OPINI

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH

Shannya Meisaskitha, lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 9 Mei 2007, adalah mahasiswa S1 Fakultas Hukum, Program Studi Hukum, Universitas Bangka Belitung. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan kuat pada dunia kreatif dan literasi, yang berkembang menjadi kegemaran menulis cerpen, membaca buku, dan menggambar. Dalam bidang cerpen, Shannya kerap meraih penghargaan hingga ke tingkat nasional, yang mendorongnya terus mengasah kemampuan bercerita. Baginya, menulis adalah cara untuk merekam pengalaman dan dinamika kehidupan, sementara membaca memperkaya sudut pandangnya. Menggambar menjadi pelarian tenang dan bentuk pemulihan diri ketika beban akademik mulai menumpuk. Menempuh studi hukum, Shannya bercita-cita berkontribusi dalam memperjuangkan apa yang adil bagi banyak orang, terutama mereka yang suaranya sering tidak terdengar. Melalui karya dan perjalanan belajarnya, ia berharap dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.


Ada ironi yang pelan-pelan berdenyut di negeri yang selalu memanggil dirinya bangsa yang beradab. Seperti yang kita tahu, kita tumbuh dalam budaya yang mencintai sopan santun secara seremonial, namun rupanya diam-diam membiarkan kekerasan bersembunyi di balik candaan yang dipaksakan, hierarki yang diagungkan, juga pergaulan yang mengukur harga diri dari seberapa kuat seseorang menahan luka. Perundungan jarang datang dengan suara keras. Ia kerap merayap dalam bentuk-bentuk yang tak dianggap jahat seperti gurauan yang menusuk, tatapan yang merendahkan, bahkan pengucilan yang dibungkus dengan alasan klasik seperti “kedewasaan”.

Tragedi yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, adalah cermin yang pecah tepat di hadapan kita. Pecahannya seperti memaksa kita untuk melihat wajah asli sebuah kenyataan yang selama ini kita biarkan suram. Menurut laporan berbagai media nasional, sebelum kematiannya, Timothy diduga mengalami serangkaian penghinaan dan tekanan sosial yang meninggalkan jejak digital. Gelombang kemarahan publik yang muncul kemudian bukan hanya reaksi emosional, tetapi sebuah pengakuan bahwa kita terlambat, berkali-kali terlambat, memahami bahwa bullying bukan sekadar salah langkah pergaulan, melainkan kekerasan yang mampu menghapus sebuah hidup seseorang.

Padahal, hukum telah lama berusaha berbicara. Aturan yang kita miliki bukanlah sekadar teks tanpa jiwa. Ia memuat perlindungan yang, bila kita mau, bisa menjadi pagar tempat manusia berlindung.

Pasal 27 ayat (3) UU ITE menyatakan dengan tegas, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik.”

Meski demikian, hukum kerap hadir ketika semuanya telah kehilangan detak. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh ingin mencegah, atau kita hanya bergerak ketika tragedi menjadi sorotan utama?

Perundungan tumbuh dari tanah sosial yang terlalu lama dibiarkan tandus. Ia disiram oleh budaya yang abai, dibesarkan oleh institusi yang lebih takut pada rusaknya citra ketimbang rusaknya nyawa, dan dijaga oleh kebiasaan yang menertawakan luka orang lain. Saya pernah melihat teman terjerat dalam cemoohan, lukanya tak berbekas di wajah, tetapi menetap di relung hatinya seperti bayangan yang enggan pergi. Kita hidup dalam masyarakat yang menyepelekan kekuatan kata-kata, seolah ucapan yang menusuk tidak mampu menimbulkan memar. Padahal, ada kata-kata yang bekerja seperti duri kecil, tidak tampak, tetapi terus menembus ke dalam

Tanpa perubahan budaya, hukum akan terus menjadi teks yang tak berjiwa. Kita membutuhkan keberanian yang tidak lagi diam di tengah kekerasan yang disamarkan sebagai keakraban. Kita membutuhkan empati yang tidak perlu menunggu duka untuk mengetuk kesadaran. Kita membutuhkan ruang sosial yang tidak lagi memperbolehkan luka-luka seperti ini menyelinap tanpa suara.

