DARI RUANG KELAS KE RUMAH BELAJAR

Penulis: Nurholilah, S.Pd.

Nurholiah merupakan seorang guru di UPTD SDN 1 Sukamukti Kec. Pataruman Kota Banjar. Ia aktif mengabdikan diri di dunia pendidikan formal sekaligus memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat bahwa minat anak terhadap literasi dan kebiasaan belajar anak-anak yang masih memerlukan bimbingan dan peningkatan, Nurholiah mendirikan rumah belajar Ki Hajar dan sekaligus menjadi pengajarnya. Rumah Belajar Ki Hajar merupakan sebuah bimbingan belajar gratis yang juga berfungsi sebagai taman baca anak. Rumah belajar tersebut beralamat di Lingkungan Cipadung RT 10/04, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Melalui kegiatan ini, ia berkomitmen mendedikasikan waktu dan tenaga untuk untuk masyarakat sekitar dalam membantu anak-anak PAUD dan SD agar tumbuh menjadi pembelajar yang aktif, mandiri, dan berkarakter


Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menentukan arah masa depan suatu bangsa. Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat saat ini, peran guru tidak hanya terbatas pada ruang kelas formal, tetapi juga meluas ke kehidupan sosial kemasyarakatan. Guru tidak sekadar berfungsi sebagai pengajar, melainkan juga sebagai pendidik, pembimbing, teladan, serta agen perubahan sosial. Kesadaran inilah yang mendorong penulis, sebagai seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), untuk menuliskan sekaligus merefleksikan sepak terjang pengabdian dalam dunia pendidikan dan masyarakat melalui inisiatif pendirian sebuah rumah belajar bernama Ki Hajar”.

Sebagai seorang guru, penulis memiliki komitmen moral dan profesional untuk peduli terhadap perkembangan pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Profesi guru bukan hanya pekerjaan, tetapi juga panggilan jiwa yang menuntut dedikasi, kepedulian, dan keikhlasan dalam membimbing generasi penerus bangsa. Selain menjalankan tugas utama sebagai pendidik di sekolah, penulis juga merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan tempat tinggal. Harapan yang tumbuh adalah agar kehadiran penulis dapat dirasakan, tidak hanya oleh murid di sekolah, tetapi juga oleh anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitar.

Namun demikian, niat untuk berkontribusi secara lebih luas di masyarakat bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Sebagai guru PNS, keseharian penulis banyak dihabiskan di tempat kerja dengan tanggung jawab administratif dan pembelajaran yang cukup padat. Waktu dan tenaga sering kali tersita untuk memenuhi kewajiban profesional di sekolah, sehingga ruang untuk melakukan kegiatan sosial pendidikan di luar jam kerja menjadi terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis dalam upaya menyeimbangkan peran sebagai pendidik formal dan sebagai warga masyarakat yang ingin berkontribusi secara langsung.

Tantangan lain yang semakin menguatkan kegelisahan penulis adalah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, khususnya pada anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar. Setiap akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif, pembelajaran, atau interaksi sosial yang bermakna, justru banyak dihabiskan untuk bermain gawai. Anak-anak tampak larut dalam dunia digital tanpa pendampingan yang memadai, sehingga berpotensi menurunkan minat belajar, kemampuan literasi dasar, serta interaksi sosial mereka. Kondisi ini tentu memprihatinkan, mengingat usia dini dan usia sekolah dasar merupakan masa emas perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak.

