Author name: ruangbacakomunitas.com

DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU

Tatang Mugiyana, S.Pd.
(Kepala UPTD SDN 1 Bank Jabar, Langensari, Kota Banjar)

Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan merupakan kunci utama dalam meningkatkan minat, motivasi, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Pada jenjang Sekolah Dasar, tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah bagaimana menyajikan materi pembelajaran agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan siswa, serta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Pembelajaran yang bersifat abstrak dan verbalistik sering kali membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Dalam konteks pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), materi tentang daerah tempat tinggal dan keadaan alamnya menjadi salah satu materi penting yang perlu dipahami siswa. Materi ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan faktual, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membentuk identitas, rasa cinta terhadap lingkungan, serta kepedulian terhadap budaya lokal. Namun demikian, penyampaian materi tentang letak geografis, batas wilayah, kondisi alam, dan potensi daerah sering kali dilakukan secara konvensional melalui buku teks dan penjelasan lisan, sehingga kurang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Berangkat dari kondisi tersebut, UPTD SDN 1 Bank Jabar Langensari mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran bertajuk “Deskripsi Daerahku melalui Lagu”. Inovasi ini memadukan pembelajaran IPAS dengan seni musik sebagai media utama untuk menyampaikan materi tentang daerah dan keadaan alam Kota Banjar. Kepala sekolah berperan aktif dalam memotivasi dan mendampingi guru kelas IV untuk menggunakan lagu ciptaan sendiri berjudul “Ciciren Banjar” sebagai sarana pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.

Penggunaan lagu sebagai media pembelajaran memiliki kekuatan tersendiri. Lagu mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara bersamaan. Melalui lirik, irama, dan melodi, informasi dapat disampaikan secara lebih mudah diingat dan dipahami. Lagu juga menciptakan suasana belajar yang rileks, menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif siswa. Dalam konteks pembelajaran daerah, lagu “Ciciren Banjar” menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan lingkungan geografis, alam, dan budaya tempat mereka tinggal.

Inovasi ini memiliki landasan yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan menegaskan pentingnya pembelajaran yang mendorong pemahaman kontekstual dan penguatan karakter peserta didik. Permendikbudristek Nomor 7 Tahun 2022 tentang Struktur Kurikulum juga memberikan ruang yang luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah.

Dalam Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran IPAS Fase B menekankan pengenalan peserta didik terhadap berbagai komponen lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia. Materi ini sangat relevan jika disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Selain itu, inovasi ini juga mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Penggunaan lagu daerah turut mendukung implementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui penguatan nilai cinta tanah air dan budaya lokal.

Inovasi “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” bertujuan untuk memotivasi guru agar lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, khususnya dalam mengajarkan materi tentang batas wilayah dan keadaan alam Kota Banjar. Lagu “Ciciren Banjar” digunakan sebagai alat bantu untuk memperkenalkan letak geografis, kondisi alam, serta potensi budaya daerah kepada siswa kelas IV. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pelaksanaan inovasi diawali dengan persiapan pembelajaran yang matang. Kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan guru kelas IV untuk mendiskusikan strategi pembelajaran kreatif yang dapat digunakan dalam materi daerah dan keadaan alam. Pada tahap ini, guru diberikan pendampingan mengenai cara mengintegrasikan lagu ke dalam alur pembelajaran, mulai dari apersepsi, penyampaian materi, hingga evaluasi. Guru juga dibekali pemahaman tentang pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Pada tahap pelaksanaan di kelas, guru memperkenalkan lagu “Ciciren Banjar” kepada siswa dengan cara mendengarkan dan menyanyikannya bersama. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan antusias. Guru kemudian menjelaskan makna lirik lagu yang menggambarkan batas wilayah Kota Banjar, keberadaan gunung, sungai, serta kekayaan alam dan budaya setempat. Penjelasan ini membantu siswa memahami bahwa lirik lagu tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung informasi penting tentang daerah mereka.

Setelah siswa mengenal lagu, kegiatan dilanjutkan dengan analisis lirik. Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai isi lagu, seperti nama-nama wilayah, kondisi geografis, sungai, gunung, serta kehidupan masyarakat Banjar. Melalui diskusi ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menghubungkan informasi dalam lagu dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, serta menyampaikan pendapat secara lisan.

Untuk memperkuat pemahaman, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan tugas praktik. Setiap kelompok diminta membuat poster atau presentasi yang menggambarkan letak desa, kecamatan, keadaan alam, serta budaya daerah berdasarkan lirik lagu “Ciciren Banjar”. Aktivitas ini mendorong siswa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekspresikan ide secara kreatif. Pada saat presentasi, siswa diminta menyanyikan bagian lagu yang relevan dengan materi yang mereka sampaikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan berkesan.

Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan dan tertulis. Guru menilai pemahaman konsep, kreativitas, serta kemampuan siswa dalam menyampaikan informasi. Selain itu, siswa juga diajak melakukan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar mereka. Refleksi ini membantu siswa menyadari bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.

Penerapan inovasi ini dilaksanakan secara bertahap dan terencana, dimulai dari perencanaan pada bulan Desember 2024, pelaksanaan pada Januari hingga Maret 2025, evaluasi pada April 2025, dan tindak lanjut pada Mei 2025. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis seni yang dipadukan dengan diskusi kelompok. Media utama berupa lagu “Ciciren Banjar” didukung oleh perangkat audio-visual dan alat bantu pembelajaran lainnya.

Lirik lagu “Ciciren Banjar” yang menggunakan bahasa Sunda menjadi kekuatan tersendiri dalam inovasi ini. Bahasa daerah yang digunakan membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi pembelajaran. Lagu ini tidak hanya menyampaikan informasi geografis, tetapi juga menanamkan nilai kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Banjar sebagai daerah tempat tinggal mereka.

Hasil penerapan inovasi menunjukkan dampak yang sangat positif. Motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan. Siswa terlihat lebih antusias, aktif bertanya, dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Kreativitas siswa juga berkembang melalui kegiatan membuat poster dan presentasi. Mereka mampu mengekspresikan pemahaman tentang daerah dan budaya secara lebih variatif dan menarik.

Pemahaman konsep siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka tidak hanya menghafal, tetapi memahami melalui pengalaman belajar yang melibatkan emosi, visual, dan auditori. Lagu membantu siswa mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Selain itu, inovasi ini juga berhasil menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah asal, serta meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam dan budaya lokal.

Secara keseluruhan, inovasi pembelajaran “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di kelas IV. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui integrasi seni dan budaya lokal, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga nilai dan sikap positif terhadap lingkungan dan daerahnya.

Ke depan, inovasi ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan. Kepala sekolah dapat terus mendorong guru untuk memanfaatkan lagu daerah sebagai media pembelajaran pada berbagai materi. Integrasi seni dan budaya lokal perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter dan identitas peserta didik. Selain itu, penyediaan sumber belajar kreatif seperti media audio-visual dan lagu daerah akan sangat mendukung keberlanjutan praktik baik ini dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka dan bermakna.***

DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU Read More »

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN

Rini Apriani adalah seorang pendidik lahir di Ciamis, 3 April 1986 yang aktif mengabdi di Kota Banjar. Ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, baik sebagai guru, dengan perhatian besar terhadap isu keadilan, kualitas, dan keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi guru honorer dan sekolah swasta.