Kasus Timothy seharusnya menjadi titik balik. Ia mengingatkan kita bahwa perundungan bukanlah sebuah tradisi, bukanlah bahan candaan, bukanlah bagian dari proses pendewasaan. Ia adalah kekerasan yang merampas masa depan seseorang. Jika tragedi ini tidak menggugah nurani, maka kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah bangsa gagal melindungi anaknya sendiri.

Pada akhirnya, melawan budaya bullying bukan hanya tentang menuntut pelaku atau mencari siapa yang salah. Ini tentang keberanian menantang sesuatu yang lebih besar. Cara hidup yang selama ini membuat kita merasa wajar untuk membiarkan seseorang hancur perlahan. Ada kepedihan yang kita pura-pura tidak dengar, ada tangis yang tenggelam di antara tawa yang dipaksakan, dan ada manusia yang kehilangan dirinya, bukan karena satu pukulan, tapi karena seribu kata yang tidak dianggap serius.

Kita terlalu sering meminta korban untuk “sabar”, “dewasa”, atau bahkan “mengerti situasi”, seolah luka batin tidak lebih dari goresan kecil yang bisa hilang dengan waktu. Padahal, ada orang-orang yang bertahan sambil menggenggam hati yang sudah remuk, berharap ada satu saja suara yang berpihak pada mereka. Namun sering kali, yang mereka temukan hanyalah sunyi. Dan sunyi itulah yang membunuh paling pelan.

Institusi yang mestinya menjadi pelindung justru sibuk menjaga nama baik. Teman sebaya yang harusnya menjadi sandaran malah ikut menertawakan. Dan kita, masyarakat yang bangga disebut “ramah”, sering hanya bergerak ketika seseorang sudah terlanjur tiada. Luka Timothy adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kita tidak hanya terlambat, tetapi juga lalai. Kita membiarkan seorang anak bangsa berperang sendirian di medan yang tidak seharusnya ia hadapi.

Kalau tragedi seperti ini masih tidak menggugah kita, maka ada sesuatu yang sedang mati dalam diri kita sebagai bangsa. Rasa peka, rasa peduli, rasa manusiawi. Kita tidak butuh lagi semboyan tentang keramahan. Kita butuh keberanian untuk menghentikan kekerasan yang dibungkus sebagai candaan, keakraban, atau “proses pendewasaan.”

Perubahan tidak boleh lagi sekadar wacana. Tidak boleh menunggu korban berikutnya untuk jatuh. Yang kita perlukan kini bukan hanya sekadar penegakan pasal, tetapi penegakan nurani. Sebab bangsa yang sungguh beradab tidak diukur dari seberapa tebal buku hukumnya, melainkan dari seberapa tulus ia menjaga mereka yang paling rentan agar tidak jatuh dalam senyap.***

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH Read More »

PENINGKATAN KAPASITAS PEGIAT LITERASI MASYARAKAT KOTA BANJAR MELALUI LOKAKARYA PENULISAN KREATIF

Gerakan literasi tentu saja bukanlah sekadar jargon, namun telah menjadi suatu hal fundamental, kecakapan hidup yang sangat diperlukan untuk meraih kemajuan. Tidaklah heran jika para ahli pendidikan mengingatkan kita betapa literasi memiliki urgensi dalam kehidupan. Namun begitu, disadari bahwa gerakan literasi belum begitu menggembirakan sehingga karenanya perlu terus didorong bersama secara kolaboratif.

Gerakan literasi di Kota Banjar Jawa Barat terus menggeliat dan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Banjar berada di “papan bawah” dan pada tahun 2024 mengalami kenaikan signifikan menjadi berada di “papan atas”.

Meskipun belum berada pada kondisi paling ideal, namun capaian positif ini tentunya merupakan buah dari sinergitas dan kolaborasi para pihak untuk terus memperkuat atmosfir yang mendukung gerakan literasi secara berkelanjutan.

