
Zahwa Ilmayra Cahyani lahir di Karanganyar, 22 Mei 2009. Zahwa adalah seorang siswa yang tengah menimba ilmu di SMAN 2 Banjar. Ia sangat suka menulis sejak dulu dan sampai saat ini menulis menjadi hobi yang paling ia sukai. Dengan mencoba menulis sedikit demi sedikit kata, ia rangkai penuh cinta dengan harapan nantinya banyak karya yang ia tulis dan makin di kenal banyak orang.
Aku tidak terlahir di Banjar, tapi namaku pernah tercatat di kota lain dan akta kelahiran yang kini hanya tersimpan di lemari Ibuku. Aku pindah ke Banjar saat usiaku baru saja genap 10 tahun, usia yang masih begitu canggung untuk berkenalan dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar rumahku yang baru. Saat hari pertama aku datang ke Banjar, aku menangis bukan karna kota ini buruk. Akan tetapi karna suasananya begitu asing, jalan yang terasa sempit, stasiun kereta api yang sudah tidak aktif akan tetapi kereta api masih sering melewati stasiun dekat rumahku dan logat bicara orang orang yang berbeda membuat ku harus cepat beradaptasi dengan kota ini. Aku rindu suasana lingkungan rumahku yang dulu, rindu wajah wajah serta nama-nama teman yang selalu aku kenal.
Namun, Banjar tidak pernah mengusirku. Ia hanya diam tapi perlahan-lahan memeluk raga yang tadinya menolak untuk tinggal di kota ini. Keesokan harinya ibukku berkata, “Sekolahmu tidak jauh, kamu jalan kaki aja bisa sampai.” Dan entah mengapa kalimat sederhana dari ibukku mampu menjadi penguat bagi diriku. Setiap pagi aku selalu berjalan kaki menuju sekolah ku melewati gang kecil di samping rumahku, gang yang membawaku menuju tempat untuk menimba ilmu. Sepanjang perjalanan yang aku lihat adalah kolam ikan, suara gemercik air akibat pergerakan ikan menemani setiap perjalanan.
Dari sinilah Banjar mulai memperkenalkan dirinya padaku. Aku mulai mengenal ibu penjaga warung yang selalu tersenyum manis walaupun diriku ini hanya beli Masako Rp 1.000, aku mulai hafal satu persatu rumah tetanggaku beserta nama-nama mereka, aku perlahan-lahan mulai tahu di jam berapa tukang sayur lewat rumahku dan melihat tetanggaku yang sudah berangkat ke sawah di pagi hari.
Sekolah yang dekat membuatku cepat merasa memiliki, aku tidak lagi merasa numpang tinggal, aku mulai merasa menjadi bagiannya. Tahun demi tahun sudah berlalu, aku tidak pernah menghitung sudah berapa lama aku di Banjar dan aku mulai menghitung berapa banyak kenangan yang tumbuh. Aku mulai belajar jatuh cinta dalam kesederhanaan desa di dalam kota ini. Banjar bukan hanya stasiun dan pasarnya saja, suasana Banjar setelah hujan yang begitu tenang, Banjar mengantarkan ku lewat jalan jalan kecil menuju tempat menuntut ilmu.
Aku sangat bersyukur Banjar masih menyimpan desa yang begitu indah, Banjar juga masih menyimpan tempat bagi tanaman padi untuk tumbuh. Beberapa tahun terakhir aku melihat perubahan pada kota kecil ini, sebagian jalan mulai di perbaiki walaupun belum semua, lampu jalan yang mati langsung di benarkan oleh yang ahli, beberapa akses juga di benarkan demi kenyamanan warga Banjar. Banjar tidak hanya diam, Banjar kini mencoba sedikit demi sedikit untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan jalanan di Banjar mampu mengantarkanku ke sekolah.