Selain mengajar, Rini Apriani juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesional pendidik, penguatan karakter, serta transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar bersama untuk membangun masa depan anak bangsa melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada kemanusiaan.


Pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Di tangan para guru, masa depan anak-anak negeri ini dititipkan. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, akhlak, dan karakter yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sudah selayaknya profesi guru mendapatkan perhatian, perlindungan, dan keadilan yang setara.

Melalui tulisan ini, saya sebagai seorang guru di Kota Banjar ingin menyampaikan sebuah harapan, bukan tuntutan, dan bukan pula perbandingan yang menjatuhkan pihak mana pun. Harapan ini lahir dari realitas yang kami alami sehari-hari sebagai guru honorer, khususnya guru honorer di sekolah swasta, yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun tanpa kejelasan masa depan.

Kami memahami bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi ASN. Namun, dalam pelaksanaannya, kesempatan tersebut masih terasa lebih banyak berpihak kepada guru negeri. Sementara itu, ribuan guru honorer swasta tetap setia mengabdi, mengajar dengan hati, mendidik dengan penuh tanggung jawab, meski dengan keterbatasan yang sangat besar.

Bukan nasib seperti ini yang kami impikan. Menjadi guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak bukanlah pilihan ideal, melainkan bentuk pengabdian. Kami percaya, mungkin pemerintah memiliki pertimbangan dan kebijakan tersendiri. Namun kami juga berharap, masih ada ruang bagi hati nurani untuk melihat dan mendengar suara guru-guru swasta yang selama ini setia menjaga nyala pendidikan di daerah.

Ironis rasanya ketika kenyataan menunjukkan bahwa gaji pegawai di sektor lain, termasuk tenaga pelaksana program tertentu, bisa lebih besar dibandingkan gaji seorang guru.

Padahal, guru memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Guru bertanggung jawab atas masa depan satu, puluhan, bahkan jutaan anak bangsa. Sebuah amanah yang tidak ringan dan tidak ternilai dengan angka semata.

Kami tidak ingin membandingkan siapa yang lebih penting. Kami hanya ingin sedikit harapan. Harapan agar nasib guru honorer swasta juga diperhatikan dengan adil, sebagaimana perhatian yang diberikan kepada guru honorer di sekolah negeri. Kami juga manusia biasa yang memiliki keluarga, anak-anak, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Sementara itu, kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan tuntutan profesionalisme guru semakin besar.

Pada dasarnya, semua orang ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Namun, ketika harus dihadapkan pada pilihan antara terus mengabdi atau meninggalkan profesi demi mencari penghidupan yang lebih layak di kota besar, maka pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjaga pendidikan di daerah kecil seperti Kota Banjar

Jika orang-orang terbaik, para pendidik yang berpengalaman dan berdedikasi, perlahan meninggalkan daerahnya karena keterbatasan kesejahteraan, maka yang akan tertinggal bukan hanya kekosongan tenaga pengajar, tetapi juga hilangnya kualitas pendidikan dan harapan generasi muda di daerah tersebut.

Melalui tulisan ini, kami menitipkan harapan besar kepada para pemangku kebijakan di Kota Banjar dan pemerintah pada umumnya. Semoga ke depan kebijakan pendidikan semakin inklusif, adil, dan berpihak kepada seluruh guru tanpa membedakan status sekolahnya. Karena sejatinya, semua guru memiliki tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik

Semoga suara kecil dari daerah ini dapat menjadi bahan renungan, bahwa memperhatikan kesejahteraan guru honorer swasta bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan dan keberlanjutan daerah tercinta, Kota Banjar.***

 

HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN Read More »

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025

Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd.
Endang Tuti Supriatin, S.Pd., M.Pd. (Kepala UPTD SDN 1 Waringinsari)

Keberhasilan sebuah satuan pendidikan bukanlah hasil dari kerja instan, apalagi sekadar pencitraan melalui dokumentasi foto dan video. Keberhasilan sejati lahir dari proses panjang yang direncanakan secara matang, dijalankan dengan konsistensi, serta dilandasi keberanian untuk melakukan perubahan. Prinsip inilah yang menjadi ruh utama di balik Succes Story ESDEJIWA (UPTD SDN 1 Waringinsari) dalam meraih Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA Tahun 2025.

Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan institusi, melainkan bukti konkret bahwa penguatan pendidikan karakter dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan. Nilai-nilai karakter tidak berhenti pada tataran konsep atau administrasi, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan peserta didik, serta berdampak positif bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.

Anugerah PANCAWALUYA merupakan ajang apresiasi bagi satuan pendidikan yang mampu mengimplementasikan pendidikan karakter secara holistik dan sistemik. Bagi ESDEJIWA, keikutsertaan dalam ajang ini tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana refleksi atas ikhtiar panjang dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter, selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Karakter.

Keberhasilan meraih Juara Madya tidak terlepas dari kepemimpinan yang gigih, visioner, dan kolaboratif. Seorang pemimpin pendidikan tidak hanya dituntut mampu mengelola administrasi dan program, tetapi juga harus mampu menggerakkan seluruh sumber daya manusia (SDM) di sekolah. Di ESDEJIWA, kepemimpinan dimaknai sebagai proses mengajak, memberi teladan, serta membangun kesadaran kolektif bahwa penguatan karakter adalah tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

Menggerakkan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga komite sekolah bukanlah hal yang mudah. Setiap individu memiliki latar belakang, cara pandang, dan kebiasaan yang berbeda. Tantangan terbesar terletak pada menyatukan keberagaman tersebut dalam satu visi yang sama. Namun melalui komunikasi terbuka, pembinaan berkelanjutan, dan keteladanan nyata dari pimpinan, nilai-nilai Gapura Pancawaluya perlahan tumbuh menjadi budaya sekolah.

Sekolah mengintegrasikan sembilan langkah pembangunan pendidikan karakter Jawa Barat secara holistik ke dalam budaya sekolah, proses pembelajaran, pembiasaan harian, serta kemitraan dengan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya, dengan berlandaskan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Dalam aspek kebersihan lingkungan, ESDEJIWA menanamkan budaya bersih melalui pembiasaan harian, pengelolaan lingkungan sekolah yang sehat, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekitar. Program ini tidak hanya membentuk lingkungan yang nyaman, tetapi juga menumbuhkan karakter disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Pada peningkatan mutu dan kompetensi guru, sekolah mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian melalui pelatihan, komunitas belajar, serta refleksi praktik pembelajaran. Guru diposisikan sebagai teladan utama dalam implementasi nilai-nilai karakter Pancawaluya, baik dalam pembelajaran maupun interaksi sehari-hari dengan peserta didik.

Pendidikan ekologi diintegrasikan dalam pembelajaran dan kegiatan proyek berbasis lingkungan. Peserta didik dilatih untuk memiliki kesadaran ekologis, mencintai alam, serta berperilaku ramah lingkungan. Kegiatan ini menumbuhkan karakter peduli dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam hal kreativitas dan inovasi peserta didik, sekolah menyediakan ruang melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Karya berbasis pemanfaatan barang bekas, teknologi sederhana, dan proyek tematik menjadi sarana aktualisasi potensi peserta didik, sekaligus menanamkan nilai kreatif, inovatif, dan adaptif (Singer).

Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui program membawa bekal dari rumah, cuci tangan, olahraga rutin, serta optimalisasi layanan UKS. Program ini diperkuat melalui kerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Langensari, sebagai mitra strategis dalam mendukung kesehatan jasmani dan rohani peserta didik (Cageur).

Sekolah juga menanamkan kesadaran akan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan melalui optimalisasi berjalan kaki dan edukasi penggunaan transportasi yang bijak, disesuaikan dengan kondisi dan keamanan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter yang menekankan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan.

Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler diarahkan sebagai wahana pembentukan karakter, kepemimpinan, kerja sama, dan kemandirian peserta didik. Kegiatan disesuaikan dengan minat dan bakat siswa serta nilai-nilai Pancawaluya.

Dalam aspek perilaku peserta didik di luar sekolah, ESDEJIWA membangun sinergi erat dengan orang tua. Sekolah menyadari bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa kesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pembiasaan positif di sekolah diharapkan berlanjut di rumah dan lingkungan sosial.

Selanjutnya, peningkatan pendidikan keagamaan dilaksanakan melalui pembiasaan ibadah, kegiatan keagamaan rutin, serta penguatan nilai spiritual. Program ini menumbuhkan ketenangan batin, toleransi, dan akhlak mulia sebagai fondasi karakter Bageur dan Bener.

Keberhasilan implementasi penguatan karakter ini semakin kuat karena adanya ikatan kemitraan dengan berbagai pihak relevan, termasuk instansi pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas pendidikan. Kolaborasi ini memperluas ekosistem pembelajaran dan memberikan pengalaman kontekstual bagi peserta didik.

Sebagai bagian dari perencanaan strategis, ESDEJIWA menetapkan harapan pengembangan satuan pendidikan empat tahun ke depan (2025–2029) yang selaras dengan Program Gapura Pancawaluya Jawa Barat. Harapan tersebut mencakup terwujudnya sekolah sehat (Cageur), budaya peduli dan gotong royong (Bageur), integritas dan kedisiplinan tinggi (Bener), keunggulan literasi dan wawasan kebangsaan (Pinter), serta kreativitas dan adaptivitas terhadap perubahan (Singer).

Capaian Juara Madya Anugerah PANCAWALUYA 2025 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan tonggak penguat semangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Lebih dari sekadar penghargaan, keberhasilan ini tercermin dari perubahan nyata pada diri peserta didik yang semakin berkarakter dan berdaya saing.

Akhir kata, Succes Story ESDEJIWA adalah kisah tentang kepemimpinan yang menggerakkan, kolaborasi yang menguatkan, dan komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Semoga praktik baik ini dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain dalam mengimplementasikan pendidikan karakter secara sistematis dan berkelanjutan.***

ESDEJIWA MERAIH JUARA: Succes Story Anugerah PANCAWALUYA 2025 Read More »

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN

Ina Indriyani

Ina Indriyani, S.Pd., Gr. lahir di Ciamis pada 3 Maret 1987. Ia adalah seorang pendidik yang saat ini mengabdikan diri sebagai pengajar di SMKN 1 Banjar. Dunia pendidikan bukan sekadar profesi baginya, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan nilai, tempat ia berinteraksi langsung dengan realitas generasi muda beserta tantangan zamannya. Selain berkiprah sebagai guru, Ina Indriyani aktif menulis dan dikenal sebagai pemerhati dunia pendidikan, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, adab, serta relasi humanis antara pendidik dan peserta didik. Pengalamannya di lapangan memberinya perspektif kritis namun empatik terhadap berbagai kebijakan dan praktik pendidikan yang berlangsung di daerah.Ia juga menaruh perhatian mendalam pada psikologi perempuan, terutama dalam konteks peran perempuan sebagai pendidik, ibu, dan agen perubahan sosial. Melalui tulisan-tulisannya, Ina kerap mengangkat persoalan ketahanan mental, luka batin, kelelahan emosional, serta perjuangan perempuan dalam ruang domestik dan publik, dengan pendekatan reflektif dan edukatif. Bagi Ina Indriyani, menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan moral. Tulisan-tulisannya tidak hanya bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi, harapan, dan ajakan untuk berpikir lebih jernih dan manusiawi. Ia meyakini bahwa pendidikan yang baik hanya dapat lahir dari keberanian untuk merefleksi, kejujuran dalam mengakui kekurangan, dan komitmen bersama untuk terus belajar. Melalui aktivitas mengajar dan menulis, Ina berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan peradaban, khususnya di lingkungan pendidikan dan masyarakat lokal Kota Banjar.


Pendidikan selalu menjadi jantung peradaban, dari ruang-ruang kelas sederhana hingga kebijakan strategis pemerintah daerah, masa depan suatu kota ditentukan oleh bagaimana pendidikan direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi. Kota Banjar, sebagai daerah otonom yang terus bertumbuh, tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab besar ini. Dunia pendidikan di Kota Banjar hari ini berada pada persimpangan penting: antara upaya perbaikan yang patut diapresiasi dan berbagai tantangan yang menuntut perhatian serius.

Opini publik ini disampaikan bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian intelektual dan sosial terhadap masa depan pendidikan di Kota Banjar. Kritik, saran, dan apresiasi perlu ditempatkan secara proporsional agar menjadi energi perubahan, bukan sekadar keluhan tanpa arah.

Apresiasi atas Komitmen dan Kerja Nyata Pendidikan

Harus diakui bahwa pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Banjar telah menunjukkan komitmen dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Sekolah-sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan, para guru terus mengajar dengan dedikasi, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan mulai digulirkan, meskipun hasilnya belum sepenuhnya merata.

Perhatian terhadap pendidikan vokasi, khususnya di tingkat SMK, patut diapresiasi. Upaya menyiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki keterampilan praktis merupakan langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, kehadiran berbagai pelatihan guru, penguatan kurikulum, serta adaptasi terhadap kebijakan pendidikan nasional menunjukkan bahwa Kota Banjar tidak menutup diri terhadap perubahan.

Yang tidak kalah penting, nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan etika sosial masih menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap menggerus karakter, sekolah-sekolah di Banjar masih berupaya menjaga keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan akhlak peserta didik. Ini adalah modal besar yang tidak boleh diabaikan.

Kritik terhadap Persoalan Struktural dan Kultural

Namun, di balik berbagai ikhtiar tersebut, dunia pendidikan di Kota Banjar masih menghadapi persoalan mendasar yang tidak bisa ditutup-tutupi. Salah satunya adalah kesenjangan antara idealisme kebijakan dan realitas di lapangan. Banyak program pendidikan yang dirancang dengan baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata guru dan peserta didik.

Beban administratif guru yang berlebihan masih menjadi keluhan klasik. Guru sering kali lebih sibuk mengurus laporan, dokumen, dan aplikasi daripada fokus pada esensi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik dan mental, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas interaksi edukatif di kelas. Pendidikan yang sehat seharusnya memerdekakan guru untuk mengajar, bukan membelenggu mereka dengan birokrasi yang rumit.

Selain itu, tantangan karakter peserta didik semakin kompleks. Disrupsi teknologi, pengaruh media sosial, dan perubahan pola asuh keluarga berdampak langsung pada sikap, etika, dan motivasi belajar siswa. Sayangnya, pendekatan pendidikan karakter sering kali masih bersifat normatif dan seremonial, belum menyentuh akar persoalan secara mendalam.

