PENDIDIKAN KOTA BANJAR DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN: CAPAIAN, KRITIK, DAN HARAPAN PERBAIKAN

Ina Indriyani

Ina Indriyani, S.Pd., Gr. lahir di Ciamis pada 3 Maret 1987. Ia adalah seorang pendidik yang saat ini mengabdikan diri sebagai pengajar di SMKN 1 Banjar. Dunia pendidikan bukan sekadar profesi baginya, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan nilai, tempat ia berinteraksi langsung dengan realitas generasi muda beserta tantangan zamannya. Selain berkiprah sebagai guru, Ina Indriyani aktif menulis dan dikenal sebagai pemerhati dunia pendidikan, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, adab, serta relasi humanis antara pendidik dan peserta didik. Pengalamannya di lapangan memberinya perspektif kritis namun empatik terhadap berbagai kebijakan dan praktik pendidikan yang berlangsung di daerah.Ia juga menaruh perhatian mendalam pada psikologi perempuan, terutama dalam konteks peran perempuan sebagai pendidik, ibu, dan agen perubahan sosial. Melalui tulisan-tulisannya, Ina kerap mengangkat persoalan ketahanan mental, luka batin, kelelahan emosional, serta perjuangan perempuan dalam ruang domestik dan publik, dengan pendekatan reflektif dan edukatif. Bagi Ina Indriyani, menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan moral. Tulisan-tulisannya tidak hanya bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi, harapan, dan ajakan untuk berpikir lebih jernih dan manusiawi. Ia meyakini bahwa pendidikan yang baik hanya dapat lahir dari keberanian untuk merefleksi, kejujuran dalam mengakui kekurangan, dan komitmen bersama untuk terus belajar. Melalui aktivitas mengajar dan menulis, Ina berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan peradaban, khususnya di lingkungan pendidikan dan masyarakat lokal Kota Banjar.


Pendidikan selalu menjadi jantung peradaban, dari ruang-ruang kelas sederhana hingga kebijakan strategis pemerintah daerah, masa depan suatu kota ditentukan oleh bagaimana pendidikan direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi. Kota Banjar, sebagai daerah otonom yang terus bertumbuh, tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab besar ini. Dunia pendidikan di Kota Banjar hari ini berada pada persimpangan penting: antara upaya perbaikan yang patut diapresiasi dan berbagai tantangan yang menuntut perhatian serius.

Opini publik ini disampaikan bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian intelektual dan sosial terhadap masa depan pendidikan di Kota Banjar. Kritik, saran, dan apresiasi perlu ditempatkan secara proporsional agar menjadi energi perubahan, bukan sekadar keluhan tanpa arah.

Apresiasi atas Komitmen dan Kerja Nyata Pendidikan

Harus diakui bahwa pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Banjar telah menunjukkan komitmen dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Sekolah-sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan, para guru terus mengajar dengan dedikasi, dan berbagai program peningkatan mutu pendidikan mulai digulirkan, meskipun hasilnya belum sepenuhnya merata.

Perhatian terhadap pendidikan vokasi, khususnya di tingkat SMK, patut diapresiasi. Upaya menyiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki keterampilan praktis merupakan langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, kehadiran berbagai pelatihan guru, penguatan kurikulum, serta adaptasi terhadap kebijakan pendidikan nasional menunjukkan bahwa Kota Banjar tidak menutup diri terhadap perubahan.

Yang tidak kalah penting, nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan etika sosial masih menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap menggerus karakter, sekolah-sekolah di Banjar masih berupaya menjaga keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan akhlak peserta didik. Ini adalah modal besar yang tidak boleh diabaikan.

Kritik terhadap Persoalan Struktural dan Kultural

Namun, di balik berbagai ikhtiar tersebut, dunia pendidikan di Kota Banjar masih menghadapi persoalan mendasar yang tidak bisa ditutup-tutupi. Salah satunya adalah kesenjangan antara idealisme kebijakan dan realitas di lapangan. Banyak program pendidikan yang dirancang dengan baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata guru dan peserta didik.