Namun tinggal di desa juga mengajarkanku melihat hal hal yang jarang muncul di berita kota. Saat hujan turun, bagian teras di rumahku berubah menjadi genangan air dan sebagian ada yang licin, kadang aku harus berjalan dengan pelan agar tidak jatuh. Beberapa titik masih gelap karena lampunya mati. Sampah kadang dibakar karena tak terangkut, anak-anak kecil bermain di jalan karena tidak ada taman dekat rumah, dan yang paling sering kurasakan sebagai remaja adalah kurangnya ruang.
Aku dan teman-temanku sering duduk di teras rumah, atau di hamparan sekitar sawah. Kami selalu berbagi cerita, bercanda, kadang berdiskusi tentang mimpi kita. Ada yang ingin jadi dokter, guru, pembuat film, atlet, penulis. Tapi hampir selalu, kalimat yang muncul di akhir obrolan adalah “Kalau mau serius, harus ke kota kalau disini terus kapan kita mau sukses.” ucap salah satu temanku. Aku nyeletuk seperti ini, “Padahal kita udah tinggal di kota, hanya saja, kota seolah belum sepenuhnya sampai ke desa kami.” Di wilayah ku memang banyak anak muda yang cerdas dan penuh kreativitas, ada yang membuat karya, meski alatnya seadanya, tapi jarang ada ruang yang benar-benar memfasilitasi mereka.
Kami hanya ingin tempat yang hidup tempat yang tidak hanya berdiri seperti bangunan kosong yang ramai saat diresmikan, lalu sunyi setelahnya. Tempat yang benar-benar bernapas bersama warganya tempat yang dimana ketika pintunya dibuka, bukan hanya ruangan yang terlihat, tetapi juga kemungkinan. Kami ingin ruang yang tidak membuat kami merasa asing di kota sendiri ruang yang tidak menanyakan jabatan, tidak menuntut seragam, tidak menimbang kami dari seberapa penting nama kami. Ruang yang menerima kami sebagai anak-anak muda yang sedang belajar, sedang mencari, sedang sering salah, tapi masih mau mencoba.
Kami ingin Banjar menjadi kota yang tidak lelah membesarkan warganya, kota yang sabar menghadapi kegaduhan ide kota yang tidak takut pada pikiran kritis. Kota yang percaya bahwa dari anak-anak muda yang hari ini terlihat ragu, bisa lahir orang-orang yang esok menguatkan kota. Karena kota yang sehat bukan kota yang sepi pertanyaan, melainkan kota yang berani menjawabnya. Aku sering duduk sendirian di pematang sawah dekat rumah, membawa buku atau hanya menatap langit.
Aku membayangkan Banjar sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Apakah sawah-sawah ini masih ada? Apakah anak-anak kecil yang hari ini berlarian tanpa alas kaki akan menemukan ruang ketika mereka remaja? Apakah mereka akan merasa cukup dicintai untuk tinggal, atau cukup asing untuk pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terlalu besar untuk remaja sepertiku. Tapi mungkin, kota tumbuh justru dari pertanyaan-pertanyaan yang dianggap terlalu besar.
Karena perubahan tidak selalu lahir dari rapat besar, melainkan dari keresahan kecil yang dikumpulkan. Aku teringat teman-temanku ada yang setiap sore membantu orang tuanya di sawah, tapi malamnya belajar desain grafis lewat ponsel. Ada yang rajin ikut kerja bakti, tapi diam-diam menulis puisi tentang kampung halamannya. Ada yang suka mengutak-atik motor, tapi bercita-cita membuat bengkel ramah lingkungan. Mereka adalah wajah Banjar yang jarang muncul di spanduk.
