan pendidikan karakter dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan. Nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran konsep atau administrasi, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan peserta didik, serta berdampak positif bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.

Anugerah PANCAWALUYA merupakan ajang apresiasi bagi satuan pendidikan yang mampu mengimplementasikan pendidikan karakter secara holistik dan sistemik. Bagi ESDEJIWA, keikutsertaan dalam ajang ini tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana refleksi atas ikhtiar panjang dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter, selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Karakter.

Keberhasilan meraih Juara Madya tidak terlepas dari kepemimpinan yang gigih, visioner, dan kolaboratif. Seorang pemimpin pendidikan tidak hanya dituntut mampu mengelola administrasi dan program, tetapi juga harus mampu menggerakkan seluruh sumber daya manusia (SDM) di sekolah. Di ESDEJIWA, kepemimpinan dimaknai sebagai proses mengajak, memberi teladan, serta membangun kesadaran kolektif bahwa penguatan karakter adalah tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

Menggerakkan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga komite sekolah bukanlah hal yang mudah. Setiap individu memiliki latar belakang, cara pandang, dan kebiasaan yang berbeda. Tantangan terbesar terletak pada menyatukan keberagaman tersebut dalam satu visi yang sama. Namun melalui komunikasi terbuka, pembinaan berkelanjutan, dan keteladanan nyata dari pimpinan, nilai-nilai Gapura Pancawaluya perlahan tumbuh menjadi budaya sekolah.

Sekolah mengintegrasikan sembilan langkah pembangunan pendidikan karakter Jawa Barat secara holistik ke dalam budaya sekolah, proses pembelajaran, pembiasaan harian, serta kemitraan dengan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya, dengan berlandaskan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Dalam aspek kebersihan lingkungan, ESDEJIWA menanamkan budaya bersih melalui pembiasaan harian, pengelolaan lingkungan sekolah yang sehat, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekitar. Program ini tidak hanya membentuk lingkungan yang nyaman, tetapi juga menumbuhkan karakter disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Pada peningkatan mutu dan kompetensi guru, sekolah mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian melalui pelatihan, komunitas belajar, serta refleksi praktik pembelajaran. Guru diposisikan sebagai teladan utama dalam implementasi nilai-nilai karakter Pancawaluya, baik dalam pembelajaran maupun interaksi sehari-hari dengan peserta didik.

Pendidikan ekologi diintegrasikan dalam pembelajaran dan kegiatan proyek berbasis lingkungan. Peserta didik dilatih untuk memiliki kesadaran ekologis, mencintai alam, serta berperilaku ramah lingkungan. Kegiatan ini menumbuhkan karakter peduli dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam hal kreativitas dan inovasi peserta didik, sekolah menyediakan ruang melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Karya berbasis pemanfaatan barang bekas, teknologi sederhana, dan proyek tematik menjadi sarana aktualisasi potensi peserta didik, sekaligus menanamkan nilai kreatif, inovatif, dan adaptif (Singer).

Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui program membawa bekal dari rumah, cuci tangan, olahraga rutin, serta optimalisasi layanan UKS. Program ini diperkuat melalui kerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Langensari, sebagai mitra strategis dalam mendukung kesehatan jasmani dan rohani peserta didik (Cageur).

Sekolah juga menanamkan kesadaran akan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan melalui optimalisasi berjalan kaki dan edukasi penggunaan transportasi yang bijak, disesuaikan dengan kondisi dan keamanan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter yang menekankan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan.

Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler diarahkan sebagai wahana pembentukan karakter, kepemimpinan, kerja sama, dan kemandirian peserta didik. Kegiatan disesuaikan dengan minat dan bakat siswa serta nilai-nilai Pancawaluya.

Dalam aspek perilaku peserta didik di luar sekolah, ESDEJIWA membangun sinergi erat dengan orang tua. Sekolah menyadari bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa kesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pembiasaan positif di sekolah diharapkan berlanjut di rumah dan lingkungan sosial.