Ketimpangan fasilitas dan kualitas pendidikan antar sekolah juga perlu mendapat perhatian. Masih terdapat sekolah yang berjuang dengan keterbatasan sarana, akses teknologi, dan dukungan lingkungan. Jika tidak ditangani dengan kebijakan yang adil dan afirmatif, kesenjangan ini berpotensi melahirkan ketidakadilan pendidikan yang berkepanjangan.

Saran untuk Penguatan Pendidikan yang Humanis dan Kontekstual

Ke depan, pendidikan di Kota Banjar perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih humanis, kontekstual, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, dan kelulusan, tetapi harus menempatkan peserta didik sebagai manusia utuh dengan kebutuhan intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Pertama, perlu adanya keberanian untuk menyederhanakan beban administratif guru. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaporan dan penilaian harus dilakukan dengan melibatkan suara guru sebagai pelaksana utama pendidikan. Guru yang dihargai dan dimanusiakan akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus dilakukan secara nyata dan kontekstual. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Program literasi, penguatan adab, kesehatan mental siswa, serta pendampingan psikososial perlu dirancang secara sistematis, bukan insidental.

Ketiga, pendidikan vokasi di Kota Banjar perlu diperkuat dengan kemitraan yang lebih konkret dengan dunia usaha dan dunia industri. Link and match tidak cukup berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran, magang bermutu, dan penyerapan lulusan secara nyata. Tanpa itu, SMK berisiko hanya menjadi pabrik ijazah tanpa daya saing.

Keempat, pemerintah daerah perlu lebih progresif dalam memastikan pemerataan fasilitas pendidikan. Akses teknologi, ruang belajar yang layak, serta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar peserta didik.

Apresiasi dan Harapan bagi Para Pendidik

Di tengah berbagai keterbatasan, para pendidik di Kota Banjar layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, melampaui tugas formal, dan menjadi figur teladan bagi siswanya. Dedikasi ini sering kali luput dari sorotan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan generasi muda.

Namun, apresiasi tidak cukup hanya dengan pujian moral. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan, pengembangan profesional, dan kesehatan mental guru. Guru yang sejahtera dan dihargai akan lebih mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Penutup: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Pendidikan di Kota Banjar tidak boleh berjalan apa adanya. Ia harus terus dikritisi, diperbaiki, dan diperkuat. Kritik yang disampaikan dengan niat baik adalah bentuk cinta terhadap dunia pendidikan. Saran yang lahir dari refleksi adalah kontribusi nyata bagi perbaikan bersama.

Masa depan Kota Banjar sangat ditentukan oleh bagaimana hari ini kita memperlakukan pendidikan. Apakah kita menjadikannya sekadar kewajiban administratif, atau benar-benar menempatkannya sebagai investasi peradaban. Jawaban atas pertanyaan itu akan tercermin pada wajah generasi Banjar di masa depan: apakah mereka tumbuh sebagai manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya, atau sebaliknya.

Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Dan Kota Banjar memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan peradaban besar, jika pendidikan dikelola dengan hati, visi, dan keberanian untuk berubah.***

 

PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN Read More »

CATATAN LITERASI AKHIR TAHUN YRBK GELAR BERBAGAI KEGIATAN

Sepanjang bulan Desember 2025 Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) menggelar sejumlah kegiatan sebagai agenda penutup akhir tahun. Kegiatan diawali dengan Safari Literasi ke beberapa sekolah, diantaranya ke SMKN 1 Banjar, SDN 2 Langensari, dan SDN 3 Banjar.

Di SMKN 1 Banjar Safari Literasi dimotori Komunitas Remaja Pustaka (KRP) kumpulan siswa pegiat literasi SMKN 1 Banjar yang dibina Kepala Perpustakaan SMKN 1 Banjar, Aang S. Faizar. Kegiatan Safari Literasi juga dimeriahkan dengan penampilan pembacaan puisi oleh guru dan siswa serta testimoni dari Duta Baca Kota Banjar serta motivasi literasi dari Pendiri YRBK Sofian Munawar. Acara dipungkas dengan penyerahan Pigam Penghargaan dari YRBK untuk SMKN 1 Banjar yang diserahkan oleh Sekretaris YRBK Ivan Mahendrawanto diterima oleh Susi Rusmiati, mewakili Kepala SMKN 1 Banjar.

Di SDN 2 Langensari Safari Literasi YRBK juga berkolaborasi dengan Duta Baca Kota Banjar. Acara diwali dengan Redathon yang dipimpin salah satu guru senior Anisah Darajati. “Kami sudah biasa melaksanakan kegiatan redathon setiap hari Rabu,” ujar Elis Rohmawati, Kepala UPTD SDN 2 Langensari. Acara Safari Literasi dipungkas penyerahan hadiah buku dari Pendiri YRBK Sofian Munawar untuk SDN 2 Langensari.

Sementara di SDN 3 Banjar Safari Literasi YRBK secara khusus dimaksudkan untuk menyampaikan apresiasi dimana pada agenda kegiatan literasi sebelumnya, SDN 3 Banjar merupakan sekolah dengan tingkat partisipasi tertinggi dalam kegiatan Parade Puisi Guru (PPG) yang digelar YRBK. “Selamat untuk SDN 3 Banjar, guru-gurunya yang semangat telah melahirkan para siswa juara,” ucap Sofian. Acara dipungkas dengan penyerahan Piagam Penghargaan dari YRBK untuk UPTD SDN 3 Banjar.

Kegiatan berikutnya yang menjadi penanda agenda literasi akhir tahun adalah sharing session yang disampaikan salah satu pegiat literasi RBK, Adinda Zahra Sofiantima. Adinda berbagi cerita pengalamannya sebagai delegasi International Future Leader (IFL) 2025 di Singapura dan Malaysia. “Pengalaman ini bukan saja menarik tapi juga memberikan saya insight betapa pentingnya literasi untuk menyiapkan dan menyongsong masa depan. Semoga pengalaman kecil ini juga dapat memberikan inspirasi untuk masa depan yang lebih baik,” ungkap Adinda yang juga meraih Anugerah Gapura Pancawaluya untuk kategori siswa.

Sementara itu, Guru SMAN 3 Banjar yang juga Pengurus YRBK Putri Sri Jayanti mendapatkan Anugerah Gapura Pancawaluya untuk kategori Tendik. Sebelumnya, Putri Sri Jayanti juga mendapatkan kesempatan untuk melancong ke Thailand atas prestasi yang diraihnya sebagai Exellence in Innovative Teaching. “Alhamdulillah ini kado akhir tahun yang sangat indah buat pegiat literasi dan juga buat RBK,” kata Siti Maroah, Ketua YRBK.

Puncak acara akhir tahun yang menjadi pamungkas kegiatan literasi 2025 ditandai dengan peluncuran dan diskusi buku berjudul WAQOF, bertempat di Sekretariat YRBK. Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku dari penulisnya yaitu Dedeh Rohayati, Dosen FKIP Universitas Galuh (UNIGAL) kepada Ketua YRBK Siti Maroah disaksikan puluhan peserta dari sejumlah sekolah, kampus, dan para pegiat literasi masyarakat di Kota Banjar.

