RIPUH KU PANGABUTUH SUSAH KU PANGAWERUH

Penulis: Reni Rahmawati

Lahir di Ciamis 13 Mei 1985, tinggal di Kota Banjar dan menjadi putra daerah asli Kota Banjar, mendedikasikan hidupnya sebagai Pegawai Negeri Sipil Daerah di salah satu Sekolah Negeri di Kota Banjar, UPTD SMPN 10 Banjar menjadi pilihan menarik untuknya berbagi pengalaman bersama anak-anak hebat untuk cinta literasi, mengembangkan bakat potensi yang dimiliki. Semangatnya menjadi inspirasi untuk siswa-siswi mencintai puisi dan menulis narasi. Terlibat dalam berbagai karya sederhana sebagai bukti kecintaan terhadap bahasa dan budaya nasional.


Banjar Kota kecil sejuta mimpi di mana aku terlahir dari sketsa imaji yang semakin nyata. Banjar mewujudkan masyarakat yang makmur mandiri dan sejahtera, membangun semangat warganya si pekerja keras mendapatkan manfaat dari sesuatu yang telah diusahakan, dan menjadi polemik bagi si pemalas.

Banjar menyuguhkan kenikmatan bagi siapapun, mulai dari pesona keindahan alamnya, maupun kuliner makanannya yang lezat. Pun Banjar merupakan salah satu kota terunik di mana letak posisi perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadikan Banjar pewaris budaya kesenian dua provinsi.

Termasuk ke penggunaan bahasa sehari-hari masyarakat, adanya bahasa Sunda dan bahasa Jawa serta pencampuran dialek keduanya dengan membentuk ciri khas dan karakter keunikan tersendiri.

Keanekaragaman budaya menjadi magnet, daya jual serta pengingat bagi masyarakat untuk tetap tinggal dan datang kembali.

Banjar menyimpan kenangan, bukan hanya tentang rindu tapi tentang bagaimana memaknai hidup di Kota Idaman dengan banyak cerita, dengan rangkaian catatan penting untuk kembali diceritakan.

Bukan hanya tentang ocehan anak kecil yang bergelayut manja dalam ayunan, bukan hanya tentang rengekan gadis belia yang minta jajan, bukan hanya tentang ambisi anak bujang yang berjuang mencari pekerjaan, bukan hanya tentang nenek tua renta yang kehilangan harapan, bukan tentang perjuangan ayah mencari nafkah untuk keluarga atau seorang ibu yang pandai membagi beras untuk dimasak menjadi nasi setiap hari.

Tak hanya jari yang menghitung segala jenis kekurangan dari ruang hampa, dari ketidakberdayaan, tetapi kepiawaian pemangku kebijakan menjadi pendobrak semangat kepedulian, sejahtera adalah mimpi harapan yang dapat diwujudkan, kerja sama adalah solusi bersama untuk menjadi nyata.

Anak muda adalah pion utama untuk bergerak membangun harapan mewujudkan mimpi. Agar tersurat menjadi nyata dalam setiap goresan baris-baris tidak hanya menjadi lembar suram tanpa goresan, tapi warna indah menjadi pemanis dari setiap cerita.

Tak ubah seperti pepatah bilang jangan percaya dengan keterbatasanmu tetapi besarkanlah harapanmu, begitu pun Banjar dengan segala keterbatasannya tetapi memberikan harapan besar kepada para pemiliknya. Siapapun yang memiliki hati yang luas untuk mengelola Banjar menjadi kota yang besar bermanfaat dan mencukupi kehidupannya. Siapapun memiliki tanggung jawab untuk menggali potensi yang dimiliki Kota Banjar agar Kota Banjar menjadi kota maju. Kemajuan sebuah kota terletak pada keseimbangan. Kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari aspek-aspek lain yang seimbang. Meliputi ekonomi dan sosial, Pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan keadilan sosial, memastikan manfaat pembangunan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan menekan angka kemiskinan serta kesenjangan sosial.

Pembangunan fisik dan kualitas hidup menjadi kunci yang berperan dalam pembangunan infrastruktur modern, dengan penyediaan ruang terbuka hijau, fasilitas publik yang memadai, dan lingkungan yang layak huni untuk meningkatkan kualitas hidup warga dapat menjadi peran pendukung kemajuan sebuah kota.

Dalam hal modernisasi dan pelestarian budaya, diharapkan menjadi kunci kemajuan kota tetapi hal tersebut harus diwaspadai pada dasarnya kita tetap menjunjung nilai leluhur tidak boleh menggerus identitas lokal. Penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan arsitektur modern dengan pelestarian warisan budaya dan sejarah. Dalam hal dukungan pemerintahan dan partisipasi warga bermula dari tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan itu pun harus didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan untuk memastikan pembangunan yang inklusif.

