HARAPAN UNTUK KEADILAN PENDIDIKAN

Rini Apriani adalah seorang pendidik lahir di Ciamis, 3 April 1986 yang aktif mengabdi di Kota Banjar. Ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, baik sebagai guru, dengan perhatian besar terhadap isu keadilan, kualitas, dan keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi guru honorer dan sekolah swasta.

Selain mengajar, Rini Apriani juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesional pendidik, penguatan karakter, serta transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar bersama untuk membangun masa depan anak bangsa melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada kemanusiaan.


Pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Di tangan para guru, masa depan anak-anak negeri ini dititipkan. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, akhlak, dan karakter yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sudah selayaknya profesi guru mendapatkan perhatian, perlindungan, dan keadilan yang setara.

Melalui tulisan ini, saya sebagai seorang guru di Kota Banjar ingin menyampaikan sebuah harapan, bukan tuntutan, dan bukan pula perbandingan yang menjatuhkan pihak mana pun. Harapan ini lahir dari realitas yang kami alami sehari-hari sebagai guru honorer, khususnya guru honorer di sekolah swasta, yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun tanpa kejelasan masa depan.

Kami memahami bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi ASN. Namun, dalam pelaksanaannya, kesempatan tersebut masih terasa lebih banyak berpihak kepada guru negeri. Sementara itu, ribuan guru honorer swasta tetap setia mengabdi, mengajar dengan hati, mendidik dengan penuh tanggung jawab, meski dengan keterbatasan yang sangat besar.

Bukan nasib seperti ini yang kami impikan. Menjadi guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak bukanlah pilihan ideal, melainkan bentuk pengabdian. Kami percaya, mungkin pemerintah memiliki pertimbangan dan kebijakan tersendiri. Namun kami juga berharap, masih ada ruang bagi hati nurani untuk melihat dan mendengar suara guru-guru swasta yang selama ini setia menjaga nyala pendidikan di daerah.

Ironis rasanya ketika kenyataan menunjukkan bahwa gaji pegawai di sektor lain, termasuk tenaga pelaksana program tertentu, bisa lebih besar dibandingkan gaji seorang guru.

Padahal, guru memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Guru bertanggung jawab atas masa depan satu, puluhan, bahkan jutaan anak bangsa. Sebuah amanah yang tidak ringan dan tidak ternilai dengan angka semata.

Kami tidak ingin membandingkan siapa yang lebih penting. Kami hanya ingin sedikit harapan. Harapan agar nasib guru honorer swasta juga diperhatikan dengan adil, sebagaimana perhatian yang diberikan kepada guru honorer di sekolah negeri. Kami juga manusia biasa yang memiliki keluarga, anak-anak, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Sementara itu, kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan tuntutan profesionalisme guru semakin besar.

Pada dasarnya, semua orang ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Namun, ketika harus dihadapkan pada pilihan antara terus mengabdi atau meninggalkan profesi demi mencari penghidupan yang lebih layak di kota besar, maka pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjaga pendidikan di daerah kecil seperti Kota Banjar

Jika orang-orang terbaik, para pendidik yang berpengalaman dan berdedikasi, perlahan meninggalkan daerahnya karena keterbatasan kesejahteraan, maka yang akan tertinggal bukan hanya kekosongan tenaga pengajar, tetapi juga hilangnya kualitas pendidikan dan harapan generasi muda di daerah tersebut.

Melalui tulisan ini, kami menitipkan harapan besar kepada para pemangku kebijakan di Kota Banjar dan pemerintah pada umumnya. Semoga ke depan kebijakan pendidikan semakin inklusif, adil, dan berpihak kepada seluruh guru tanpa membedakan status sekolahnya. Karena sejatinya, semua guru memiliki tujuan yang sama: mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik

Semoga suara kecil dari daerah ini dapat menjadi bahan renungan, bahwa memperhatikan kesejahteraan guru honorer swasta bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan dan keberlanjutan daerah tercinta, Kota Banjar.***

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top