Peluncuran dan diskusi buku juga dimeriahkan dengan penampilan pembacaan puisi dan monolog dari para siswa, mahasiswa dan guru yang hadir. Para penampil antara lain: Rikardo Padlika Gumelar dan Refanatha Adialine Athifa Sutadi. Keduanya merupakan siswa berprestasi yang telah memenangkan sejumlah event Lomba Baca Puisi di Kota Banjar dan di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Rangkaian acara dipungkas dengan membuat puisi secara kolaboratif, dipandu oleh Yuyus Suptiatna. Semua peserta yang hadir terlibat menyumbangkan kata, masing-masing satu kata dan kemudian terciptalah beberapa puisi hasil rekaan masing-masing peserta dari “arisan kata” itu. Beberapa peserta tampil menyampaikan rekaan puisi masing-masing dan dipungkas dengan pembacaan puisi oleh Yuyus Supriatna. “Waah kalau kegiatan seperti ini dapat kita tradisikan, saya optimis budaya literasi kita akan semakin meningkat,” kata Sofian Munawar yang memandu acara ini seraya memungkas rangkaian acara dengan potong tumpeng bersama. **

 

Link Informasi Terkait:

Safari Literasi di SMKN 1 Banjar: https://www.instagram.com/p/DSV8aGak-qw/

Safari Literasi di SDN 2 Langensari: https://www.instagram.com/p/DSXZYQmDL8T/

Safari Literasi di SDN 3 Banjar: https://www.instagram.com/p/DSTe328EzMT/

Anugerah Pancawaluya: https://www.instagram.com/p/DSYotFoDDzs/

Apresiasi IFL 2025: https://www.instagram.com/p/DRtfrQskfP_/

Peluncuran Buku WAQOF: https://www.instagram.com/p/DSY-wOxkSss/

 

Liputan Berita Media:

Arah Pena: https://www.arahpena.com/berita/77916455119/yrbk-bersama-mitra-gelar-literasi-akhir-tahun-buku-waqof-resmi-diluncurkan

Bandung Pos: https://bandungpos.id/sambut-hari-ibu-2025-yrbk-luncurkan-buku-waqof/

Kabar Priangan: https://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199881764/hari-ibu-diluncurkan-buku-puisi-waqof-di-markas-yrbk?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

Zona Literasi: https://zonaliterasi.id/yrbk-gandeng-yayasan-kiprah-nusa-global-dan-rumah-literasi-banjar-luncurkan-buku-waqof/

 

Kabar Priangan Edisi Cetak, Selasa 23 Desember 2025

CATATAN LITERASI AKHIR TAHUN YRBK GELAR BERBAGAI KEGIATAN Read More »

BULLYING DI SEKOLAH

Adinda Zahra Sofiantima, biasa dipanggil Dinda, lahir di Banjar 4 April 2008. Saat ini tercatat sebagai siswa SMAN 1 Banjar serta memilih “English Club dan Jurnalistik” sebagai kegiatan ekskul-nya. Saat masih di Sekolah Dasar dan di SMP pernah meraih beberapa prestasi,, antara lain: Juara Harapan Islamic Story Telling Tingkat Kota Banjar (2017), Nominator Anugerah Literasi Siswa Tingkat Sekolah Dasar (2017), Juara Pertama (TIM) Musikalisasi Puisi Ramadan (2018), Duta Baca Anak Kota Banjar mewakili ke Tingkat Provinsi Jawa Barat (2018), Juara Kedua Lomba Baca Puisi Ramadan (2019), Juara Pertama Pasanggiri Sajak Sunda Tingkat Kota Banjar (2019). Pada 2022 mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi di depan Gubernur Jawa Barat dalam rangkaian sidang terbuka DPRD Kota Banjar. Pada 2025 terpilih sebagai Delegasi International Future Leader (IFL) di Malaysia dan Singapore.


Di saat sedang membereskan perlengkapan untuk sekolah, Adyn mendapat sebuah notif dari ponselnya. Notif itu berdering berkali-kali membuat Adyn bergegas memeriksa ponselnya. Setelah dilihat ternyata itu notif dari akun sosial medianya. Banyak yang mention akun instagramnya. “Tumben sekali akun Instagramku ramai,” ucap Adyn dalam hatinya. Karena takut kesiangan, ia pun bergegas untuk berangkat ke sekolah.

Sesampainya di depan gerbang, Adyn heran karena semua mata tertuju kepadanya, melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Apa ada yang salah dari penampilanku?” pikirnya. Tidak ambil pusing, ia langsung menuju ke kelasnya yang berada di paling pojok. Adyn menjadi semakin heran karena seluruh isi kelas menatapnya dengan sinis sambil berbisik-bisik. “Woy tukang nipu, tukang bully ngapain ada di sini,” ucap salah satu teman kelasnya sembari melempar botol plastik kosong ke arah Adyn. Jelas Adyn terkejut ditambah bingung dengan semua ini. Kemudian Adel, teman sebangku Adyn mendekatinya. “Coba buka Instagram sekarang juga, apakah yang ada di postingan itu beneran kamu? Aku ga nyangka, Dyn,” Adel memberitaunya.

Adyn membuka akun Instagram pribadinya dan benar saja notif yang dari tadi terus berbunyi berasal dari sebuah postingan yang memention akun Instagram Adyn, pantas saja banyak notif masuk. Begitu terkejutnya Adyn Ketika melihat sebuah postingan yang bilang bahwa Adyn adalah seorang pembully di sekolahnya yang dulu dan Adyn dituduh menjadi seorang admin dari akun yang menjelek-jelekan sekolah ini (haters).

Di postingan tersebut nama Adyn terus dihina, dijelekan, digunjing karena tuduhan tersebut. Sialnya postingan itu viral sehingga satu sekolah tahu tentang rumor ini. Adyn merasa bingung dengan apa yang terjadi saat ini, ia langsung putar balik keluar kelasnya dan lari pergi meninggalkan sekolah.

Sebenarnya apa yang terjadi? Jadi, Adyn merupakan seorang murid pindahan dari sekolah lain, pindah karena ia dibully di sekolah lamanya. Namun anehnya mengapa rumor tersebut berbanding terbalik dengan realitanya. Kenapa malah Adyn yang dirumorkan menjadi seorang pembully? Padahal Adyn adalah korban. Lalu ditambah tuduhan menjadi admin dari akun haters sekolah, padahal Adyn benar-benar tidak tahu apa-apa. Semuanya terasa janggal. Bukankah ini termasuk pencemaran nama baik?

Karena Adyn tidak tinggal bersama orang tuanya, jadi Adyn ingin menyelesaikan masalah ini sendiri. Ia pergi ke sekolahnya yang dulu untuk menemui guru BK dan meminta keterangannya yang dulu sebagai korban bully. Ia dibantu guru BK untuk menyelesaikan masalah ini. Adyn tahu yang menyebarkan rumor palsu ini adalah Anisa, orang yang membully dia selama di sekolah lama. Anisa dendam kepada Adyn makanya ia membuat postingan tersebut agar nama Adyn tercemar.