Selanjutnya, peningkatan pendidikan keagamaan dilaksanakan melalui pembiasaan ibadah, kegiatan keagamaan rutin, serta penguatan nilai spiritual. Program ini menumbuhkan ketenangan batin, toleransi, dan akhlak mulia sebagai fondasi karakter Bageur dan Bener.

Keberhasilan implementasi penguatan karakter ini semakin kuat karena adanya ikatan kemitraan dengan berbagai pihak relevan, termasuk instansi pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas pendidikan. Kolaborasi ini memperluas ekosistem pembelajaran dan memberikan pengalaman kontekstual bagi peserta didik.

Sebagai bagian dari perencanaan strategis, ESDEJIWA menetapkan harapan pengembangan satuan pendidikan empat tahun ke depan (2025–2029) yang selaras dengan Program Gapura Pancawaluya Jawa Barat. Harapan tersebut mencakup terwujudnya sekolah sehat (Cageur), budaya peduli dan gotong royong (Bageur), integritas dan kedisiplinan tinggi (Bener), keunggulan literasi dan wawasan kebangsaan (Pinter), serta kreativitas dan adaptivitas terhadap perubahan (Singer).

Capaian Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA 2025 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan tonggak penguat semangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Lebih dari sekadar penghargaan, keberhasilan ini tercermin dari perubahan nyata pada diri peserta didik yang semakin berkarakter dan berdaya saing.

Akhir kata, Succes Story ESDEJIWA adalah kisah tentang kepemimpinan yang menggerakkan, kolaborasi yang menguatkan, dan komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Semoga praktik baik ini dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain dalam mengimplementasikan pendidikan karakter secara sistematis dan berkelanjutan.***

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN

Ina Indriyani

Ina Indriyani, S.Pd., Gr. lahir di Ciamis pada 3 Maret 1987. Ia adalah seorang pendidik yang saat ini mengabdikan diri sebagai pengajar di SMKN 1 Banjar. Dunia pendidikan bukan sekadar profesi baginya, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan nilai, tempat ia berinteraksi langsung dengan realitas generasi muda beserta tantangan zamannya. Selain berkiprah sebagai guru, Ina Indriyani aktif menulis dan dikenal sebagai pemerhati dunia pendidikan, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, adab, serta relasi humanis antara pendidik dan peserta didik. Pengalamannya di lapangan memberinya perspektif kritis namun empatik terhadap berbagai kebijakan dan praktik pendidikan yang berlangsung di daerah.Ia juga menaruh perhatian mendalam pada psikologi perempuan, terutama dalam konteks peran perempuan sebagai pendidik, ibu, dan agen perubahan sosial. Melalui tulisan-tulisannya, Ina kerap mengangkat persoalan ketahanan mental, luka batin, kelelahan emosional, serta perjuangan perempuan dalam ruang domestik dan publik, dengan pendekatan reflektif dan edukatif. Bagi Ina Indriyani, menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan moral. Tulisan-tulisannya tidak hanya bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi, harapan, dan ajakan untuk berpikir lebih jernih dan manusiawi. Ia meyakini bahwa pendidikan yang baik hanya dapat lahir dari keberanian untuk merefleksi, kejujuran dalam mengakui kekurangan, dan komitmen bersama untuk terus belajar. Melalui aktivitas mengajar dan menulis, Ina berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan peradaban, khususnya di lingkungan pendidikan dan masyarakat lokal Kota Banjar.


Pendidikan selalu menjadi jantung peradaban, dari ruang-ruang kelas sederhana hingga kebijakan strategis pemerintah daerah, masa depan suatu kota ditentukan oleh bagaimana pendidikan direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi. Kota Banjar, sebagai daerah otonom yang terus bertumbuh, tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab besar ini. Dunia pendidikan di Kota Banjar hari ini berada pada persimpangan penting: antara upaya perbaikan yang patut diapresiasi dan berbagai tantangan yang menuntut perhatian serius.

Opini publik ini disampaikan bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian intelektual dan sosial terhadap masa depan pendidikan di Kota Banjar. Kritik, saran, dan apresiasi perlu ditempatkan secara proporsional agar menjadi energi perubahan, bukan sekadar keluhan tanpa arah.