Mereka tidak menunggu kota untuk memberi izin bermimpi. Mereka bermimpi meski kota belum sepenuhnya siap dan mungkin, tugas kota bukan menahan mimpi-mimpi itu, melainkan menyediakan tanah agar mimpi itu bisa ditanam. Aku membayangkan sebuah sore di desa kami bukan sore yang sunyi, bukan pula sore yang penuh hiruk. Sore di mana anak-anak pulang sekolah lalu mampir ke sebuah ruang kecil yang hidup. Ada rak buku sederhana ada papan tulis penuh coretan ide ada sudut musik. Ada orang dewasa yang bukan untuk mengatur, tetapi menemani. Di sana, anak-anak desa tidak hanya ditanya nilai, tetapi juga ditanya minat tidak hanya ditanya cita-cita, tetapi juga ditanya kegelisahan.
Aku percaya, Banjar punya modal besar kedekatan di kota kecil seperti ini, jarak antara warga dan pemimpinnya tidak sejauh di kota besar. Jarak antara ide dan tindakan tidak seharusnya sejauh itu pula. Yang dibutuhkan mungkin bukan struktur baru, tetapi keberanian untuk membuka pintu lebih sering. Membuka pintu balai desa, membuka pintu sekolah, membuka pintu ruang publik, membuka pintu percakapan. Karena kota yang tertutup akan melahirkan warga yang menjauh tapi kota yang membuka diri akan melahirkan rasa memiliki.
Aku menulis ini bukan untuk menuntut kesempurnaan. Aku tahu membangun kota tidak mudah aku tahu anggaran terbatas, kebutuhan banyak, dan kepentingan sering bertabrakan. Tapi justru karena itu, kota membutuhkan warganya bukan hanya sebagai penerima, tetapi sebagai penopang. Dan anak muda adalah penopang yang sering diremehkan. Kita mungkin belum mapan belum berpengalaman, belum selalu rapi dalam berpikir namun kami punya sesuatu yang tidak selalu dimiliki kota.
Waktu, energi, dan keberanian untuk mencoba, tiga hal yang jika disambut dengan baik, bisa menjadi kekuatan. Aku sering berpikir, mungkin cinta pada kota tidak selalu berbentuk pujian. Kadang ia hadir sebagai keresahan yang tidak mau diam sebagai kalimat-kalimat panjang di buku tulis sebagai obrolan sore di pinggir sawah. Sebagai keinginan agar tempat yang membesarkanmu tidak berhenti tumbuh. Karena kota yang dicintai adalah kota yang diperjuangkan. Sekarang, ketika aku berjalan ke sekolah di pagi hari, aku tidak lagi hanya melihat jalan kecil dan sawah. Aku melihat kemungkinan, aku melihat generasi yang sedang tumbuh, aku melihat Banjar bukan sebagai kota kecil, tetapi sebagai kota yang masih bisa ditulis ulang dan aku ingin, suatu hari nanti, ketika seseorang bertanya padaku, “Kenapa kamu masih di Banjar?” aku bisa menjawab dengan tenang: “Karena di sinilah aku dibesarkan, dan di sinilah aku memilih ikut membesarkan.” Aku ingin Banjar menjadi kota yang membuat anak mudanya pulang bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena punya tujuan.
Kota yang ketika seseorang pergi belajar, ia pergi untuk kembali bukan pergi untuk melupakan. Aku ingin Banjar dikenal bukan hanya dari peta, tetapi dari cerita-cerita warganya. Dari anak desa yang menjadi guru, dari remaja yang membangun komunitas, dari pemuda yang memilih mengolah bukan menjual, dari kota yang tumbuh bersama manusianya. Jika suatu hari nanti sawah-sawah ini berkurang, aku berharap nilai-nilainya tidak ikut hilang.
Jika suatu hari nanti jalan-jalan kecil ini melebar, aku berharap hati orang-orangnya tidak menyempit. Karena kota yang besar tanpa empati, hanya akan menjadi tempat tinggal, bukan tempat hidup aku tidak lahir di Banjar. Aku datang sebagai anak kecil yang kebingungan, aku tumbuh sebagai remaja yang mulai mengerti. Dan sekarang, aku berdiri di persimpangan antara desa dan kota, antara masa lalu dan masa depan, antara menerima dan berharap.***
Banjar, 23 Januari 2026