Sejurus dengan itu, penting juga adanya perhatian dan dukungan penuh terhadap aspek lingkungan pembangunan berkelanjutan. Hal ini dirasa sangat krusial, di mana pertumbuhan kota harus senantiasa dijaga agar tidak merusak lingkungan, dengan pengelolaan limbah yang baik, transportasi ramah lingkungan, dan mitigasi dampak perubahan iklim yang terkontrol.

Ada istilah dalam Bahasa Sunda “Ripuh ku pangabutuh susah ku pangaweruh.” Merupakan ungkapan yang menggambarkan kesulitan hidup seseorang, terdapat dua faktor dalam ungkapan tersebut. Faktor pertama “Ripuh ku pangabutuh” yang menggambarkan kondisi dimana seseorang merasa terbebani dan menderita karena banyaknya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi termasuk kebutuhan materi, sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya. Seolah-olah hidupnya hanya berputar pada usaha memenuhi kebutuhan yang tidak ada habisnya.

Faktor kedua “Susah ku pangaweruh.” Kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan atau masalah karena keterbatasan pengetahuan, wawasan atau pendidikan. Kurangnya ilmu atau informasi membuat seseorang sulit menemukan jalan keluar dari persolalan hidup, atau bahkan sulit untuk meningkatkan taraf hidupnya. Secara keseluruhan, pribahasa ini menyampaikan pesan bahwa kemiskinan dan kebodohan sering kali menjadi sumber utama kesengsaraan dalam kehidupan manusia.

Termasuk dalam hal ini Kota Banjar sendiri, Masyarakat Kota Banjar menurut Indeks Pendidikan Kota Banjar menunjukan tren positif, terutama pada komponen harapan lama sekolah (HLS) yang mencapai 13,28 tahun dan rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 25+ mencapai sekitar 8.51 tahun pada tahun 2024. Ini mengindikasikan peningkatan kualitas pendidikan, meskipun masih ada tantangan pada persentase penduduk usia sekolah yang belum menyelesaikan jenjang dasar atau menengah, dengan data BPS menunjukkan sebagian besar penduduk lulus SD atau SMP, tetapi persentase lulusan jenjang tinggi masih perlu di tingkatkan. Data lengkap bisa diakses melalui Open data Kota Banjar atau Badan Pusat Statistik Kota Banjar.

Dari data tersebut di atas masih sangat awam para orang tua mencerna kebutuhan pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup terlihat dari sedikitnya siswa yang melanjutkan sekolah pada usia SMP/ MTs ke jenjang SMA/ SMK atau jenjang selanjutnya. Data kunci Indeks Pendidikan Kota Banjar Harapan Lama Sekolah (HLS): 13.28 tahun (anak usia 7 tahun), setara dengan lulusan SMA/SMK.  Rata-rata Lama Sekolah (RLS): 8,51 tahun (penduduk usia 25+), setara dengan lulusan SMP/MTs. Perkembangan Jenjang Pendidikan pertengahan Tahun 2024 berdasarkan sumber data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar menyatakan Tamat SD : 29,08% Tamat SMP : 17,38% namun jumlah murid meningkat Tamat SMA: 21,32% Tamat S1 ke atas : 5,3 % ini menunjukan peningkatan partisipasi sekolah, banyak siswa lulusan sekolah Dasar tetapi masih banyak sekolah SMP di Kota Banjar yang kekurangan siswa, Tantangan selanjutnya terletak pada peningkatan kualitas lulusan, tidak sedikit siswa yang putus sekolah berhenti di tengah perjalanan, karena tekanan ekonomi keluarga.

Berpikir secara cepat untuk bisa bekerja menghasilkan uang hingga harapan jenjang pendidikan tinggi agar kualitas SDM Kota Banjar semakin meningkat belum tercapai. Ini yang menarik bagi penulis mengupas istilah ungkapan dalam Bahasa Sunda “Ripuh ku pangabutuh susah ku pangaweruh”. Padahal kesempatan untuk memiliki kehidupan yang layak dan bermartabat dengan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dapat menciptakan adab berahlak dan berkemampuan pemikiran yang dapat menghasilkan uang sehingga menumbuhkan perekonomian Kota Banjar itu sendiri. Selaras dengan tumbuh kembang jaman era teknologi untuk bisa menghidupkan Kota Banjar menjadi Kota Idaman yang Maju dengan tumbuh kembang cepat dan akurat menciptakan masyarakat cerdas yang memiliki kemampuan teknologi tinggi mampu menambah aset kekayaan kota dan menjadi pendapatan asli daerah.

Dengan demikian, Kota Banjar yang maju mampu mengelola dinamika berbagai aspek ini secara harmonis dan berkelanjutan, bukan hanya unggul di satu bidang saja. Banjar bisa menjadi Kota maju tidak hanya dalam sebuah narasi tetapi dituntut sebuah aksi bersama dari semua kalangan. Masing-masing bergerak sesuai kedudukan, kemampuan dan kapasitasnya tetapi tetap dalam satu tekad dan nurani yang kuat. Majukeun Banjar ku urang pikeun urang.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top