Apresiasi atas Komitmen dan Kerja Nyata Pendidikan

Harus diakui bahwa pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Banjar telah menunjukkan komitmen dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Sekolah-sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan, para guru terus mengajar dengan dedikasi, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan mulai digulirkan, meskipun hasilnya belum sepenuhnya merata.

Perhatian terhadap pendidikan vokasi, khususnya di tingkat SMK, patut diapresiasi. Upaya menyiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki keterampilan praktis merupakan langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, kehadiran berbagai pelatihan guru, penguatan kurikulum, serta adaptasi terhadap kebijakan pendidikan nasional menunjukkan bahwa Kota Banjar tidak menutup diri terhadap perubahan.

Yang tidak kalah penting, nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan etika sosial masih menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap menggerus karakter, sekolah-sekolah di Banjar masih berupaya menjaga keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan akhlak peserta didik. Ini adalah modal besar yang tidak boleh diabaikan.

Kritik terhadap Persoalan Struktural dan Kultural

Namun, di balik berbagai ikhtiar tersebut, dunia pendidikan di Kota Banjar masih menghadapi persoalan mendasar yang tidak bisa ditutup-tutupi. Salah satunya adalah kesenjangan antara idealisme kebijakan dan realitas di lapangan. Banyak program pendidikan yang dirancang dengan baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata guru dan peserta didik.

Beban administratif guru yang berlebihan masih menjadi keluhan klasik. Guru sering kali lebih sibuk mengurus laporan, dokumen, dan aplikasi daripada fokus pada esensi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik dan mental, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas interaksi edukatif di kelas. Pendidikan yang sehat seharusnya memerdekakan guru untuk mengajar, bukan membelenggu mereka dengan birokrasi yang rumit.

Selain itu, tantangan karakter peserta didik semakin kompleks. Disrupsi teknologi, pengaruh media sosial, dan perubahan pola asuh keluarga berdampak langsung pada sikap, etika, dan motivasi belajar siswa. Sayangnya, pendekatan pendidikan karakter sering kali masih bersifat normatif dan seremonial, belum menyentuh akar persoalan secara mendalam.

Ketimpangan fasilitas dan kualitas pendidikan antar sekolah juga perlu mendapat perhatian. Masih terdapat sekolah yang berjuang dengan keterbatasan sarana, akses teknologi, dan dukungan lingkungan. Jika tidak ditangani dengan kebijakan yang adil dan afirmatif, kesenjangan ini berpotensi melahirkan ketidakadilan pendidikan yang berkepanjangan.

Saran untuk Penguatan Pendidikan yang Humanis dan Kontekstual

Ke depan, pendidikan di Kota Banjar perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih humanis, kontekstual, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, dan kelulusan, tetapi harus menempatkan peserta didik sebagai manusia utuh dengan kebutuhan intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Pertama, perlu adanya keberanian untuk menyederhanakan beban administratif guru. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaporan dan penilaian harus dilakukan dengan melibatkan suara guru sebagai pelaksana utama pendidikan. Guru yang dihargai dan dimanusiakan akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus dilakukan secara nyata dan kontekstual. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Program literasi, penguatan adab, kesehatan mental siswa, serta pendampingan psikososial perlu dirancang secara sistematis, bukan insidental.

Ketiga, pendidikan vokasi di Kota Banjar perlu diperkuat dengan kemitraan yang lebih konkret dengan dunia usaha dan dunia industri. Link and match tidak cukup berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran, magang bermutu, dan penyerapan lulusan secara nyata. Tanpa itu, SMK berisiko hanya menjadi pabrik ijazah tanpa daya saing.

Keempat, pemerintah daerah perlu lebih progresif dalam memastikan pemerataan fasilitas pendidikan. Akses teknologi, ruang belajar yang layak, serta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar peserta didik.

Apresiasi dan Harapan bagi Para Pendidik

Di tengah berbagai keterbatasan, para pendidik di Kota Banjar layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, melampaui tugas formal, dan menjadi figur teladan bagi siswanya. Dedikasi ini sering kali luput dari sorotan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan generasi muda.