Pencemaran nama baik mungkin terdengar asing dan sepele bagi beberapa orang, namun saat ini sudah banyak kasus yang melibatkan nama baik seseorang terutama di media sosial. Padahal hal tersebut sudah jelas aturan dan hukumannya di ranah hukum, seperti dalam Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang berbunyi, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Ancaman pidana terhadap pelaku pencemaran nama baik di dalam undang-undang ini lebih berat dibanding KUHP. Dalam UU ITE, pelaku pencemaran nama baik dapat dipidana penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp 1 miliar. Jika pencemaran yang dilakukan mengakibatkan kerugian bagi orang lain maka hukuman yang dijatuhkan lebih berat, yakni pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

Regulasi seperti itu semestinya menjadi pemahaman para pelajar agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku, terutama di sekolah sebagai lingkungan belajar sehingga tercipta suasana lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman. Kita berharap semoga dengan adanya Forum Pelajar Sadar Hukum dan Hak Asasi Manusia atau lebih dikenal dengan FPSH HAM dapat mendorong para pelajar agar melek aturan hukum sekaligus juga menjadi garda depan, FPSH HAM dapat memberikan teladan dalam mentaati aturan hukum sehingga tercipta ketertiban dan kenyamanan dalam proses pembelajaran.***

BULLYING DI SEKOLAH Read More »

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH

Shannya Meisaskitha, lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 9 Mei 2007, adalah mahasiswa S1 Fakultas Hukum, Program Studi Hukum, Universitas Bangka Belitung. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan kuat pada dunia kreatif dan literasi, yang berkembang menjadi kegemaran menulis cerpen, membaca buku, dan menggambar. Dalam bidang cerpen, Shannya kerap meraih penghargaan hingga ke tingkat nasional, yang mendorongnya terus mengasah kemampuan bercerita. Baginya, menulis adalah cara untuk merekam pengalaman dan dinamika kehidupan, sementara membaca memperkaya sudut pandangnya. Menggambar menjadi pelarian tenang dan bentuk pemulihan diri ketika beban akademik mulai menumpuk. Menempuh studi hukum, Shannya bercita-cita berkontribusi dalam memperjuangkan apa yang adil bagi banyak orang, terutama mereka yang suaranya sering tidak terdengar. Melalui karya dan perjalanan belajarnya, ia berharap dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.


Ada ironi yang pelan-pelan berdenyut di negeri yang selalu memanggil dirinya bangsa yang beradab. Seperti yang kita tahu, kita tumbuh dalam budaya yang mencintai sopan santun secara seremonial, namun rupanya diam-diam membiarkan kekerasan bersembunyi di balik candaan yang dipaksakan, hierarki yang diagungkan, juga pergaulan yang mengukur harga diri dari seberapa kuat seseorang menahan luka. Perundungan jarang datang dengan suara keras. Ia kerap merayap dalam bentuk-bentuk yang tak dianggap jahat seperti gurauan yang menusuk, tatapan yang merendahkan, bahkan pengucilan yang dibungkus dengan alasan klasik seperti “kedewasaan”.

Tragedi yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, adalah cermin yang pecah tepat di hadapan kita. Pecahannya seperti memaksa kita untuk melihat wajah asli sebuah kenyataan yang selama ini kita biarkan suram. Menurut laporan berbagai media nasional, sebelum kematiannya, Timothy diduga mengalami serangkaian penghinaan dan tekanan sosial yang meninggalkan jejak digital. Gelombang kemarahan publik yang muncul kemudian bukan hanya reaksi emosional, tetapi sebuah pengakuan bahwa kita terlambat, berkali-kali terlambat, memahami bahwa bullying bukan sekadar salah langkah pergaulan, melainkan kekerasan yang mampu menghapus sebuah hidup seseorang.

Padahal, hukum telah lama berusaha berbicara. Aturan yang kita miliki bukanlah sekadar teks tanpa jiwa. Ia memuat perlindungan yang, bila kita mau, bisa menjadi pagar tempat manusia berlindung.

Pasal 27 ayat (3) UU ITE menyatakan dengan tegas, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik.”

Meski demikian, hukum kerap hadir ketika semuanya telah kehilangan detak. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh ingin mencegah, atau kita hanya bergerak ketika tragedi menjadi sorotan utama?

Perundungan tumbuh dari tanah sosial yang terlalu lama dibiarkan tandus. Ia disiram oleh budaya yang abai, dibesarkan oleh institusi yang lebih takut pada rusaknya citra ketimbang rusaknya nyawa, dan dijaga oleh kebiasaan yang menertawakan luka orang lain. Saya pernah melihat teman terjerat dalam cemoohan, lukanya tak berbekas di wajah, tetapi menetap di relung hatinya seperti bayangan yang enggan pergi. Kita hidup dalam masyarakat yang menyepelekan kekuatan kata-kata, seolah ucapan yang menusuk tidak mampu menimbulkan memar. Padahal, ada kata-kata yang bekerja seperti duri kecil, tidak tampak, tetapi terus menembus ke dalam

Tanpa perubahan budaya, hukum akan terus menjadi teks yang tak berjiwa. Kita membutuhkan keberanian yang tidak lagi diam di tengah kekerasan yang disamarkan sebagai keakraban. Kita membutuhkan empati yang tidak perlu menunggu duka untuk mengetuk kesadaran. Kita membutuhkan ruang sosial yang tidak lagi memperbolehkan luka-luka seperti ini menyelinap tanpa suara.

Kasus Timothy seharusnya menjadi titik balik. Ia mengingatkan kita bahwa perundungan bukanlah sebuah tradisi, bukanlah bahan candaan, bukanlah bagian dari proses pendewasaan. Ia adalah kekerasan yang merampas masa depan seseorang. Jika tragedi ini tidak menggugah nurani, maka kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah bangsa gagal melindungi anaknya sendiri.

Pada akhirnya, melawan budaya bullying bukan hanya tentang menuntut pelaku atau mencari siapa yang salah. Ini tentang keberanian menantang sesuatu yang lebih besar. Cara hidup yang selama ini membuat kita merasa wajar untuk membiarkan seseorang hancur perlahan. Ada kepedihan yang kita pura-pura tidak dengar, ada tangis yang tenggelam di antara tawa yang dipaksakan, dan ada manusia yang kehilangan dirinya, bukan karena satu pukulan, tapi karena seribu kata yang tidak dianggap serius.

Kita terlalu sering meminta korban untuk “sabar”, “dewasa”, atau bahkan “mengerti situasi”, seolah luka batin tidak lebih dari goresan kecil yang bisa hilang dengan waktu. Padahal, ada orang-orang yang bertahan sambil menggenggam hati yang sudah remuk, berharap ada satu saja suara yang berpihak pada mereka. Namun sering kali, yang mereka temukan hanyalah sunyi. Dan sunyi itulah yang membunuh paling pelan.

Institusi yang mestinya menjadi pelindung justru sibuk menjaga nama baik. Teman sebaya yang harusnya menjadi sandaran malah ikut menertawakan. Dan kita, masyarakat yang bangga disebut “ramah”, sering hanya bergerak ketika seseorang sudah terlanjur tiada. Luka Timothy adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kita tidak hanya terlambat, tetapi juga lalai. Kita membiarkan seorang anak bangsa berperang sendirian di medan yang tidak seharusnya ia hadapi.