Beban administratif guru yang berlebihan masih menjadi keluhan klasik. Guru sering kali lebih sibuk mengurus laporan, dokumen, dan aplikasi daripada fokus pada esensi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik dan mental, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas interaksi edukatif di kelas. Pendidikan yang sehat seharusnya memerdekakan guru untuk mengajar, bukan membelenggu mereka dengan birokrasi yang rumit.

Selain itu, tantangan karakter peserta didik semakin kompleks. Disrupsi teknologi, pengaruh media sosial, dan perubahan pola asuh keluarga berdampak langsung pada sikap, etika, dan motivasi belajar siswa. Sayangnya, pendekatan pendidikan karakter sering kali masih bersifat normatif dan seremonial, belum menyentuh akar persoalan secara mendalam.

Ketimpangan fasilitas dan kualitas pendidikan antar sekolah juga perlu mendapat perhatian. Masih terdapat sekolah yang berjuang dengan keterbatasan sarana, akses teknologi, dan dukungan lingkungan. Jika tidak ditangani dengan kebijakan yang adil dan afirmatif, kesenjangan ini berpotensi melahirkan ketidakadilan pendidikan yang berkepanjangan.

Saran untuk Penguatan Pendidikan yang Humanis dan Kontekstual

Ke depan, pendidikan di Kota Banjar perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih humanis, kontekstual, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, dan kelulusan, tetapi harus menempatkan peserta didik sebagai manusia utuh dengan kebutuhan intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Pertama, perlu adanya keberanian untuk menyederhanakan beban administratif guru. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaporan dan penilaian harus dilakukan dengan melibatkan suara guru sebagai pelaksana utama pendidikan. Guru yang dihargai dan dimanusiakan akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus dilakukan secara nyata dan kontekstual. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Program literasi, penguatan adab, kesehatan mental siswa, serta pendampingan psikososial perlu dirancang secara sistematis, bukan insidental.

Ketiga, pendidikan vokasi di Kota Banjar perlu diperkuat dengan kemitraan yang lebih konkret dengan dunia usaha dan dunia industri. Link and match tidak cukup berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran, magang bermutu, dan penyerapan lulusan secara nyata. Tanpa itu, SMK berisiko hanya menjadi pabrik ijazah tanpa daya saing.

Keempat, pemerintah daerah perlu lebih progresif dalam memastikan pemerataan fasilitas pendidikan. Akses teknologi, ruang belajar yang layak, serta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar peserta didik.

Apresiasi dan Harapan bagi Para Pendidik

Di tengah berbagai keterbatasan, para pendidik di Kota Banjar layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, melampaui tugas formal, dan menjadi figur teladan bagi siswanya. Dedikasi ini sering kali luput dari sorotan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan generasi muda.

Namun, apresiasi tidak cukup hanya dengan pujian moral. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan, pengembangan profesional, dan kesehatan mental guru. Guru yang sejahtera dan dihargai akan lebih mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Penutup: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Pendidikan di Kota Banjar tidak boleh berjalan apa adanya. Ia harus terus dikritisi, diperbaiki, dan diperkuat. Kritik yang disampaikan dengan niat baik adalah bentuk cinta terhadap dunia pendidikan. Saran yang lahir dari refleksi adalah kontribusi nyata bagi perbaikan bersama.

Masa depan Kota Banjar sangat ditentukan oleh bagaimana hari ini kita memperlakukan pendidikan. Apakah kita menjadikannya sekadar kewajiban administratif, atau benar-benar menempatkannya sebagai investasi peradaban. Jawaban atas pertanyaan itu akan tercermin pada wajah generasi Banjar di masa depan: apakah mereka tumbuh sebagai manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya, atau sebaliknya.

Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Dan Kota Banjar memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan peradaban besar, jika pendidikan dikelola dengan hati, visi, dan keberanian untuk berubah.***

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top