Namun, apresiasi tidak cukup hanya dengan pujian moral. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan, pengembangan profesional, dan kesehatan mental guru. Guru yang sejahtera dan dihargai akan lebih mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Penutup: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Pendidikan di Kota Banjar tidak boleh berjalan apa adanya. Ia harus terus dikritisi, diperbaiki, dan diperkuat. Kritik yang disampaikan dengan niat baik adalah bentuk cinta terhadap dunia pendidikan. Saran yang lahir dari refleksi adalah kontribusi nyata bagi perbaikan bersama.

Masa depan Kota Banjar sangat ditentukan oleh bagaimana hari ini kita memperlakukan pendidikan. Apakah kita menjadikannya sekadar kewajiban administratif, atau benar-benar menempatkannya sebagai investasi peradaban. Jawaban atas pertanyaan itu akan tercermin pada wajah generasi Banjar di masa depan: apakah mereka tumbuh sebagai manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya, atau sebaliknya.

Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Dan Kota Banjar memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan peradaban besar, jika pendidikan dikelola dengan hati, visi, dan keberanian untuk berubah.***

 

CATATAN LITERASI AKHIR TAHUN YRBK GELAR BERBAGAI KEGIATAN

Sepanjang bulan Desember 2025 Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) menggelar sejumlah kegiatan sebagai agenda penutup akhir tahun. Kegiatan diawali dengan Safari Literasi ke beberapa sekolah, diantaranya ke SMKN 1 Banjar, SDN 2 Langensari, dan SDN 3 Banjar.

Di SMKN 1 Banjar Safari Literasi dimotori Komunitas Remaja Pustaka (KRP) kumpulan siswa pegiat literasi SMKN 1 Banjar yang dibina Kepala Perpustakaan SMKN 1 Banjar, Aang S. Faizar. Kegiatan Safari Literasi juga dimeriahkan dengan penampilan pembacaan puisi oleh guru dan siswa serta testimoni dari Duta Baca Kota Banjar serta motivasi literasi dari Pendiri YRBK Sofian Munawar. Acara dipungkas dengan penyerahan Pigam Penghargaan dari YRBK untuk SMKN 1 Banjar yang diserahkan oleh Sekretaris YRBK Ivan Mahendrawanto diterima oleh Susi Rusmiati, mewakili Kepala SMKN 1 Banjar.

Di SDN 2 Langensari Safari Literasi YRBK juga berkolaborasi dengan Duta Baca Kota Banjar. Acara diwali dengan Redathon yang dipimpin salah satu guru senior Anisah Darajati. “Kami sudah biasa melaksanakan kegiatan redathon setiap hari Rabu,” ujar Elis Rohmawati, Kepala UPTD SDN 2 Langensari. Acara Safari Literasi dipungkas penyerahan hadiah buku dari Pendiri YRBK Sofian Munawar untuk SDN 2 Langensari.

Sementara di SDN 3 Banjar Safari Literasi YRBK secara khusus dimaksudkan untuk menyampaikan apresiasi dimana pada agenda kegiatan literasi sebelumnya, SDN 3 Banjar merupakan sekolah dengan tingkat partisipasi tertinggi dalam kegiatan Parade Puisi Guru (PPG) yang digelar YRBK. “Selamat untuk SDN 3 Banjar, guru-gurunya yang semangat telah melahirkan para siswa juara,” ucap Sofian. Acara dipungkas dengan penyerahan Piagam Penghargaan dari YRBK untuk UPTD SDN 3 Banjar.

Kegiatan berikutnya yang menjadi penanda agenda literasi akhir tahun adalah sharing session yang disampaikan salah satu pegiat literasi RBK, Adinda Zahra Sofiantima. Adinda berbagi cerita pengalamannya sebagai delegasi International Future Leader (IFL) 2025 di Singapura dan Malaysia. “Pengalaman ini bukan saja menarik tapi juga memberikan saya insight betapa pentingnya literasi untuk menyiapkan dan menyongsong masa depan. Semoga pengalaman kecil ini juga dapat memberikan inspirasi untuk masa depan yang lebih baik,” ungkap Adinda yang juga meraih Anugerah Gapura Pancawaluya untuk kategori siswa.

