DESKRIPSI DAERAHKU MELALUI LAGU

Tatang Mugiyana, S.Pd.
(Kepala UPTD SDN 1 Bank Jabar, Langensari, Kota Banjar)

Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan merupakan kunci utama dalam meningkatkan minat, motivasi, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Pada jenjang Sekolah Dasar, tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah bagaimana menyajikan materi pembelajaran agar mudah dipahami, relevan dengan kehidupan siswa, serta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Pembelajaran yang bersifat abstrak dan verbalistik sering kali membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Dalam konteks pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), materi tentang daerah tempat tinggal dan keadaan alamnya menjadi salah satu materi penting yang perlu dipahami siswa. Materi ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan faktual, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membentuk identitas, rasa cinta terhadap lingkungan, serta kepedulian terhadap budaya lokal. Namun demikian, penyampaian materi tentang letak geografis, batas wilayah, kondisi alam, dan potensi daerah sering kali dilakukan secara konvensional melalui buku teks dan penjelasan lisan, sehingga kurang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Berangkat dari kondisi tersebut, UPTD SDN 1 Bank Jabar Langensari mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran bertajuk “Deskripsi Daerahku melalui Lagu”. Inovasi ini memadukan pembelajaran IPAS dengan seni musik sebagai media utama untuk menyampaikan materi tentang daerah dan keadaan alam Kota Banjar. Kepala sekolah berperan aktif dalam memotivasi dan mendampingi guru kelas IV untuk menggunakan lagu ciptaan sendiri berjudul “Ciciren Banjar” sebagai sarana pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.

Penggunaan lagu sebagai media pembelajaran memiliki kekuatan tersendiri. Lagu mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara bersamaan. Melalui lirik, irama, dan melodi, informasi dapat disampaikan secara lebih mudah diingat dan dipahami. Lagu juga menciptakan suasana belajar yang rileks, menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif siswa. Dalam konteks pembelajaran daerah, lagu “Ciciren Banjar” menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan lingkungan geografis, alam, dan budaya tempat mereka tinggal.

Inovasi ini memiliki landasan yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan menegaskan pentingnya pembelajaran yang mendorong pemahaman kontekstual dan penguatan karakter peserta didik. Permendikbudristek Nomor 7 Tahun 2022 tentang Struktur Kurikulum juga memberikan ruang yang luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah.

Dalam Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran IPAS Fase B menekankan pengenalan peserta didik terhadap berbagai komponen lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia. Materi ini sangat relevan jika disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Selain itu, inovasi ini juga mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Penggunaan lagu daerah turut mendukung implementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui penguatan nilai cinta tanah air dan budaya lokal.

Inovasi “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” bertujuan untuk memotivasi guru agar lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, khususnya dalam mengajarkan materi tentang batas wilayah dan keadaan alam Kota Banjar. Lagu “Ciciren Banjar” digunakan sebagai alat bantu untuk memperkenalkan letak geografis, kondisi alam, serta potensi budaya daerah kepada siswa kelas IV. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pelaksanaan inovasi diawali dengan persiapan pembelajaran yang matang. Kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan guru kelas IV untuk mendiskusikan strategi pembelajaran kreatif yang dapat digunakan dalam materi daerah dan keadaan alam. Pada tahap ini, guru diberikan pendampingan mengenai cara mengintegrasikan lagu ke dalam alur pembelajaran, mulai dari apersepsi, penyampaian materi, hingga evaluasi. Guru juga dibekali pemahaman tentang pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Pada tahap pelaksanaan di kelas, guru memperkenalkan lagu “Ciciren Banjar” kepada siswa dengan cara mendengarkan dan menyanyikannya bersama. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan antusias. Guru kemudian menjelaskan makna lirik lagu yang menggambarkan batas wilayah Kota Banjar, keberadaan gunung, sungai, serta kekayaan alam dan budaya setempat. Penjelasan ini membantu siswa memahami bahwa lirik lagu tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung informasi penting tentang daerah mereka.

Setelah siswa mengenal lagu, kegiatan dilanjutkan dengan analisis lirik. Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai isi lagu, seperti nama-nama wilayah, kondisi geografis, sungai, gunung, serta kehidupan masyarakat Banjar. Melalui diskusi ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menghubungkan informasi dalam lagu dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, serta menyampaikan pendapat secara lisan.

Untuk memperkuat pemahaman, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan tugas praktik. Setiap kelompok diminta membuat poster atau presentasi yang menggambarkan letak desa, kecamatan, keadaan alam, serta budaya daerah berdasarkan lirik lagu “Ciciren Banjar”. Aktivitas ini mendorong siswa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekspresikan ide secara kreatif. Pada saat presentasi, siswa diminta menyanyikan bagian lagu yang relevan dengan materi yang mereka sampaikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan berkesan.

Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan dan tertulis. Guru menilai pemahaman konsep, kreativitas, serta kemampuan siswa dalam menyampaikan informasi. Selain itu, siswa juga diajak melakukan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar mereka. Refleksi ini membantu siswa menyadari bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.

Penerapan inovasi ini dilaksanakan secara bertahap dan terencana, dimulai dari perencanaan pada bulan Desember 2024, pelaksanaan pada Januari hingga Maret 2025, evaluasi pada April 2025, dan tindak lanjut pada Mei 2025. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis seni yang dipadukan dengan diskusi kelompok. Media utama berupa lagu “Ciciren Banjar” didukung oleh perangkat audio-visual dan alat bantu pembelajaran lainnya.

Lirik lagu “Ciciren Banjar” yang menggunakan bahasa Sunda menjadi kekuatan tersendiri dalam inovasi ini. Bahasa daerah yang digunakan membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi pembelajaran. Lagu ini tidak hanya menyampaikan informasi geografis, tetapi juga menanamkan nilai kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Banjar sebagai daerah tempat tinggal mereka.

Hasil penerapan inovasi menunjukkan dampak yang sangat positif. Motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan. Siswa terlihat lebih antusias, aktif bertanya, dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Kreativitas siswa juga berkembang melalui kegiatan membuat poster dan presentasi. Mereka mampu mengekspresikan pemahaman tentang daerah dan budaya secara lebih variatif dan menarik.

Pemahaman konsep siswa terhadap materi IPAS meningkat karena mereka tidak hanya menghafal, tetapi memahami melalui pengalaman belajar yang melibatkan emosi, visual, dan auditori. Lagu membantu siswa mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Selain itu, inovasi ini juga berhasil menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah asal, serta meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam dan budaya lokal.

Secara keseluruhan, inovasi pembelajaran “Deskripsi Daerahku melalui Lagu” terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di kelas IV. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui integrasi seni dan budaya lokal, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga nilai dan sikap positif terhadap lingkungan dan daerahnya.

Ke depan, inovasi ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan. Kepala sekolah dapat terus mendorong guru untuk memanfaatkan lagu daerah sebagai media pembelajaran pada berbagai materi. Integrasi seni dan budaya lokal perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter dan identitas peserta didik. Selain itu, penyediaan sumber belajar kreatif seperti media audio-visual dan lagu daerah akan sangat mendukung keberlanjutan praktik baik ini dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka dan bermakna.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top