Kalau tragedi seperti ini masih tidak menggugah kita, maka ada sesuatu yang sedang mati dalam diri kita sebagai bangsa. Rasa peka, rasa peduli, rasa manusiawi. Kita tidak butuh lagi semboyan tentang keramahan. Kita butuh keberanian untuk menghentikan kekerasan yang dibungkus sebagai candaan, keakraban, atau “proses pendewasaan.”

Perubahan tidak boleh lagi sekadar wacana. Tidak boleh menunggu korban berikutnya untuk jatuh. Yang kita perlukan kini bukan hanya sekadar penegakan pasal, tetapi penegakan nurani. Sebab bangsa yang sungguh beradab tidak diukur dari seberapa tebal buku hukumnya, melainkan dari seberapa tulus ia menjaga mereka yang paling rentan agar tidak jatuh dalam senyap.***

KETIKA LUKA TIDAK LAGI SUNYI: BULLYING DI NEGARA YANG MENGAKU RAMAH Read More »

PARADE PUISI GURU: Wahana Kreasi Jadi Inspirasi

Tema Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 adalah ‘Guru Hebat, Indonesia Kuat’, mengingatkan kembali bahwa guru dan tenaga kependidikan (tendik) adalah ujung tombak dalam membangun generasi penerus bangsa. Dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi mereka bekerja keras untuk memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak Indonesia.

Terkait Bulan Guru Nasional, Kemendikdasmen ingin mengajak segenap pemangku kepentingan untuk memperingati dan merayakan secara bersama-sama dengan cara yang sederhana, bermakna, dan membawa semangat positif bagi pendidikan Indonesia. “Bulan Guru Nasional ini tidak hanya sekadar peringatan, tetapi juga momentum bagi kita semua untuk meneguhkan kembali komitmen kita dalam mendukung dan menghargai profesi guru,” ucap Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. pada sambutan Bulan Guru Nasional.

Dalam semangat itulah, Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) Kota Banjar turut mengkhidmati “Bulan Guru Nasional” dengan menggelar Parade Puisi Guru (PPG) sepanjang bulan November, guna mewadahi kreativitas guru-guru dan juga siswa serta mahasiswa dalam berkarya, terutama melalaui karya sastra, yakni melalui kegiatan Parade Puisi Guru (PPG) 2025. Kreasi para partisipan PPG ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lus. Berikut dapat disimak dokumentasi kegiatannya yang dihimpun dari berbagai sumber.

 

Link berita terkait:

  1. Arah Pena.id

YRBK Gelar Parade Puisi Guru Libatkan 60 Partisipan se-Kota Banjar  Disdikbud Usul Jadi Agenda Tahunan   https://www.arahpena.com/berita/77916331960/yrbk-gelar-parade-puisi-guru-libatkan-60-partisipan-se-kota-banjar-disdikbud-usul-jadi-agenda-tahunan

  1. Kabar Priangan

Kemeriahan Parade Puisi Hari Guru Nasional di Kota Banjar  http://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199831354/kemeriahan-parade-puisi-hari-guru-nasional-di-kota-banjar?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

  1. Pasundan News

Parade Puisi Guru Ramaikan HGN di Kota Banjar: https://pasundannews.com/parade-puisi-guru-2025-ramaikan-bulan-guru-nasional-di-kota-banjar/

  1. Visi News

YRBK Kota Banjar Gelar Parade Puisi Guru Sambut Bulan Guru Nasional – VISI.NEWS

https://visi.news/yrbk-kota-banjar-gelar-parade-puisi-guru-sambut-bulan-guru-nasional/

  1. Zona Literasi

YRBK Gelar PPG di Momentum Bulan Guru Nasional, Kepala Disdikbud: Inspirasi Positif

https://zonaliterasi.id/yrbk-gelar-ppg-di-momen-bulan-guru-nasional-kepala-disdikbud-kota-banjar-inspirasi-positif/

 

Link terkait lainnya:

Instagram Ruang Baca Komunitas

https://www.instagram.com/p/DRDspoHjE8D/

 

Kanal Youtube Ruang Baca Komunitas

 

PARADE PUISI GURU: Wahana Kreasi Jadi Inspirasi Read More »

LITERASI KESEHATAN

Kesehatan merupakan salah satu isu penting dalam kehidupan manusia. Literasi Kesehatan karenanya menjadi hal fundamental untuk dikaji secara serius. Dengan memanfaatkan momentum Hari Kesehaan Nasional (HKN), Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bersama Dinas Kesehatan Kota Banjar, Klinik PKU Muhammadiyah, STIT Muhammadiyah dan sejumlah pihak lainnya terutama dari komunitas sekolah di Kota Banjar menggelar Seminar Literasi Kesehatan.

Sebagai mana kita mafhum bahwa setiap 12 November pemerintah memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Kesehatan masyarakat, baik kesehatan diri, keluarga maupun lingkungan. Peringatan HKN juga bertujuan membangun semangat, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat serta mengajak masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tema HKN tahun ini adalah “Generasi Sehat Masa Depan Hebat” menjadi momentum tersendiri bagi kawula muda untuk turut berkiprah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. Dalam semangat inilag Seminar Literasi Kesehatan yang diproyeksikan bagi kawula muda di Kota Banjar digelar. Berikut dapat disimak dokumentasi kegiatannya yang dihimpun dari berbagai sumber.

Link berita terkait:

  1. Arah Pena.id

Peringati HKN, YRBK Gelar Seminar:

https://www.arahpena.com/berita/77916243517/peringati-hkn-2025-seminar-literasi-kesehatan-digelar-yayasan-ruang-baca-komunitas

  1. Bandung Pos

Ramaikan HKN 2025, Seminar Digelar:

https://bandungpos.id/ramaikan-hkn-2025-digelar-seminar-literasi-kesehatan/

  1. Kabar Priangan

Hari Kesehatan Nasinla Jadi Momentum Penerbitan Buku:

https://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199790142/hari-kesehatan-nasional-dijadikan-momentum-penerbitan-buku-terbaru-literasi-budaya-phbs?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

 Zona Literasi

HKN 2025, YRBK dan PKU Muhammadiyah Gelar Seminar Literasi Kesehatan: https://zonaliterasi.id/hkn-2025-yrbk-klinik-pku-muhammadiyah-banjar-gelar-seminar-literasi-kesehatan/

  1. Redaksi Radar TV

Puluhan Pelajar Dilatih Menulis Literasi Kesehatan:

 

 

Link terkait lainnya:

Semangat Literasi Kesehatan: https://www.instagram.com/p/DRBZpFPk9vi/

Generasi Sehat Masa Depan Hebat: https://www.instagram.com/p/DQ62s31E30W/

 

LITERASI KESEHATAN Read More »

LAPORAN SEMINAR PUBLIK DAN PELUNCURAN BUKU: Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat di Kota Banjar Jawa Barat

Mengacu pada Surat Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, No. 3648/I/BS.01.02/2025 Tentang Penetapan Calon Penerima Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat: Apresiasi Bagi Komunitas Literasi Tahun 2025, Ruang Baca Komunitas (RBK) telah ditetapkan sebagai salah satu penerima bantuan Pemerintah (BanPem) Fasilitasi Program Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat.