Sementara itu, Guru SMAN 3 Banjar yang juga Pengurus YRBK Putri Sri Jayanti mendapatkan Anugerah Gapura Pancawaluya untuk kategori Tendik. Sebelumnya, Putri Sri Jayanti juga mendapatkan kesempatan untuk melancong ke Thailand atas prestasi yang diraihnya sebagai Exellence in Innovative Teaching. “Alhamdulillah ini kado akhir tahun yang sangat indah buat pegiat literasi dan juga buat RBK,” kata Siti Maroah, Ketua YRBK.

Puncak acara akhir tahun yang menjadi pamungkas kegiatan literasi 2025 ditandai dengan peluncuran dan diskusi buku berjudul WAQOF, bertempat di Sekretariat YRBK. Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku dari penulisnya yaitu Dedeh Rohayati, Dosen FKIP Universitas Galuh (UNIGAL) kepada Ketua YRBK Siti Maroah disaksikan puluhan peserta dari sejumlah sekolah, kampus, dan para pegiat literasi masyarakat di Kota Banjar.

Peluncuran dan diskusi buku juga dimeriahkan dengan penampilan pembacaan puisi dan monolog dari para siswa, mahasiswa dan guru yang hadir. Para penampil antara lain: Rikardo Padlika Gumelar dan Refanatha Adialine Athifa Sutadi. Keduanya merupakan siswa berprestasi yang telah memenangkan sejumlah event Lomba Baca Puisi di Kota Banjar dan di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Rangkaian acara dipungkas dengan membuat puisi secara kolaboratif, dipandu oleh Yuyus Suptiatna. Semua peserta yang hadir terlibat menyumbangkan kata, masing-masing satu kata dan kemudian terciptalah beberapa puisi hasil rekaan masing-masing peserta dari “arisan kata” itu. Beberapa peserta tampil menyampaikan rekaan puisi masing-masing dan dipungkas dengan pembacaan puisi oleh Yuyus Supriatna. “Waah kalau kegiatan seperti ini dapat kita tradisikan, saya optimis budaya literasi kita akan semakin meningkat,” kata Sofian Munawar yang memandu acara ini seraya memungkas rangkaian acara dengan potong tumpeng bersama. **

 

Link Informasi Terkait:

Safari Literasi di SMKN 1 Banjar: https://www.instagram.com/p/DSV8aGak-qw/

Safari Literasi di SDN 2 Langensari: https://www.instagram.com/p/DSXZYQmDL8T/

Safari Literasi di SDN 3 Banjar: https://www.instagram.com/p/DSTe328EzMT/

Anugerah Pancawaluya: https://www.instagram.com/p/DSYotFoDDzs/

Apresiasi IFL 2025: https://www.instagram.com/p/DRtfrQskfP_/

Peluncuran Buku WAQOF: https://www.instagram.com/p/DSY-wOxkSss/

 

Liputan Berita Media:

Arah Pena: https://www.arahpena.com/berita/77916455119/yrbk-bersama-mitra-gelar-literasi-akhir-tahun-buku-waqof-resmi-diluncurkan

Bandung Pos: https://bandungpos.id/sambut-hari-ibu-2025-yrbk-luncurkan-buku-waqof/

Kabar Priangan: https://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199881764/hari-ibu-diluncurkan-buku-puisi-waqof-di-markas-yrbk?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

Zona Literasi: https://zonaliterasi.id/yrbk-gandeng-yayasan-kiprah-nusa-global-dan-rumah-literasi-banjar-luncurkan-buku-waqof/

 