Meskipun tidak bersifat baku dan mutlak, IPLM dapat menjadi gambaran umum bahwa gerakan literasi seringkali mengalami fluktuasi. Pasang-surut semangat gerakan literasi tentunya akan sangat tergantung pada berbagai aspek, baik dari sisi kebijakan, kondisi budaya baca masyarakat, maupun hal-hal lainnya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Karenanya, kunci utama untuk menjaga soliditas gerakan literasi terletak pada sinergitas dan kolaborasi para pihak untuk secara sadar dan terus menerus melakukan penguatan gerakan literasi secara terintegrasi.

Bantuan Pemerintah Bidang Sastra dan Kebahasaan melalui Fasilitasi dan Pembinaan komunitas Masyarakat melalui kegiatan “Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat Kota Banjar Melalui Lokakarya Penulisan Kreatif” diharapkan menjadi media sinergi dan kolaborasi yang mampu menguatkan gerakan literasi di ranah masyarakat. Hal ini secara skematis dapat divisualisasikan pada bagan berikut. Pemerintah melalui Kemendikdasmen dan struktur di bawahnya (Balai Bahasa, Kemendikbud Kabupaten/Kota), Gerakan Literasi Sekolah, berkolaborasi dengan kekuatan Komunitas Literasi Masyarakat, baik itu Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), Komunitas Literasi Kampus, para Pegiat Literasi Masyarakat lainnya seperti Pustakawan di tingkat desa/kelurahan serta Komunitas Literasi Pesantren.

 

Tema utama program yang digagas adalah “Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat Kota Banjar Melalui Lokakarya Penulisan Kreatif”. Tema ini dijabarkan dalam tiga kegiatan utama. yaitu: (1) Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Kota Banjar melalui Lokakarya Penulisan Kreatif, (2) Penulisan dan Penerbitan Buku Antologi Pegiat Literasi Kota Banjar (Versi e-Book), (3) Seminar Publik Penguatan Literasi Masyarakat dan Peluncuran e-Book Antologi Pegiat Literasi.

Secara skematik, hasil dan dampak program Banpem Komunitas Literasi melalui kegiatan “Peningkatan Kapasitas Literasi Masyarakat di Kota Banjar Jawa Barat” ini dapat divisualisasikan dalam diagram berikut:

Secara garis besar tujuan dan manfaat kegiatan yang akan dijalankan adalah sebagai berikut.

  1. Tujuan utama kegiatan
  • Meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya literasi sebagai salah satu modal utama dalam pembangunan.
  • Meningkatkan kapasitas para pegiat literasi masyarakat sehingga memiliki kemampuan dalam menulis cerita kreatif sebagai salah satu modal dalam kegiatan literasi.
  1. Manfaat kegiatan yang akan dijalankan
  • Terbangunnya sinergi dan kebersamaan dalam mendorong gerakan literasi dengan beragam kegiatannya secara berkelanjutan.
  • Meningkatnya kapasitas, kapabelitas, serta wawasan keilmuan para pegiat literasi, terutama dalam penulisan buku sehingga dengan begitu para pegiat literasi diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam gerakan literasi secara simultan.

***

 Previous Program:

 

PENINGKATAN KAPASITAS PEGIAT LITERASI MASYARAKAT KOTA BANJAR MELALUI LOKAKARYA PENULISAN KREATIF Read More »

Buku Cerita Rakyat Kota Banjar Dapat Respons Positif, Penulisnya Anak Anak Muda

BANJAR, RADARTASIK.ID – Buku Cerita Rakyat Kota Banjar yang ditulis kawula muda mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Buku itu sendiri diluncurkan akhir bulan lalu.

Respons positif itu terlihat dari banyaknya kunjungan pustaka ke RBK (Ruang Baca Komunitas) dari beberapa sekolah. Seperti yang dilakukan siswa MTs Negeri 3 Banjar.

Buku Cerita Rakyat Kota Banjar ini diklaim menjadi salah satu favorit yang diburu para pemustaka untuk dibaca di RBK. Bukunya sendiri tidak diperjualbelikan.

Pendiri RBK Sofian Munawar mengatakan, setelah peluncuran buku hampir setiap hari ada yang menanyakan dan ingin memesannya.

“Untuk tahap awal, buku ini dicetak secara terbatas, dan dibagikan secara gratis (tidak diperjualbelikan),” ucapnya, Minggu 13 Oktober 2024.