Di sisi lain, pembelajaran di sekolah juga dirasakan semakin menantang. Waktu belajar yang relatif singkat, tuntutan kurikulum yang padat, serta perbedaan kemampuan murid membuat proses pembelajaran tidak selalu dapat berjalan secara optimal. Tidak semua anak mampu memahami materi pelajaran dengan baik dalam waktu yang terbatas. Akibatnya, masih terdapat anak-anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, berhitung, maupun memahami konsep-konsep dasar pelajaran. Jika kondisi ini tidak segera mendapatkan perhatian dan pendampingan tambahan, dikhawatirkan akan berdampak pada capaian belajar dan kepercayaan diri anak di masa depan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, penulis merasa terpanggil untuk mengambil langkah nyata. Dengan segala keterbatasan waktu dan sumber daya, penulis menginisiasi pendirian sebuah rumah belajar yang diberi nama Rumah Belajar “Ki Hajar”. Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, yang menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, humanis, dan berpihak pada kebutuhan murid. Rumah belajar ini diharapkan menjadi ruang alternatif pembelajaran yang ramah, inklusif, dan bermanfaat bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Rumah Belajar Ki Hajar didirikan sebagai bentuk dedikasi penulis kepada masyarakat, dengan tujuan utama membantu anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung, serta memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran di sekolah. Selain berfungsi sebagai tempat bimbingan belajar gratis, rumah belajar Ki Hajar juga dikembangkan sebagai taman baca anak yang menyediakan berbagai bahan bacaan sesuai usia dan jenjang pendidikan. Kehadiran taman baca ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca, meningkatkan literasi, serta membiasakan anak-anak berinteraksi dengan buku sebagai sumber pengetahuan yang menyenangkan. Rumah belajar ini diselenggarakan secara gratis sebagai wujud kepedulian sosial dan komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu dengan durasi waktu sekitar 90 menit mulai pukul 10.00 sampai pukul 11.30, sehingga tidak mengganggu kewajiban utama penulis sebagai guru di sekolah.

Peserta rumah belajar Ki Hajar terbuka untuk anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar, baik kelas bawah maupun kelas tinggi. Pendekatan pembelajaran yang digunakan bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik murid. Anak-anak PAUD difokuskan pada pengenalan huruf, angka, serta pengembangan motorik dan minat belajar melalui kegiatan yang menyenangkan. Sementara itu, siswa SD kelas bawah diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi dasar, sedangkan siswa SD kelas tinggi dibimbing untuk memahami materi pelajaran sekolah, mengerjakan latihan, serta mengembangkan keterampilan berpikir.

Saat ini, rumah belajar Ki Hajar secara rutin diikuti oleh sekitar 15 orang anak yang berasal dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD kelas bawah, hingga SD kelas tinggi. Jumlah ini mungkin belum besar, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi penulis. Setiap anak yang hadir membawa harapan, potensi, dan cerita masing-masing. Melalui rumah belajar ini, penulis berupaya menciptakan suasana belajar yang nyaman, aman, dan memotivasi, sehingga anak-anak merasa senang untuk belajar dan tidak sekadar menjadikan belajar sebagai kewajiban.

Keberadaan rumah belajar Ki Hajar juga diharapkan dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di akhir pekan, sehingga waktu mereka tidak sepenuhnya dihabiskan untuk bermain gawai. Dengan pendampingan belajar yang tepat, anak-anak diajak untuk memanfaatkan waktu luang secara lebih produktif, membangun kebiasaan belajar, serta meningkatkan kemampuan akademik dan karakter. Selain itu, rumah belajar ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat nilai kebersamaan, disiplin, dan saling menghargai.

Bagi penulis, rumah belajar Ki Hajar bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga sarana pengabdian dan pembelajaran hidup. Melalui kegiatan ini, penulis belajar untuk lebih memahami kondisi masyarakat, kebutuhan anak-anak, serta pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Meski dijalankan dengan sederhana, rumah belajar ini menjadi wujud nyata dari keyakinan bahwa setiap individu dapat berkontribusi bagi pendidikan, sesuai dengan peran dan kemampuannya masing-masing.

Ke depan, penulis berharap rumah belajar Ki Hajar dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Rumah belajar ini berlokasi di wilayah Cipadung, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, dan dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar serta dedikasi penulis dalam momentum peringatan ulang tahun Kota Banjar. Melalui langkah sederhana ini, penulis berupaya berkontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah, khususnya di lingkungan terdekat tempat tinggal. Tidak hanya dari segi jumlah peserta, tetapi juga dari kualitas pembelajaran dan dampak positif yang dihasilkan. Dengan dukungan lingkungan dan niat tulus untuk berbagi, rumah belajar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat dimulai dari langkah kecil, namun konsisten.

Pada akhirnya, tulisan ini merupakan refleksi perjalanan dan dedikasi penulis sebagai seorang guru dan warga masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, keyakinan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama menjadi landasan utama dalam setiap langkah pengabdian. Melalui rumah belajar Ki Hajar, penulis berharap dapat terus menebar manfaat, menyalakan semangat belajar, dan turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari lingkungan terdekat.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top