Kabar Priangan Edisi Cetak, Selasa 23 Desember 2025

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH

Shannya Meisaskitha, lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 9 Mei 2007, adalah mahasiswa S1 Fakultas Hukum, Program Studi Hukum, Universitas Bangka Belitung. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan kuat pada dunia kreatif dan literasi, yang berkembang menjadi kegemaran menulis cerpen, membaca buku, dan menggambar. Dalam bidang cerpen, Shannya kerap meraih penghargaan hingga ke tingkat nasional, yang mendorongnya terus mengasah kemampuan bercerita. Baginya, menulis adalah cara untuk merekam pengalaman dan dinamika kehidupan, sementara membaca memperkaya sudut pandangnya. Menggambar menjadi pelarian tenang dan bentuk pemulihan diri ketika beban akademik mulai menumpuk. Menempuh studi hukum, Shannya bercita-cita berkontribusi dalam memperjuangkan apa yang adil bagi banyak orang, terutama mereka yang suaranya sering tidak terdengar. Melalui karya dan perjalanan belajarnya, ia berharap dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.


Ada ironi yang pelan-pelan berdenyut di negeri yang selalu memanggil dirinya bangsa yang beradab. Seperti yang kita tahu, kita tumbuh dalam budaya yang mencintai sopan santun secara seremonial, namun rupanya diam-diam membiarkan kekerasan bersembunyi di balik candaan yang dipaksakan, hierarki yang diagungkan, juga pergaulan yang mengukur harga diri dari seberapa kuat seseorang menahan luka. Perundungan jarang datang dengan suara keras. Ia kerap merayap dalam bentuk-bentuk yang tak dianggap jahat seperti gurauan yang menusuk, tatapan yang merendahkan, bahkan pengucilan yang dibungkus dengan alasan klasik seperti “kedewasaan”.

Tragedi yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, adalah cermin yang pecah tepat di hadapan kita. Pecahannya seperti memaksa kita untuk melihat wajah asli sebuah kenyataan yang selama ini kita biarkan suram. Menurut laporan berbagai media nasional, sebelum kematiannya, Timothy diduga mengalami serangkaian penghinaan dan tekanan sosial yang meninggalkan jejak digital. Gelombang kemarahan publik yang muncul kemudian bukan hanya reaksi emosional, tetapi sebuah pengakuan bahwa kita terlambat, berkali-kali terlambat, memahami bahwa bullying bukan sekadar salah langkah pergaulan, melainkan kekerasan yang mampu menghapus sebuah hidup seseorang.

Padahal, hukum telah lama berusaha berbicara. Aturan yang kita miliki bukanlah sekadar teks tanpa jiwa. Ia memuat perlindungan yang, bila kita mau, bisa menjadi pagar tempat manusia berlindung.

Pasal 27 ayat (3) UU ITE menyatakan dengan tegas, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik.”

Meski demikian, hukum kerap hadir ketika semuanya telah kehilangan detak. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh ingin mencegah, atau kita hanya bergerak ketika tragedi menjadi sorotan utama?

Perundungan tumbuh dari tanah sosial yang terlalu lama dibiarkan tandus. Ia disiram oleh budaya yang abai, dibesarkan oleh institusi yang lebih takut pada rusaknya citra ketimbang rusaknya nyawa, dan dijaga oleh kebiasaan yang menertawakan luka orang lain. Saya pernah melihat teman terjerat dalam cemoohan, lukanya tak berbekas di wajah, tetapi menetap di relung hatinya seperti bayangan yang enggan pergi. Kita hidup dalam masyarakat yang menyepelekan kekuatan kata-kata, seolah ucapan yang menusuk tidak mampu menimbulkan memar. Padahal, ada kata-kata yang bekerja seperti duri kecil, tidak tampak, tetapi terus menembus ke dalam

Tanpa perubahan budaya, hukum akan terus menjadi teks yang tak berjiwa. Kita membutuhkan keberanian yang tidak lagi diam di tengah kekerasan yang disamarkan sebagai keakraban. Kita membutuhkan empati yang tidak perlu menunggu duka untuk mengetuk kesadaran. Kita membutuhkan ruang sosial yang tidak lagi memperbolehkan luka-luka seperti ini menyelinap tanpa suara.

Kasus Timothy seharusnya menjadi titik balik. Ia mengingatkan kita bahwa perundungan bukanlah sebuah tradisi, bukanlah bahan candaan, bukanlah bagian dari proses pendewasaan. Ia adalah kekerasan yang merampas masa depan seseorang. Jika tragedi ini tidak menggugah nurani, maka kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah bangsa gagal melindungi anaknya sendiri.