Berdasarkan proposal yang diajukan, kami memiliki dua kegiatan utama dalam fasilitasi program Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat di Kota Banjar. Pertama, Lokakarya Penulisan Kreatif bagi kawula muda Pegiat Literasi Masyarakat di Kota Banjar. Kedua, Seminar Publik dan Peluncuran hasil dari kegiatan lokakarya. Untuk kegiatan pertama, Lokakarya Penulisan Kreatif bagi Pegiat Literasi telah terlaksana. Laporannya dapat disimak di sini: https://ruangbacakomunitas.com/peningkatan-kapasitas-pegiat-literasi-masyarakat-kota-banjar-melalui-lokakarya-penulisan-kreatif/

Tulisan ini merupakan laporan kegiatan kami yang kedua, yaitu Seminar Publik dan Peluncuran Buku hasil dari kegiatan lokakarya. Kegiatan ini telah dilaksanakan bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda tahun ini: Selasa 28 Oktober 2025 bertempat di Aula STIT Muhammadiyah Banjar. Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah dari Kelurahan Banjar, Kecamatan Banjar, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banjar, para pustakawan Desa dan Kelurahan serta para pegiat literasi lainnya seperti dari pesantren, sekolah dan kampus perguruan tinggi se-Kota Banjar.

Wakil Ketua STIT Muhammadiyah, Geri Garyadina Mauluddin memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, literasi menjadi hal penting bagi kawula muda baik mahasiswa, siswa maupun para pegiat literasi masyarakat pada umumnya. Senada dengan itu, Sekretaris RBK Ivan Mahendrawanto menjelaskan bahwa kegiatan ini didukung penuh oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia. Dijelaskannya bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yakni Lokakarya Penulisan Kreatif Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi.

“Prosesnya cukup panjang, mulai dari penjaringan peserta untuk Lokakarya, kemudian setelah terpilih mereka diikutsertakan dalam lokakarya. Hasil tulisannya kemudian kami edit dan Alhamdulillah dari kegiatan itu kini sudah terhimpun buku antologi pegiat literasi dengan judul Kawula Muda Menatap Indonesia yang hari ini akan diluncurkan dan dibedah dalam seminar publik,” jelas Ivan.

Adapun yang menjadi narasumber seminar adalah: Dr. (HC) Aan Alamsyah, S.Pd., S.T., M.Pd.I (Dosen STIT Muhammadiyah Banjar), Alfi Mauluddin, ST., MM (Direktur Desa Bahasa Banjar) dan Sofian Munawar (Pendiri Ruang Baca Komunitas) serta dipandu moderator Putri Sri Jayanti yang merupakan Guru SMAN 3 Banjar.

Narasumber pertama, Aan Alamsyah menjelaskan tema seputar ekosistem kepenulisan baik di kalangan kampus maupun di kalangan masyarakat umumnya. Berikutnya, Direktur Desa Bahasa Banjar Alfi Mauluddin menuturkan soal kreasi dan inovasi bagi para pegiat literasi terutama dengan mengambil komparasi pada budaya negara-negara maju terutama Jepang, Australia dan Eropa. Sementara itu, Pendiri YRBK Sofian Munawar menyampaikan berbagai pengalaman dunia literasi sembari memprovokasi para kawula muda agar terus berkarya.

Agenda sebelunya, diawali dengan peluncuran buku antologi pegiat literasi yang bejudul Kawula Muda Menatap Indonesia. Buku ini ditulis oleh 32 pegiat literasi dari berbagai kalangan. Terkait dengan buku ini,  Ketua YRBK Siti Maroah menyebutkan bahwa buku ini merupakan terbitan ke-92 yang dihasilkan YRBK bersama komunitas pegiat literasi di Kota Banjar. “Kami tentu bersyukur, berkat dukungan semua pihak, terutama dari Badan Bahasa Kemendikdasmen, buku ini dapat terbit dan diluncurkan sesuai target yang diharapkan, yakni bertepatan pada momentum hari Sumpah Pemuda,” ucapnya.

“Kami berharap, hadirnya buku ini dapat menjadi kado spesial di hari Sumpah Pemuda. Kado dari kawula muda untuk Indonesia dan lebih penting lagi ini dapat menjadi penanda bahwa semangat dan gerakan literasi di Kota Banjar tidak akan pernah pudar,” tambahnya.

Rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pentas kreasi seni dari perwakilan mahasiswa STIT Muhammadiyah Banjar serta penampilan puisi spesial tema Sumpah Pemuda. Puisi refleksi berjudul “Mana Sumpahmu” karya Pendiri RBK, Sofian Munawar dibacakan secara parade oleh Clara Alessia Adinata dan Refanatha Adialine Athifa Sutadi. Keduanya adalah pegiat literasi yang menjadi Juara Lomba Baca Puisi dan Juara Lomba Story Ttelling, serta keduanya juga merupakan Tim Penulis buku Kawula Muda Menatap Indonesia: Inspirasi Pegiat Literasi untuk Negeri yang merupakan hasil dari kegiatan Lokakarya dari program ini. Acara kemudian dipungkas dengan penyerahan plakat kegiatan dari Ketua YRBK kepada lembaga pendukung serta pembagian buku dan sertifikat kepada para Penulis buku.

Dokumentasi kegiatan dapat disimak pada link berikut:

 

Facebook RBK:

https://web.facebook.com/photo?fbid=2354435885009753&set=pcb.2354437078342967

 

Instagram Ruang Baca Komuitas:

https://www.instagram.com/p/DQbqVYWjLLh/

 

Link Berita Terkait:

 

  1. Arah Pena

Perkuat Komunitas Pegiat Literasi di Kota Banjar  RBK Gelar Seminar Publik dan Luncurkan Buku Antologi https://www.arahpena.com/berita/77916159907/perkuat-komunitas-pegiat-literasi-di-kota-banjar-rbk-gelar-seminar-publik-dan-luncurkan-buku-antologi

 

  1. Bandung Pos

RBK Gelar Seminar Publik dan Peluncuran Buku Untuk Penguatan Komunitas Pegiat Literasi di Kota Banjar – Bandung Pos https://share.google/rrjf7mcQeCCdMmQr5

 

  1. Kabar Priangan

Kado Sumpah Pemuda dari Ruang Baca Komunitas: https://kabarbanjar.pikiran-rakyat.com/kabar-banjar/pr-3199751294/sumpah-pemuda-pegiat-literasi-yrbk-luncurkan-buku-ke-92-kawula-muda-menatap-indonesia?utm_source=social_link&utm_medium=social_link

 

  1. Redaksi RADAR-TV

Peringati Sumpah Pemuda dengan Karya: https://www.youtube.com/watch?v=0gtlebL49Aw

 

  1. Zona Literasi

RBK Gelar Seminar Publik dan Peluncuran Buku: https://zonaliterasi.id/rbk-gelar-seminar-publik-dan-peluncuran-buku-penguatan-komunitas-pegiat-literasi-di-kota-banjar/

 

  1. Tribuna News.co.id:

Tingkatkan Kapasitas Pegiat Literasi, YRBK Kota Banjar Gelar Seminar Publik dan Peluncuran Buku | Berita TribuanaNews.co.id https://share.google/mujEVvPOl2XfTYjBQ

 

LAPORAN SEMINAR PUBLIK DAN PELUNCURAN BUKU: Peningkatan Kapasitas Pegiat Literasi Masyarakat di Kota Banjar Jawa Barat Read More »

Scroll to Top