Selain diberikan kepada para penulisnya, juga para pihak lainnya yakni untuk perpustakaan sekolah, perpustakaan desa/kelurahan dan pihak lainnya.

“Alhamdulillah atensinya cukup luar biasa, tapi maaf karena ada keterbatasan. Bagi yang membutuhkan silakan bisa mengunduh buku secara gratis pada laman yang sudah disediakan di website RBK,” jelasnya.

Saat kunjungan pustaka dari MTs Negeri 3 Banjar, sejumlah siswa asyik dengan membolak-balik dan mencerna buku Cerita Rakyat Kota Banjar.

“Saya kira buku ini sangat menarik, terutama bagi para siswa. Karena buku penting menjadi rujukan para guru terutama guru bahasa maupun sejarah,” ucap guru MTsN 3 Banjar, Tati Sutiati.

Kata dia, buku tersebut bisa jadi rujukan bagi para guru Bahasa Indonesia dan Sunda. Bahkan guru Sejarah dalam menambah wawasan. (Anto Sugiarto).

Link Terkait:

  • RadSik Online:

https://radartasik.id/2024/10/13/buku-cerita-rakyat-kota-banjar-dapat-respons-positif-penulisnya-anak-anak-muda/

  • Testimoni Siswa:
  • Kontributor Penulis:

Buku Cerita Rakyat Kota Banjar Dapat Respons Positif, Penulisnya Anak Anak Muda Read More »

SASTRA DAN KEMAJUAN BANGSA

SASTRA DAN KEMAJUAN BANGSA

Sofian Munawar [1]

 

“Mendorong sastra dan seni adalah kewajiban setiap warga negara yang baik kepada negaranya.” – George Washington

 

Membincang ulang sastra, saya selalu teringat Rachmat Djoko Pradopo, salah satu dosen idola saya di Fakultas Sastra UGM. Dalam banyak kesempatan perkuliahan, khususnya mata kuliah “teori sastra” yang diampunya, beliau seringkali menyitir ucapan Horace atau nama panjangnya Quintus Horatius Flaccus dalam bukunya Ars Poetica bahwa sastra yang baik harus memuat dulce et utile.

Dulce et utile merupakan istilah yang digunakan Horace untuk menyebut bahwa karya sastra mesti menampilkan keindahan (dulce) sekaligus memberikan makna atau kebermanfaatan bagi kehidupan (utile). Meski banyak juga yang berpendapat bahwa “dulce et utile” bukan saja sebagai syarat bagi sebuah karya sastra, melainkan juga untuk semua disiplin keilmuan.

Namun point yang ingin saya tekankan di sini adalah persepsi dominan yang saat ini masih terkesan di masyarakat bahwa sastra dipahami sebatas hobi atau kesenangan. Sastra hanya identik dengan puisi, cerpen, novel atau karya-karya fiksi lain sebagai media hiburan semata.  Padahal, perjalanan sejarah telah menunjukkan pada kita bahwa sastra juga lekat kaitannya dengan perjuangan bangsa.

Benar bahwa sastra telah dijadikan media sebagian orang yang memiliki hobi dan panggilan jiwa menjadi seorang penulis. Konsistensi mereka yang memilih panggilan hidup di jalur ini tak sedikit meraih predikat sebagai sastrawan, penyair, atau bahkan budayawan. Namun lebih dari itu, butuh suatu kesadaran atau mungkin penyadaran bahwa dalam perjalanan sejarah kebangsaan, sastra telah menunjukkan peranannya sebagai arena perjuangan. Dari sejarah kita memahami, betapa sastra berperan sangat penting dalam membangun peradaban. Sastra bahkan dapat menjadi media untuk memupuk, membentuk, dan mewariskan jati diri sekaligus menjadi cermin yang merefleksikan tingkat peradaban suatu bangsa.

 

Berkaca pada Perjuangan Bangsa

Adalah Muhammad Yamin, salah seorang begawan sastra yang secara konsisten mendedikasikan hidupnya, memperjuangkan kemerdekaan bangsa melalui “jalur sastra”. Yamin dikenal sebagai penggagas utama penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan dan bahasa persatuan. Dari tangannyalah konsep Sumpah Pemuda dan juga konsep awal Pancasila mengemuka hingga kini keduanya menjadi pedoman utama kita dalam berbangsa-bernegara.

