PARADOKS KOTA BANJAR: Menghidupkan Ekonomi Malam, Membedah Tembok Birokrasi, dan Menjawab Krisis Pengangguran di Tepian Citanduy

Penulis: Rahila Sayidah Afifah Khansa

Mahasiswa IMA Kota Banjar

Kami adalah mahasiswa sekaligus aktivis pembela rakyat yang sering kali ditindas. Suara rakyat memang jarang terdengar, maka dari itu saya ingin merangkul dan menyampaikan aspirasi mereka melalui tulisan ini.

Memang pada dasarnya kota menjadi pusat dari segala hal, mulai dari kesehatan, ekonomi dan transportasi. Itu adalah fakta yang tidak terbantahkan. Namun, kota ini juga terjebak dalam ‘Aktivitas Ekonomi Malam yang Belum Optimal.’ Namun dampaknya adalah minimnya wadah aktualisasi bagi ekonomi kreatif.

Padahal, berdasarkan studi terbaru, persentase penduduk usia muda (Gen Z dan Milenial) yang memiliki tipe kronotipe malam (Night Owl atau Evening Type) sangat tinggi, dengan estimasi sekitar 50% dari dewasa muda mengidentifikasi diri mereka sebagai night owl. Riset yang menunjukkan bahwa pada siang hari fungsi kognitif cenderung analitis (menyaring ide yang dianggap aneh). Sebaliknya, pada malam hari adalah “Fase Puncak Kreativitas di Luar Jam Kerja Formal.” Hasilnya, ide-ide yang tidak biasa dan kreatif bisa lolos begitu saja tanpa dihakimi oleh logika kita sendiri, walaupun kota ini tidak benar benar mati secara fisik namun tetap terasa secara ekonomi dan kreativitas.

Pemerintah kota dan swasta perlu mengubah fungsi gedung yang “mati” di malam hari menjadi wadah aktualisasi tidak perlu membangun gedung yang baru. Perpustakaan & Galeri Komunal 24/7. Creative Night Markets, bukan sekadar pasar malam makanan, tapi pasar ide tempat di mana para anak muda bertransaksi secara langsung, juga menempatkan beberapa petugas keamanan dibeberapa titik.

Kota ini juga terkenal dengan sebutan kota wisata namun kenyataannya justru berbanding dengan faktanya. Maka dari itu, kita seharusnya belajar dari Banjarmasin, yang berhasil membuat sungai itu menjadi ikon kota dan perlu adanya optimalisasi skala prioritas anggaran agar wisata di kota ini bisa maksimal. Sebab, di kota ini memiliki potensi wisata yang beragam untuk menjadi sebuah wisata, namun masih kurang visi keberlanjutan (sustainability).

Pertanyanya apakah sebuah wisata itu akan berjalan dengan baik, berjalan sesuai SOP yang ada, atau justru malah terbengkalai karena manajemen buruk? Padahal, implikasi positifnya sangat besar bagi daerah ekonomi. Kebanyakan tempat wisata hanya mengejar angka jumlah pengunjungnya (kuantitas) resikonya jika manajemen buruk, tempat wisata akan overcrowded, sampah menumpuk dan infrastruktur cepat rusak. Manajemen yang baik seharusnya menggunaakan data untuk mengambil keputusan. Tanpa data, anggaran hanya akan habis untuk promosi yang salah sasaran. Solusinya adalah perlu adanya sistem manajemen pengunjung, misalnya resevasi digital atau pembatasan kuata agar pengalaman wisata tetap terjaga dan lingkungan tidak rusak. Hentikan promosi buta. Gunakan anggaran untuk membangun sistem data sederhana yang mampu memandu kebijakan.

Selain itu, kota ini juga belum mempunyai branding spesifik seperti kota- kota lainnya. Hal inilah yang membuat rendahnya daya tarik bagi investor luar untuk datang secara khusus di daerah ini. Padahal, setiap kota memerlukan identitas kuat guna menarik wisatawan juga investasi. Masuknya investor tentu akan membawa dampak domino, seperti meningkatkan pendapatan asli daerah, pemberdayaan UMKM, pembangunan infrastruktur masif dan hingga pembukaan lapangan kerja. Jika sebuah kota sudah memiliki branding yang hebat di sosial media namun tetap akan runtuh jika investor masih menemukan tembok biroktasi yang terbelit dan tidak transparan. Audit potensi unik, kita harus berani memilih satu fokus, jika kita kuat di dalam bidang UMKM maka jadilah ‘Pusat Kreativitas Lokal yang Handal’. Jika kita kuat dalam posisi geografis, jadilah ‘Hub Logistik Nasional’. Memiliki fokus adalah kunci utama.