Pada akhirnya, melawan budaya bullying bukan hanya tentang menuntut pelaku atau mencari siapa yang salah. Ini tentang keberanian menantang sesuatu yang lebih besar. Cara hidup yang selama ini membuat kita merasa wajar untuk membiarkan seseorang hancur perlahan. Ada kepedihan yang kita pura-pura tidak dengar, ada tangis yang tenggelam di antara tawa yang dipaksakan, dan ada manusia yang kehilangan dirinya, bukan karena satu pukulan, tapi karena seribu kata yang tidak dianggap serius.

Kita terlalu sering meminta korban untuk “sabar”, “dewasa”, atau bahkan “mengerti situasi”, seolah luka batin tidak lebih dari goresan kecil yang bisa hilang dengan waktu. Padahal, ada orang-orang yang bertahan sambil menggenggam hati yang sudah remuk, berharap ada satu saja suara yang berpihak pada mereka. Namun sering kali, yang mereka temukan hanyalah sunyi. Dan sunyi itulah yang membunuh paling pelan.

Institusi yang mestinya menjadi pelindung justru sibuk menjaga nama baik. Teman sebaya yang harusnya menjadi sandaran malah ikut menertawakan. Dan kita, masyarakat yang bangga disebut “ramah”, sering hanya bergerak ketika seseorang sudah terlanjur tiada. Luka Timothy adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kita tidak hanya terlambat, tetapi juga lalai. Kita membiarkan seorang anak bangsa berperang sendirian di medan yang tidak seharusnya ia hadapi.

Kalau tragedi seperti ini masih tidak menggugah kita, maka ada sesuatu yang sedang mati dalam diri kita sebagai bangsa. Rasa peka, rasa peduli, rasa manusiawi. Kita tidak butuh lagi semboyan tentang keramahan. Kita butuh keberanian untuk menghentikan kekerasan yang dibungkus sebagai candaan, keakraban, atau “proses pendewasaan.”

Perubahan tidak boleh lagi sekadar wacana. Tidak boleh menunggu korban berikutnya untuk jatuh. Yang kita perlukan kini bukan hanya sekadar penegakan pasal, tetapi penegakan nurani. Sebab bangsa yang sungguh beradab tidak diukur dari seberapa tebal buku hukumnya, melainkan dari seberapa tulus ia menjaga mereka yang paling rentan agar tidak jatuh dalam senyap.***

PARADE PUISI GURU: Wahana Kreasi Jadi Inspirasi

Tema Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 adalah ‘Guru Hebat, Indonesia Kuat’, mengingatkan kembali bahwa guru dan tenaga kependidikan (tendik) adalah ujung tombak dalam membangun generasi penerus bangsa. Dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi mereka bekerja keras untuk memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak Indonesia.

Terkait Bulan Guru Nasional, Kemendikdasmen ingin mengajak segenap pemangku kepentingan untuk memperingati dan merayakan secara bersama-sama dengan cara yang sederhana, bermakna, dan membawa semangat positif bagi pendidikan Indonesia. “Bulan Guru Nasional ini tidak hanya sekadar peringatan, tetapi juga momentum bagi kita semua untuk meneguhkan kembali komitmen kita dalam mendukung dan menghargai profesi guru,” ucap Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. pada sambutan Bulan Guru Nasional.

Dalam semangat itulah, Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) Kota Banjar turut mengkhidmati “Bulan Guru Nasional” dengan menggelar Parade Puisi Guru (PPG) sepanjang bulan November, guna mewadahi kreativitas guru-guru dan juga siswa serta mahasiswa dalam berkarya, terutama melalaui karya sastra, yakni melalui kegiatan Parade Puisi Guru (PPG) 2025. Kreasi para partisipan PPG ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lus. Berikut dapat disimak dokumentasi kegiatannya yang dihimpun dari berbagai sumber.