Kalau kita komparasikan dengan pengalaman di sejumlah negara, kita pun akan menyaksikan hal serupa. Sejarah mencatat, misalnya Rabrinndarath Tagore di India, Muhammad Iqbal di Pakistan, Jose Rizal di Philipina, termasuk beberapa sastrawan Amerika latin yang memiliki kiprah luar biasa dalam perjuangan bangsanya. Tak heran jika George Washington mengatakan bahwa “Mendorong sastra dan seni adalah kewajiban setiap warga negara yang baik kepada negaranya.”

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia pun kita melihat betapa sastrawan dan karya-karyanya telah menjadi inspirasi, mengisi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal maupun nilai-nilai keindonesiaan. Dari Amir Hamzah, Abdoel Moeis, Muhammad Yamin, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Buya Hamka, Putu Wijaya, WS. Rendra, dan para Sastrawan terkemuka lainnya kita dapat menggali inspirasi dan semangat kebangsaan melalui karya-karyanya yang luar biasa.

 

Ikhtiar Kecil: Antologi Puisi Kebangsaan

Buku Antologi Puisi Kebangsaan yang kami luncurkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-95, Sabtu 28 Oktober 2023 merupakan rangkaian tak terpisahkan dari program “Penguatan Komunitas Sastra” Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK). Kegiatan ini didukung penuh oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

Program Penguatan Komunitas Sastra yang kami gulirkan didasarkan pada asumsi dasar bahwa selain menjadi identitas bangsa, sastra dan kebahasaan merupakan salah satu kebutuhan tidak terpisahkan dari kemajuan sebuah bangsa. Karenanya, apresiasi sastra dan kebahasaan harus menjadi keinsafan semua pihak untuk turut menjaga dan mengembangkannya dalam beragam bentuknya, menjadi bagian tak terpisahkan dari literasi peradaban sebagai kunci kemajuan.

Ada empat rangkaian kegiatan yang kemudian kami agendakan, di mana antara satu sama lainnya saling menguatkan. Pertama, lomba cipta puisi untuk para guru. Kedua, lomba baca puisi untuk  para pelajar. Ketiga, pagelaran sastra dan apresiasi puisi hasil lomba cipta dan baca puisi. Keempat, penerbitan dan peluncuran buku antologi puisi yang berasal dari para pesera maupun juri lomba baca dan cipta puisi.  Keempat agenda kegiatan tersebut   dapat divisualisasiakn dalam bagan berikut.

Mencipta puisi adalah seni mengungkapkan perasaan dan gagasan melalui media kata dan kepekaan bahasa. Lomba puisi untuk guru bertujuan untuk mewadahi gagasan, ide, imajinasi, serta kreativitas para guru melalui penulisan puisi. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan dan pengembangan apresiasi sastra, memupuk kepekaan berbahasa serta memacu semangat dan merangsang kreativitas para guru untuk berkarya.

Adapun tematiknya disesuaikan dengan konteks Bulan Bahasa dan pengkhidmatan Hari Sumpah Pemuda sehingga tema seluruh segmen kegiatan diorientasikan pada tematik “Semangat Kebangsaan” di mana momentum Sumpah Pemuda menjadi salah satu elan vitalnya. Karena itu, penerbitan dan peluncuran buku “Antologi Puisi Kebangsaan” dipilih menjadi tema sentral sebagai bentuk pengkhidmatan Bulan Bahasa dan semangat Sumpah Pemuda. Ikhtiar kecil ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya kita dalam memupuk semangat dan nilai-nilai kebangsaan dengan menjadikan bahasa dan sastra sebagai salah satu modal utamanya.

 

Banjar, 28 Oktober 2023

[1] Sofian Munawar, Pendiri Yayasan Ruang Baca Komunitas, penanggung jawab program Penguatan Komunitas Sastra YRBK yang didukung penuh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek RI, 2023.

SASTRA DAN KEMAJUAN BANGSA Read More »

Scroll to Top