Selain masalah citra kota, persoalan sampah selalu menjadi permasalahan di setiap daerah terutama di perkotaan dan itu juga menjadi tantangan besar bagi Kota Banjar. Apa lagi untuk kota yang dibelah oleh sungai Citanduy, pengelolaan sampah yang buruk beresiko tinggi dan berpotensi banjir saat musim hujan bisa terjadi. Jika hal itu tidak ditangani, maka tidak hanya mengancam warga tetapi juga akan merusak estetika kota.

Sungai yang seharusnya menjadi daya tarik utama, menguatkan infrastruktur di awal pertahanan sungai, pemasangan Trash Racks atau Trash Booms, penyediaan tempat sampah tematik Menempatkan tempat sampah yang menarik secara visual di sepanjang bantaran sungai untuk mendorong masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Satgas Penjaga Sungai yang ditempatkan di beberapa titik adalah salah satu upaya dalam menangani permasalahan sampah.

Hal lainnya adalah masalah penganggguran yang kian mengkhawatirkan. Meskipun secara statistik Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Banjar menunjukkan penurunan menjadi 5,26 persen, namun pada kenyataaannya banyak jumlah warga yang menganggur secara real justru meningkat sebanyak 106 orang dibanding tahun lalu.

Kondisi ini semakin ironis bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Data menunjukkan bahwa pengangguran tingkat SMK justru melonjak tajam sebesar 7,67 persen. Saat ini, lulusan SMK mendominasi total pengganguran di Kota Banjar dengan angka mencapai 50,88 persen. Selain itu, ketersediaan lapangan kerja formal pun sedang lesu dengan penurunan, mengapa banyak sekali terjadinya penganguran? Karena banyaknya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan keterampilan menjadikan penganguran kian banyak, juga tidak adanya paket pelatihan kerja yang bersumber dari APBN tahun 2025.

Walikoata Banjar Sudarsono berjanji akan meningkatkan anggaran untuk pelatihan kerja bagi masyarakat melalui program berdaya lokal. Namun, aktivis mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Jawa Barat, mengkritisi jumlah paket pelatihan kerja yang difasilitasi oleh pemerintah justru berkurang drastis di tahun 2026. Ketua PMII Kota Banjar M. Abdul Wahid menyebut, penurunan jumlah paket pelatihan kerja tahun 2026 menjadi 9 paket dari tahun sebelumnya 27 paket merupakan bentuk kemunduran kebijakan yang serius.

Pihaknya mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Karena, berkurangnya paket pelatihan kerja tentunya akan berdampak terhadap kompetensi, daya saing tenaga kerja dan kemandirian. Namun, bukan hanya lulusan SMK saja, lulusan sarjana, korban PHK, ibu rumah tangga yang ingin produktif juga terkena dampaknya. Solusi kebijakan pemerintah Kota Banjar adalah mengalokasikan Dana Desa dan APBN, revitalisasi BLK (Balai Latihan Kerja) berbasis komunitas, pivot ekonomi digital mengingat faktor formal sedang lesu pencari kerja harus didorong ke sektor mandiri, sertifikasi kompetensi tambahan, program “Mom-preneur” & Re-skilling. Pelatihan yang diberikan adalah manajemen keuangan mikro dan pemasaran produk lewat media sosial.

Capaian Kota Banjar bukan sekadar angka statistik di atas kertas laporan pertanggungjawaban formalistik. Ia adalah denyut nadi anak muda yang kreatif di tengah malam, harapan lulusan SMK yang menanti kepastian kerja, dan kesetiaan warga yang tinggal di sepanjang bantaran Citanduy. Mengabaikan potensi ekonomi malam, membiarkan birokrasi berbelit, dan memangkas paket pelatihan kerja di tengah lesunya sektor formal adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan.

Kita tidak butuh sekadar jargon ‘Kota Wisata’ jika sampah masih menghantui sungai dan investor masih menemui jalan buntu. Yang kita butuhkan adalah keberanian politik untuk fokus: fokus pada data, fokus pada pemberdayaan lokal, dan fokus pada transparansi. Perubahan tidak akan datang dari ruang rapat yang tertutup, melainkan dari kebijakan yang inklusif dan mau mendengar suara mereka yang selama ini dianggap sunyi. Banjar harus bangun atau ia akan selamanya menjadi kota transit yang terlupakan oleh sejarahnya sendiri.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top