 

Link berita terkait:

  1. Arah Pena.id

YRBK Gelar Parade Puisi Guru Libatkan 60 Partisipan se-Kota Banjar  Disdikbud Usul Jadi Agenda Tahunan   https://www.arahpena.com/berita/77916331960/yrbk-gelar-parade-puisi-guru-libatkan-60-partisipan-se-kota-banjar-disdikbud-usul-jadi-agenda-tahunan

  1. Kabar Priangan

Kemeriahan Parade Puisi Hari Guru Nasional di Kota Banjar  http://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199831354/kemeriahan-parade-puisi-hari-guru-nasional-di-kota-banjar?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

  1. Pasundan News

Parade Puisi Guru Ramaikan HGN di Kota Banjar: https://pasundannews.com/parade-puisi-guru-2025-ramaikan-bulan-guru-nasional-di-kota-banjar/

  1. Visi News

YRBK Kota Banjar Gelar Parade Puisi Guru Sambut Bulan Guru Nasional – VISI.NEWS

https://visi.news/yrbk-kota-banjar-gelar-parade-puisi-guru-sambut-bulan-guru-nasional/

  1. Zona Literasi

YRBK Gelar PPG di Momentum Bulan Guru Nasional, Kepala Disdikbud: Inspirasi Positif

https://zonaliterasi.id/yrbk-gelar-ppg-di-momen-bulan-guru-nasional-kepala-disdikbud-kota-banjar-inspirasi-positif/

 

Link terkait lainnya:

Instagram Ruang Baca Komunitas

https://www.instagram.com/p/DRDspoHjE8D/

 

Kanal Youtube Ruang Baca Komunitas

 

LITERASI KESEHATAN

Kesehatan merupakan salah satu isu penting dalam kehidupan manusia. Literasi Kesehatan karenanya menjadi hal fundamental untuk dikaji secara serius. Dengan memanfaatkan momentum Hari Kesehaan Nasional (HKN), Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bersama Dinas Kesehatan Kota Banjar, Klinik PKU Muhammadiyah, STIT Muhammadiyah dan sejumlah pihak lainnya terutama dari komunitas sekolah di Kota Banjar menggelar Seminar Literasi Kesehatan.

Sebagai mana kita mafhum bahwa setiap 12 November pemerintah memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Kesehatan masyarakat, baik kesehatan diri, keluarga maupun lingkungan. Peringatan HKN juga bertujuan membangun semangat, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat serta mengajak masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tema HKN tahun ini adalah “Generasi Sehat Masa Depan Hebat” menjadi momentum tersendiri bagi kawula muda untuk turut berkiprah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. Dalam semangat inilag Seminar Literasi Kesehatan yang diproyeksikan bagi kawula muda di Kota Banjar digelar. Berikut dapat disimak dokumentasi kegiatannya yang dihimpun dari berbagai sumber.

Link berita terkait:

  1. Arah Pena.id

Peringati HKN, YRBK Gelar Seminar:

https://www.arahpena.com/berita/77916243517/peringati-hkn-2025-seminar-literasi-kesehatan-digelar-yayasan-ruang-baca-komunitas

  1. Bandung Pos

Ramaikan HKN 2025, Seminar Digelar:

https://bandungpos.id/ramaikan-hkn-2025-digelar-seminar-literasi-kesehatan/

  1. Kabar Priangan

Hari Kesehatan Nasinla Jadi Momentum Penerbitan Buku:

https://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199790142/hari-kesehatan-nasional-dijadikan-momentum-penerbitan-buku-terbaru-literasi-budaya-phbs?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

 Zona Literasi

HKN 2025, YRBK dan PKU Muhammadiyah Gelar Seminar Literasi Kesehatan: https://zonaliterasi.id/hkn-2025-yrbk-klinik-pku-muhammadiyah-banjar-gelar-seminar-literasi-kesehatan/

  1. Redaksi Radar TV

Puluhan Pelajar Dilatih Menulis Literasi Kesehatan:

 

 

Link terkait lainnya:

Semangat Literasi Kesehatan: https://www.instagram.com/p/DRBZpFPk9vi/

Generasi Sehat Masa Depan Hebat: https://www.instagram.com/p/DQ62s31E30W/

 

Scroll to Top